Bab 3: Menghadiri Festival Kembang Api Bersama Sang Sekretaris Cantik dengan Alasan Melakukan Riset (Sudut Pandang Si Cowok High-Spec)
"Mumpung ini adalah kegiatan riset yang sesungguhnya, kita harus mendalami peran sebagai karakter utama dan heroine sepenuhnya saat berkeliling di festival kembang api, kan?"
Sambil melangkah masuk ke ruang tamu setelah pulang dari supermarket, Himegi-san berkata dengan penuh semangat.
"Pertama-tama, mari kita cari yukata sebelum malam tiba. Kurasa kita bisa menyewanya."
"Eh, kita mau repot-repot pakai yukata?"
Aku balik bertanya karena terkejut, namun Himegi-san mengangguk dengan ekspresi serius.
"Tentu saja. Sensasinya pasti bakal beda banget kalau cuma pakai baju biasa, dan kalau ini dibilang riset, kita harus totalitas."
"Masuk akal juga... Kalau begitu, coba kucari dulu."
Sambil membiarkan Himegi-san memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam kulkas, aku mencari toko penyewaan yukata menggunakan ponselku. Beberapa hasil pencarian muncul, dan sebuah toko di depan stasiun terlihat bagus, jadi aku langsung membuat reservasi kunjungan.
"Katanya proses pemakaiannya butuh waktu sekitar 15 menit, jadi aku pesan jadwal yang pas supaya kita bisa langsung meluncur ke festival kembang api setelahnya. Di sini tertulis kita disarankan buat milih model yukata yang kita mau sebelumnya."
Sambil menjelaskan, aku mengirimkan tautan toko yang sudah kupesan kepada Himegi-san. Situs web mereka menampilkan daftar yukata yang bisa disewa.
"Sensei, kerja gerakmu cepat banget, ya. Kalau aku yang cari, pasti aku bakal muterin toko yang paling murah dan butuh waktu sekitar satu jam cuma buat mikir mau pilih yang mana."
"Soal urusan pilih-milih toko, kalaupun gagal paling cuma rugi uang doang, jadi nggak perlu mikir lama. Daripada pusing mikir sampai sejam, lebih baik waktunya dipakai buat kerja karena return-nya bakal lebih besar, bisa dibilang efisiensi biayanya kurang bagus."
"Begitu ya...! Aku belajar hal baru...!"
Selepas bergumam dengan ekspresi serius, Himegi-san mulai memilih yukata lewat ponselnya.
Sambil berpura-pura tenang, aku melirik sekilas ke arah profil wajahnya.
Hari ini, setelah melihat pakaian kasual Himegi-san, aku juga berkesempatan menikmati tampilannya dalam balutan yukata. Rasanya mirip seperti kebahagiaan saat karakter favorit di game gacha mendapatkan kostum baru...
"──Ah, hampir lupa."
Baru saja Himegi-san bergumam entah kepada siapa, dia mengeluarkan kacamata dari dalam tasnya lalu mengenakannya. Kacamata berbingkai hitam persegi yang terlihat cerdas.
Selain itu, dia dengan sigap merapikan rambut bagian belakangnya, mengekspos leher putih jenjangnya secara terang-terangan. Pandanganku refleks terpaku padanya.
"Himegi-san...?"
"Ini, wujud mode sekretarisku."
Himegi-san berkata setengah bercanda.
"Aku ini tipe orang yang suka mendalami penampilan dari atributnya (tipe yang masuk dari luar). Karena mode sekretaris ini cuma aktif saat aku di rumah, kupikir biar lebih gampang dibedakan, nggak ada salahnya pakai kacamata fashion (dategane)."
Sambil berkata begitu, ia mendorong naik tangkai kacamata dengan jari telunjuknya.
Mata besar Himegi-san tampak sedikit lebih tegas di balik lensa transparan tersebut.
"Bagaimana? Cocok nggak?"
"Y-ya, cocok."
Aku refleks mengangguk. Kacamata itu sangat pas di wajahnya dan membuatnya terlihat dewasa secara misterius.
Siapa sangka sebelum kostum baru dirilis, aksesori baru justru terbuka lebih dulu...
Selama ini aku tidak pernah paham apa daya tarik dari heroine berkacamata, tapi sekarang aku benar-benar memahami kebenaran mutlak di dunia ini. Heroine baru yang akan kumasukkan ke skenario berikutnya wajib kuberi kacamata.
☆ ☆
Dengan sedikit kelebihan waktu, kami meninggalkan rumah.
Kami masuk ke toko penyewaan yukata di depan stasiun, menyebutkan yukata yang sudah kami pilih sebelumnya, dan karena stoknya masih ada, kami langsung dibantu mengenakannya.
