📢 Announce 📢

Jangan lupa bantu kami dengan donasi
Jitsuwa

Bab 6: Laki-laki Berspesifikasi Tinggi Mulai Beraksi (Musou) di Kelas (Sudut Pandang Gadis Tercantik Seangkatan)

September 17, 2026 • Penerjemah: Jerinnn
Ukuran:
Mode:

 Gimana ini. Begitu aku memercayakan posisi pemimpin proyek kepada Guru, dia langsung mulai beraksi dengan luar biasa (musou). Jujur saja, bisa membuat semua orang mengetahui sosok asli Guru membuatku merasa bangga. Selain itu, jika menyangkut pembuatan hal yang bernama game, tidak diragukan lagi bahwa menyerahkannya kepada Guru akan menghasilkan kualitas yang tinggi. Tapi kalau begitu, beban di pundak Guru terlalu besar. Saat ini dia sedang membuat skenario tambahan untuk 'Houkago Jihen', dan aku tidak ingin merenggut waktunya.

Meskipun begitu, begitu Guru menjadi pemimpin proyek, urusan festival sekolah melaju dengan pesat. Ini benar-benar membuatku kagum, dan aku rasa tidak ada orang lain yang bisa memimpin seperti ini.

Aduh, pikiranku tidak bisa fokus. Berbagai pergumulan batin yang jumlahnya tidak sanggup diproses melintas di kepalaku, saling bersilangan di dalam dada.

「──Kalau begitu, pembagian tugasnya kurang lebih seperti ini, ya. Kalau ada masalah, kalian boleh memberitahuku mulai besok atau hari-hari berikutnya. Selain itu, tim yang memikirkan teka-teki dan tim dekorasi interior kelas, mohon buat draf idenya sesegera mungkin dan bagikan secara berkala di group chat kelas.」

Guru membedah tugas-tugas yang diperlukan dengan kecepatan super manusia, dan meminta tolong kepada para siswa disesuaikan dengan keahlian masing-masing. Terlalu jenius.

Begitu PR masing-masing telah diberikan, homeroom hari ini pun berakhir, dan waktu sepulang sekolah pun tiba. Saat aku sedang membereskan barang-barang untuk pulang, anak-anak perempuan sekelas sedang membersihkan ruangan sambil bergosip tentang Guru. 

「Takahashi-kun, otaknya encer banget, ya nggak sih...」

「Iya kan. Aku nggak nyangka dia sebegitu pintar-nya.」 



「Hampir semuanya diputuskan sendiri, bener-bener bisa diandalkan banget, ya.」 「Kayak orang dewasa aja.」

Iya, betul sekali. Memangnya kalian pikir siapa dulu, ya kan? Guru kita ini kan levelnya beda dari anak-anak SMA biasa pada umumnya. Mendengar kesan-kesan dari mereka, aku merasa sangat bangga. Aku menghentikan tanganku yang sedang membereskan barang dan menyimak obrolan mereka.

Meskipun begitu, gara-gara kejadian kali ini, semua orang jadi menyadari pesona Guru. Kalau popularitasnya semakin naik dengan gaya seperti ini, gimana dong... Bukan berarti aku tidak suka popularitas Guru yang semakin meningkat, sih. Hanya saja, aku ingin menghindari bertambahnya jumlah saingan.

Ngomong-ngomong, apa Guru punya seseorang yang sedang dia sukai, ya...? Aku belum pernah melihatnya mengobrol dengan siapa pun di kelas, tapi jangan-jangan dia menyimpan perasaan cinta secara diam-diam terhadap seseorang...?

Sambil memikirkan hal-hal tidak berfaedah itu dan memutarnya berulang-ulang di kepala, waktu pun berjalan sampai hari sudah sangat larut. Aku mengganti sepatuku di kotak sepatu (gebako), lalu pergi ke rumah Guru seperti biasa dan menekan tombol interfon. 

「Guru, maaf banget ya. Aku malah menyerahkan pekerjaan yang merepotkan seperti pemimpin proyek ini ke Guru...」

Begitu Guru membukakan pintu, kalimat itulah yang pertama kali kuucapkan untuk meminta maaf. 

「Mengingat situasi tadi, nggak ada pilihan lain selain memintanya, sih...」

 「Sama sekali nggak apa-apa, kok. Mungkin karena itu bidang keahlianku, jadi nggak begitu membebankan juga.」



Guru berkata demikian sambil tersenyum. Padahal waktu berharganya untuk bekerja telah terpotong, tapi dia tetap mengatakan hal seperti itu, benar-benar baik seperti biasa. Setidaknya, aku harus mendukung Guru melebihi sebelumnya dengan cara menjalankan tugas sebagai sekretaris.

Dengan tekad yang kembali membara, aku memutuskan untuk langsung mulai membersihkan ruangan. Aku masuk ke kamar Guru dan mengambil penyedot debu nirkabel dari dalam lemari. Lalu, saat mataku tak sengaja melirik ke rak buku, aku melihat banyak sekali jilid photobook idol yang tersusun di sana.

Aku menghentikan sejenak penyedot debunya, lalu mengambil dan membalik-balik lembarnya. Semuanya memang untuk segala usia, namun banyak juga yang menampilkan foto-foto dengan pakaian berpaparan terbuka tinggi seperti berbikini atau hanya berbalut handuk mandi. Semuanya memiliki bentuk tubuh yang bagus. 

「...Guru juga punya hasrat seperti itu, ya...」

Sambil merasakan suasana hati yang rumit, aku melanjutkan pemeriksaan photobook tersebut. Hasilnya, terungkap bahwa idol-idol yang dipilih oleh Guru semuanya berjenis imut (kawaii), dan tidak ada satupun yang berjenis cantik dewasa (bijin).

