Chapter 1: Kenapa Juga Seorang Penyendiri Punya Teman Walau Udah Time Leap
Aku terbangun. Sepertinya aku sedang berbaring di atas tempat tidur. Rasanya kepala ini begitu pusing dan melayang. Padahal aku merasa telah terlibat dalam sebuah kejadian yang luar biasa....
Begitu aku menggerakkan tubuhku sedikit, ujung jariku membentur dinding dengan keras.
"Aduh!"
Rasa sakit itu membuat kesadaranku perlahan-lahan pulih. Eh? Bukannya tadi aku tertabrak truk tepat di depan gerbang sekolah?
Mengingat kembali kejadian barusan, kulitku merinding seketika. Aku langsung meraba-raba seluruh tubuhku, tapi tidak ada bagian yang terasa sakit atau cacat. Untuk sementara aku merasa lega. Namun, mustahil tidak terluka sama sekali setelah mengalami kecelakaan separah itu.
Meskipun begitu, jika tubuhku ini lengkap dan sempurna tanpa kurang suatu apa pun... apakah dokter bedah yang menanganiku adalah guru yang separuh rambutnya sudah beruban itu? Atau jangan-jangan orang yang tidak pernah gagal itu?
Jika ini adalah reinkarnasi ke dunia lain, ini adalah pola di mana seorang dewi yang imut akan memberiku cheat skill, atau kekuatan yang bisa menjadi OP (overpowered) tergantung cara penggunaannya. New Game dengan kekuatan penuh!
Sambil diselimuti harapan, aku menyingkirkan selimut. Pemandangan yang terbentang di hadapanku adalah meja, kursi, dan rak buku. Bagaimanapun juga, ini adalah kamarku.
Bukan dunia lain, bukan pula rumah sakit. Tidak ada dewi yang imut ataupun perawat. Padahal aku sempat sedikit berharap.
"Eh..."
Dengan perasaan bingung, aku bangkit dan menurunkan kakiku dari tempat tidur dengan bunyi gedebuk pelan. Tidak ada rasa sakit, jangankan perban, plester luka pun sama sekali tidak kelihatan.
Dilihat dari intensitas cahaya yang masuk melalui tirai jendela, saat ini pasti waktu pagi hari. Apakah semua itu tadi hanya mimpi?
Sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, aku merasakan kejanggalan yang aneh. Seragam sekolah yang biasanya digantung dengan hanger di dinding tidak kelihatan. Jumlah buku di rak buku pun lebih sedikit. Novel ringan yang sedang kubaca tidak ada di atas meja.
Sebagai gantinya, sebuah karya nostalgia yang kubaca beberapa waktu lalu terpajang di sana. Itu adalah komedi romantis bertema klub misteri yang sangat kusukai saat SMP dulu.
Tapi, aku sama sekali tidak ingat membacanya lagi belakangan ini, bukan?
Tanpa mengerti situasi yang terjadi, aku mengambil ponsel dari meja rendah (low table). Waktu menunjukkan sedikit lewat pukul tujuh pagi. Sampai di situ tidak ada masalah.
Namun, tanggal yang tertera terasa aneh. Waktu telah berlalu lebih dari satu bulan dari ingatanku.
Jangan-jangan aku mengalami gangguan ingatan akibat sekuel kecelakaan itu? Aku pernah membaca novel seperti itu sebelumnya.
Di dalam novel tersebut, pengaturannya adalah melupakan kejadian hari sebelumnya setiap kali tidur...
Dengan panik, aku mengedarkan pandangan ke meja dan pintu. Dalam cerita bertema kehilangan ingatan, biasanya ada pola di mana terdapat catatan di tempat yang mencolok seperti, "Kamu mengalami gangguan ingatan" atau "Tolong baca buku catatan yang ada di meja". Kalau di film, ada juga orang yang mentato sekujur tubuhnya, tapi rasanya tidak mungkin sampai separah itu. Aku benci rasa sakit.
Meskipun sudah memeriksa seluruh ruangan secara menyeluruh, sama sekali tidak ada catatan tertempel di mana pun.
Dengan perasaan lega bercampur kecewa yang menjadi satu, aku kembali melihat ponsel yang masih digenggam di tangan. Melihat bagian belakang ponsel itu, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Ponsel ini kubeli saat masuk SMA, dan aku berencana mengganti modelnya setelah lulus. Aku tidak memakai casing, dan meskipun aku adalah tipe orang yang merawat barang dengan baik, aku sudah memakainya selama tiga tahun.
Ponsel itu seharusnya memiliki cukup banyak goresan.
Namun, ponsel yang berada di tanganku ini terlalu mulus untuk ukuran barang yang sudah dipakai selama tiga tahun. Rasanya seperti baru dibeli beberapa hari lalu.
Didorong oleh firasat aneh, aku memeriksa kalender di ponsel. Aku sudah tahu bahwa sekarang adalah bulan April. Yang penting bukanlah "bulan", melainkan "tahun".
"...Seriusan nih?"
Tahun yang tertera di layar ponsel adalah tepat tiga tahun lalu. Tahun saat aku masuk SMA.
Mungkin karena aku keluar kelas lebih awal, tidak banyak orang di sekitar sini. Baguslah, murid baru yang bikin siswi menangis di hari pertama sekolah pasti bakal dicap sebagai manusia nggak beres.
Tentu saja koridor di depan kelas bukanlah tempat yang tepat untuk mengobrol, jadi kami melewati koridor penghubung menuju lantai lima gedung khusus. Aku sudah bersekolah di sini selama tiga tahun. Tempat yang sepi orang tentu sudah hafal di luar kepala.
Sambil berjalan, Hanamitsuji sepertinya juga sudah mulai tenang. Saat kami saling berhadapan di sudut koridor, ia tampak malu-malu sambil merapikan area matanya.
