📢 Announce 📢

Jangan lupa bantu kami dengan donasi
Jitsuwa

Bab 10: Terungkapnya Fakta Bahwa Laki-Laki Berspesifikasi Tinggi Memiliki Teman Masa Kecil yang Imut (Sudut Pandang Gadis Tercantik Seangkatan)

September 17, 2026 • Penerjemah: Jerinnn
Ukuran:
Mode:

 「Ngomong-ngomong, sebenarnya untuk apa Kagurazaka-san datang ke tempat ini?」

Merasa penasaran, aku melontarkan pertanyaan itu, namun Guru malah memasang ekspresi seperti orang yang sudah pasrah pada takdir.

「Katanya dia mau ke sini buat ngerjain name manga. Yui itu mangaka yang biasa jualan karya di event doujinshi berskala besar, jadi dia sering minta saranku.」

「Eh. Tapi Guru, bukankah Anda pernah bilang tidak ingin melakukan produksi bersama-sama?」

「Aku cuma memutuskan tidak melakukannya untuk bidang game saja, kok.」

「Begitu ya. Jadi kalau dengan gadis cantik, ternyata mau berkolaborasi, ya.」

「Kurasa kamu sedang salah paham besar. Proses produksi game dan manga itu sudut pandangnya benar-benar berbeda──」

Namun, tepat saat Guru hendak melanjutkan pembelaannya, bel interfon berbunyi.

「Yaho~. Haruto, sehat~?」

Seketika Guru menekan tombol interfon, sebuah suara yang ceria terdengar.

Kami berdua berpindah ke ruang depan, dan begitu Guru membukakan pintu, seorang gadis cantik berambut merah tampak berdiri di sana.

Aslinya bahkan terlihat jauh lebih imut daripada di dalam foto, mirip seperti seorang idol.

「──Uwah! Cantik banget, ya!」 

Kagurazaka-san langsung berseru begitu melihatku. 

「Kagurazaka-san sendiri, kelihatan imut dengan gaya yang mirip seperti photobook, bikin iri.」

「Hah? Photobook?」

 「Ah, tidak, bukan apa-apa.」

 Karena terlalu panik, aku malah melontarkan kalimat yang aneh. Meskipun begitu... apa jangan-jangan Guru memang menyukai tipe yang imut, ya...

「──Himegi-san? Kenapa kamu menatapku tajam begitu?」 

「Saya tidak menatap tajam. Mata saya memang bentuknya seperti ini dari sananya.」 

「…………」 

Guru kelihatan ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya dia memilih untuk tidak berkata apa-apa.

「Terus ya Haruto, cewek ini siapa?」 

「Himegi Iori-san, anak sekelas. Dia bekerja sebagai sekretaraku.」

 「Eeeh!? Mempekerjakan sekretaris!? Apa gara-gara kamu lagi banyak uang!!」 

「Meskipun aku memang sedang banyak uang, yang mempekerjakannya adalah ibuku. Dan itu dilakukan tanpa seizinku.」 

「Maaf karena saya telah dipekerjakan tanpa izin.」 

「Ah, bukan dalam maksud seperti itu... Kalau kata-kataku tadi membuatmu merasa tidak nyaman, aku minta maaf ya.」 


「T-tidak, saya lah yang sudah melontarkan kata-kata kurang sopan.」

 Padahal aku hanya melontarkan sedikit sindiran, tapi Guru malah jadi panik. Sambil salah tingkah, aku berulang-ulang menundukkan kepala.

Kagurazaka-san mengamati kami berdua dengan tenang. Namun, begitu matanya berpapasan dengan mataku, dia langsung tersenyum. 

