Bab 1: Hari Ketika Gadis Paling Cantik di Kelas Tiba-Tiba Menjadi Sekretaris (Sudut Pandang Pria Berkualitas Tinggi
Hari ini, Indeks Nikkei dan Dow Jones kembali mengalami kenaikan. Harga emas dan mata uang kripto sedikit turun sehingga aku mengalami kerugian, tetapi berkat diversifikasi portofolio investasi, secara keseluruhan hasilnya tetap positif.
T/N:Jujur ga espek ada masalah invetasi dan kripto awal baca kirain ful gulaa
Jika memiliki banyak aset, kita bisa berpikir bahwa kehilangan sedikit uang bukanlah masalah besar, sehingga kita bisa lebih leluasa berinvestasi. Dan saat aset itu bertambah, kita pun menjadi lebih percaya diri lalu meningkatkan jumlah investasi kita.
Namun, waktu dalam hidup kita yang merupakan modal terbatas harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati mengenai ke mana waktu itu akan diinvestasikan.
Tentu saja, menggunakan waktu untuk hal-hal yang menjanjikan keuntungan besar adalah langkah yang paling bijak. Bagiku sebagai seorang kreator game, memainkan game yang sedang tren atau membaca manga populer adalah prioritas utamanya. Mempelajari pemasaran dan desain juga tidak kalah penting.
Tentu saja, investasi pada diri sendiri ini harus dilakukan setelah aku selesai membuat game setiap harinya, dan menggunakan sisa waktu yang ada.
Lalu, apa yang terjadi? Pelajaran sekolah yang memiliki prioritas rendah akhirnya terabaikan, dan aku pun mendapat nilai 0 pada kuis kecil bahasa Inggris.
Aku paham bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang penting, namun bagiku yang saat ini tidak memiliki rencana untuk berkomunikasi dengan orang asing, prioritas belajar bahasa tersebut tidaklah tinggi.
Konon, waktu belajar yang dibutuhkan untuk menguasai keahlian khusus bahasa asing adalah sekitar 2.000 jam.
Mengingat jam pelajaran bahasa Inggris di SD, SMP, dan SMA di Jepang jika ditotal berjumlah sekitar 1.000 jam, biaya tambahan yang diperlukan agar bisa melakukan percakapan profesional menjadi terlalu besar.
Kalau begitu, bukankah lebih baik menyewa penerjemah atau menggunakan AI untuk menerjemahkannya? Oleh karena itu, lembar jawaban dengan nilai 0 ini adalah pilihan yang ku–
...sebagai hasil dari penerapan prinsip seleksi dan konsentrasi, sehingga aku sama sekali tidak perlu merasa malu. Menurut Sensei, materi ujiannya sebenarnya sangat mudah, namun aku sama sekali tidak peduli. Lagipula, aku memiliki aset yang menggunung.
Sambil memikirkan hal itu dan membiarkan lembar jawaban tersebut tetap tergeletak di atas meja, Kanetohara-kun—salah satu anak populer di kelas—dengan jeli menemukannya dan memamerkannya ke sekeliling.
「Hei, Takahashi! Nilaimu kan nol, tapi kenapa kamu kelihatan santai banget!」
Mendengar hal itu, teman-teman sekelas yang berasal dari kelompok gyaru/chads mulai mencemooh.
「Nilainya mirip bab pertama manga yang karakternya bercita-cita masuk Universitas Tokyo.」
「Betul juga. Kalau nilainya nol, artinya kamu cuma punya ruang untuk berkembang, ya.」
「Tapi ya, Takahashi, sedikit nyontek juga tidak apa-apa kali.」
Anak-anak populer kelas bersahutan mengucapkan komentar mereka, dan ruang kelas pun dipenuhi dengan suara tawa.
Di dalam kepalaku—yang menjadi dalang di balik situasi ini—zat kimia kesenangan bernama dopamin disekresikan dalam jumlah besar.
Aku sengaja membiarkan lembar jawaban bernilai nol itu tergeletak di atas meja sebagai umpan, berpikir kalau mungkin akan ada seseorang yang memakannya.
Dan benar saja, Kanetohara-kun dan teman-temannya terpancing, membuat semua orang tersenyum.
Betapa menyenangkannya melihat segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana yang telah kubuat.
Tawa bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.
Kita harus memahami pengetahuan dasar orang lain dan sengaja mengkhianatinya. Dalam kasus ini, kontras antara seorang anak pendiam di kelas yang mendapat nilai nol pada kuis yang sangat mudah, namun tetap bersikap santai, sepertinya berhasil menciptakan efek komedi yang bagus.
Aku merasakan kepuasan tersendiri dari memahami struktur serta pola berbagai hal, lalu sedikit memanipulasinya untuk membuat orang lain tertawa.
Ini bukan sekadar hobi biasa, melainkan latihan untuk memahami cara berpikir orang lain secara mendalam. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pemahaman terhadap orang lain adalah kemampuan paling penting untuk bisa bertahan hidup di industri hiburan.
Selain itu, membuat orang lain tertawa juga terhubung dengan upaya memulihkan kondisi mental mereka. Dengan kata lain, itu adalah tindakan yang sangat kreatif untuk menjaga stabilitas sosial.
Kembali ke topik utama. Berkat lembar jawaban bernilai nol itu semua orang menjadi tersenyum, dan sepertinya ada peluang untuk menciptakan satu gelombang tawa lagi jika aku melakukannya dengan benar.