"Maaf ya, tadi aku sempat lepas kendali..." "Ah, nggak apa-apa. Ngomong-ngomong Hanamitsuji, kamu juga... datang dari tiga tahun ke depan, kan?"
"Iya, benar. Nanamura-kun juga punya ingatan dari tiga tahun ke depan, ya."
Hanamitsuji, yang terlihat tiga tahun lebih muda dari ingatan asliku, menatap mataku lekat-lekat sambil menggenggam tanganku. Whoaa, jari cewek ternyata selentik ini! Lembut banget! Hangat! Apaan nih, nyata nggak sih?
Karena seumur hidup belum pernah punya pengalaman bersentuhan dengan perempuan, aku berusaha mati-matian menahan pandanganku agar tidak salah tingkah.
"Terima kasih banyak, ya. Kalau bukan karena kamu, aku pasti sudah mati."
Mendengar kata-kata itu, aku merasakan sensasi hangat yang menjalar di dada. Saat aku bertanya-tanya kenapa aku bisa merasa seperti ini, aku pun teringat sesuatu.
"Aku nggak bermaksud mencari pamrih, tapi sama-sama. ...Yah, rasanya memang lebih enak didengar yang begini, sih." "Lebih enak didengar maksudnya?" "Ah, bukan apa-apa."
Bukan hal penting juga untuk dibahas. Ini hanyalah sentimen egoisku saja.
Setelah aku tertabrak truk, Hanamitsuji menangis sambil meminta maaf. Aku paham perasaannya, dan kalau aku berada di posisinya, aku mungkin juga akan meminta maaf.
Tapi, ucapan terima kasih jauh lebih enak didengar oleh orang yang menerimanya ketimbang permintaan maaf.
Akhirnya, aku bisa mendengar kata-kata selain "maaf" dari mulut Hanamitsuji.
Hanamitsuji sempat memasang ekspresi bingung sejenak, namun pada akhirnya ia tersenyum lembut.
"Pokoknya, syukurlah Nanamura-kun selamat. Usahaku ternyata tidak sia-sia."
"Oh... jadi situasi ini ulahmu, ya?"
Sejak diajak bicara tadi, aku sebenarnya sudah samar-samar menduga hal itu. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana caranya memutar balik waktu hingga tiga tahun yang lalu.
"Iya. Ceritanya agak panjang, tapi mau dengar?"
Melihatku mengangguk dalam diam, Hanamitsuji mulai menceritakan apa yang terjadi setelah kecelakaan itu.
Sesuai dugaan, atau lebih tepatnya memang begitulah kenyataannya—aku tewas akibat kecelakaan hari itu.
Hanamitsuji ingin menyelamatkan diriku yang telah menjadi penyelamat nyawanya. Namun, karena aku sudah terlanjur tewas, satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah memohon kepada Tuhan.
Keluarga Hanamitsuji ternyata merupakan garis keturunan pendeta Shinto, dan rumah asalnya adalah sebuah kuil besar yang cukup terkenal.
Meskipun akal sehatnya menyadari bahwa hal itu mungkin sia-sia, Hanamitsuji tetap berdoa dengan putus asa di sebuah hokora (kuil kecil) yang berada di dalam Hutan Chinju (hutan pelindung kuil). Dan ketika ia sadar, ia sudah mendapati dirinya berbaring di atas tempat tidur di kamarnya sendiri.
Tidak lama kemudian, ia menyadari bahwa waktu telah berputar kembali ke tiga tahun lalu, tepat di hari kami masuk SMA. Pada awalnya Hanamitsuji sempat panik, tapi ia berpikir bahwa jika mereka kembali ke hari upacara penerimaan, maka aku seharusnya juga masih hidup. Dan sepertinya, begitu homeroom selesai, ia langsung mendatangi kelasku.
"Kasarnya sih begitu. Kamu nggak harus percaya juga, sih, aku sendiri sebenarnya masih setengah percaya setengah tidak. Waktu itu aku cuma bisa nekat karena terdesak, tapi nggak nyangka bakal beneran kejadian..."
Hanamitsuji, yang menceritakan hal itu, masih tampak kebingungan. Aku berpikir sejenak mengenai perkataan Hanamitsuji. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kukomentari, tapi...
"Anak seorang pendeta kuil berdoa kepada Tuhan untuk memutar balik waktu? Memangnya ini light novel, anime, atau manga?!"
"Bilang aja langsung ke orangnya."
"Iya juga, ya."
Sambil menghela napas, aku pasrah saat dia meresponsnya dengan santai. Hal ini terlalu tidak masuk akal, tapi mau tidak mau aku harus menerima cerita Hanamitsuji. Apakah ini lebih terasa nyata ketimbang bereinkarnasi ke dunia lain... atau bagaimana? Lagipula, fenomena "memutar waktu kembali ke tiga tahun lalu" sendiri adalah hal yang sama sekali tidak masuk akal. Setidaknya, karena latar belakangnya sudah dijelaskan, itu sudah cukup mendingan.
Yah, masalah yang menumpuk masih ada banyak, tapi ada hal lain yang harus kukatakan terlebih dahulu. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan mental untuk menepis rasa canggung yang melanda, aku menatap Hanamitsuji tepat di matanya.
"Ehm, anu. Itu... terima kasih banyak, ya."
Aku merapatkan kedua tangan di sisi tubuhku, lalu membungkuk dalam-dalam secara harfiah. Setara dengan saat menerima ijazah kelulusan.
"S-Sama-sama." Hanamitsuji menjawab dengan nada suara yang sedikit kebingungan. Kata-kata selanjutnya tidak kunjung keluar dari mulutnya.
Saat aku menegakkan kepala, mata kami saling beradu, dan kami berdua sama-sama memalingkan wajah karena canggung.