Karena tipe mereka berbeda dariku, dadaku terasa sedikit nyeri.

Astaga, aku malah tanpa sadar mengecek selera pribadi Guru. Padahal aku baru saja bertekad untuk mendukung Guru lebih dari sebelumnya... Tapi, sebagai seorang sekretaris, memahami preferensi majikan sepertinya adalah hal yang memang diperlukan. Aku beralasan pada entah siapa untuk membenarkan pemborosan waktuku ini.

Setelah itu, aku melanjutkan membersihkan ruang kerja, kamar tidur, dan tangga secara berurutan. Begitu aku memasuki ruang tamu, Guru memanggilku. 

「Maaf, bisa tolong bantu aku mengambil foto sebentar?」


Aku menghentikan penyedot debu dan balik bertanya. 

「Memotret foto?」 

「Iya. Aku mau menggambar ilustrasi baru untuk sang heroine, jadi aku ingin mengambil foto untuk referensi. Aku yang akan jadi modelnya, jadi tolong pegangkan kameranya ya.」 

「Ah, begitu ya. Aku tadinya mengira hal seperti itu digambar berdasarkan imajinasi saja.」

 「Struktur tubuh manusia itu rumit, jadi kalau digambar pakai imajinasi nanti bakal terlihat janggal.」

Sambil memberikan penjelasan, Guru menyerahkan ponsel yang sudah mengaktifkan aplikasi kamera. 

「Latar belakangnya pantai, adegan di mana heroine menyodorkan botol plastik ke arah protagonis. Aku bakal bergerak sedikit demi sedikit, jadi tolong ambil foto dengan berbagai komposisi, ya.」

Setelah memberikan penjelasan singkat, Guru mengarahkan minuman olahraga ke arah kamera sambil sedikit demi sedikit mengubah pose-posenya. Entah kenapa, dia terlihat malu-malu. Menggemaskan.

Diberi kepercayaan penuh untuk memotret, aku merasa ini adalah pekerjaan yang luar biasa menyenangkan. Sambil menekan tombol shutter, aku sempat beberapa kali memberikan usulan pose seperti, "Bagaimana kalau tatapannya sedikit lebih mendongak ke atas (uwamekui)?"

「Terima kasih. Biasanya aku memasang kamera di tripod lalu memotret sendiri, jadi sangat terbantu sekali bisa dibantu oleh Himegi-san.」 

Setelah sesi pemotretan selesai dan ponsel dikembalikan kepadanya, Guru menyampaikan rasa terima kasihnya.

Di sanalah aku memberanikan diri untuk mengajukan usulan. 


「Ngomong-ngomong, kalau ini untuk referensi ilustrasi heroine, bukankah akan lebih baik jika subjeknya adalah wanita? Soalnya antara laki-laki dan perempuan itu ada cukup banyak perbedaan, kan, seperti timbunan daging atau sudut lekukan sendi.」

Mendengar itu, Guru menggaruk pipinya dengan ekspresi canggung. 

「Hmm... Memang benar memotret wanita adalah yang paling ideal, tapi aku nggak punya orang yang bisa dimintai tolong jadi modelnya, sih...」

 「Bukankah ada orangnya di sini?」 Aku menunjuk diriku sendiri.

Guru menganga dengan mulut terbuka lebar. 

「Eh...? Kamu mau melakukannya...?」

 「Tentu saja. Kan aku sekretarisnya.」 「Ba... Baiklah. Kalau begitu tolong bantu ya.」

Setelah sempat ingin mengatakan sesuatu, Guru kembali menyiapkan kameranya. Aku membawa sebotol botol plastik, mengingat-ingat pose yang tadi dilakukan Guru, lalu mulai bergerak dengan gerakan serupa.

Meskipun aku dengan mudahnya menyanggupinya, berpose langsung di depan kamera ternyata sangat memalukan. Terlebih lagi, Guru nanti akan menggambar ilustrasinya dengan merujuk pada fotoku ini. Aku harus tampil secantik mungkin.

「Fotonya berhasil diambil dengan sangat bagus. Terima kasih banyak, ya.」 Guru berulang kali mengucapkan terima kasih sambil melihat-lihat folder foto.

Lalu, di saat itulah sebuah pertanyaan kecil muncul di benakku. 

「Ngomong-ngomong, tadi kamu bilang latar belakangnya pantai, kan? Memangnya pakaian si heroine itu seragam sekolah?」

Mendengar pertanyaanku, Guru kembali memasang ekspresi canggung.


 「...Enggak, baju renang. Soalnya kalau begitu bakal lebih laku.」

Meskipun aku sama sekali tidak sedang memandangnya dengan nada menyalahkan, entah kenapa Guru berbicara seolah sedang membela diri. Artinya, saat menggambar ilustrasi nanti, Guru akan membayangkan diriku dalam balutan baju renang, begitu ya...

「Memangnya wujud dalam balutan baju renang itu bisa digambar dengan baik hanya lewat imajinasi?」 

「Biasanya sih, aku mencari foto dengan pose serupa dari bahan referensi untuk dijadikan acuan.」 

「Bahan referensi...」

Secara refleks, photobook idol yang kulihat tadi kembali berkelebat di kepalaku. Tubuh para idol-idol itu menempel di bawah leherku... Tentu saja, aku paham bahwa bukan berarti itu akan digabungkan secara harfiah, melainkan hanya dijadikan referensi bagian per bagian saja. Tapi, entah kenapa aku merasa hal itu sangat memalukan dan merendahkan harga diri.

「...Kalau boleh, bagaimana kalau aku saja yang ganti baju renang?」 ──«Eeeeeeeh!?»


Daftar Bab Novel
Memuat daftar chapter...