Kelompok anak populer di kelas sedang menantikan perkembangan selanjutnya. Jika aku melontarkan suatu ucapan sekarang, kemungkinan besar mereka akan menertawakannya meskipun isinya tidak terlalu istimewa.
Nah. Jawaban seperti apa yang paling optimal untuk merespons perkataan "sedikit nyontek juga tidak apa-apa kali"?
Pikiran pertama yang terlintas di benakku adalah, "Aku sudah nyontek tapi hasilnya malah begini," namun karena itu berarti aku mengakui perbuatan curang, penonton akan kesulitan untuk tertawa.
Jika itu dikatakan oleh orang yang sudah akrab mungkin mereka langsung tahu itu cuma candaan, tapi karena aku hampir tidak pernah berinteraksi dengan Kanetohara-kun dkk., pilihan amannya adalah menghindari respons tersebut.
Aku tidak perlu mengincar lelucon kelas kakap. Cukup melontarkan komentar yang tidak melenceng dari percakapan normal, tetapi sedikit berada di luar perkiraan orang-orang─
"Berhentilah melakukan perbuatan usil yang menyakiti orang lain. Tindakan itu sama saja seperti mengumumkan kalau dirimu adalah orang yang tidak berpendidikan."
Di tengah-tengah otakku yang sedang berputar keras mencari jawaban, Himegi Iori—yang duduk di kursi tepat di belakangku—tiba-tiba berdiri dengan penuh semangat dan melontarkan kalimat tersebut kepada Kanetohara-kun.
Seketika itu juga, senyum di wajah anak-anak laki-laki yang tadinya tertawa langsung lenyap. Himegi, sang ketua kelas, memang memiliki mulut yang agak tajam, namun visualnya yang menawan membuatnya sangat populer di televisi..
Mungkin itu dilakukan agar dia bisa berdalih kalau dirinya tidak terlibat. Perubahan sikapnya yang begitu cepat terasa begitu menggelikan, sampai-sampai aku tak kuasa menahan tawa.
Aku jadi paham bahwa hal seperti ini memang bisa terjadi jika sang heroine terlalu cantik.
Himegi-san berbalik menghadap ke arahku sambil tetap memegang lembar jawaban yang baru saja direbutnya.
Pada detik itu, aku terpaku dan menahan napas, tertegun oleh tatapan mata Himegi-san yang terlampau indah. Tingkat kecantikan wajah Himegi-san yang berada di luar nalar membuatku tidak pernah bisa terbiasa, meskipun melihatnya setiap hari.
Beberapa saat lalu, Himegi-san sempat menegur Kanahara-kun dengan mengatakan bahwa itu adalah "olok-olok yang menyakiti orang lain". Kenyataannya, aku sama sekali tidak merasa sakit hati, dan justru merasa senang.
Namun, kecantikannya begitu memukau hingga membuat hal semacam itu sama sekali tidak lagi penting.
Dengan ekspresi yang merupakan campuran antara kemarahan dan rasa kasihan, Himegi-san meletakkan lembar jawaban itu di atas mejaku, lalu kembali ke tempat duduknya
"──Makanya, kalau kerjanya cuma malas-malasan terus, hal seperti ini yang bakal terjadi."
Tepat saat melewati sisiku, Himegi-san bergumam dengan volume suara yang sangat pelan, nyaris tak tertangkap telinga.
Ucapan itu tidak lebih dari sebuah serangan lanjutan untukku, tetapi aku bisa memahami alasan di balik dorongannya untuk mengatakan hal tersebut. Lagipula, sepertinya aku memang dibenci oleh Himegi-san.
Ada banyak hal yang menjadi alasannya, salah satunya terjadi pada bulan Mei tahun ini. Bug yang cukup menyebalkan ditemukan pada game yang sedang kuoperasikan, dan aku harus segera menanganinya.
Akibat aku membolos festival olahraga untuk mengurus hal itu, tampaknya aku telah menimbulkan banyak masalah bagi Himegi-san.
Karena peserta untuk setiap cabang olahraga di festival tersebut sudah ditentukan sebelumnya, mereka harus mencari orang untuk menggantikanku, dan rupanya formasi untuk tarian kreatif yang dilakukan oleh seluruh kelas juga harus diubah ulang.
"──Ini adalah buku dan game yang kupesan dari toko online. Karena tidak harus buru-buru dibongkar, aku berencana merapikannya setelah pekerjaanku selesai—"
"Artinya, kamu terlalu sibuk sampai tidak sempat membereskannya, kan? Kalau begitu, kamu butuh seorang sekretaris!"
"……Memangnya merapikan barang itu tugas seorang sekretaris?"
"Tentu saja! Tugas utama seorang sekretaris adalah memberikan segala bentuk dukungan kepada atasannya!"
"Begitu ya..."
Sejujurnya, tumpukan kardus di sini sudah cukup menggangguku sejak lama, jadi kalau dia mau membereskannya, tidak ada alasan bagiku untuk menolak.
Meskipun semua ini berawal dari Mama yang tidak menyampaikan informasi apa pun padaku. Karena pihak sana yang salah, kali ini aku akan mengalah saja. Lagi pula, setelah beres-beresnya selesai, aku tinggal mencari-cari kesalahan dari kinerjanya lalu memecatnya.
"Baiklah. Kalau begitu, tolong bereskan kardus-kardus yang ada di sini. Karena ada beberapa barang yang berat, kurasa itu bakal melelahkan tapi—"
"Tenang saja! Aku percaya diri dengan fisikku!"
