📢 Announce 📢

Jangan lupa bantu kami dengan donasi
Jitsuwa

Bab 2: Kesan Pertama Bekerja Sebagai Sekretaris Si Cowok High-Spec (Sudut Pandang Si Gadis Tercantik di Sekolah)

September 12, 2026 • Penerjemah: Jerinnn
Ukuran:
Mode:


Udah nggak sanggup... Hari ini kelakuanku bener-bener kelewatan banget... Ingin rasanya lenyap dari bumi... 

Begitu naik kereta, aku langsung berdiri di dekat pintu sambil merutuki kebodohanku sendiri, merenungkan kembali setiap ucapan dan tindakanku tadi. 

Aku benar-benar menyumpahi diri sendiri karena mataku yang buta. Nggak disangka-sangka, Takahashi-kun yang itu ternyata adalah sosok dewa yang selama ini aku puja-puja setengah mati... 

Aku pertama kali nemuin 'Houkago Jihen' itu pas masa-masa sebelum orang tuaku bercerai, di saat kondisi rumah lagi hancur berantakan. 

Waktu itu aku lagi nggak punya semangat buat ngapa-ngapain, cuma duduk melamun sambil mantengin situs video di HP, sampai akhirnya video let's play dari seorang streamer muncul di berandaku. 

Awalnya aku cuma nonton sambil lalu, tapi tanpa sadar aku malah hanyut sepenuhnya, sampai akhirnya ikut menangis bareng si streamer di bagian akhir cerita. 

Dulu pikiranku masih sempit banget, aku ngerasa jadi orang paling malang sedunia. 

Tapi lewat 'Houkago Jihen', aku belajar kalau ada banyak orang di luar sana yang harus menghadapi situasi pelik, dan kita nggak boleh menyerah dalam situasi sesulit apa pun.

 Setiap orang punya keputusasaannya masing-masing, tapi dengan saling berbagi, hal itu bisa berubah jadi harapan dan kekuatan untuk terus hidup. 

Mungkin kedengarannya sepele, tapi karya itulah yang berhasil nyelamatin mentalku.

Tapi kenapa... ah...

Kalau bisa, aku pengen banget pinjam mesin waktu buat balik ke kemarin. Aku pengen peringatin diriku yang lagi girang-girangnya nyiapin kue mawar. "Bodoh, dewa yang kamu sembah itu duduk tepat di depan meja kamu di kelas, tau!"

Di dalam kepalaku, adegan demi adegan kebodohanku hari ini diputar ulang terus-terusan, bikin aku nyaris Jedukin kepala ke kaca jendela kereta kalau nggak bisa nahan diri.

Nggak boleh, aku harus kuat. Mumpung sekarang aku sudah jadi sekretaris Guru, aku harus nebus semua kesalahanku.

Daripada mikirin hal-hal memalukan, lebih baik ingat-ingat hal manisnya aja. Soal beres-beres kardus, aku sempat dipuji, "Kamu bahkan bekerja melebihi apa yang kuharapkan." Hamburg buatanku juga dipuji habis-habisan sampai berlebihan, dan kue mawar buatan tanganku dibilang "keren abis" sampai bikin dia senang.

Duh... Cuma ngebayanginnya aja bikin hormon Bahagia di otakku langsung melonjak...

Nah, bener juga, nggak ada gunanya nyesalin hal yang udah lewat. Yang penting sekarang aku harus fokus usaha bikin bekal makan siang buat besok sesempurna mungkin.

Lauknya diserahin sepenuhnya ke aku, jadi mau nggak mau aku harus mikir dari nol. Sebenarnya aku pengen banget nanya makanan kesukaannya, tapi aku nggak mungkin merepotkan Guru sampai segitunya, jadi jalan satu-satunya adalah nyari petunjuk dari postingan-postingan lama di media sosialnya.

Dengan semangat baru, aku mengepalkan tanganku erat-erat sambil menggenggam ponsel di tangan.

☆ ☆



Keesokan harinya. Aku sedang duduk di kelas, menatap punggung Sensei yang duduk tepat di depanku. Nanti, Sensei akan membelakangiku dan memakan bekal yang kubuat.

Aku kurang tidur karena memikirkan lauk untuk bekal itu sampai jam dua pagi. Selain itu, demi berjaga-jaga kalau aku harus membuat ulang seandainya hasilnya nanti kurang memuaskan, aku bangun lebih pagi dari biasanya dan memasak porsi untuk empat orang sekaligus. Yaitu untuk Sensei, untuk tes rasa, untukku sendiri, dan untuk Mama.

Menu isinya adalah beras merah, ayam teriyaki, ikan salmon panggang, tamagoyaki, brokoli, serta komatsuna bumbu wijen. Aku memilih menu tersebut berdasarkan cuitan Sensei di media sosial dan referensi menu bekal dari 'Houkago Jihen'.

Setelah kucoba sendiri dan rasanya sudah sesuai standar, pagi-pagi tadi aku membawanya ke rumah Sensei dengan jantung berdegup kencang. Kami lalu berangkat sekolah bersama, tapi begitu melewati gerbang sekolah, Sensei mendadak melontarkan ucapan ini.

"Meskipun rasanya nggak perlu diminta pun kamu pasti paham, tapi tolong jangan panggil aku 'Sensei' di sekolah, ya."

"Permintaan yang cukup sulit..."

"Kenapa begitu?"

"Karena setelah tahu identitas asli Sensei, di mataku Sensei ya tetap seorang Sensei."

"Memanggil teman sekelas dengan sebutan 'Sensei' itu nggak natural. Jadi tolong dihindari."

"Baiklah...!"

"Satu lagi, jangan pakai bahasa formal (keigo) di sekolah."

"Hah, menyuruhku pakai bahasa santai ke dewa?!"

"Bukankah sampai kemarin kamu bicara santai biasa padaku?"

"Itu kan karena aku belum tahu siapa identitas aslinya..."

"Ini demi mencegah orang-orang di sekitar mencurigai hubungan kita. Tolong laksanakan dengan benar."

"Baik..."

"Itu masih pakai bahasa formal."

"......Baiklah. Tapi kalau begitu, Takahashi-kun juga jangan pakai bahasa formal ke aku, ya?"

"Enggak, aku memang selalu pakai bahasa formal ke semua teman sekelas..."

"Aku nggak tahan kalau status hubungan kita nggak seimbang. Rasanya sama sekali nggak wajar kalau aku harus pakai bahasa santai sebelah pihak sementara Takahashi-kun yang ibaratnya ada di atas awan malah ngomong formal ke aku."

"......Baiklah. Aku bakal coba."

Detik setelah ia berkata begitu, aliran listrik seolah menyengat seluruh tubuhku.

Selain merasa senang karena Sensei mau mengalah dan mendekatiku, aku juga terpesona oleh sisi kelaki-lakiannya.

"Ini sih... juara banget..."

"Maksudnya? Himegi-san, barusan ngomong apa?"

"T-tidak, bukan apa-apa kok."

Aku memasang ekspresi setenang mungkin karena nggak mau dikira aneh.

"Ngomong-ngomong, Takahashi-kun. Mau makan siang bareng hari ini?"