Bagi Hanamitsuji, aku adalah penyelamat hidupnya, dan bagiku, Hanamitsuji juga penyelamat hidupku... Rasanya aneh dan bikin geli di hati.
Tiba-tiba, ada satu hal janggal yang mengusik pikiranku. "Kenapa harus tiga tahun lalu? Kalau tujuannya cuma mau hidup sebelum mati, bukankah kembali ke sehari sebelum kecelakaan saja sudah cukup?"
Hanamitsuji sepertinya ingin mendoakanku agar hidup kembali, tapi jika begitu, kembali ke sehari atau seminggu sebelum kecelakaan seharusnya sudah lebih dari cukup.
Tidak ada alasan khusus untuk sengaja kembali ke upacara penerimaan tiga tahun lalu.
"Mana kutahu soal itu. Tanya sana sama Tuhan." Jawaban yang sangat ketus. Kalau aku bisa bertanya dengan santai begitu, aku tidak akan kerepotan.
"Hmm... Ah, benar juga. Bagaimana kalau minta tolong dikembalikan lagi ke tiga tahun kemudian?"
"Eh?"
"Kan kamu sempat berdoa di kuil, kan? Kalau kita minta tolong sekali lagi, mungkin kita bisa kembali, tahu."
"A, anu... itu mungkin saja, benar? Tapi, apa Tuhan mau mendengarkan permohonan kita sesering itu? Kurasa Beliau tidak punya banyak waktu luang."
"Kenapa Hanamitsuji jadi tahu jadwal sibuk Tuhan, sih?"
Entah kenapa, Hanamitsuji malah melipat tangan di dada sambil membuang muka. Suasananya jadi agak aneh, tapi ini bukan saatnya memikirkan hal itu.
"Hanamitsuji juga kerepotan kan karena balik ke tiga tahun lalu? Bagaimana kalau kita pergi ke kuil rumah keluargamu itu, dan setidaknya mencoba memohon sekali saja?" "Hmm, yah, mau gimana lagi..."
Kuil yang disebutkan oleh Hanamitsuji dengan nada enggan-enggan itu adalah sebuah kuil terkemuka yang bisa dicapai dalam waktu puluhan menit saja dengan naik sepeda dari sekolah. ...Seriusan? Jangan-jangan cewek ini aslinya anak orang kaya (putri bangsawan).
Mengingat aku sudah telanjur bilang kepada orang tua bahwa "hari ini cuma ada upacara penerimaan jadi pulangnya sebelum siang", kalau aku langsung pulang ke rumah sekarang, alasannya bakal ribet.
Jadi, aku memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dulu, makan siang, baru setelah itu pergi lagi. Sesampainya di rumah, Ibu memberondongku dengan berbagai pertanyaan tentang sekolah, dan butuh waktu cukup lama bagiku untuk mengalihkan pembicaraannya.
Lewat jauh dari tengah hari, aku naik bus dari terminal di sebelah stasiun terdekat sekolah, dan akhirnya tiba di kuil yang dituju.
Kuil itu berukuran cukup besar, lengkap dengan torii besar yang berdiri di bagian atas dan bawah tangga batu lebar yang menghadap langsung ke jalan raya.
Saat musim tahun baru (Hatsumoude), antrean pengunjung pasti meluber keluar dari tangga batu hingga memanjang ke jalanan.
...Padahal aku datang ke rumah perempuan, tapi tingkat antusiasmoku nol besar. Soalnya ini kuil sih.
Dipandu oleh Hanamitsuji—yang menungguku di halte bus terdekat—aku menaiki tangga batu dan masuk ke area hutan yang terbentang di sisi bangunan utama kuil.
Beberapa langkah masuk ke dalam hutan dari jalur jalan berbatu yang sempit, sebuah kuil kecil yang ditumbuhi lumut tampak duduk dengan tenang di sana.
"Ini? Kok kelihatannya lebih kecil dari bayanganku, ya." "Katanya sih ada sejarah dan legenda tertentu di baliknya, tapi aku sendiri kurang tahu banyak. Yang bakal mewarisi kuil ini kan Kakakku."
Kami berdua berjongkok di depan hokora. Tinggi hokora itu kira-kira setara dengan tinggi badanku saat sedang berjongkok. Sambil terdiam kaku di tempat, Hanamitsuji melirikku dengan tajam dari sudut matanya.
"Eh, kok malah nggak berdoa? Padahal kamu sendiri yang ngajak, lho."
"Ha? Oh, umm... Dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, sekali membungkuk lagi, ya? Eh, tapi sebelum itu bukannya kita harus cuci tangan dulu, ya?"
"Aku sih kemarin nggak pakai cara begitu, ya. Tinggal merapatkan tangan begini, terus..."
Hanamitsuji yang langsung menurut merapatkan kedua tangannya, menutup mata sambil menggumamkan sesuatu. Pas dipikir-pikir lagi apa yang dia gumamkan, ternyata dia ngomong,
"Nandandabu-nandandabu."
"Woi, itu kan doa umat Buddha! Harusnya kan pakai doa ritual (norito) atau semacamnya, bukan?!"
"Mana kutahu, aku kan bukan ahlinya. Waktu itu karena panik jadi tanpa sadar aku malah ngomong nandandabu. Hal kayak gini tuh yang penting kan niat (ketulusan hati)," kata Hanamitsuji membela diri.
Begitu ya? Aku sih merasa ragu banget, tapi ada benarnya juga kalau niat itu yang paling utama. Aku pun ikut merapatkan kedua tangan sambil memanjatkan permohonan di dalam hati. Tolong kembalikan kami ke tiga tahun ke depan. Kalau bisa, tolong selipkan sedikit bakat sebagai penulis novel ringan ya, Tuhan!