Karena dia sudah koar-koar dengan penuh percaya diri, aku berhenti mencemaskannya. Aku membawa laptopku kembali ke ruang tamu dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku.
Namun, aku hampir tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Jika kecepatan kerjaku biasanya berada di angka 100, hari ini mungkin hanya ada di angka 5. Artinya, 95 persen kapasitas otakku dikuasai oleh pikiran lain.
Seorang gadis super cantik yang merupakan teman sekelasku sedang bekerja di lorong depan. Situasi macam apa ini sebenarnya...
☆ ☆
Kira-kira 20 menit kemudian. Suara bising orang bekerja sudah tidak terdengar lagi, jadi saat aku mengintip ke lorong, Himegi-san tampak sedang mengepel lantai dengan kain lap yang sepertinya dibawa sendiri.
"──Ah, Guru. Beres-beresnya sudah selesai. Semua kardus sudah dibongkar dan diikat menyilang dengan tali plastik. Bahan pengemasannya juga sudah dipilah berdasarkan jenisnya lalu dikelompokkan. Buku-buku yang ada di dalam kardus semuanya sudah dimasukkan ke rak buku di lorong. Karena kelihatannya disusun berdasarkan label penerbit lalu diurutkan sesuai nama penulis, aku merapikannya mengikuti pola yang sama. Untuk perangkat game disusun berdasarkan jenis konsol lalu diurutkan sesuai abjad judulnya, jadi aku mengaturnya begitu juga."
Semuanya sempurna. Cara penyimpanannya pun sesuai dengan dugaanku, sama sekali tidak ada celah untuk diprotes.
Awalnya aku berniat untuk mengusirnya begitu saja, tapi niatku mendadak berubah. Menjadi sekretaris ternyata lumayan juga.
"……Bagaimana? Kalau ada pekerjaan dari ku yang kurang memuaskan, aku rela menyerah untuk jadi sekretaris, kok..."
"Tidak, menurutku ini luar biasa. Kamu bahkan bekerja melebihi apa yang kuharapkan."
"Kalau begitu──"
"Hanya saja, membereskan kardus bukanlah pekerjaan yang sering dilakukan. Jadi, bagaimana kalau kamu mencoba pekerjaan lain dulu, baru nanti aku putuskan setelah melihat hasilnya?"
"Tentu saja!"
Himegi-san yang tadinya tampak cemas, seketika memasang senyuman cerah merekah.
Kalau begitu, mari kita langsung beri dia pekerjaan lain—tapi saat aku memikirkannya, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di benakku.
"Sebenarnya, apa saja tugas spesifik yang biasa dikerjakan seorang sekretaris?"
"Secara mendasar sih, mengelola jalannya operasional, menggantikan urusan e-mail dan telepon, serta mendukung penataan informasi dan pembuatan dokumen."
"Wah, paham juga ya. Jangan-jangan kamu punya pengalaman jadi sekretaris sebelumnya?"
"Mana mungkin! Aku langsung cari tahu berbagai hal setelah ditawari pekerjaan ini."
Begitu ya. Jadi dia datang dengan persiapan yang matang. Pantas saja dia ngotot tidak mau diusir mentah-mentah tadi.
"Oh ya, soal rincian pekerjaannya, Ibu Guru berpesan agar aku juga membantu pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan bersih-bersih."
"Ah, kalau itu sangat membantu."
Kalau aku tidak perlu repot mengurus pekerjaan rumah, waktu untuk bekerja bisa jauh bertambah.
"Kalau begitu, tolong siapkan makan malam. Untuk menu-nya terserah kamu."
"Dimengerti. Oh ya, hari ini kan hari ulang tahun Guru, kan? Boleh aku menyiapkan kue juga?"
"Tidak, tidak perlu."
"Eh? Apa kamu tidak suka makanan manis?"
"Bukannya begitu, hanya saja aku tidak punya niat untuk merayakan ulang tahun."
"? Padahal ini hari ulang tahun, lho?"
"Memangnya ulang tahun itu penting, ya? Kecuali kalau kita harus berjuang setengah mati hingga berdarah-darah untuk bisa sampai di hari ulang tahun, kalau cuma hidup biasa saja umur kan bakal nambah sendiri tanpa dirayakan pun..."
"Penting banget, dong! Karena kalau Guru tidak lahir ke dunia, 'Houkago Jihen' juga tidak akan pernah ada!"
Himegi-san tiba-tiba menjadi sangat antusias dan merangsek mendekatiku.
"Dewa lahir di hari ini 16 tahun yang lalu, jadi bahkan kalau sampai dibuatkan penanggalan era baru berdasarkan hari ini pun rasanya tidak berlebihan!"
"Ini rasanya malah mirip sekte keagamaan, tahu."
"Itu artinya aku sangat menggilai karya-karya Guru! Lagi pula, aku sudah menghabiskan waktu beberapa hari untuk menyiapkan berbagai hal demi hari ini, jadi biarkan aku merayakannya dengan kue!"
"Eh, begitu ya?"
"Iya, begitu. Makanya, kalau Guru menolak, setelah pulang ke rumah nanti aku berniat untuk secara pribadi..."
...aku bakal ngadain perayaan ulang tahun Guru secara mandiri!"
"......Ngebayanginnya aja udah serem banget, jadi mendingan kamu siapin kuenya deh."