"Enggak, kemarin-kemarin kita bahkan nggak pernah ngobrol, jadi bakal kelihatan aneh banget kalau tiba-tiba kita makan siang bareng."

"Ya memang sih..."

"Lagi pula, isi bekal kita berdua kan sama persis, kan? Kalau sampai ketahuan nanti bakal repot, jadi kita makan masing-masing saja."

"B-baiklah..."

Beginilah akhirnya, jam istirahat siangku kuhabiskan hanya dengan menatap punggung Sensei dari belakang. Kelihatannya Sensei benar-benar sangat waspada agar identitasnya tidak sampai terbongkar oleh teman sekelas.

Sensei mengeluarkan kotak bekalnya, lalu memegang sumpit dengan tangan kanannya. Sensasi geli yang tak terlukiskan merayapi sekujur tubuhku.

Kalau bisa, aku ingin makan berhadapan langsung dan mendengarkan komentarnya satu per satu. Atau lebih tepatnya, aku ingin dipuji habis-habisan seperti kemarin.

Teman-teman sekelas ini benar-benar pengganggu. Kenapa mereka nggak pergi ke kantin saja dan membiarkan aku berdua saja dengan Sensei...

"──Makanya, kenapa tadi kamu nggak shooting aja sih! Padahal itu kesempatan emas buat ngebalikkan keadaan!"

Tiba-tiba, suara bentakan keras Ōno-kun terdengar dari bagian belakang kelas.

Ōno-kun adalah anggota klub sepak bola dan termasuk salah satu anak yang paling mencolok di kelas kami, sontak ketegangan langsung menyelimuti seluruh ruangan kelas.

"Ribet banget sih. Nggak usah baper gitu cuma karena pertandingan sepak bola di jam olahraga."

Eitō-kun membalas. Tapi karena Ōno-kun adalah tipe orang yang paling benci kalah, ucapan itu justru seperti menyiram bensin ke dalam kobaran api.

"Meskipun cuma jam pelajaran, kalau gara-gara kamu satu tim jadi dirugikan, makanya main yang serius, dong!"

"Aku udah main serius, tahu. Jangan samain kemampuan orang lain sama standarmu."

"Mainmu itu payah banget sampai rasanya cuma kelihatan kayak lagi males-malesan!"

Pertengkaran mulut antara Ōno-kun dan Eitō-kun semakin memanas.

"Mentang-mentang anak klub bola, jangan belagu cuma pas jam sepak bola doang! Kamu sendiri waktu ujian akhir kemarin, nilai rata-rata kelas kita jadi anjlok gara-gara kamu, kan!"

Eitō-kun melontarkan sindiran yang telak banget. Ōno-kun langsung terdiam skakmat.

Namun, Ōno-kun tampak sudah sangat tersulut emosinya, sepertinya dia tidak akan mundur begitu saja hanya karena sindiran tadi. Kalau tidak segera ada yang melerai, situasinya bisa gawat.

──Tepat di detik aku berpikir begitu.

♪ "Pepei~i! Scratch Chance!" ♪

Pesan dengan nada konyol mendadak berdering kencang dari ponsel Sensei.

Sejenak suasana kelas mendadak hening, sebelum akhirnya pecah oleh tawa terbahak-bahak dari anak-anak sekelas.

"Waduh! Scratch chance-nya mulai, tuh!"

"Malah belanja online pas jam istirahat!"

Seluruh pandangan di kelas langsung tertuju ke arah Sensei. Aku cuma bisa melihat bagian belakang kepalanya, tapi sepertinya dia langsung panik memasukkan ponselnya ke dalam laci meja.


Gara-gara fitur scratch chance di ponsel Sensei, suasana tegang yang tadi mencekam mendadak mencair seketika.

Kulihat ke arah Ōno-kun dan Eitō-kun, amarah mereka sepertinya sudah sepenuhnya lenyap gara-gara kejadian tadi.

Atau lebih tepatnya, jauh di lubuk hati mereka berdua sebenarnya sama-sama sedang mencari alasan untuk menghentikan pertengkaran. Dengan wajah malu-malu kucing, mereka berdua akhirnya melangkah keluar menuju koridor secara berdampingan.

Aku menatap punggung Sensei yang masih sibuk mengotak-atik ponselnya di bawah meja.

Apakah kejadian barusan itu cuma kebetulan? Atau memang disengaja?

Kalau seandainya dia sengaja melakukannya... itu benar-benar hebat banget. Bisa meredakan pertengkaran antar teman sekelas hanya dalam waktu singkat menggunakan satu jari saja.

☆ ☆

Pulang sekolah hari itu. Karena Sensei duluan keluar kelas, aku langsung mengejarnya di area rak sepatu (gebako) dan melontarkan pertanyaan ini.

"Eh, Takahashi-kun. Soal insiden waktu jam istirahat tadi, itu beneran sengaja kamu lakuin, kan?"

"......Insiden apa maksudnya?"

"Jelas-jelas soal 'Pepei~i! Scratch Chance', lah."

"......Ah, maksudmu soal aku yang nggak sengaja salah atur volume HP sampai kedengaran ke seluruh kelas, ya."

Sensei menjawab dengan ekspresi canggung.

"Jadi maksudmu, pertengkaran yang mendadak berhenti itu cuma kebetulan doang?"


"Ya iyalah, jelas kebetulan."

"Padahal timing-nya pas banget, lho."

"Itu kebetulan."

Sensei menjawab dengan pasang muka tak berdosa. Kelihatannya dia berniat pura-pura nggak tahu sampai akhir. Padahal dia berhasil menghentikan pertengkaran yang bikin semua orang kerepotan, tapi sama sekali nggak ada niat buat pamer.

Tentu saja, kerendahan hatinya itu adalah salah satu kelebihan Sensei. Tapi, aku ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya.

Maka dari itu, aku memutuskan untuk memanfaatkan status kami sebagai teman sekelas yang sekarang sudah sepakat bicara santai di sekolah.

"Denger ya, Takahashi-kun. Bekal yang itu, aku buat dengan susah payah karena bangun pagi-pagi, tahu? Kalau dibilang bekal itu dimakan sambil sambilan belanja online, aku jadi agak sedih mendengarnya."

Begitu aku ngomong dengan nada merajuk, raut wajah Sensei langsung berubah drastis.

"Tentu saja cara makan itu hak pilihannya Takahashi-kun sih... Tapi kemarin kan kamu muji masakannya banyak banget sampai aku senang, makanya hari ini aku semangat bikin lagi biar kamu senang..."

Saat aku terus mengomel dengan wajah sedih, Sensei akhirnya pasrah dan membuka mulutnya.

"Aku ngaku. 'Scratch Chance' tadi memang disengaja."

"Kan, bener juga dugaanku!"

Tepat seperti yang kutebak.

Bisa melerai pertengkaran tanpa harus beranjak dari kursi, keren banget emang dewa kita satu ini!

"Sejak kapan kamu nyiapin itu?"

