📢 Announce 📢

Jangan lupa bantu kami dengan donasi
Jitsuwa

Bab 16: Mencoba Memainkan Trik demi Perpanjangan Kontrak (Sudut Pandang Gadis Tercantik di Sekolah)

September 18, 2026 • Penerjemah: Jerinnn
Ukuran:
Mode:

 Sesuai rencana, aku berhasil membawa Guru masuk ke dalam rumah ramal. Kami bahkan bisa masuk ke booth yang dikelola oleh Hori tanpa dicurigai sama sekali.

Hori adalah teman sekelasku saat SMP. Kali ini, dia bersedia membantuku menyukseskan rencana ini. Skenarionya adalah ketika aku menanyakan masa depan kami berdua, Hori akan melontarkan hal-hal bagus saja, sehingga Guru nantinya merasa ingin memperpanjang kontrak kerjanya denganku.

「Baiklah... Hmm... Aku bisa melihatnya...」

Hori mulai berbicara dengan nada ala peramal sambil memejamkan mata dan mengarahkan tangannya ke atas bola kristal.

「Konstelasi bintang kalian berdua saling bertindih secara sempurna, ini benar-benar 'Garis Tangan Takdir'. Sang pria menyimpan elemen 'Gerak' dan terlahir di bawah bintang yang merintis jalan. Di sisi lain, sang wanita menyimpan elemen 'Sirkulasi' dan terlahir di bawah bintang yang menarik jodoh-jodoh baik. Bintang-bintang yang tadinya bersinar terpisah itu, pada detik saat mereka bersatu, akan berubah menjadi 'Naga Bumi' dan menciptakan 'Konstelasi Sinergi' di mana peruntungan karier kalian akan berlipat ganda」

──Hebat! Hebat banget, Hori! Meskipun aku sama sekali nggak paham apa maksud ucapannya, gaya bicaranya benar-benar mirip peramal sungguhan!

Meskipun seratus persen ini adalah rekayasa belaka, mendengarnya diucapkan sampai separah ini sukses membuatku merasa senang.

Hanya saja, biasanya kan peramal menanyakan tanggal lahir atau golongan darah dulu sebelum mulai, tapi karena hal itu sudah kusampaikan pada Hori sebelumnya, kami jadi melewatkan tahap itu. Kira-kira bakal ketahuan sama Guru nggak ya kalau ini cuma akal-akalan...?



「Sang pria bergerak, dan sang wanita menyelaraskan peluang. Berbagai benih yang ditabur oleh sang pria akan disiram hingga bertunas secara serentak oleh sang wanita. Apa yang tadinya hanya sebatas 'kesuksesan' jika dikerjakan sendiri, akan berubah menjadi 'kesuksesan besar yang luar biasa' jika kalian berpasangan. Aliran keberuntungan akan bersirkulasi di antara kalian berdua, melahirkan kekayaan dan ketenaran bagai air bah. Hari di mana kalian menggenggam kekuasaan yang cukup untuk membeli dunia pun tidak akan lama lagi.」

「Sampai segitunya!?」

Guru tampak terkejut bukan kepalang. Ramalan Hori ini jelas-jelas dilebih-lebihkan, tapi Guru sama sekali tidak menunjukkan gelagat curiga.

Kalau kontrakku sebagai sekretaris nanti diperpanjang, aku harus berhati-hati supaya Guru tidak gampang tertipu oleh penipuan di luar sana.

「Lebih dari itu, kalian berdua diikat oleh benang merah 'Takdir Masa Lalu' melalui berbagai ikatan. Dengan saling berdampingan, sang pria akan mengenal rasa aman, dan sang wanita akan mendapatkan kepercayaan diri. Kesulitan apa pun yang datang di masa depan, kalian akan mampu mengerahkan daya ikat untuk melewatinya. Bintang-bintang takdir menyuruh kalian berdua untuk... menikah sekarang juga.」

──Nikah!?

Hori terbawa suasana dan sengaja menyelipkan ad-lib di luar rencana.

Menikah... yah, rasanya sih tidak terlalu buruk, tapi...

「Jika kalian memutuskan di sini sekarang, takdir kalian berdua akan selaras. Akan kukatakan dengan jelas, kalian berdua sudah melampaui level 'kecocokan yang baik'. Kalian dipertemukan karena ditarik oleh 'Bintang Pasangan Suami Istri'. Pernikahan bukanlah garis finis, melainkan sebuah ritual untuk menyempurnakan takdir. Mustahil memikirkan dua orang dengan kecocokan sesempurna ini tidak menjadi pasangan suami istri. Nah... silakan buat keputusan kalian.」


Pada akhirnya, kami malah diminta untuk memutuskan pernikahan.

Bukan, bukan itu tujuannya. Aku kan cuma ingin memperpanjang kontrakku sebagai sekretaris...

☆ ☆

Pada akhirnya, rencana itu berantakan total akibat ulah Hori yang kebablasan. Padahal rencananya di rumah ramal tadi aku ingin melempar topik, "Kecocokan kerja kita sepertinya yang paling terbaik, ya," lalu memancing Guru agar mengucapkan kalimat "Aku ingin memperpanjang kontrakmu"...