Sekitar beberapa puluh menit berlalu sejak kami mulai berdoa, pemandangan yang terlihat di depan hokora adalah kami berdua yang berguling-guling sambil memegangi kaki masing-masing.
Terlalu lama berdoa sambil berjongkok membuat kaki kami kebas luar biasa sampai rasanya mau copot. Tentu saja, kami sama sekali belum kembali ke masa tiga tahun kemudian.
"Ugh, padahal udah berdoa segitunya... aduh aduh aduh..." "Makanya udah kubilang kan, Tuhan itu pasti sibuk... awww—"
Akhirnya aliran darah di kaki kami mulai lancar, dan kami berdiri terhuyung-huyung seperti anak rusa yang baru lahir. Hanamitsuji juga tampak meringis kesakitan, tapi ia berusaha untuk bangkit.
"Tapi ya sudahlah, kalau didoakan separah ini pun tetap nggak bisa, berarti memang nggak mungkin ya." "Mungkin ini memang cuma semacam kebetulan atau keisengan Tuhan aja kali ya."
Sambil menatap ke arah hokora, Hanamitsuji bergumam pelan sambil menopang dagunya dengan tangan.
"Ngomong-ngomong, kalau seandainya kita beneran kembali ke tiga tahun kemudian, apa Nanamura-kun bakal baik-baik saja?"
"Hm? Maksudnya gimana?"
"Yah, Nanamura-kun kan sempat tertabrak truk, tuh. Kalau kita minta 'Tolong kembalikan ke tiga tahun ke depan', apa kita bakal dikembalikan ke sebelum kecelakaan itu terjadi? Jangan-jangan kita malah ujug-ujug dikembalikan ke pas saat lagi sakaratul maut?"
"............"
"............"
"......Oke, mari kita urungkan niat minta tolong ke Tuhan! Mau gimana lagi, aku bakal jalanin hidup sebagai anak SMA sekali lagi... meskipun males banget, sih."
Huuuh, aku menghela napas panjang. Aku benar-benar masuk ke dalam situasi yang merepotkan. Padahal kupikir kehidupan SMA-ku bakal langsung beres begitu upacara kelulusan selesai, tapi aku malah harus mengulangi masa SMA selama tiga tahun lagi.
"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi ikutan terseret." Sambil menundukkan kepala, aku mengucapkannya dengan tulus. Hanamitsuji menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Nggak usah dipikirkan. Siapa pun pasti pengin menolong kalau melihat orang yang menyelamatkan nyawanya mati di depan mata. Aku nggak mungkin menyesalinya."
"B-Begitu ya... Kamu ternyata orang baik, ya." Mikir negatif kayak mikir 'padahal anak gaul' itu sebenarnya nggak baik, ya. Kalau dipikir secara normal, nggak aneh kan kalau anak gaul yang punya banyak teman itu punya kepribadian yang baik. Justru karena kepribadiannya baik makanya dia punya banyak teman.
"Yah, bukan berarti cuma itu alasannya sih," gumam Hanamitsuji.
"Eh?"
Aku balik bertanya mendengar gumaman pelan Hanamitsuji, tapi ia membuang muka dengan ekspresi ketus dan enggan menjawab.
Ya sudahlah. Lagipula, ada hal lain yang harus lebih kita khawatirkan saat ini.
"Hanamitsuji. Kira-kira berapa standar harga ucapan terima kasih buat orang yang udah menyelamatkan nyawa, ya? Apa aku perlu ambil cicilan (loan) gitu?"
"Apaan cicilan... mana kutahu hal semacam itu. Lagipula, soal menyelamatkan nyawa itu kan impas."
Hanamitsuji menunjuk diriku dan dirinya secara bergantian dengan ekspresi melongo. Yah, kalau dipikir-pikir memang benar juga sih. "Jadi, kita anggap nggak ada utang-piutang, ya."
"Begitu ya. Yah, kalau Hanamitsuji ngomong begitu, sebagai pihak yang ditolong aku juga merasa terbantu."
Mendengar itu, Hanamitsuji mengangguk puas lalu berkata, "Kalau dipikir-pikir, hari ini adalah pertama kalinya kita ngobrol secara benar, ya."
Memang benar. Rasanya aneh sekali, tapi termasuk kehidupan SMA sebelumnya, hari ini adalah kali pertama aku berbicara secara benar dengan Hanamitsuji.
Menghitung kekacauan setelah aku tertabrak truk sebagai "mengobrol" rasanya terlalu dipaksakan. Waktu itu aku bahkan hampir nggak bisa ngomong bahasa Jepang dengan benar, dan Hanamitsuji menangis terus-menerus.
"Sepertinya cukup sampai di sini dulu, ya. Baik aku maupun Nanamura-kun kan sama-sama baru datang ke masa tiga tahun lalu (dunia sini), pasti bakal repot mengurus banyak hal, jadi untuk sementara kita bubar dulu, ya."
"Dimengerti. Terima kasih sudah mau cerita, sangat membantu."
Begitu aku mengangguk, Hanamitsuji melemparkan senyuman yang memikat ke arahku. Jangan gitu, dong, seorang bocchi kan nggak terbiasa dengan hal seperti itu. Bagaimana kalau aku sampai salah paham, hah?
Baru saja aku berpikir untuk kembali ke halte bus, Hanamitsuji mengeluarkan ponselnya. "Nah, karena kita ini sesama 'rekan seperjuangan' yang datang dari dunia tiga tahun ke depan, mohon kerjasamanya mulai sekarang. Ayo kita tukeran kontak."
"Eh? Ah, o-oke..."
Begitu rupanya. Orang-orang normie menukar kontak lewat alur seperti ini, ya. Maklum saja, karena pengalamannya minim, aku jadi agak canggung.