"Begitu mereka berdua mulai bertengkar. Aku mikir, kalau seandainya ada momenhening tercipta di tengah-tengah perdebatan itu, mungkin aku bisa pakai suara tertentu buat meredakan ketegangannya. Nah, suara yang dipakai harusnya yang familier buat semua orang dan punya unsur kejutan. Tadinya aku sempat mikir mau pakai suara lonceng minimarket yang diunduh dari situs video, tapi kalau aku tiba-tiba ngeluarin suara kayak begitu, nanti kelihatan banget kalau disengaja dan malah bikin suasananya cringe. Makanya aku mikir ulang buat nyari suara yang nggak bakal kedengaran aneh meskipun mendadak bunyi di situasi tadi, jadi kuputuskan pakai suara transaksi m-banking."

"Eh... dalam waktu sekitar satu menit kamu mikirin hal sebanyak itu...*!?"

"Kayaknya aku cuma butuh waktu 5 detik buat nentuin suaranya. Terus aku buka aplikasi belanja online, masukin wajan antilengket yang bahkan nggak begitu kubutuhkan ke keranjang dari halaman utama, lanjut sampai ke tahap pembayaran, lalu tinggal nunggu momen yang pas sambil stanby di tombol checkout."

"Hah!? Jadi tadi itu beneran belanja beneran?!"

"Kalau bisa sih maunya muterin 'Scratch Chance'-nya langsung, tapi kurasa nggak bakal ada audio yang pas kayak gitu. Lagian aku juga bingung keyword apa yang harus dicari."

"Bener juga... Ngomong-ngomong, kenapa tadi sempat bohong dibilang kebetulan?"

Mendengar pertanyaanku, Sensei sempat terdiam sesaat.

"Ya, soalnya malu kalau ketahuan ngelakuin itu cuma buat nyari tawa."

"Persisnya kenapa malu? Kamu kan melerai pertengkaran, itu perbuatan hebat, tahu."


"Itu kan cuma kebetulan beruntung hasilnya jadi begitu. Masih ada kemungkinan besar pertengkarannya bakal lanjut lagi habis suara 'Scratch Chance' itu bunyi. Maksudku, biasanya orang nggak bakal langsung berhenti berantem cuma karena dikasih lelucon receh."

"Eh, tunggu sebentar. Jangan-jangan Takahashi-kun, waktu ngaktifin 'Scratch Chance' itu bukan niat buat melerai pertengkaran?"

"Ya jelaslah. Aku kan cuma pengen bikin orang-orang ketawa sikit."

Aku benar-benar dibuat tercengang.

"Cuma gara-gara alasan sepele begitu, kamu beli wajan yang bahkan nggak kamu butuhin?"

"Bilang nggak butuh itu agak berlebihan, sih. Namanya juga wajan, pasti ada masanya rusak, jadi cepat atau lambat bakal butuh beli baru. Nyetok dari sekarang kan nggak ada jeleknya."

"Emangnya masalahnya di situ? ...Tunggu sebentar, jangan-jangan Takahashi-kun, selama ini sering ngelakuin hal-hal kayak gitu juga?"

"......Enggak pernah, kok."

"Bohong! Pasti sering, kan! Eh, terus apa lagi yang pernah kamu lakuin?"

"Nggak bohong. Hari ini bener-bener yang pertama kalinya."

"Jangan-jangan, lembar jawaban nilai 0 kemarin juga...?"

"............"

"Ah, bener kan! Pantas saja dari kemarin aku ngerasa ada yang aneh!"

"............"

"Oh, pantesan. Karena kebiasaan usil masa lalu bakal ketahuan kalau ngaku, makanya kejadian 'Scratch Chance' tadi dibilang kebetulan, ya."


"Bukannya itu perbuatan jahat juga."

"Betul sih, bukan perbuatan jahat. Malah bisa dibilang amal baik?"

"Bukan amal baik juga. Cuma hobi."

"Kamu sesenang itu bikin orang lain bahagia... Waktu bilang bikin game juga karena kamu pengen bikin semua orang terhibur, kan."

"Yah... kurang lebih begitu, sih..."

"Ngomong-ngomong, harga wajan yang kamu beli tadi berapa?"

"16.000 yen."

"Mahal banget!"

Sebagai sekretaris, aku mulai merasa cemas dengan cara Sensei mengatur keuangan pribadinya.

Aku langsung mengekor dan mengikuti langkah Sensei masuk ke dalam rumah.

"Hari ini, boleh tolong bantu bersih-bersih dulu?"

Sambil melepas sepatunya di area genkan, Sensei bertanya dengan menggunakan nada formal.

"Tentu saja boleh, tapi bolehkah kita menetapkan aturan soal cara bicara kita dulu? Aku akan pakai bahasa santai di sekolah, dan pakai bahasa formal di dalam rumah. Tapi, aku ingin Sensei selalu bicara santai padaku."

"Eh... kalau begitu, aku ingin Himegi-san juga bicara santai padaku setiap saat."

"Itu tidak boleh. Cukup dengan pakai bahasa santai di sekolah saja rasa hormatku ini sudah mencapai batas maksimal."

"Begitu ya...?"

"Iya. Tapi, karena posisi Sensei adalah orang yang mempekerjakanku, rasanya tidak natural kalau Sensei yang pakai bahasa formal."

"Menurutku biasa saja sih... tapi kalau kamu merasa terganggu, aku bakal pakai bahasa santai... akan kulakukan."

"Terima kasih banyak."

Aku membungkuk dalam-dalam. Baru sadar hari ini, ternyata aku merasakan kebahagiaan luar biasa saat diajak bicara dengan bahasa santai oleh Sensei.

"Kalau begitu, kita mulai lagi... Hari ini, tolong bantu bersihkan ruangan dan siapkan makan malam. Kalau nanti ada waktu luang, aku juga mau minta tolong disiapkan sarapan untuk besok, ya."

"Baik, saya mengerti. Kalau begitu, setelah selesai bersih-bersih saya akan pergi berbelanja."

Mendengar ucapanku, Takahashi-kun menunjukkan ekspresi serba salah.

"Hm, soal pilihan kata tadi, apa bisa diubah jangan pakai bahasa formal, tapi cukup pakai teineigo (bahasa sopan standar) saja? Rasanya aku jadi seperti bos yang sedang menyalahgunakan kekuasaan..."

"Dimengerti. Aku akan berusaha agar tidak terlalu kaku."

Sambil membatin bahwa aku tidak begitu paham perbedaan antara bahasa formal dan teineigo, aku melanjutkan pembicaraan.

"Karena tidak enak juga kalau aku masuk sembarangan ke berbagai ruangan sendirian, bolehkah minta tolong tunjukkan isi rumah ini? Kalau ada bagian atau metode khusus yang harus diperhatikan saat membersihkannya, tolong beritahu aku ya."

"Ya, paham."


Begitulah, akhirnya aku diajak berkeliling untuk melihat-lihat bagian dalam rumah Sensei.

Sensei tinggal di sebuah rumah dua lantai dengan denah 2LDK. Lantai satu berisi ruang tamu, kamar mandi, dan toilet, sedangkan lantai dua adalah ruang kerja dan kamar tidur.

Jantungku berdegup kencang saat memasuki kamar tidurnya, dan aku merasa sangat kagum begitu menginjakkan kaki di ruang kerjanya.

"Di sinilah ruang kerja Sensei...!! Tempat suci tempat lahirnya 'Houkago Jihen'...!!"