Sambil sedikit merasa cemas dengan keputusan merekrut Himegi-san sebagai sekretaris, aku pun akhirnya mengiyakan hal tersebut.
☆ ☆
Himegi-san pergi berbelanja ke supermarket terdekat dan balik lagi sekitar 30 menit kemudian. Setelah memakai apron di luar seragamnya, ia langsung mulai memasak hamburg dan salad.
Gerak-geriknya itu kucuri pandang lewat balik layar laptop sambil mengetik keyboard.
Di dapur rumah tempatku tinggal sendirian, Himegi-san sedang menyiapkan makan malam. Pemandangan ini terlalu tidak nyata sampai-sampai otakku rasanya mau error.
Ini beneran bukan mimpi, kan...? Rasanya halusinasi ini terlalu indah untuk jadi kenyataan...
Tepat saat itu, Himegi-san tiba-tiba mendongak dan mata kami langsung beradu.
Kukira ketahuan sedang mengintip, tapi Himegi-san justru tersenyum lembut.
"Kamu khawatir aku bakal gagal, ya? Tenang saja, aku sudah terbiasa masak kok, jadi aman."
Untunglah. Berkat tampang curigaku tadi, dia sepertinya nggak nyangka kalau aku sebenarnya lagi terpesona merhatiin dia.
"Aku anak dari single parent, dan Mama selalu pulangnya malam. Jadi urusan pekerjaan rumah tangga sudah di luar kepala."
"O-begitu ya."
Aku menjawab dengan suara yang terdengar pas-pasan. Kalau dipikir-pikir lagi setelah dengar penjelasannya, gerakan tangannya memang cekatan banget.
Merasa hari ini sepertinya bakal gagal lanjut kerja, aku menutup laptopku dan memutuskan untuk coba mengobrol dengan Himegi-san.
"Ehm, tadi aku sempat ngomong dengan nada sok tahu soal 'mau nilai kinerjanya dulu', tapi rasanya nggak adil kalau aku nggak ngasih Himegi-san bahan pertimbangan juga buat putusin mau lanjut jadi sekretaris atau nggak."
"Eh...? Ah, nggak, nggak usah kok, nggak perlu repot-repot gitu."
Himegi-san tampak panik dan menghentikan tangannya yang sedang mencincang bawang bombay.
"Asalkan aku bisa jadi sekretaris Guru, aku bakal puas di lingkungan kerja seperti apa pun."
"Nggak bisa begitu dong. ...Ngomong-ngomong, Himegi-san tadinya benci kan sama aku di sekolah...?"
Mendengar pertanyaanku itu, Himegi-san sempat terdiam menelan ludah.
"...Kalau dibilang benci sih nggak juga ya, cuma aku memang mikir kamu itu pemalas dan nggak punya tanggung jawab. Tapi itu kan karena aku belum tahu identitas asli Guru. Kalau kamu bisa bikin karya sehebat itu, kepribadian seperti apa pun ya nggak jadi masalah."
"Aku juga agak keberatan kalau diperlakukan spesial gara-gara itu, tapi biarin aku minta maaf soal aku yang bolos Festival Olahraga waktu itu ya. Waktu itu ada bug merepotkan yang nggak sengaja ketemu, jadi aku harus sibuk banget ngurusin itu."
"Aku tahu. Bug itu, yang nemuin dan ngelaporin kan aku."
"Hah, seriusan?!"
"Iya. Kurang lebih karena frekuensi save dan load yang kamu lakukan melebihi batas perkiraan Guru, makanya jadi bug."
"Aku sama sekali nggak tahu soal itu... Rasanya kita berdua harus lebih banyak cari tahu tentang satu sama lain, ya."
"Iya... ya. Kalau begitu, gantian aku boleh nanya sesuatu nggak?"
"Silakan," jawabku sambil pasang kuda-kuda di dalam hati.
"Jujur saja, sampai sekarang aku masih agak susah percaya... Apa bener Guru ini pencipta asli dari 'Houkago Jihen'...?"
"Iya, beneran."
"Pertanyaan simpel sih, tapi kenapa Guru masih repot-repot sekolah, ya...? Yah, berkat itu juga sih aku jadi bisa ngobrol langsung begini sama Guru, tapi rasanya aneh aja..."
Pertanyaan Himegi-san itu masuk akal juga. Kalau dihitung dari segi efisiensi ekonomi, harusnya aku nggak usah sekolah dan fokus penuh bikin game aja.
"Sebenarnya aku sih nggak masalah walau cuma lulusan SMP, tapi itu adalah permintaan khusus dari Mama, jadi aku lanjut sekolah. Jujur aja, sekarang pun sebenarnya tanpa kerja lagi aku sudah dipastikan bisa dapet penghasilan seumur hidup cowok normal pada umumnya.
Tapi, Mama khawatir kalau aku milih jalan hidup yang terlalu beda dari orang lain, nanti aku malah kehilangan koneksi sama masyarakat dan nggak bakal bisa ngegapai kebahagiaan biasa."
"Begitu ya... Orang biasa mungkin bakal mikir kalau udah ngasilin uang sebanyak itu, ya tinggal leha-leha aja seumur hidup."
"Nggak sebanyak itu juga kali sampai bisa leha-leha foya-foya."
"Ah, masa sih? Tapi, bukannya seri 'Houkago Jihen' kalau ditotal versi fisik sama unduhannya sudah tembus satu juta kopi?"