「Salam kenal. Saya Himegi Iori, bertugas sebagai sekretaris Guru. Mohon kerjasamanya.」 

「Eh, Haruto, kamu menyuruh sekretaris memanggilmu dengan sebutan 'Guru'?」

 「Bukannya aku yang memintanya, kok.」 

「Mempertimbangkan pencapaian Guru, itu adalah cara panggilan yang sudah sewajarnya.」

 「Orang ini kelihatannya serius banget, ya.──Ah, salam kenal juga. Aku Kagurazaka Yui. Boleh panggil aku Iori-san?」 

「Tentu saja boleh. Kalau boleh tahu, Kagurazaka-san ini punya hubungan seperti apa dengan Guru?」 

「Rumah Haruto dan aku itu tetanggaan, karena kami seumuran jadi kami sering main bareng. Bisa dibilang tipikal teman masa kecil, sih.」

Apa-an itu. Itu kan tipe cewek yang bakal menikah di masa depan. Awalnya hubungannya mirip kayak kakak-adik, tapi pas masuk masa pubertas mulai diledek sama orang sekitar terus lama-lama ada jarak, tapi di satu momen tertentu mereka sadar kalau saling suka, dan langsung berujung ke pernikahan. Kan itu tipe alur yang jalurnya cepat karena dari kecil sudah akrab lewat pergaulan keluarga.

「Baik Yui sama aku sama-sama suka manga, dan dulu sering pinjam-meminjam. Selain itu, aku juga sering minta dia buat playtest game yang kubuat.」 


「Walaupun playtest itu cuma kedok buat debugging sih. Haruto itu orangnya semena-mena kalau nyuruh orang.」

 「Debugging...? Guru, apa itu?」 

「Proses memainkan game yang sedang dikembangkan berulang-ulang untuk mencari bug. Yui itu debugger yang hebat karena selalu melakukan gerakan-gerakan di luar dugaan pengembang.」

 「Sebelum Haruto pindah ke sini, kami hampir ketemu tiap hari, lho. Rasanya waktu kita pas lagi melek itu dihabiskan bareng-bareng terus.」

Mereka berdua mengobrol dengan akrabnya. Aku merasakan gelombang rasa terasingkan, membuatku ingin lari dari tempat ini. Tapi, kalau aku pulang sekarang, aku pasti akan merasa mubazir dan gelisah (monyumonyu) sepanjang hari. Sekarang aku cuma bisa bertahan. 

Atau lebih tepatnya, hubungan mereka yang bisa saling memanggil nama tanpa sufiks itu bikin iri banget. Aku juga pengen manggil Guru dengan sebutan "Haruto"... Tentu saja, kalau aku mengganti cara panggilku di waktu seperti ini, pasti aku bakal dicurigai macam-macam, jadi aku tidak akan melakukannya.

「Sudahlah, berdiri terus di depan pintu begini juga nggak ada gunanya, ayo masuk ke dalam.」 Atas dorongan Guru, kami berpindah ke ruang tamu.

「Eh, kok suasana ruangannya terasa beda? Ada bunga yang dipajang di atas meja gitu.」 「Itu dibawa oleh Himegi-san.」

 「Bunga yang mekar di halaman rumah saya. Saya pikir mungkin bisa membuat ruangannya jadi lebih semarak.」 

「Pantas saja untuk ukuran sekretaris. Selera bagus.」 



「Terima kasih. Ngomong-ngomong Kagurazaka-san, apa sebelumnya Anda pernah datang ke ruangan ini?」 

「Hmm, lumayan sering kok. Kalau pas sekolah sih cuma beberapa kali sebulan, tapi pas liburan musim panas kemarin hampir tiap hari aku ke sini.」 

「Tiap hari...!?」 

「Kalau Iori-san sendiri?」 

「Saya mulai datang setiap hari sejak tanggal 3 September. Karena saya sekretaris.」 「Begitu ya, namanya juga pekerjaan ya.」 

Entah kenapa dia membalas dengan nada yang agak menyengat (ada durinya). Mungkin aku cuma terlalu banyak berpikir, tapi rasanya aku sedang ditantang bersaing. Atau lebih tepatnya, frekuensi kunjungan Kagurazaka-san ini sama sekali tidak bisa diabaikan. 

Menghabiskan seluruh waktu liburan musim panas bersama Guru, itu pasti berarti dia menganggapnya sebagai seorang laki-laki. Yah, Guru memang terlalu keren sih, jadi mau bagaimana lagi...