"Seri pertama 'Houkago Jihen' dibuat di rumah orang tuaku, sih."

"Tolong jangan hancurkan rasa kagumku. Selama sekuelnya dibuat di sini, tempat ini juga tetaplah sebuah tanah suci."

"Aku kan cuma meralat faktanya saja... Lagi pula, tempatku bekerja bukan cuma di ruangan ini kok, aku juga sering banget kerja di ruang tamu."

"Tanpa sadar aku bahkan sudah menginjakkan kaki di tanah suci sejak kemarin...!!"

"Meskipun begitu, untuk urusan menggambar ilustrasi dasarnya sih memang selalu di sini."

Sensei berkata sambil menunjuk ke arah pen-display berukuran besar yang terpasang di atas mejanya. Ukurannya lumayan kokoh, dengan panjang vertikal hampir sebesar koper casing ukuran sedang. Kelihatan keren banget seperti peralatan kelas profesional.

"Kemarin ada tumpukan kardus di lorong, tapi semua ruangan di sini bersih banget ya. Suasana rumahnya terasa terawat dengan baik."

Saat aku menyampaikan kesan tersebut, Sensei menggaruk kepalanya dengan canggung.

"Ah, hari ini saja kok kebetulan bersih. Soalnya kemarin aku sudah bersih-bersih dulu karena tahu Himegi-san mau datang."

"──Hah?"


Aku nyaris tidak percaya dengan pendengaranku sendiri.

"Karena aku yang mau bersih-bersih hari ini, jadi Sensei malah bersih-bersih duluan sebelumnya?"

"Iya."

"Kalau begitu, bukannya jadi tidak ada artinya aku diberi tugas bersih-bersih?"

"Ya, tapi kan begini, ibaratnya seperti mencuci piring dengan dishwasher yang tetap butuh dibilas awal dulu, kan? Dengan prinsip yang sama, ruangan ini juga──"

"Aku ini bukan mesin pencuci piring, jadi pembersihan awal itu sama sekali tidak diperlukan."

Apakah Sensei ini tipe orang yang polos dan natural, ya?

"Untuk sekarang, aku coba bersihkan seluruh rumah dulu ya. Ada pintu yang tidak boleh kubuka atau barang-barang tertentu yang tidak boleh kulihat?"

Mendengar pertanyaanku itu, Sensei tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka suara dengan sedikit rona malu.

"Pada dasarnya tidak ada sih... tapi tolong jangan sentuh bagian dalam lemari pakaian dan keranjang cucian kotor, ya."

"Ah... iya, paham."

Aku tak kuasa membayangkan pakaian dalam Sensei, yang membuatku ikut merasa malu, tapi aku tetap berusaha menjawabnya dengan benar.

Sensei bilang dia akan bekerja di ruang tamu, jadi aku mulai menyalakan penyedot debu dari ruang kerja di lantai dua.

Namun, sama sekali tidak ada debu atau kotoran di lantai, jadi tidak ada kepuasan tersendiri dalam membersihkannya.

Karena pekerjaannya cepat selesai, aku turun ke lantai bawah, dan Sensei langsung memanggilku.

"Ada satu hal yang ingin kutanyakan, sekarang ada waktu sebentar?"

"Tentu saja. Ada urusan apa?"

"Soal balasan email ini."

Sensei berkata demikian sambil memperlihatkan layar ponselnya.

Di sana terpampang deretan email yang belum dibuka. Banyak juga nama pengirim di bagian depan yang diawali dengan kata 'PT' atau 'Corporation'.

"Karena aku mencantumkan info kontak di situs web, jadi banyak email masuk dari berbagai perusahaan maupun kreator lain."

"Isinya tentang apa saja?"

"Hampir semuanya adalah penawaran pembuatan merchandise. Ada juga sih tawaran kolaborasi pembuatan game."

"Sebanyak ini semuanya?! Pantas saja Sensei hebat!"

"Yah, begitu lah. Dan, aku mau minta tolong tolong tolak semuanya."

"──Eehh?! Semuanya?!"

"Iya. Soalnya repot."

Sensei mengatakannya dengan santai seolah itu bukan hal besar.

"Ini isinya sudah dibaca belum?"



"Udah sempat kubaca sekilas, tadinya mau kubalas tolak kalau lagi ada waktu luang, tapi malah dibiarkan belum dibuka sampai sekarang. Sebenarnya dibiarkan pun nggak masalah, tapi sebagai anggota masyarakat yang baik, kurasa setidaknya aku harus mengirim kabar penolakan."

"Begitu ya."

"Oleh karena itu, tolong buatkan draf email penolakannya ya. Alasannya bilang saja karena terkendala jadwal. Kalau drafnya sudah jadi, tolong perlihatkan dulu padaku sebelum dikirim."

"Baiklah."

Aku menerima ponsel tersebut dan mulai mencoba merangkai kata dengan perasaan tegang. Tapi karena aku belum pernah membuat email bisnis sebelumnya, sama sekali tidak ada ide kalimat yang terlintas di kepalaku.

Meskipun begitu, aku tidak boleh sampai merepotkan Sensei untuk hal ini. Di saat seperti ini, aku harus mengandalkan AI.

Aku mengambil ponselku sendiri, membuka aplikasi AI, lalu mengetik permintaan, 'Buatkan email bisnis untuk menolak tawaran kerja sama yang diajukan oleh pihak lain'.

Tak lama kemudian, AI langsung memberikan draf kalimat yang terdengar sangat profesional. Aku langsung menyalin dan menempelnya, hanya merevisi bagian nama penerima, lalu meminta Sensei untuk memeriksanya.

"Bagus juga. Pakai kalimat ini saja untuk menolak semuanya."

"Baik... Ngomong-ngomong, Sensei selama ini selalu membuat karya sendirian, ya?"

"Iya."

"Pernahkah Sensei berpikir untuk membuat game bersama orang lain?"

Mendengar pertanyaanku itu, Sensei mulai bercerita dengan nada mencemooh diri sendiri.


"Sebenarnya aku pernah punya pengalaman pahit sebelumnya. Waktu SMP, aku cerita ke teman sekelas kalau aku lagi bikin game, terus kami sempat sepakat mau bikin proyek bareng. Tapi pas mulai kerja beneran, orang itu malah nggak pernah tepat waktu menepati deadline, atau nggak mau nurut pas direvisi, pokoknya sama sekali nggak jalan. Akhirnya kami malah ribut dan putus hubungan..."

"Ternyata ada kejadian seperti itu..."

"Sejujurnya, ada batasan untuk hal-hal yang bisa kubikin sendirian, jadi kadang aku merasa mentok saat bikin game. Tapi ya, pembuatan game secara independen memang seperti itu, dan kalau mencoba meminjam tangan orang lain, bakal muncul kerumitan dalam manajemen produksi dan pembagian keuntungan... Jujur saja, sendirian itu jauh lebih santai."

Melihat Sensei yang menceritakan hal itu, aku kembali merasa bahwa dia adalah sosok yang sangat dewasa. Dia sudah melewati berbagai pengalaman hidup sampai-sampai aku merasa sulit percaya kami seumuran.