"Iya. Versi fisiknya seharga 1.000 yen, versi unduhannya 500 yen, jadi kalau dihitung rata-rata harganya 750 yen terjual sebanyak satu juta kopi."
"Total penjualannya 750 juta yen dalam kurun waktu 3 tahun...!! Kalau dihitung ulang, itu angka yang gila banget...!!"
Himegi-san berujar dengan ekspresi tegang.
"Meskipun begitu, dari total penjualan itu masih dipotong berbagai—"
...karena masih ada potongan-potongan biaya lain, jadi uangnya nggak murni masuk semua ke kantongku. Versi fisik butuh biaya produksi sama ongkos kirim, terus ada potongan komisi dari
situs belanja online juga. Kalau versi digital, 30 persennya ludes dipotong komisi dari platformnya."
"30 persen...? Kalau seumpamanya total penjualan kita 300 juta yen, itu berarti 90 juta yen?!"
Himegi-san mengeluarkan suara yang nyaris mirip teriakan ngeri.
"Komisi setinggi itu apa nggak gila namanya?!"
"Nggak gila juga kali. Kalau nggak ada situs-situs kayak begitu, gamenya sendiri bahkan nggak bakal bisa dirilis dari awal."
"Tapi... tetap aja 90 juta yen..."
"Belum lagi nanti dipotong pajak dan lain-lain, jadi jumlah bersih yang bener-bener kiterima bakal jauh lebih sedikit. Terus, dari total 1 juta kopi itu, sebagian ada yang kejual pas lagi diskon setengah harga, jadi omzetnya jelas nggak sekadar dihitung dari harga normal dikali 1 juta kopi. Oh ya, omzet itu sendiri semuanya ditampung dulu di perusahaan yang aku kelola, dan aku sendiri cuma narik gaji tiap bulan dalam jumlah kecil secara berkala, jadi secara teknis uangnya bukan ada di tangan pribadiku langsung."
"In-informasinya terlalu padat, otakku nggak sanggup nampung...!!"
Himegi-san mengerjap-ngerjapkan matanya, loading-nya macet. Imut banget.
"Tapi, intinya aku jadi paham kalau Guru itu hebat banget. Ternyata bukan cuma bikin game terus selesai, tapi ngurusin hal-hal setelah gamenya laku juga ribet, ya..."
"Betul. Malah kadang urusan birokrasi kayak gitu yang bikin pusing kepala. Karena kita harus pakai jasa akuntan dan sering-sering konsultasi, jadi komunikasi rutin itu wajib."
"Hwaa..."
"Kamu kelihatan minder banget gitu, tapi kalau Himegi-san beneran jadi sekretarisku, urusan komunikasi sama para akuntan itu bakal aku limpahkan sepenuhnya ke kamu, lho?"
"Eh, s-seriusan...?"
"Kira-kira sanggup nggak?"
"...Aku bakal berusaha."
Himegi-san berkata sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Kalau ngerasa nggak sanggup, mending bilang dari sekarang, ya. Kalau dipaksain padahal nggak mampu, yang ada malah buang-buang waktu kita berdua."
"Enggak, aku bakal tunjukin kalau aku pasti bisa. ...Setelah denger sendiri kondisi asli Guru, meskipun cuma sedikit, tekadku buat ngedukung Guru sebagai sekretaris malah jadi makin kuat."
"Syukurlah kalau begitu. Makasih ya."
"Ngomong-ngomong... sambil bikin game tapi harus ngerjasin tugas administratif kayak gitu, sibuknya kebangetan banget, ya... Pantas saja kalau Guru sering ketiduran di kelas."
"Ugh..."
Diserang dengan argumen telak yang bikin mati kutu, aku langsung mengalihkan pandangan.
"Soal itu... aku tahu di dalam kepala kalau aku harusnya belajar juga, tapi karena terlalu sibuk jadi nggak sempat terpegang..."
"Aku kan duduk persis di belakang meja Guru, jadi aku tahu banget. Rasanya pilihan Guru di kelas cuma ada dua: sibuk main HP di kolong meja atau tidur."
"...Kemarin-kemarin, aku sempat dibilangin kalau aku lanjut dapet nilai merah terus, bakal susah buat naik kelas."
"Bukannya itu parah banget! ──Eh, tapi karena kamu sibuk kerja jadi ya nggak sepenuhnya salah sih... Guru ini susah juga ya buat ditegur."
Himegi-san melontarkan komentar dengan nada bingung.
"Tapi, coba pikirkan deh. Sekalipun aku belajar mati-matian, pengaruhnya buat masyarakat juga nggak ada. Tapi, kalau aku merilis game baru, puluhan ribu orang bakal mendownloadnya, ekonomi jadi aktif, bayar pajaknya juga banyak, dan Jepang jadi makin makmur."
"Itu bener banget sih. Yang paling penting, para penggemar karya Guru termasuk aku juga ikutan senang."
Setelah mengangguk-angguk paham beberapa kali, Himegi-san berujar seolah baru mengingat sesuatu.
"Oh iya, waktu ngambil tugas sebagai sekretaris ini, Mama Guru sempat ngasih beberapa pesanan khusus ke aku, dan salah satunya adalah 'Tolong pastikan dia benar-benar belajar pelajaran SMA'."
"Eh."
"Mungkin beliau tahu nilai-nilai Guru dan cemas kalau kamu nggak bisa naik kelas."
"............"
Situasinya mulai terasa nggak beres.