Selepas keluar dari ruang kelas 1-3, tercipta jarak yang terasa canggung di antara aku dan Guru. Semuanya gara-gara Hori yang terus-menerus meneriakkan kata "menikah" dan "suami istri", membuat suasana jadi serba salah.

Aku harus segera memulihkan keadaan...

Kendati demikian, apa yang harus kulakukan sekarang... Andai saja ada cara untuk memamerkan betapa berharganya diriku sebagai talenta yang mumpuni...

「Pendaftaran peserta untuk kontes gadis tercantik sekolah akan segera ditutup~」

Saat aku berjalan tanpa tujuan di area sekolah, seruan semacam itu terdengar dari arah gedung olahraga.

Pada detik itu juga, aku mendapat firasat kuat. Kalau aku bisa meraih hasil bagus di kontes kecantikan, mungkin aku bisa pamer ke Guru.

Meskipun pada dasarnya aku memiliki sikap sinis terhadap kontes semacam ini. Kalau dianggap sekadar hiburan semata mungkin bisa dinikmati, tapi menilai peringkat manusia berdasarkan penampilan fisik saja rasanya terlalu murahan.

Selain itu, aku bukan tipe orang yang jago berdiri di hadapan banyak orang. Memimpin jalannya homeroom saja kulakukan semata-mata karena terpaksa mengemban tugas sebagai ketua kelas, padahal aslinya aku ingin minta digantikan orang lain.

Jadi, kalau bukan karena situasi mendesak seperti ini, aku tidak akan pernah mempertimbangkan untuk ikut. Membayangkan diriku harus merendahkan diri menjual pesona kepada para juri dengan berkata "Tolong vote aku ya" saja sudah membuatku merasa pusing.

Namun, tidak ada cara lain untuk mendobrak situasi ini, dan batas waktu semakin mendesak. Pada akhirnya, demi bisa pamer di hadapan Guru, aku membulatkan tekad untuk ikut serta.

Agar rasa grogiku menghadapi kontes ini tidak ketahuan, aku menyampaikannya dengan nada seceria mungkin.

「Katanya ada kontes gadis tercantik. Kedengarannya seru, bolehkah aku ikut sebentar?」

「Tentu saja. Semangat ya.」

Didorong oleh ucapan Guru, aku mendaftarkan diri dengan penuh tekad, dan sepuluh menit kemudian aku sudah berdiri di atas panggung gedung olahraga untuk melakukan perkenalan diri.

Karena aku mendaftar tanpa persiapan apa pun ditambah rasa gugup yang luar biasa, aku sama sekali tidak bisa berbicara dengan lancar. Meskipun begitu, aku tetap berusaha memberikan jawaban yang paling memukau untuk pertanyaan dari pembawa acara, bahkan sempat menari seadanya saat ditanya soal keahlian khusus, demi bisa bertahan di atas panggung.

Di bawah panggung ada lautan penonton yang begitu ramai, membuatku berkali-kali ingin kabur saja, tapi begitu melihat keberadaan Guru di antara kerumunan itu, aku berhasil menyelesaikannya berkat tekad baja.

Hasilnya, para juri dengan suara bulat memutuskan diriku sebagai pemenang. Aku sedikit terkejut karena semua suara benar-benar terkumpul padaku, tapi kalau dipikirkan secara objektif, akulah gadis paling cantik di antara para peserta, jadi kurasa itu adalah hasil yang wajar. Tentu saja, saat menyampaikan komentar kemenangan, aku tetap merendah dengan berkata, "Aku tidak menyangka sama sekali."


Aku ingin segera melaporkannya kepada Guru, namun begitu turun dari panggung sambil membawa plakat kemenangan, teman-teman sekelasku langsung mengerumuniku dan menghalangi jalanku.

「Hebat banget, Himegi-san!」

「Selamat, ya!」

Keliatan cantik banget tadi!

Aku dipuji-puji oleh teman sekelas maupun cowok-cowok tak dikenal, tapi karena aku tidak tertarik, kujawab sekadarnya saja.

Menerobos kerumunan yang menghalangi, begitu berhasil keluar dari gedung olahraga, ternyata Guru sudah menungguku di sana.

「──Guru, lihat ini. Waktu coba-coba ikut karena terbawa suasana, malah menang juara pertama.」

Sengaja memasang ekspresi seolah-olah itu bukan hal besar, aku mengangkat plakat kemenanganku, namun ekspresi Guru justru terlihat agak dingin.

...Beneran hebat banget. Saking hebatnya, aku malah merasa ada jarak di antara kita...

Begitu gumam Guru sambil memasang ekspresi canggung.

Itu benar-benar jauh dari reaksi yang kuharapkan. Padahal aku hanya ingin menyadarkan dirinya tentang betapa langkanya talenta yang bernama Himegi-san ini.

Aku tidak butuh pujian dari orang lain. Aku tidak peduli. Makanya Guru, tolong puji aku. Tolong katakan kalau aku ini dibutuhkan, dan katakan supaya aku terus melanjutkan kontrak sebagai sekretaris...

Daftar Bab Novel
Memuat daftar chapter...