Dibandingkan dengan Sensei, aku ini hanyalah orang biasa yang tertinggal jauh di belakang. Aku harus berusaha lebih keras agar bisa berguna sebagai sekretarisnya.

Aku melanjutkan tugas memegang ponsel Sensei dan mengirimkan email penolakan tersebut satu per satu dengan hati-hati. Waktu sekitar satu jam berlalu begitu saja begitu semua email penolakan selesai dikirimkan.

"Sudah selesai. Sebentar lagi aku akan pergi belanja bahan makanan untuk makan malam ya."

"Terima kasih atas kerja kerasnya. Aku juga ada beberapa barang yang ingin dibeli, boleh ikut ke supermarket?"

"Tentu saja boleh. Tapi, kalau cuma titip belanjaan, biar aku saja yang belikan, lho?"

"Soal merek tertentu seperti natto atau yogurt, agak susah kalau dijelaskan jadi biar aku ikut saja."


"Baiklah. Kalau begitu nanti aku akan catat merek kesukaan Sensei, jadi mulai kunjungan berikutnya aku yang bisa membelikannya."

"Ya, terima kasih."

"Ngomong-ngomong, apakah Sensei memang suka natto dan yogurt?"

"Enggak juga sih. Atau lebih tepatnya, jujur saja aku sebenarnya nggak begitu suka, tapi aku tetap memakannya demi kesehatan."

"Begitu ya..."

Sungguh orang yang disiplin dan menjunjung tinggi prinsip hidup tanpa kompromi...

☆ ☆

Begitu kami keluar berjalan berdampingan, Sensei membuka suara.

"Kita mungkin bakal ketemu sama teman sekelas, jadi di luar rumah tolong pakai bahasa santai, ya."

Benar juga. Jarak rumah ini dari gerbang sekolah hanya sekitar 30 jalan kaki, jadi kemungkinan berpapasan dengan teman sekelas yang sedang dalam perjalanan pulang sekolah sangatlah tinggi. Walau arahnya berlawanan dengan jalan menuju stasiun, kita tetap bisa saja kelihatan oleh anak-anak yang pulang naik sepeda atau yang sedang lari sore untuk kegiatan klub.

Meskipun begitu...

"Rasanya otakku mau error."

Apa aku cuma diizinkan jadi sekretaris dan pakai bahasa formal di dalam rumah ini saja...?

Supaya transisinya makin jelas, apa aku coba pakai kacamata fake (daddemegane) khusus di dalam rumah aja, ya...? Kelihatan kayak sekretaris banget rasanya...


"Repot juga kalau sampai keliatan lagi belanja bareng. Supaya nggak ketemu teman sekelas, gimana kalau kita ke supermarket yang ada di arah sebaliknya dari stasiun?"

Mendengar saran Sensei, aku mengangguk setuju.

"Keluar dari rumah yang sama, terus belanja bahan makanan bareng... kalau dilihat orang lain, kita bakal dikira pengantin baru, lho."

Begitu, aku menyuarakan apa yang ada di kepalaku, tapi langsung merasa salah tingkah sendiri setelah mengatakannya. Sensei juga tampak bingung harus merespons bagaimana dan jadi salah tingkah sendiri.

"Maaf, aku nggak sengaja ngomong aneh."

"Ah... nggak apa-apa. Kalau begitu, yuk berangkat."

Begitulah, kami berdua mulai berjalan melangkah keluar dalam balutan suasana yang canggung.

Sekitar 3 menit kemudian, kami sampai di supermarket. Begitu masuk ke dalam toko, Sensei mengambil keranjang belanja dan langsung melangkah menuju pojok daging.

"Daging paha ayam lagi murah, ya. Pakai ini aja deh."

Melihat dia begitu memerhatikan harga, aku jadi terkejut.

"Kamu mikirin menu masakan dari barang diskon?"

"Iya. Mau coba ngirit sebisa mungkin, kan."

"Padahal Takahashi-kun punya banyak uang, tapi hemat banget, ya. Kalau pakai daging paha ayam, gimana kalau kita bikin karaage?"

"Ah... karaage..."

Mendengar saranku, ekspresi wajah Sensei langsung berubah mendung dengan jelas.


"Jangan-jangan, kamu nggak suka?"

"Bukannya nggak suka, tapi makanan digoreng itu kurang bagus buat kesehatan..."

"Ucapannya beneran nggak kelihatan kayak anak cowok SMA pada umumnya...!"

Mengabaikan keterjutanku, Sensei mulai mengeluarkan ponselnya dan mencari resep olahan daging paha ayam.

"Gimana kalau tumis tomat daging paha ayam? Nanti kita masukin bawang bombay sama paprika juga, jadi bisa dapet banyak sayuran, kan?"

"......Aku benar-benar kagum sama tingginya kesadaran kesehatan Takahashi-kun. Aku juga harus mencontohnya...!"

"Kamu terlalu berlebihan."

Sensei tertawa kecil, tapi aku mengatakannya dengan cukup serius.

Selain bahan untuk makan malam, kami juga memasukkan natto, yogurt, dan beberapa barang lainnya ke dalam keranjang belanja, lalu mengantre di kasir. Seperti yang sudah bisa ditebak, semua pembayarannya ditanggung oleh Sensei. Oh iya, untuk uang belanja bahan bekal yang kubeli kemarin, sudah dibayarkan sebelumnya padaku.

Selesai membayar, Sensei memasukkan belanjaan ke dalam eco-bag miliknya sendiri, dan membawa semuanya seorang diri keluar supermarket.

Demi menjaga lingkungan, dia pakai eco-bag... Dia membawakan semua bawaan yang berat, plus berjalan di sisi sebelah dalam jalan raya demi melindungiku...

"Himegi-san? Ada apa?"

"Takahashi-kun ini terlalu sempurna, jadi aku malah pengen nyari-nyari kekurangannya."

Mendengar ucapanku, Sensei membuka matanya lebar-lebar karena terkejut.

"Mana ada, aku ini manusia yang penuh kekurangan, tahu. Nggak pernah belajar pula."

"Kalau soal itu sih memang iya... Ngomong-ngomong, kamu biasanya masak sendiri?"

"Aku usahain buat masak sendiri semampuku. Meskipun dibantu alat-alat masak elektronik, sih."

"Ah, iya, kemarin sempat lihat benda hitam itu di dapur. Alat masak elektronik gitu emang praktis, ya?"

"Iya. Tinggal potong bahan-bahan, masukin bumbu, terus pencet tombolnya, jadi bisa jauh lebih hemat waktu. Kurasa bikin tumis tomat tadi juga bisa pakai itu, nanti aku ajarin caranya, ya."

"…………"

Sensei ini manusia ideal banget, rasanya benar-benar luar biasa berharga... Orang yang nanti jadi pendamping hidup Sensei di masa depan pasti bakal bahagia banget...

Tanpa disadari, ingatanku langsung melayang pada sosok ayah yang pergi meninggalkan rumah tahun lalu.

Ayahku adalah tipe orang yang tidak bisa menahan hawa nafsunya.

Seorang pemabuk berat, yang hampir selalu dalam kondisi mabuk setiap kali berada di rumah.