Mengenakan yukata, merapikan bagian kerah, lalu mengikat tali pinggang (koshihimo). Setelah itu melicinkan kerutan di sekuruh bagian, dan mengencangkan area pinggang dengan sabuk obi. Karena aku sama sekali tidak tahu cara memakai pakaian tradisional seperti ini, aku hanya pasrah dibimbing dan dipakaikan begitu saja oleh stafnya.
Begitu sabuk obi-nya dikencangkan, rasanya sedikit sesak. Ditambah lagi, untuk pertama kalinya aku mengenakan sandal tradisional geta, dan itu benar-benar susah dipakai untuk berjalan. Aku jadi paham kenapa pakaian tradisional akhirnya mulai ditinggalkan dan pakaian barat lebih mendominasi.
Staf toko sempat berkata, "Kalau geta-nya terlalu sakit, pakai sandal biasa juga tidak apa-apa," tapi karena mumpung lagi momennya, aku memutuskan untuk tetap memakai geta.
Proses pemakaiannya selesai, dan bayangan diriku di cermin tampak begitu asing seperti orang lain, membuat sekujur tubuhku terasa lebih tegap.
Sesaat kemudian, Himegi-san yang telah selesai mengenakan yukatanya muncul di hadapan, dan dia terlihat sangat cantik sampai-sampai sulit dipercaya.
Motif yukatanya adalah pola bunga sakura samar yang tersebar elegan, sama sekali tidak mencolok. Namun, begitu dikenakan oleh Himegi-san, auranya menjadi sangat memukau.
Kualitas visual Himegi-san saat ini terasa begitu tinggi, seolah-olah dia bisa langsung dipakai sebagai model sampul ilustrasi box game kalau difoto sekarang.
Tentu saja, aku tidak mungkin berani meminta izin untuk memotretnya...
Himegi-san mendekatiku sambil tersenyum geli seperti anak nakal.
"Kita sekarang sedang mendalami peran sebagai karakter utama dan heroine, kan?"
"B-begitulah."
"Kalau begitu, dengan asumsi itu, aku mau tanya. Bagaimana penampilanku dengan yukata ini?"
"......Uhm, cocok kok. Untung tadi kita ke sini."
──Hauph!"
Saat aku melontarkan candaan dengan meniru gaya bicara karakter utama, Himegi-san memegang dadanya dengan ekspresi kesakitan.
"Gawat banget... Barusan aku serasa melihat karakter utama dari sudut pandang heroine...!! Pantas saja dia sang kreator asli...!!"
"......Bagus deh kalau kamu senang."
"Hari ini jantungku rasanya mau copot..."
"B-begitu ya."
Meskipun dalam hatiku berpikir kalau kondisi kami sebenarnya sama saja, aku tetap berusaha menjawabnya dengan tenang.
☆ ☆
Karena kurasa tidak ada masalah khusus, kami keluar dari toko penyewaan yukata dan naik kereta menuju lokasi festival kembang api.
Rasanya aneh sekali, hanya dengan mengenakan yukata di dalam kereta saja, aku langsung merasakan gelora masa muda (seishun) dan menikmati atmosfer musim panas seutuhnya.
Semakin dekat dengan lokasi acara, jumlah wanita berbalut yukata di dalam gerbong kereta semakin bertambah. Namun, tidak ada satupun yang kecantikannya setara dengan Himegi-san.
Meskipun aku sadar betul kalau ini adalah kegiatan riset, aku berkali-kali bersyukur kepada Tuhan karena bisa bepergian bersama Himegi-san.
Meskipun acara peluncuran kembang apinya masih satu jam lagi, stasiun terdekat sudah dipadati oleh lautan manusia. Terlebih lagi, semakin mendekati area lapangan utama, kepadatan populasinya semakin meningkat drastis.
Saat kami terus melangkah maju, jajaran kedai makanan (yatai) mulai terlihat di kedua sisi jalan. Takoyaki, sosis frankfurter, kue cubit jepang (baby castella), hingga pisang balut cokelat dijajakan di sana.
"──Nah. Riset sesungguhnya dimulai dari sini, tapi kita belum menentukan apa yang harus kita lakukan di adegan ini, kan?"
Tiba-tiba Himegi-san mengambil alih inisiatif. Aku mengangguk mengiyakan.
"Kita memang belum nentuin aksi spesifiknya, tapi aku pengen memperlihatkan jarak kedekatan yang pas antara karakter utama dan heroine. Dua orang yang tingkat keintimannya sudah naik di
skenario sebelumnya, bakal jadi makin dekat lewat kencan kali ini. Tapi, jadian itu adalah hal yang mutlak dilarang."