「Ah, maaf. Kagurazaka-san, ingin minum apa? Ada kopi, cafe au lait, kokoa, teh hitam, dan teh hijau.」

 「Terima kasih. Aku mau teh hitam saja.」

 「Dimengerti. Guru mau cafe au lait, kan?」 

「Hmm. Terima kasih.」 

Aku pergi ke dapur dan mulai menyiapkan minuman. Guru dan Kagurazaka-san duduk di sofa panjang untuk tiga orang dengan gestur yang sudah terbiasa. Aku sebenarnya ingin segera pergi ke sana, tapi aku harus memprioritaskan pekerjaanku sebagai sekretaris.


Sambil menunggu airnya mendidih, aku bisa mendengar obrolan dari dua orang yang duduk di sofa tersebut.

 「Ngomong-ngomong Haruto. Mumpung lagi di sini, bolehkah aku minta saran soal naskah?」 

「Boleh saja. Kali ini cerita original? Atau doujin (sekunder)?」

 「Original. Aku pengen bikin cerita tentang sepasang teman masa kecil laki-laki dan perempuan, yang karena suatu insiden tak terduga akhirnya berkembang jadi hubungan romantis.」

Begitu keinginan Kagurazaka-san sampai ke telingaku, jantungku langsung melompat kaget. Mana ada cara pendekatan secara langsung kayak gitu!?

「Yui beneran ya, suka banget sama cerita tentang teman masa kecil yang jadian.」

 「Biarin kan emang bagus. Momen di mana cowok dan cewek yang udah bareng-bareng dari kecil dan tahu segala hal tentang satu sama lain, tiba-tiba mulai menyadari lawan jenisnya di detik itu.」 

Kagurazaka-san berkata dengan suara yang bersemangat.

Jangan terkecoh, Guru. Kagurazaka-san memakai cerita itu agar Guru menyadari keberadaannya sebagai sesama teman masa kecil.

「Lagian, tema teman masa kecil kan udah terlalu sering dipakai, kayaknya nggak ada lagi sisa hal yang bisa dibahas, deh.」 

「Makanya aku ngandelin Haruto, kan. Coba pikirkan ide baru tentang momen di mana seorang anak perempuan teman masa kecil disadari sebagai lawan jenis.」 

「Meskipun kamu ngomong begitu... Masa lalu─」



「...Pernahkah waktu itu kita memakai alur 'rasa bersaing muncul setelah tahu kalau teman masa kecilnya dinyatakan cinta oleh teman sekelas'?, 'melihat wujud sang teman masa kecil dengan bikini di kolam renang umum untuk pertama kalinya', atau 'melihat teman masa kecil yang biasanya berpendirian kuat tiba-tiba menangis dan berpikir kalau kita ingin melindunginya' itu, ya?」

「Ditambah lagi 'diputuskan kalau teman masa kecilnya akan pindah rumah setelah lulus, dan berpikir kalau tidak ingin berpisah', serta 'saat kelelahan luar biasa di tengah pendakian gunung, teman masa kecilnya membawakan ransel menggantikan kita untuk turun gunung', kan. Meskipun dua adegan itu diambil dari sudut pandang heroine-nya, sih.」

「Rasanya kalau membaca ulang doujinshi karya Yui ini, memori masa lalu bakal bangkit kembali, ya. Soalnya aku sempat diseret ke kolam renang demi liputan, atau dipaksa mendaki gunung.」

「Bukannya game buatan Haruto juga sama. Event taman bermain di 'Gakuen Jihen' itu, tindakan si heroine benar-benar plek-ketiplek seperti aku, lho.」

「Berarti kita ini saling bantu-membantu, ya.」

Guuunuungh...

Berkedok liputan untuk menciptakan kenangan antar lawan jenis, dan apalagi mempublikasikannya ke dunia luar sebagai sebuah karya, ini benar-benar bikin iri banget...