Kerjanya cuma makan makanan yang digoreng dan makanan manis terus, sampai tubuhnya membengkak kegemukan.

Kerjanya cuma main HP melulu di rumah dan sama sekali tidak pernah mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Suka berjudi seperti pachinko dan pacuan kuda, bahkan punya utang diam-diam di belakang Mama.

Puncaknya, perselingkuhannya terbongkar, lalu dia bercerai dan pergi meninggalkan rumah.


Malam di hari di mana Ayah pergi, aku dan Mama pergi ke restoran sushi ban berjalan untuk merayakannya secara sederhana.

Kalimat yang paling sering diucapkannya adalah, "Menikahlah dengan orang yang tulus dan baik hati." Dia juga bilang, "Daripada menikah dengan orang seperti Ayah, jauh lebih baik melajang seumur hidup."

Yah, kalau mereka berdua tidak menikah, aku juga tidak akan pernah lahir di dunia ini sih, tapi aku sangat setuju dengan apa yang dikatakan Mama.

Kalau aku mencari pasangan nanti, aku ingin orang yang bisa mengontrol diri, mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sama sekali tidak bersentuhan dengan perjudian, dan yang pasti tidak akan pernah selingkuh.

Bukannya ingin sombong, tapi aku ini cantik. Meskipun tidak pernah membuat survei statistik, kurasa jumlah cowok yang pernah menyatakan cinta padaku tergolong cukup banyak.

Di antara mereka yang nembak aku ada juga cowok-cowok tampan, tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk meladeninya. Gara-gara melihat kelakuan Ayah, aku jadi sama sekali tidak punya angan-angan indah tentang berpacaran dengan lawan jenis.

Namun, aku punya firasat kalau Sensei itu berbeda. Saat melihatnya di sekolah, dia tampak seperti jelmaan rasa malas, tapi semakin aku tahu kenyataan di baliknya, semakin aku sadar kalau dia benar-benar tipe pria ideal yang kucari.

Tentu saja, aku sadar kalau berkhayal aku bisa berpacaran dengan Sensei itu adalah hal yang terlalu muluk-muluk.

Tapi, hak untuk berkhayal itu kan milik siapa saja, kan...?

☆ ☆

Setibanya kembali di rumah Sensei, sambil menyiapkan bahan-bahan untuk tumis tomat daging paha ayam, aku membayangkan berbagai macam masa depan bersama Sensei.

Dan, karena khayalan itu terasa begitu menyenangkan, aku jadi bertekad untuk mengerahkan seluruh tenaga demi mewujudkannya. Sebab, dari 'Houkago Jihen' aku belajar bahwa hidup dengan meronta-ronta memperjuangkan harapan jauh lebih indah daripada menyerah begitu saja dari awal karena merasa tidak mungkin.

Langkah pertama yang harus kulakukan adalah membidik posisi agar diandalkan dalam urusan pekerjaan. Kalau aku bisa menjadi partner yang bisa diandalkan, dia pasti akan berpikir dua kali untuk melepaskanku.

Selain itu, aku juga ingin terus memamerkan pesonaku sebagai seorang perempuan. Ditambah lagi, aku ingin menghabiskan waktu bersama Sensei sebanyak mungkin. Aku pernah dengar kalau manusia cenderung lebih mudah menumbuhkan rasa suka dan kedekatan hanya dengan seringnya frekuensi kontak pertemuan.

Tak lama kemudian, tumis tomat daging paha ayam buatan kami matang, dan kami duduk makan bersama.

Duduk tepat di hadapan Sensei, aku mengumpulkan tekad bulat dan melontarkan sebuah usulan.

"Aku ada hal yang ingin didiskusikan soal pekerjaan sekretaris, apa boleh?"

"Tentu saja."

"Kalau Sensei tidak keberatan, bolehkah aku bekerja sebagai sekretaris di hari Sabtu dan Minggu juga?"

Begitu usulan itu terlontar, gerakan makan Sensei langsung terhenti. Sepertinya permintaannya terlalu mendadak sampai-sampai dia tidak langsung paham maksudnya.

"Sebenarnya begini, kontrak yang kubuat dengan Ibu adalah bekerja sebagai sekretaris selama satu bulan penuh dari tanggal 3 September sampai 3 Oktober. Tapi, setelah kuhitung dari uang gaji yang kuterima di awal, ternyata jumlahnya pas untuk 31 hari, lho."

"Ah, begitu ya. Jadi ibuku malah membayarkan sampai jatah hari libur sekalian, ya. Maafkan ibuku yang payah dalam urusan matematika ini, ya."

"Ah, bukan itu maksudku... Seharusnya, gaji untuk hari libur itu harus dikembalikan, kan? Tapi, aku berpikir begini. Kalau aku sudah menerima bayaran untuk 31 hari, bukankah artinya aku tinggal bekerja selama 31 hari penuh?"

Sambil membatin dalam hati bahwa teori yang kubuat ini terkesan dipaksakan, aku tetap melanjutkan pembicaraannya.

"Oleh karena itu, bolehkah aku tetap bekerja di hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional?"

"Bukankah pola pikirmu itu terlalu keras kepala (brain muscle)?"

"Kurasa secara teori hal itu sangat mungkin. Pekerjaan sekretaris kan bukan buruh kasar, jadi hampir tidak ada beban fisik yang berarti."

"Tapi, bukankah bekerja 30 hari berturut-turut itu melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan?"

"Undang-Undang Ketenagakerjaan tampaknya hanya berlaku bagi para pekerja yang berstatus sebagai karyawan. Aku berstatus sebagai freelance dan diperlakukan sebagai pelaku bisnis mandiri, jadi tidak ada masalah."

Karena aku tahu Sensei pasti bakal khawatir, aku sudah mencari tahu hal itu lebih dulu sebelumnya.

"Dengan kata lain, aku ini bebas bekerja kapan saja."

"Bebas bekerja... kalimat yang kelihatannya positif tapi bernuansa hight-risk (black company banget)..."

"Aku ini cukup percaya diri dengan stamina fisikku."

Aku mengangkat lengan kananku dan memamerkan otot bisepku padanya.

"Bagaimana? Kalau Sensei merasa terganggu, aku akan menyerah dan mengembalikan sisa uang pembayarannya kok."

"Terganggu apanya, mana mungkin. ...Tapi, apa beneran nggak apa-apa?"

Sensei tampak ragu-ragu. Aku senang karena dia mengkhawatirkanku, tapi aku tidak punya niat untuk menyerah pada negosiasi ini, jadi aku ingin dia segera menyetujuinya.

"Sensei sepertinya masih belum paham seberapa besar aku mencintai 'Houkago Jihen', dan seberapa besar tekadku untuk mendukung Sensei. Kalau Sensei mau, aku bisa buatkan surat petisi panjang lebar, lho."

"B-baiklah. Kalau Himegi-san sampai ngomong begitu... Silakan, hari libur juga tolong bantu aku ya."

Begitu Sensei mengatakannya sambil tersenyum kecut, aku langsung merasakan hatiku terasa lapang seketika.

Jantungku berdegup kencang takut kalau niat tersembunyiku ketahuan, tapi untung sekali aku berani mengusulkannya...