Sambil meniru seadanya untuk mendaftarkan akun Line, tiba-tiba aku teringat sesuatu dan bertanya padanya.
"Oh iya, ada satu hal yang ingin kutanyakan."
"Apa itu?"
"Kuil ini jualan jimat keselamatan berlalu lintas nggak, ya?"
Sekembalinya ke rumah, rasa lelah langsung mendera sekujur tubuh, membuatku langsung ambruk di atas tempat tidur dengan masih mengenakan seragam sekolah. Jimat keselamatan berlalu lintas itu sudah kumasukkan ke dalam dompet.
Sambil berbaring, aku menatap daftar kontak yang tersimpan di ponsel. Melihat nama Hanamitsuji Sora tertera di sana, aku sempat memikirkan hal sepele seperti, kalau dilihat sekilas, batas antara nama marga dan nama depannya agak susah dibedakan, ya.
◆
Sekitar sepuluh hari telah berlalu sejak upacara masuk SMA yang kedua kalinya, dan hari-hari yang damai terus berlanjut tanpa ada masalah berarti. Jujur saja, aku sempat mengira akan merasa lebih bingung, tapi ternyata aku bisa beradaptasi dengan cukup mudah. Mungkin pengalaman membaca beberapa light novel bertema time leap cukup membantuku... ada juga ya kegunaan semacam ini?
Aku mendengarkan pelajaran di kelas sekadarnya saja, membaca light novel saat jam istirahat, dan langsung pulang begitu jam sekolah usai. Kali ini aku memang tidak berniat mencari teman, jadi aku sudah menjadi bocchi sejak awal semester pertama. Tidak ada juga pembunuh bayaran dari masa depan yang dikirim gara-gara masalah paradoks waktu atau semacamnya.
Aku juga tidak sampai berbuat ceroboh yang membuat orang curiga karena menunjukkan "gerakan orang yang datang dari masa depan". Lagi pula, tidak ada seorang pun yang peduli padaku. Hebat sekali bocchi, tingkat pertahanannya benar-benar tinggi.
Mungkin ada yang berpendapat, meski sudah melintasi waktu tiga tahun dan kembali ke kelas satu SMA, apa tidak apa-apa menjalani hidup yang sekadar damai begini? Tapi, coba pikirkan baik-baik.
Kalau kembali ke kelas satu SD mungkin masih lain cerita, tapi kembali dari kelas tiga ke kelas satu SMA pun tidak banyak hal yang bisa dilakukan.
Dalam kisah time leap fiksi, waktu biasanya diputar kembali demi menyelamatkan sang heroine atau krisis dunia, atau sang protagonis memiliki suatu penyesalan besar yang mengganjal di hatinya.
Namun, dalam kasusku, sama sekali tidak ada heroine yang nyawanya terancam atau kelangsungan dunia yang bertumpu di pundakku, dan tidak ada juga orang yang kusesali karena gagal menyatakan cinta.
Dengan kata lain, meskipun kembali ke kelas satu SMA, aku sama sekali tidak punya hal khusus yang ingin kulakukan.
Namun, ada benarnya juga kalau segala sesuatu harus dilihat dari sudut pandang yang beragam.
Aku sempat berpikir, "Baiklah, aku akan konsultasi ke temanku!" tapi sedihnya aku tidak punya teman. Itu sebabnya, sepulang dari kuil di hari upacara penerimaan, aku sempat bertanya pada adikku, Satsuki.
"Satsuki. Kalau seandainya Kakak datang dari masa depan tiga tahun kemudian, menurutmu apa yang harus Kakak lakukan?" "Hah? Jangan-jangan Kakak jadi gila karena kebanyakan baca light novel?"
Sambil bermalas-malasan duduk di sofa dengan masih mengenakan seragam sekolah, Satsuki melirikku dengan mata setengah terpejam sambil mengunyah sereal sarapan pagi secara kasar.
Adikku itu suka memakan sereal sarapan begitu saja tanpa diseduh saat stok camilan di rumah sedang habis. Kalau disajikan di piring tanpa dituangkan susu, tampilannya benar-benar mirip makanan burung, tapi sepertinya dia tidak peduli. Sebagai seorang kakak, aku merasa dia sebaiknya makan sesuatu yang lebih mirip gadis pada umumnya, tapi kalau ditanya
"seperti apa makanan gadis pada umumnya itu", aku juga bingung mau jawab apa. Makaron?
"Jawab saja dengan santai. Ini masalah yang paling banter cuma akan menentukan arah hidup Kakak, kok."
"Kalau diomongin begitu, kan aku jadi harus mikir serius!"
Sambil menggoyangkan rambutnya yang dikuncir dua, Satsuki menegakkan tubuhnya, lalu melanjutkan makan sereal dengan postur yang lebih benar dari sebelumnya. Tampaknya prioritasnya masih kalah dari sereal, tapi sepertinya dia jadi sedikit lebih serius.
"Wah, tidak disangka Satsuki sangat peduli padaku... Kakak jadi terharu."
"Soalnya kalau Kakak sampai jadi pengangguran (neet), kan repot. Kalau nanti Kakak mati kesepian (kodokushi) di suatu tempat, aku ogah ngurusin verifikasi identitas mayatnya, tahu? Pasti bau."
"Jangan ngerepotin masalah dari sekarang, deh! Lagian kalau jadi neet, kan nggak bakal keluar dari rumah orang tua, jadi sekalipun mati kesepian, nggak perlu khawatir soal verifikasi identitas." "Memangnya masalahnya selesai cuma karena itu?"
Sambil menggoyangkan rambut hitam sebahu, Satsuki mengerang sambil berpikir,
"Hmm..." Omong-omong, jujur saja, seandainya aku mati kesepian di kota antah berantah sekalipun, aku tetap ingin identitas-myatku diurus.