"Dengan kata lain, kamu mau bikin event berdebar-debar yang kadarnya pas, ya?"
"Iya."
"Misalnya, karena lokasinya padat banget, kita pegangan tangan biar nggak terpisah?"
"Ah... Kalau itu, kayaknya hubungan mereka bakal maju terlalu cepat, ya?"
"Begitu ya... Kalau begitu, kita nggak usah pegangan tangan."
Himegi-san berkata dengan nada yang terdengar agak kecewa.
"......Ngomong-ngomong, kalau semisal di cerita aslinya nanti mereka berdua melihat kembang api sambil bergandengan tangan, apakah itu artinya kita berdua juga harus pegangan tangan...?"
"......Bukankah seharusnya begitu? Kita kan sedang riset sambil mendalami peran mereka berdua..."
Menanggapi pertanyaanku, Himegi-san menjawab dengan rona malu-malu.
Sebegitu totalitasnyakah dia membantu, meskipun dasarnya hanya seorang penggemar karya... Kalau begitu, mumpung ada kesempatan, aku harus mencari alasan yang masuk akal agar karakter utama dan…
... untuk menyambung tangan?
"Kalau acara lain yang bisa ningkatin tingkat keintiman... misalnya makan candy apple (ringo ame) bareng, gitu?"
Di tengah-tengah aku yang sedang tenggelam dalam lamunan, Himegi-san justru melontarkan ide lain.
"B-begitu ya."
Demi menyembunyikan rasa gugupku, aku menjawabnya dengan persetujuan spontan, tapi kenapa juga makan ringo ame bareng bisa bikin makin akrab? Apa konsepnya kayak semacam "pernah makan sepiring berdua" gitu?
Tanpa paham betul apa tujuannya, kami berdua akhirnya ikut mengantre di stan ringo ame.
"Emang ringo ame itu beneran ada buah apel di dalamnya?"
"Iya. Rasanya mirip buah apel utuh yang dibalut sama lapisan permen keras. Takahashi-kun belum pernah nyobain, ya? Kan sempat bilang belum pernah datang ke festival."
"Iya. Baru kali ini aku lihat wujud aslinya."
"Begitu ya. Selain ringo ame, ada lagi nggak makanan yang pengen kamu coba?"
"Hmm..."
Aku melirik sekeliling ke arah stan-stan lain, lalu menjawab dengan suara pelan.
"Semuanya kelihatan nggak sehat, ya."
"......Bener juga."
"Kalau di stan gini, kita bahkan nggak bisa ngecek tabel komposisi standar makanannya."
"Mungkin agak susah buat orang-orang yang peduli banget sama kesehatan, ya."
"Meskipun begitu, karena hari ini kita lagi riset, kurasa nggak apa-apa dinikmati aja tanpa harus dipikirin."
"Pola pikir yang bagus."
Di tengah obrolan kami, giliran kami pun akhirnya tiba.
"Permisi, ringo ame-nya satu!"
Himegi-san memesannya secara natural tanpa ragu.
Padahal tadi dia bilang mau makan bareng, tapi kenapa cuma pesan satu...?
"Nih, Takahashi-kun."
Himegi-san menyerahkannya padaku. Sambil memunculkan tanda tanya di kepalanya, aku menerimanya dan mencoba menggigit permen apel tersebut.
Sensasi lapisan permen tipis yang retak renyah saat digigit, berpadu dengan kesegaran buah apel yang juicy.
Sambil berhati-hati agar serpihan permen yang pecah tidak berjatuhan, aku menggigitnya, lalu rasa manis dan asam langsung menyebar di dalam mulut dengan keseimbangan yang pas.
"Kukira makanan ini cuma menang di tampilannya yang estetik doang, ternyata beneran enak."
"Kan? Kalau gitu, gantian dong, suapin aku juga."
Tanpa buang waktu, Himegi-san langsung merebut ringo ame itu dari tanganku.
Lalu, dia menggigit sisi yang berlawanan dari bagian yang baru saja kuciamik.
"Mm~. Manis dan enak banget~"
Himegi-san berseri-seri sambil melontarkan sorakan kecil.
Ini sungguh di luar dugaan. Aku sama sekali tidak menyangka kami berdua bakal makan satu tangkai berdua seperti ini.
"...Skenario adegan ini langsung rampung di dalam kepalaku. Rasanya aku bahkan pengen pulang sekarang juga saking puasnya."
"Eh!? Kan festival kembang apinya bahkan belum mulai?!"
Himegi-san membelalakkan matanya kaget.