"Ngomong-ngomong, Himegi-san memikirkan jam kerja sekretaris ini seperti apa? Kemarin sekolah kita selesai sekitar jam setengah lima, dan kamu ada di sini sampai sekitar jam tujuh, kan? Ditambah lagi tadi kamu sudah nyiapin bekal buatku."

"Dari pihak Ibu, gajinya dihitung dengan asumsi bekerja sekitar 4 jam sehari. Jadi kalau memang diperlukan, aku tidak keberatan datang untuk bekerja di pagi hari, bukan cuma sepulang sekolah saja."

"4 jam sehari... Kalau begitu, semisal kamu datang hari libur jam 1 siang, berarti tugasmu harus selesai jam 5 sore dong."

"Nggak perlu dihitung seakurat itu juga kali."

"Yah, aku ini tipe orang yang suka segala sesuatunya dihitung dengan rapi dan pasti."

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, karena kamu begitu memerhatikan jam kerja, apa besok ada hal tertentu yang ingin kamu minta kulakukan?"

"Kalau kamu mau kerja di hari libur juga, aku mau minta tolong disiapkan dua kali makan, siang dan malam. Masakan Himegi-san itu bener-bener enak banget."

Sensei mengatakannya dengan senyum terkembang lebar, membuat dadaku berdegup kencang. Aku refleks menutup mulutku dengan tangan.

"Himegi-san? Kamu kelihatan kesakitan begitu, nggak apa-apa?"

"T-tidak apa-apa kok. Kalau begitu, bolehkah aku datang besok sekitar jam 11 siang?"

"Eh, sepagi itu?"

"Lagian aku juga nggak ada rencana lain, jadi tolong jangan dipikirkan."

Sebenarnya aku ingin datang lebih pagi lagi untuk membuatkan sarapan, tapi kurasa itu sudah melewati batas, jadi aku menahan diri.

"Kalau begitu, besok kita ketemu di stasiun jam 11, terus belanja bahan makanannya bareng-bareng saja. Soalnya bakal repot kalau kamu harus bawa belanjaan buat dua orang sendirian."

"Boleh saja sih, tapi besok kita belanja di supermarket depan stasiun?"

"Iya. Besok kebetulan hari diskon telur."


Mendengar laporan Sensei yang tampak begitu senang, aku mengangguk sambil tersenyum.

☆ ☆

Keesokan harinya. Aku bangun jam 6 pagi, lalu dibuat pusing tujuh keliling oleh satu hal.

Kira-kira, gaya pakaian seperti apa yang disukai oleh Sensei...?

Sensei kan orangnya serius, apa aku juga harus datang dengan pakaian yang rapi dan formal sebagai seorang sekretaris...?

Atau, karena kami akan berduaan saja di dalam ruangan tertutup, sebaiknya aku memakai pakaian yang sedikit agak terbuka demi menciptakan kesan spesial—di mana hanya dia seorang yang bisa melihat pakaian pribadiku...? Kalau pilih opsi itu, aku harus pergi ke toko pakaian detik itu juga begitu jam 10 nanti...



Kalau bisa pergi pakai seragam sekolah sih praktis, tapi ya mana mungkin aneh rasanya...

Ngomong-ngomong, aku juga bisa lihat pakaian pribadi Sensei, ya... jadi tidak sabar...

Pada akhirnya, aku memutuskan memilih pakaian kasual yang tidak terlalu terbuka. Tapi bawahannya bukan celana panjang, melainkan rok yang agak panjang.

Blus putih, rok pensil abu-abu sepanjang lutut, dan sepatu pumps krem.

Saat melihat diriku sendiri di cermin seluruh badan di pintu depan, aku merasa penampilannya sudah mirip seperti sekretaris di hari libur. Padahal aku belum pernah ketemu sekretaris sungguhan di hari libur sih. Atau lebih tepatnya, aku bahkan belum pernah melihat sekretaris asli secara langsung.

Kereta yang kutumpiki tiba di stasiun 5 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan, tapi Sensei ternyata sudah menungguku di dekat pintu tiket.

Kemeja lengan pendek bermotif garis-garis (stripe) dipadu dengan celana panjang hitam mengkilap. Gaya berpakaian kasual yang cenderung sangat formal. Penampilannya memancarkan aura yang membuat kata "berkelas" terlintas di kepalaku.

Karena dia sedang memainkan ponselnya, sepertinya dia sedang bekerja.

Rasanya terlalu disayangkan kalau langsung menegurnya, jadi aku memutuskan bersembunyi di balik tiang dan mengamatinya sejenak.

Haa... Keren banget...

Sensei mengetuk layar ponselnya dengan kecepatan luar biasa. Karena sepertinya dia sedang khusyuk menulis, tidak ada tanda-tanda dia menyadari keberadaanku. Aku bisa memperhatikannya dengan tenang tanpa rasa khawatir.

Waktu 5 menit berlalu begitu saja dalam sekejap. Meskipun rasanya masih sayang, kalau tidak segera ditegur nanti aku bisa dikira telat, jadi aku memutuskan untuk mendekatinya secara perlahan.

Eh, karena situasinya lagi di luar, aku harus pakai bahasa santai, kan...

"Takahashi-kun, pagi."

Begitu aku memanggilnya, Sensei melirikku sekilas lalu langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Pagi. Pakaian itu──"

Tapi di detik itu, Sensei tiba-tiba terdiam. Rasanya seperti dia hampir keceplosan mengucapkan kata-kata terlarang (NG word).

"Hm? Kamu tadi mau ngomong sesuatu?"

"Enggak, bukan apa-apa."

"Bohong. Kasih tahu dong tadi mau ngomong apa. Penasaran."

"......Menurutmu ini nggak menjurus ke pelecehan seksual (sechala), kan?"

"Tergantung isinya sih."

"Kalau gitu aku nggak mau ngomong."

"Udah sampai ngomong begini tapi nggak mau lanjut itu namanya pelecehan seksual."

"Mana ada definisi pelecehan seksual kayak gitu."

"Kamu mikirin hal-hal yadong (eroi), ya?"

"Bukannya beda. ...Tadi aku cuma mau bilang bajunya bagus..."

"Eh... makasih."

Aku tanpa sadar tersenyum lebar. Padahal aku sudah berusaha keras memilihnya, tapi sama sekali nggak menyangka bakal dipuji. Ini panen hasil yang di luar dugaan.

"Tapi, kenapa dibilang pelecehan seksual?"

"Ya kan sekarang zamannya apa-apa bisa dianggap pelecehan seksual, jadi ngeri."

"Ah, iya juga sih, tergantung siapa yang ngomong."

"Makanya."

"Tapi kalau Takahashi-kun yang ngomong sih nggak bakal dianggap pelecehan kok. Malah, silakan lebih aktif lagi mujinya."

Begitu aku menggodanya setengah bercanda, Sensei tersenyum kecut dengan ekspresi serba salah.

☆ ☆

Setelah itu, kami membeli bahan-bahan untuk makan siang dan malam, lalu meninggalkan supermarket. Seperti yang sudah bisa ditebak, semua barang belanjaan dibawakan oleh Sensei.