Alasan terbesar kenapa Mama sampai ngirim sekretaris ke sini, jangan-jangan gara-gara itu...
"Ehm, Himegi-san di pihakku kan? Kamu kan fans garis keras karyaku, iya kan?"
"Bener sih, tapi aku bakal sedih kalau sampai nggak bisa ketemu Guru di sekolah lagi, jadi tolong pastikan kamu beneran naik kelas, ya."
"Iya..."
"Makanya, kalau nanti aku udah mulai pegang kendali soal manajemen jadwal, tanpa bantahan lagi aku bakal langsung selipin jam belajar ke dalam jadwal harianmu."
Himegi-san mendeklarasikan hal itu sambil terus membentuk dagingハンバーグ (hamburg).
Kelihatannya, sosok sekretaris satu ini sama sekali bukan tipe yang bisa disetir sesuai kemauanku.
☆ ☆
Tak lama kemudian, Himegi-san mulai memanggang hamburg, dan begitu kedua sisinya berubah kecokelatan, ia menuangkan saus lalu mulai merebusnya. Aroma harum yang luar biasa langsung menguar di udara, sukses bikin perutku keroncongan seketika.
"Sebentar lagi matang, tapi apa masih terlalu kecepetan buat makan malam? Kalau mau, nanti bisa dihangatkan lagi, kok."
"Aku mau makan sekarang."
Menjawab dengan tingkat kejujuran yang tinggi pada nafsu makan, Himegi-san tersenyum lalu mulai menata masakannya ke atas piring. Aku sempat mengangkat sedikit pinggulku dari kursi dan nanya, "Ada yang bisa kubantu?", tapi begitu dibilang "Duduk aja, ini bagian dari tugas sekretaris", aku langsung duduk manis lagi.
Tak lama kemudian, semangkuk salad sayuran segar dan seporsi hamburg lezat berbalut keju leleh tersaji di atas meja.
"──Eh? Porsi buat Himegi-san mana?"
Karena yang disiapkan cuma satu porsi buat satu orang, aku nanya dengan kaget.
"Aku mau nyiapin kue ulang tahun dulu, jadi silakan dimakan duluan tanpa perlu mikirin aku."
"Ah, begitu ya."
"Oh ya, karena ada sedikit elemen kejutan di dalamnya, tolong jangan mendekati area dapur sampai kuenya siap, ya."
"Oke, paham."
Wah, ada elemen kejutan segala, ya... Emangnya cewek-cewek itu pada suka banget dikasih kejutan, ya...
"Kalau begitu, aku makan."
Aku mengubah fokusku dan bersiap menyantap hamburg tersebut.
Begitu pisau menancap dan membelahnya, juice daging langsung meluber keluar dengan derasnya. Saat kumasukkan ke dalam mulut dengan penuh antisipasi, aroma harum panggangan langsung berpadu sempurna dengan kelezatan sari daging yang menyebar di lidah. Dagingnya empuk banget, tapi teksturnya tetap terasa mantap saat dikunyah.
"──Mm! Enak banget!"
Begitu sensasi rasa dan tekstur hamburg-nya sampai ke otak, aku langsung berseru kencang.
Himegi-san yang lagi sibuk beresin dapur langsung tertawa lepas mendengarnya.
"Kamu teriak pas detik pertama masuk mulut, lho? Padahal rasanya kan belum sempat kecap bener."
"Mana ada. Pas detik pertama masuk mulut, aroma gosong panggangan yang pas, rasa manis saus yang elegan, sama gurihnya langsung nyampur jadi satu."
"B-begitu ya..."
"Juicy banget, tiap kali dikunyah rasa gurih dagingnya langsung penuhi mulut. Perpaduan antara saus sama dagingnya bener-bener sempurna."
Karena terlalu enak, aku terus-terusan menyuap hamburg itu ke dalam mulut.
"Hehe, terima kasih. Sebenarnya, aku ini suka banget sama hamburg, jadi aku sudah melakukan banyak riset. Mulai dari keseimbangan saus, perbandingan bahan, sampai cara memasaknya. Karena aku yakin dengan hasilnya, makanya kubikin jadi menu hari ini."
"Begitu rupanya. Ini jadi hari ulang tahun terbaik buatku."
"Guru, lebaynya kumat lagi."
T/N: Kok dari sensei ke guru cuma pembandinging aja kaya dia nyebut guru karena dia autor sebuah karya
Himegi-san tersenyum manis tanpa beban. Senyumannya terlalu memukau sampai-sampai refleks aku mengalihkan pandangan.
Setelah menandaskan hamburg dan salad, Himegi-san membawakan kue berwarna merah muda dari dapur.
"Tanpa mengurangi rasa hormat, aku membuatkan kue ini untuk merayakan ulang tahun Guru."
Ujar Himegi-san dengan ekspresi tegang, lalu meletakkan kue itu di atas meja.
Kue tersebut dibentuk menyerupai bunga mawar, dibuat dengan kerajinan cokelat yang sangat rumit. Lapisan kelopak cokelatnya bertumpuk-tumpuk secara natural, kualitasnya benar-benar mirip seperti mawar asli.
"Keren banget! Ini... Himegi-san sendiri yang bikin?!"
"Iya. Aku nyiapinnya di rumah tadi, untung saja cokelatnya nggak ada yang retak di jalan."
"Kamu bisa jadi chocolatier profesional... boleh aku foto?"
"Tentu saja boleh, tapi selain foto, aku juga saranin rekam dalam bentuk video."