Setelah berpikir sejenak, Satsuki memberikan jawaban singkat. "Yah, gimana kalau belajar aja?"
"Selain belajar?" "Kelebihan Kakak kan cuma lumayan pintar doang. Kalau itu dibuang, Kakak mau ngandelin apa lagi?"
"Eh, emangnya nggak ada hal lain selain itu? Kayak semacam, apa gitu... nggak ada?" "Jangan tanya aku, dong."
Meskipun memasang wajah jijik, Satsuki menopang dagunya dan memasang pose seolah-olah dia benar-benar sedang berpikir. "Hal yang bisa Kakak lakuin paling cuma belajar, atau nggak... mungutin sampah di jalanan?"
"Itu mah sukarelawan RT! Cakupan hal yang bisa kulakuin di matamu sempit banget, ya?"
"Ya, salah Kakak sendiri sih. Nggak populer, nggak punya semangat buat berusaha jadi populer, nggak bisa olahraga, dan kepribadiannya juga sinis."
"Dengar ya, Satsuki, kamu nggak boleh ngomong sepedas itu ke orang lain, tahu. Untungnya karena kita udah bareng dari dulu, omonganmu ini paling cuma bikin aku kepikiran sampai susah tidur doang."
"Itu mah udah kena mental banget namanya!"
Ampun deh, adikku itu harusnya mencontoh obat sakit kepala terkenal yang separuh isinya dibuat dari kebaikan.
Yah, konon arti slogan itu sebenarnya bukan cuma ada kandungan pereda nyeri, tapi juga ada zat yang melindungi lambung. Sayangnya bukan berarti ada kandungan kebaikan secara mental.
Satsuki menghela napas panjang lalu melanjutkan kata-katanya. "Coba dipikir, deh. Meskipun datang dari masa depan tiga tahun kemudian, Kakak ya tetap Kakak yang dulu, kan?"
"Bener juga, sih."
"Kalau gitu, ya pada akhirnya Kakak cuma bisa ngelakuin hal-hal yang memang mampu Kakak lakuin."
Mendengar itu, aku langsung tersadar. Memang benar juga. Sekuat apa pun waktu diputar kembali, kemampuan fisik, standar ketampanan wajah, maupun kemampuan bersosialisasiku tidak ikut meningkat. Ini sama sekali berbeda dengan cerita reinkarnasi ke dunia lain di mana tokoh utamanya diberi cheat skill oleh seorang Dewi.
Mengingat kemampuanku tidak ikut meningkat meskipun waktunya diputar kembali, aku tidak akan bisa melakukan hal-hal yang hebat. Prinsip bahwa aku tetaplah diriku tidak berubah, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam rentang lima belas tahun sejak lahir hingga kelas tiga SMP pun tidak berubah dari sebelumnya.
Jika begitu, pilihannya hanya satu: menjalani kehidupan yang damai dan tidak jauh berbeda dari kehidupan pertamaku sebelumnya. Yeah. Menyembunyikan fakta bahwa aku telah melakukan time leap dan sengaja hidup dengan tenang mungkin terasa keren, mirip seperti protagonis yang menyembunyikan kekuatan aslinya.
Tapi, kalau jujur pada diri sendiri, aku sempat berpikir, "Bukankah aku bisa membeli saham yang harganya bakal naik mulai sekarang, lalu untung besar dan hidup sebagai pengangguran kaya yang santai?" Bahkan, aku sempat memikirkan saham perusahaan apa yang sebaiknya dibeli.
Namun, aku menyadari satu hal yang fatal. ...Karena di kehidupan SMA sebelumnya aku tidak pernah peduli pada harga saham perusahaan, aku sama sekali tidak tahu saham mana yang akan naik di masa depan!
Sialan, kalau saja aku tahu bakal melakukan time leap, aku pasti sudah mengecek harga saham setiap hari!
Aku memang masih bisa mengingat beberapa nama perusahaan terkenal sebelum time leap, tapi aku tidak bisa mencari informasi apakah perusahaan-perusahaan itu benar-benar untung atau apakah harga sahamnya bakal naik ke depannya.
Sebanyak apa pun informasi yang berserakan di internet, informasi tentang tiga tahun ke depan tidak akan muncul begitu saja.
Memang ada beberapa prediksi dari orang yang mengaku sebagai penjelajah waktu yang kebetulan benar, tapi mereka hanya membahas hal-hal besar seperti Perang Dunia Ketiga atau bencana alam besar. Tolong beritahu aku harga saham saja, itu sudah cukup.
Sebagai masalah yang lebih mendasar, bahkan jika aku mengingat perusahaan mana yang harganya akan naik di masa depan, tidak ada jaminan bahwa masa depan akan berjalan persis seperti yang kuketahui
. Aku sudah menjalani kehidupan yang berbeda dari sebelumnya, dan bukan tidak mungkin harga sahamnya juga terpengaruh oleh efek kupu-kupu (butterfly effect). Terlalu berisiko untuk mempertaruhkan uang saku di sana.
Oleh karena itu, rencana kaya raya berkat saham pun resmi kandas.
Namun, ada satu hal yang mengalami kemajuan dibandingkan sebelumnya. Yaitu bidang akademis. Jika seseorang yang baru beberapa minggu lalu berstatus sebagai siswa kelas tiga dan peserta ujian tiba-tiba kembali ke kelas satu SMA, tentu saja pelajaran sekolah jadi terasa sangat mudah. Nanti aku beli buku referensi untuk peserta ujian saja, deh.
Mengingat hal-hal itu, aku memutuskan untuk menjalani kehidupan SMA yang damai tanpa ada perbedaan berarti dibanding sebelumnya.