Sebenarnya aku kurang begitu suka dengan bias gender yang menganggap barang berat harus dibawakan oleh cowok, tapi di sisi lain aku tetap merasa senang karena diperhatikan seperti itu.

Saat aku sedang menikmati kebahagiaan kecil itu dalam hati, Sensei tiba-tiba membuka suara.

"Kamu ada tempat rekomendasi nggak, kira-kira ke mana biasanya cowok-cewek SMA pergi kencan?"

"Hah...?"

Pertanyaan itu datang terlalu mendadak sampai-sampai aku tidak paham maksudnya, membuatku memiringkan kepala kebingungan.

"Ah, maaf penjelasannya kurang jelas. Sebenarnya di bagian awal skenario yang lagi kutulis sekarang, ada adegan di mana karakter utama dan sang heroine pergi kencan bersama. Tapi, dipikir-pikir kayak gimana pun rasanya kurang klop... Mungkin karena situasinya kurang pas, jadi kupikir siapa tahu kalau minta pendapat Himegi-san bisa dapet jalan keluar."

Begitu otakku berhasil mencerna penjelasan Sensei, aku langsung refleks berteriak histeris.

"T-tunggu sebentar! Maksudnya aku boleh ngasih masukan gitu?! Interpretasiku boleh dicampur adukkan ke dalam dunia yang diciptakan oleh sang dewa?!"

"Yah, emangnya kenapa, nggak boleh? Bukan berarti masukan Himegi-san bakal langsung dipakai mentah-mentah, kan aku masih harus menyortir dan memilihnya lagi."

"B-begitu ya...!!"

Aku kebingungan menghadapi situasi yang datang secara mendadak ini. Aku sama sekali tidak menyangka bakal dimintai kandidat tempat kencan.

Kebajikan jenis apa yang sudah kulakukan di kehidupan masa laluku sampai bisa mendapatkan event penuh berkah seperti ini...?!

"Ngomong-ngomong, event itu bakal muncul di tambahan skenario berikutnya, ya? Hubungan antara karakter utama dan heroine-nya, mereka memang belum jadian, tapi sepertinya mereka berdua sudah sama-sama punya firasat kalau masing-masing saling suka, ya?"

"Pemahamanmu sudah tepat."

"Begitu ya. Padahal, fase itu adalah fase yang paling menyenangkan, kan."

"Betul. Meskipun begitu, kalau karakter utama dan heroine-nya sampai jadian, daya tarik cerita bakal melemah, jadi selama serinya masih lanjut, mereka berdua selamanya nggak bakal jadian."


"Kejam banget."

Memang sih, kalau diperhatikan dari tokoh-tokoh dalam manga, seringkali meskipun sudah jelas-jelas saling suka, mereka tetap tidak jadian sampai volume terakhir.

"Kalau gitu, gimana kalau tempat kencannya di festival kembang api?"

"Festival kembang api ya... Tapi, ada setting kalau karakter utama itu nggak suka tempat ramai, sih──"

"Makanya justru itu poinnya! Karakter utama yang nggak suka tempat ramai diajak sama heroine-nya, terus dia nekat datang ke tempat yang padat penonton demi bisa melihat sang heroine pakai baju yukata, kan?! Imut banget, tahu?!"

Begitu aku menjelaskannya dengan penuh semangat, Sensei meletakkan jarinya di dagu.

"Begitu ya... Sisi humanis dari karakter utamanya jadi kelihatan dan itu bagus. Lagian kalau festival kembang api, latar belakangnya bakal kelihatan estetik pas diubah jadi ilustrasi. Himegi-san, kamu jenius."

"Buhahaha...!!"

Ideku dipuji langsung oleh sang dewa. Senang banget rasanya.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita coba survei langsung ke lokasi sekarang? Ah, tapi, apa ada festival kembang api yang diadopsi bulan September...?"

Sensei mengoperasikan ponselnya dengan tangan yang sebelah lagi, mulai mencari informasi jadwal penyelenggaraan festival kembang api.

"Ah, kelihatannya pas banget hari ini ada. Waktu peluncurannya jam 8 malam... Karena jaraknya masih bisa dijangkau dengan kereta, aku mau coba pergi survei ke sana."

Selesai berkata begitu, Sensei hendak mengakhiri pembicaraan ini.


"Anu... Takahashi-kun."

"Hm?"

"Soal... festival kembang api itu, kamu mau survei ke sana, kan?"

"Iya. Aku mau memastikan suasana tempatnya kayak gimana, seberapa padat pengunjungnya. Terutama aku juga mau merasakannya secara langsung, kayak bagaimana pantulan cahaya kembang api menerangi sekitar, atau bagaimana gema suaranya."

"Ah... bukan itu maksudnya..."

Aku menunduk, menggerak-gerakkan bibirku beberapa kali, lalu memberanikan diri mengangkat wajahku.

"......Boleh aku ikut juga?"

"Eh──"

"Soalnya kan, aku ini sekretarisnya Sensei, jadi siapa tahu aku bisa berguna di sana! Sebagai juru foto, atau tukang bawa barang bawaan! Lagian... aku juga pengen hadir sebagai fans di saat sang dewa mendapatkan inspirasi di lokasi..."

Sebelum Sensei sempat menjawab, aku langsung nyerocos ngomong panjang lebar.

Karena terlalu cepat, aku bahkan tidak paham sendiri apa yang sedang kuucapkan. Apakah aku ikut sebagai sekretaris, atau aku mau ikut mengawasi pekerjaan Sensei sebagai fans, inkonsistensi itu tampak jelas sekali.

Tidak perlu dipikirkan lagi kenapa hal ini bisa terjadi. Itu karena aku sedang menyembunyikan perasaan asliku yang sebenarnya.

Aku ingin melihat pemandangan yang sama. Pemandangan yang kelak akan disaksikan oleh sang heroine bersama karakter utama, aku ingin melihatnya bersama Sensei...


"Ehm... baiklah kalau begitu. Kalau gitu, yuk kita pergi sama-sama."

Sensei mengatakannya dengan sedikit rona malu di wajahnya.

"Boleh?!"

"Iya. Tapi, karena nanti bakal melebihi jam kerja, kita harus pikirkan gimana soal itu."

"Eh, nggak usah, nggak usah! Aku ikut cuma sebagai fans kok, jadi nggak usah dipikirin! Tapi aku bakal rajin bantuin urus remeh-temeh, jadi manfaatkan aku sepuasnya!"

"Kurasa nggak bakal ada kerjaan remeh-temeh di festival kembang api, jadi aku nggak bakal memperkerjakanmu berlebihan sih... Tapi, jujur saja aku terbantu banget. Soalnya aku belum pernah pergi ke festival kembang api sebelumnya."

"──Eh, beneran?"

"Waktu kecil kayaknya pernah diajakin orang tua, tapi aku nggak begitu ingat."

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, kalau aku ini sudah veteran dalam urusan festival kembang api, lho."

Setiap tahun aku selalu datang minimal sekali bersama Mama.

"Makanya, aku bakal lakuin yang terbaik supaya Takahashi-kun bisa dapat bahan riset yang sempurna."

Saat aku mengepalkan tangan tanda bersemangat, Sensei tersenyum lembut padanya.




Daftar Bab Novel
Memuat daftar chapter...