"Video...?"
Meskipun bingung, melihat Himegi-san yang tampak begitu percaya diri, aku memutuskan untuk mengambil beberapa foto lalu merekam video seperti yang diminta.
Himegi-san kemudian mengambil teko kecil berwarna perak yang sejak tadi dipanaskan di atas kompor.
"Di dalam teko ini ada saus vanila hangat. Kalau ini disiram dari atas..."
Sambil menjelaskan, Himegi-san memiringkan teko tersebut. Begitu saus vanila hangat mengenai cokelatnya, kelopak-kelopak bunga mawar itu perlahan mulai mekar ke luar karena panasnya.
Tak lama kemudian, tepat di tengah mawar yang mekar sempurna, sebuah cincin kecil bersemayam dengan manisnya.
"......Ini keren abis...!!"
Untuk sesaat, kata-kata lain seolah menguap begitu saja dari kepalaku. Membuat kue mawar saja pasti sudah butuh usaha luar biasa, tapi masih ditambah trik semenarik ini.
Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk persiapannya? Padahal hal semacam ini sama sekali tidak akan menaikkan gaji atau pemasukannya sebagai sekretaris, tapi Himegi-san tetap berinisiatif menyiapkan kue ini demi satu tujuan: melihatku bahagia.
Keinginan untuk menghibur dan membahagiakan orang lain adalah elemen terpenting dalam meracik sebuah karya hiburan. Itulah kenapa aku merasa seperti menemukan seorang rekan seperjuangan, membuat hatiku tersengat dan bergemuruh hangat.
"Aku sudah sering simulasi sebelumnya, untung saja berhasil. ...Bagaimana, Guru?"
"Dadaku berdegup kencang banget. Lagian, cara ini bukannya metode lamaran ideal yang sempat diucapin heroine di dalam cerita, ya?"
"Iya. Aku coba wujudkan semampu yang aku bisa."
Himegi-san menjawab dengan senyuman terkembang lebar, membuatku bergetar karena diliputi rasa senang.
"Aku benar-benar terharu. Semangat Himegi-san ini luar biasa banget... Rasanya aku pengen nabok diriku sendiri yang tadi sempat bilang nggak butuh sekretaris."
"Meskipun tindakan ini lebih mirip aksi seorang fans sih, bukan sekadar tugas sekretaris."
"Tapi ini bener-bener jadi referensi yang bagus banget. Nanti pas adegan karakter utama melamar di cerita, aku bakal pakai video barusan sebagai contekan."
"──Eh?! Mau ada adegan lamaran?!"
Himegi-san mendadak menjerit kencang.
"Kapan tuh?! Di skenario tambahan berikutnya?!"
"Nggak, masih belum ada rencana buat masukin adegan lamaran dalam waktu dekat. Kalau itu kejadian, ceritanya malah kelar."
"──Syukurlah... Kukira aku barusan kena spoiler mendadak, hampir jantungan."
Himegi-san menaruh tangan di dadanya, mencoba menstabilkan napasnya.
Begitu tenang, ia malah menatapku dengan sorot mata penuh harap.
"Ngomong-ngomong, Guru. Bagaimana masakan dan perlakuanku tadi? Mengingat Guru sudah memuji separah ini, apa aku sudah bisa dianggap layak diangkat jadi sekretaris?"
"……Yah."
Sejujurnya, sejak melihat kue tadi, jawabanku sebenarnya sudah bulat.
Lagi pula, kemampuan masak Himegi-san itu sudah di luar nalar, sampai-sampai aku pengen merekrutnya jadi koki pribadi. Kalau ditambah dengan kemampuannya mengerjakan tugas sekretaris yang lain, sama sekali tidak ada alasan bagiku untuk menolak.
"Mulai hari ini, mari kita jalani masa percobaan satu bulan sebagai sekretaris dan..."
...dan berkata, "Terima kasih banyak... Aku juga mohon bimbingannya...!"
Setelah mengucapkan itu dengan nada yang menyiratkan rasa haru, Himegi-san memasang senyuman cerah tanpa beban.
"Merupakan kehormatan besar bagiku bisa menjadi sekretaris orang hebat seperti Guru. Aku akan melakukan yang terbaik dengan seluruh tenagaku."
"Eh, nggak kok, aku sebenarnya nggak sehebat itu."
"Tapi, bukankah angka satu juta kopi itu pencapaian yang luar biasa banget?"
"Ya, memang sih..."
Sejujurnya, berhasil mencetak hit sebesar itu lewat jalur indie game adalah sebuah prestasi yang membanggakan, bahkan bagi diriku sendiri. Kalau disuruh mengulanginya sekali lagi pun, rasanya aku tidak akan sanggup.
Jadi, lebih baik aku merendah saja sekarang.
"Game itu bisa meledak cuma karena faktor keberuntungan. Proyek-proyek lain yang kubuat sebelumnya sama sekali nggak ada yang laku."
"Begitu ya? Ngomong-ngomong, sudah berapa banyak game yang Guru rilis sampai sekarang? Game-game zaman dulu pasti sudah nggak aktif lagi ya, kan?"
"Iya... Hmm... Berapa banyak ya...?"
"Sampai nggak bisa diingat seketika begitu, berarti karyanya sudah banyak banget, ya."
"Yah... Karena aku sudah bikin game sejak kelas dua SD, sih."
"Itu juga luar biasa. Waktu kelas dua SD, kepalaku isinya cuma sekolah sama main doang, lho."