Yah, beberapa hari yang lalu aku juga sempat ikut membantu urusan liputan, sih...

Seandainya saja aku bisa bertemu dengan Guru lebih cepat, aku kan jadi bisa pergi ke taman bermain juga...

Sambil aku menggertakkan gigi, Yui-san membuka mulutnya dengan ekspresi yang sedikit malu-malu.


「...Soal cerita tentang teman masa kecil yang jadian, kalau kamu nggak punya ide, gimana kalau pakai pengalaman nyata saja? Apa ada momen saat Haruto bersama dengan aku, lalu berpikir 'wah, asyik juga ya'...?」

Kagurazaka-san mendadak melontarkan pertanyaan yang super langsung itu!?

「Waktu aku minta tolong buat debugging, aku senang karena kamu membantuku tanpa menunjukkan ekspresi kesal, sih.」

Guru memberikan jawaban yang super pragmatis!!

「Begitu ya. Ehehe.」

Malah senang dia!! Tulus banget, ya!!

Yui-san, anak yang baik, ya... Hubungan mereka yang sudah saling menyokong sejak dulu juga terasa bagus... Aku jadi agak ingin mendukungnya...

──Eits, eits. Dia itu sainganmu. Jangan sampai goyah.

「Kalau begitu, bagaimana kalau kali ini kita buat cerita yang mudah dipahami tapi agak ekstrem?」

Kagurazaka-san mengajukan usulan seperti itu.

「Misalnya, dua orang yang terus-menerus mandi bersama sejak zaman TK, tapi pas sudah SMP, mereka jadi tiba-tiba merasa malu.」

「──S-SMP!?」

Karena terkejut, aku tanpa sadar mengeluarkan suara yang nyaris seperti jeritan.

Mereka berdua terkejut dan menoleh ke arahku.

「Iori-san, ada apa?」


「Ah, itu... Meskipun mereka teman masa kecil, apa kedua orang itu tetap mandi bersama sampai SMP? Bukankah biasanya orang sudah mulai merasa malu sejak awal SD?」

「Ah, kurasa setingkat itu agak terlalu memaksakan, ya? Kita berdua saja sudah berhenti sejak kelas 3 SD, kan.」

「Kalian mandi bersama sampai kelas 3 SD!?」

「Iya. Haruto yang merasa malu duluan, makanya berhenti.」

Guru mengalihkan pandangannya dengan canggung dari Kagurazaka-san yang menceritakannya sambil tersenyum. Aku merasa pemandangan itu memperlihatkan siapa yang memegang kendali di antara mereka berdua.

「Apa Iori-san punya ide tertentu?」

Ditanya secara mendadak begitu, aku terkejut.

「Ide, maksudnya?」

「Momen apa yang bikin jantungmu berdegup kencang terhadap anak laki-laki teman masa kecil, apa ada?」

「Sayangnya, saya tidak punya teman masa kecil, jadi saya tidak tahu.」

「Kalau begitu, nggak harus teman masa kecil juga nggak apa-apa. Momen apa yang jadi pemicu saat Iori-san jatuh cinta di masa lalu?」

「Pemicu...」

Hal pertama yang terlintas di benakku adalah rasa hormat terhadapnya karena telah melahirkan game berjudul 'Gakuen Jihen'.

Meskipun begitu, pada saat memainkan gamenya, aku sama sekali tidak jatuh cinta kepada sang pembuatnya. Kapan ya, rasa hormatku berubah menjadi perasaan cinta asmara?


Jika aku mengenang kembali masa-masa setelah resmi menjadi sekretaris Guru, kurasa aku tidak langsung jatuh cinta dalam sekejap, melainkan perasaan itu terakumulasi seiring waktu berjalan. Mulai dari kesenjangan bahwa teman sekelas yang kulihat sebagai pemalas ternyata adalah sosok dewa. Berkat bekerja dan beraktivitas bersama, aku menyadari betapa dewasanya dia melebihi anak SMA pada umumnya. Saat pergi ke festival tradisional dalam rangka liputan, dia ternyata bisa bersenang-senang seperti anak kecil di luar dugaan. Atau, kukira kemampuan komunikasinya rendah, namun ternyata kemampuan kepemimpinannya luar biasa hebat.