Ngomong-ngomong, aku sempat melihat Hanamitsuji beberapa kali di lingkungan sekolah, dan aku merasa kagum karena dia selalu bersama teman-temannya.
Rasanya dia benar-benar berasal dari ras yang berbeda dariku, atau lebih tepatnya, atmosfer yang ia pancarkan adalah khas kasta teratas. Aku ingat saat kami sekelas di kelas dua dan tiga dulu, Hanamitsuji juga selalu berada di dalam kelompok seperti itu.
Meskipun kami tidak pernah mengobrol di sekolah, Hanamitsuji beberapa kali mengirimiku pesan lewat Line.
Aku sempat terkejut karena mengira kontak kami hanya akan disimpan begitu saja tanpa pernah dipakai setelah bertukar nomor. Menerima pesan LEIN dari siswi seangkatan rasanya sudah seperti event besar.
Tapi, perasaan seperti apa aku perlu masak nasi merah? itu hanya muncul di awal saja. Mulai pesan kedua dan seterusnya, membalas pesannya saja sudah terasa merepotkan.
Inilah alasan kenapa aku sampai sekarang tetap menjadi seorang bocchi... Hal paling sulit dalam hubungan antarmanusia bukanlah cara membangun hubungan itu sendiri, melainkan cara mempertahankannya.
Untungnya, pesan Line dari Hanamitsuji tergolong singkat, yang mana sangat cocok untukku yang benci basa-basi merepotkan. Kalau saja dia suka mengirim sticker bertubi-tubi, aku pasti sudah panik dan refleks memblokirnya.
Meskipun begitu, mengirim pesan Line tanpa ada urusan penting tetap saja merepotkan. Membuatku ingin membalas, "Lalu, apa urusanmu?"
Semalam pun, saat aku sedang berbaring di tempat tidur sambil membaca light novel, sebuah topik obrolan yang mengalir santai mendarat di ponselku.
『Akhir-akhir ini gimana?』
『Yah, berjalan lancar sesuai porsinya.』
『Begitu ya. Apakah kamu sudah bisa menemukan tempat di dalam kelas?』
『Ah, aku sudah cukup puas dengan kondisiku yang sekarang.』
『Bagus deh. Aku sempat khawatir karena sepertinya di kelas yang dulu kamu punya sedikit teman.』
『Jangan meremehkanku. Bukannya punya sedikit, tapi jumlahnya mendekati angka nol mutlak.』
『Ngomongnya sok keren, tapi ujung-ujungnya tetap nol juga, kan? Terus apa arti aku sengaja merahasiakannya tadi?』
『Karena kamu mengkhawatirkanku, kelihatannya keadaan di pihakmu sendiri berjalan dengan baik, ya.』
『Yah, begitu lah. Dari dulu aku memang tipe yang punya banyak teman, dan kali ini pun semuanya berjalan lancar.』
『Syukurlah kalau begitu.』
『Kalian berdua sepertinya sudah mulai tenang sekarang. Mau ketemuan di suatu tempat?』
『Enggak, aku nggak lagi cari kenalan baru.』
『Cari kenalan baru maksudnya apa!?』
『Menurutku, mencari interaksi di dunia nyata lewat obrolan online itu agak menyimpang, sih.』
『Kan kita teman seangkatan! Jelas-jelas kita kenalan di dunia nyata, tahu!』
『Kalau terlalu agresif digaskeun begini, aku jadi ngeri.』
『Kenapa jadi kesannya aku yang ngejar-ngejar secara agresif, sih?!』
『Ada apa nih, jangan-jangan kamu ngefans/suka sama aku, ya?』
『Mana mungkin! Enggaklah, jelas-jelas nggak mungkin banget.』
『Yah, karena situasinya begini, kalau nanti ada keperluan lagi bakal kuabari menyusul, ya. Sampai jumpa.』
『Maksudnya "karena situasinya begini" itu apa, hah?!』
Balasan terakhir itu kubiarkan read saja tanpa dibalas. Bukan, bukan karena aku merasa sakit hati gara-gara kalimat 'nafasu, jangan-jangan kamu ngefans/suka sama aku, ya?'—yang kukirimkan sambil setengah deg-degan itu—malah ditanggapi santai begitu.
Aku sama sekali tidak berharap apa-apa, kok? Justru aku merasa terbantu karena tidak ada lagi celah buat salah paham, tahu?
Tentu saja, perkataan "aku sudah cukup puas dengan kondisiku yang sekarang" itu juga bukan kebohongan. Karena dari awal aku memang tidak berniat mencari teman, wajar saja kalau aku jadi bocchi.
Tidak mungkin muncul emosi lain selain rasa puas dan menerima keadaan.
Lagi pula, kenapa juga Hanamitsuji sampai peduli dengan urusan pergaulanku? Memangnya dia orang tuaku? Yah, kalau orang tuaku sendiri malah sepertinya sudah paham dan sama sekali tidak pernah nanya, "Sudah punya teman belum?"
Hari berikutnya setelah insiden tukar pesan Line itu, kehidupan SMA-ku berjalan dengan sangat damai. Tidak ada seorang pun di kelas yang mengajakku bicara, tapi selama muka tembok kita tebal, itu bukan masalah besar.
Saat jam istirahat siang, seperti biasa aku duduk dengan tenang di bangkuku sendiri sambil makan siang sendirian (bocchi meshi).
Di berbagai sudut kelas, para murid tampak membelah diri menjadi kelompok-kelompok kecil untuk makan siang bersama, tapi itu sama sekali bukan urusanku.
Sambil meneguk teh yang kubeli dari mesin penjual otomatis, aku mengunyah roti hasil beli di kantin sekolah.
Ah, Katsu-sandro kantin itu memang paling enak, ya... bagian roti, tepung pelapis, dan kolnya yang sama-sama agak lembek itu justru juara. Memberikan kesan malas-malasan yang bikin hati jadi tenang.