"Buat aku sendiri, bikin game itu adalah permainan yang paling mengasyikkan... Tentu saja, awalnya aku dibantu sama Mama. Ngerjainnya sedikit demi sedikit sepulang sekolah, terus dicek sama Mama pas akhir pekan... Proyek pertamaku butuh waktu sekitar tiga bulan, sampai akhirnya aku berhasil merilis RPG berdurasi satu jam tamat."
"Game itu nggak laku, ya?"
"Sayangnya enggak. Tapi dari situ aku jadi paham trik dasar bikin game, jadi mulai game kedua dan seterusnya aku kerjakan sendirian. Di game keempat, aku nekat nyoba bikin game aksi untuk pertama kalinya. Meskipun hasilnya berantakan banget menurut standarku sendiri, tapi saking kacaunya game itu malah viral dan dijadikan bahan lelucon sama anak-anak internet."
"Bahan lelucon?"
"Semacam meme internet gitu... Jadi semacam dibully atau ditertawakan kecil-kecilan."
"Pasti berat banget ya waktu itu."
"Iya, masa-masa awal emang bikin mental down. Tapi pada akhirnya jadi banyak orang yang mainin, dan banyak juga yang muji kalau bikin game kayak gitu di usia SD itu udah hebat banget, jadi aku makin keranjingan bikin game. Popularitasku sebagai kreator game perlahan naik, sampai akhirnya 'Houkago Jihen' meledak di pasaran."
"Akhirnya kerja kerasmu terbayar juga, ya."
"Iya. Jadi, kalau aku dibilang punya bakat, mungkin bakatku itu adalah nggak gampang menyerah. Kalau cuma gara-gara peluang suksesnya kecil terus kita nggak ngapa-ngapain, kesempatan buat berhasil itu bakal jadi nol."
Mendengar penjelasanku, mata Himegi-san langsung berbinar-binar.
"Guru bener-bener orang yang hebat. Nggak patah semangat pas lagi jatuh, nggak besar kepala pas lagi sukses, dan terus berusaha keras secara konsisten tiap hari. Bukan tipe orang sembarangan yang bisa ngelakuin itu."
Himegi-san berujar demikian sambil menatapku dengan sorot penuh kekaguman.
Niatku awalnya supaya dia tidak salah paham, tapi sepertinya aku malah mendulang ekspektasi dari arah yang berbeda.
"Aku bakal lakuin yang terbaik supaya Guru bisa bekerja dengan nyaman. ...Ngomong-ngomong, dukungan seperti apa yang Guru ingin aku lakukan? Misalnya, mulai besok aku datang buat masakin sarapan, atau bikinin bekal makan siang..."
"Eh? Tugas sekretaris bisa sampai segitunya, ya?"
"Aku nggak tahu sekretaris lain gimana, tapi kalau aku bakal kulakuin."
"Begitu ya..."
Ditawari sarapan tiap pagi sebenarnya opsi yang sangat menarik. Soalnya aku jadi bisa kerja mepet sampai detik-detik mau berangkat sekolah.
Meskipun begitu, aku merasa beban kerja Himegi-san bakal jadi terlalu berat.
"Ehm, soal sarapan nggak usah repot-repot, tapi kalau bekal makan siang aku mau banget. Untuk menu lauknya terserah kamu saja."
Aku memutuskan untuk berkompromi, separuh menuruti ego sendiri.
"Untuk rincian tugas lainnya, bakal kupikirkan sampai besok. Seharusnya hal ini sudah beres dibahas hari ini, tapi karena Mama nggak ngasih tahu apa-apa sebelumnya, maaf ya."
"Ah, nggak apa-apa, santai saja. Sekali lagi, mohon bantuannya mulai besok ya."
Sambil berkata begitu, Himegi-san membungkuk dengan takzim.
☆ ☆
Setelah itu, Himegi-san merapikan dan mencuci piring...
...akhirnya Himegi-san memutuskan untuk pulang.
Aku menyelonong memakai sandal jepit dan ikut mengantarnya keluar. Langit malam musim gugur tampak begitu jernih, dengan bulan yang bersinar sangat indah.
"Kalau begitu, Guru, besok pagi aku akan membawakan bekalnya, ya."
"Iya, tolong ya."
Saat aku mengangguk, Himegi-san melambaikan tangan kecilnya dan berjalan menjauh perlahan-lahan. Aku merasa sedikit salah tingkah untuk melambaikan tangan balik, jadi aku hanya berdiri kaku mengantarkan kepergian punggungnya.
Begitu Himegi-san menghilang dari pandangan, aku disergap oleh rasa hampa seolah baru terbangun dari mimpi yang indah. Rasanya seperti hari ini Himegi-san sebenarnya tidak pernah ada di rumah ini, seolah semuanya cuma khayalan semata.
Namun, saat aku kembali ke ruang tamu, aroma hamburg masih tertinggal di udara.
Aku terdiam cukup lama di tempat, mengenang kembali saat-saat di mana Himegi-san memuji karyaku. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan seorang penggemar seantusias itu, jadi aku sepertinya bisa menikmati sisa-sisa euforia ini selama yang aku mau.
Tapi, aku buru-buru sadar kembali dan memaksakan diri untuk mengalihkan fokus.
Aku masih punya tumpukan pekerjaan yang tertunda gara-gara asyik mengobrol dengan Himegi-san tadi. Aku harus segera mulai bekerja sekarang.