"Maaf, bilang sudah rampung tadi itu terlalu berlebihan. Tapi aku yakin adegan ini bakal bisa ditulis dengan mulus."
"B-begitu ya...?"
"Iya. Setelah adegan ini, karakter utama dan heroine-nya bakal saling suap ringo ame bergantian, dan puncaknya diakhiri dengan ciuman tak langsung (kansetsu kiss). Meski awalnya sempat malu-malu, mereka akhirnya berpikir kalau jalannya bareng orang ini rasanya tidak masalah. Ini jadi adegan yang bagus buat nunjukin perubahan drastis dari masa-masa di mana mereka saling curiga takut diracuni."
Begitu, aku memaparkan alur gagasannya dengan nada cepat.
Kukira dia bakal senang mendengarnya, tapi entah kenapa mata Himegi-san malah tampak berbinar gelisah.
"...C-ciuman tak langsung, ya~. Ahahaha, pada akhirnya malah jadi begitu, ya~"
Himegi-san menanggapinya dengan nada yang agak kaku seperti sedang membaca naskah.
"? Emangnya Himegi-san dari awal memang sudah memperhitungkan hal itu sampai-sampai cuma pesan satu ringo ame?"
"T-tidak, bukan begitu! Aku sama sekali nggak punya niat terselubung buat nyari kansetsu kiss sama Takahashi-kun, kok... Alasan utamanya karena kita kan mau nyoba banyak jajanan lain, jadi kupikir pesan satu aja sudah cukup..."
"O-oh, begitu ya. Maaf, aku ngomong hal yang aneh."
"Nggak apa-apa kok. Lagian yang mulai ngajak biar totalitas mendalami peran karakter utama dan heroine kan aku juga..."
Himegi-san menunduk malu, memandangi ringo ame yang dipegangnya di tangan kanan.
"......Ngomong-ngomong, ringo ame ini enaknya gimana, ya?"
"Maksudnya... gimananya?"
"Sisa bagian yang belum dimakan ini, mau aku habisin sendiri, atau Takahashi-kun yang makan... Bagaimanapun juga, ujung-ujungnya kita tetap bakal ngelakuin ciuman tak langsung, kan..."
"──Hah!!"
Aku tadi tidak sengaja melupakannya, tapi ini benar-benar situasi yang gawat darurat.
Hal ini pasti bakal terjadi begitu kami berdua sempat menggigit makanan yang sama. Kurang perhitungan banget aku ini.
"...Ehm, kalau kamu risih makan bagian yang sudah kugigit, aku bisa habisin semuanya sih... Eh, tapi kalau begitu nanti bagian yang sudah dimakan Himegi-san malah kumakan, dan itu juga rasanya agak canggung...?"
"T-tidak, aku nggak risih kok, dan nggak canggung juga..."
Sambil tetap menunduk, Himegi-san memainkan helaian rambutnya dan melanjutkan dengan suara pelan.
"Maksudku... kita kan sudah SMA, hal kayak ciuman tak langsung gitu nggak perlu dipikirin banget kali... Makanya... ehem, aku ada usulan. Gimana kalau kita lanjut makan gantian dikit-dikit seperti biasa aja?"
"Kalau Himegi-san nggak keberatan..."
"Kalau gitu... kita pakai cara itu aja ya..."
Setelah sama-sama menyetujuinya dengan suara sekecil orang bergumam, Himegi-san kembali menggigit ringo ame itu dengan tekad bulat. Ukuran gigitannya terasa jauh lebih kecil dibanding yang tadi.
Saat itu juga, aku yakin bahwa inilah yang dinamakan masa muda (seishun). Sensasi seishun yang kurasakan saat naik kereta mengenakan yukata tadi sama sekali tidak ada apa-apanya, jauh tertinggal kalah intens dibandingkan momen ini.
(T/n: Seishun itu gairah masa muda gituu )
Dan──di saat yang sama, dadaku terasa begitu sesak dan gundah. Tadi Himegi-san bilang,
"Sudah jadi anak SMA juga, masalah ciuman tak langsung gitu kan nggak perlu dipikirin banget kali...?"
Itu berarti, di masa lalu dia pasti pernah melakukan ciuman tak langsung dengan cowok lain. Apalagi sampai mengucapkannya seolah sudah terbiasa dan kebal.
( T/n: ciuman tak langsung mah kagak usah di pikikan jir mc )
Tadi pagi saja dia sempat-sempatnya mendeklarasikan diri sebagai veteran festival kembang api...
Semakin kupikirkan, emosi gelap gulita bergejolak di dalam dadaku, hingga membuat tenggorokanku terasa begitu berat.