──Tunggu, ini semua kan terang-terangan menceritakan tentang Guru. Kalau aku salah ngomong, nanti bisa-bisa disalahartikan.

「Maaf. Saya sepertinya tidak punya ide khusus.」

「Begitu ya...」

Kagurazaka-san bergumam dengan nada kecewa, tapi begini saja sudah cukup. Perasaanku tidak boleh sampai ketahuan oleh mereka.

──Eits, tunggu sebentar.

Aku baru menyadari satu hal gawat. Alasan keberadaanku di tempat ini sekarang adalah untuk 'memberikan salam kepada Kagurazaka-san'. Salamnya kan sudah selesai, dan begitu aku selesai menyajikan minuman untuk mereka berdua, aku sudah kehilangan alasan untuk ikut duduk di ruangan ini sebagai sekretaris.

Namun, aku masih belum mau pulang. Aku terlalu penasaran interaksi seperti apa yang akan dilakukan oleh mereka berdua setelah aku meninggalkan ruangan ini.

Aku harus membuat alasan agar bisa tetap tinggal di tempat ini dengan cara apa pun...!

Terbawa oleh rasa panik, aku buru-buru membuka suara.



「Kalau dibahas dari sudut pandang perempuan, menurut saya alur cerita di mana kita melihat sisi baru dari teman masa kecil yang kita pikir sudah kita ketahui seutuhnya, lalu jatuh cinta karena gap positif itu adalah pilihan yang bagus. Misalnya, teman masa kecil yang kelihatannya tidak bisa apa-apa tiba-tiba bangkit di saat genting, dan ternyata ketahuan kalau dia adalah 'elang perkasa yang menyembunyikan kukunya' (bisa diandalkan tapi diam-diam).」

「Maksudnya cerita bergenre battle gitu?」

「Yang saya bayangkan adalah situasi krisis di dunia pekerjaan, tapi kalau genre battle pun kurasa tidak masalah.」

「Begitu ya. Kalau begitu. Misal menjelang rapat mesin fotokopinya paper jam dan dokumennya tidak bisa disiapkan, lalu si teman masa kecil dengan sigap membetulkannya, semacam itu, ya?」

「Menurut saya gagasan dasarnya tidak salah. Walaupun sosok orang yang sedang membetulkan mesin fotokopi paper jam itu rasanya kurang estetik untuk dijadikan cerita, sih.」

「Memang benar juga... Kalau begitu, kita anggap arah itu yang dipakai, ya... Oke, kali ini kita pakai ide itu saja. Iori-san, apa kamu mau bantu memikirkan idenya?」

「Baik, saya mengerti.」

「Eh, tunggu, itu kan sudah di luar batas pekerjaan Himegi-san sebagai sekretaris.」

「Guru, tidak apa-apa. Kalau saya membantu pekerjaan Kagurazaka-san, hal itu pada akhirnya akan bermuara pada berkurangnya beban kerja Guru juga, kan.」

「Ya mungkin saja sih...」

「Asyik! Kalau begitu Iori-san, pertama-tama mari kita pikirkan ekologi dari si teman masa kecil ini! Supaya adegan kebangkitannya terlihat keren, karakternya di awal harus digambarkan sebagai sosok yang payah banget!」


「Begitu ya. Ngomong-ngomong, apakah kita sepakat kalau teman masa kecil yang bangkit itu adalah seorang laki-laki?」

「Tentu saja! Ayo kita pikirkan syarat untuk menjadi cowok yang payah banget!」

「Baiklah... Misalnya, di rak buku kamarnya tersimpan banyak sekali photobook idol wanita, atau semacamnya.」

「Himegi-san...?」

「Hanya bercanda.」

Aku menyunggingkan senyum kecil ke arah Guru yang tampak kebingungan.



Daftar Bab Novel
Memuat daftar chapter...