Begitu aku dengan santainya memamerkan aksi bocchi meshi (makan sendirian), para teman sekelas mungkin menyadari sesuatu karena tidak ada satu pun yang mendekat.
Kursi di depan, belakang, kiri, dan kananku kosong melompong, seolah-olah ada penghalang tak kasat mata yang membentengi area disekitarku.
Saat aku baru saja selesai makan siang dengan cepat dan kembali asyik membaca light novel, sekelompok siswi berjalan melewati sisi mejaku sambil tertawa-tawa.
Tanpa harus mendongakkan kepala pun, dari volume suara obrolan mereka aku bisa menebak bahwa itu adalah kelompok normie (youkai) paling mencolok di kelas.
Status sosial seorang pelajar di sekolah bisa dilihat dari seberapa besar suara mereka. Semakin keras suara seseorang, semakin kuat pengaruh kelompoknya.
Sebaliknya, kelompok lemah sama sekali tidak diizinkan mengeluarkan suara besar. Apa mereka ini binatang yang mengandalkan suara teriakan untuk menandai wilayah kekuasaannya? Ngomong-ngomong, bocchi yang tidak punya teman ngobrol benar-benar tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Memang ada kalanya sekumpulan otaku bersuara keras, tapi kelompok seperti itu biasanya menikmati masa sekolah mereka dengan sehat dan menyenangkan. Bagaikan bumi dan langit jika dibandingkan dengan seorang bocchi.
...Ini adalah ingatan yang sebenarnya ingin kulupakan, tapi di kehidupan SMA yang sebelumnya, aku sempat berniat bergabung dengan kelompok otaku di kelas. Waktu itu kupikir hobi kami sejalan, tapi begitu aku mulai mengobrol dengan mereka, baik anime maupun manga yang mereka sukai ternyata melenceng dari selera-ku.
Game mobile yang mereka mainkan pun tidak pernah kusentuh. Lagipula, anak-anak ini bahkan tidak membaca light novel.
Kelompok semacam ini biasanya memiliki "bahasa rahasia" berupa anime, manga, dan game mobile yang hanya dipahami di dalam kelompok mereka, dan jika kamu tidak mengetahuinya, obrolan kalian tidak akan nyambung.
Aku sangat payah dalam mengikuti pola 'karena temanku nonton maka aku ikutan nonton, karena aku ingin seru-seruan gacha bareng maka aku main game"—alhasil, aku pun sukses terisolasi di dalam kelompok itu.
Itulah sebabnya aku memilih untuk menjaga jarak dengan sukarela atas kemampuanku sendiri.
Bukannya aku dicampakkan oleh mereka. Aku yang sengaja menjauh. Ini poin penting dan bakal keluar di ujian.
Saat aku masuk sekolah setelah liburan Golden Week usai dan mendengar mereka membicarakan momen saat pergi ke bioskop bersama,
aku langsung menyadari segalanya lewat pikiran, "Eh, tunggu sebentar. Kok aku nggak diajak, ya?" lalu memilih mundur. Tolong jangan bilang aku dikucilkan duluan, ya.
Seorang penulis adalah makhluk yang mencintai kesendirian. Dengan kata lain, sebagai calon penulis light novel di masa depan, teman adalah hal yang tidak kuperlukan.
Lagipula, anak-anak itu punya tekanan sosial tersendiri yang mengerikan, kelompok mereka dipenuhi berbagai kesalahpahaman konyol, dan jujur saja mereka adalah tipe orang yang paling sangat kubenci.
Singkatnya, di dalam diriku sepertinya memang kekurangan kemampuan dasar dalam hal kerja sama—atau lebih tepatnya, kemampuan untuk menundukkan ego demi beradaptasi dengan sebuah kelompok.
Kesimpulan yang bisa ditarik dari semua ini cuma satu: Menjadi bocchi adalah jalan hidup yang paling cocok buatku. Selama aku sendiri merasa puas dan menerima statusku sebagai seorang bocchi, tidak ada masalah sama sekali.
Pikiranku sempat melayang sejenak, namun aku kembali menurunkan pandangan ke arah light novel. Sayangnya, konsentrasi itu buyar hanya dalam hitungan detik.
Aku menyadari ada seorang gadis yang berdiri diam di samping mejaku. Siapa dia? Tidak mungkin kan dia punya urusan denganku.
Karena penasaran, aku melirik sekilas ke samping dan mendapati seorang cewek gyaru yang tadi sempat melewati deretan meja kami. Namanya kalau tidak salah Hoshigasaki, dengan rambut pirang terang yang diikat side-tail. Meskipun peraturan SMA Higashitani tergolong longgar, kurasa gaya rambut itu sudah berada di batas toleransi.
Aku tidak mau berkomentar banyak soal keberadaan seorang gyaru di sekolah kami yang notabene cukup terkenal sebagai sekolah unggulan.
Normie biasanya adalah orang-orang serba bisa yang jago olahraga sekaligus belajar. Orang yang cuma bisa belajar secara umum sudah dicap sebagai kaum gloomy (inyan). Contohnya seperti aku. Hukum alam ini terlalu kejam.
Mungkin menyadari bahwa aku sedang meliriknya dari sudut mata, Hoshigasaki membalas tatapanku. Karena posisi dia sedang berdiri, rasanya aku jadi sangat direndahkan... padahal aku tidak punya fetis semacam itu.
Hoshigasaki punya mata yang sedikit sipit ke atas, jadi saat dia menatapku tajam, rasanya benar-benar menyeramkan. Jangan-jangan aku mau dipalak (katsuage)?!
Tepat saat aku memikirkan hal itu, Hoshigasaki membuka mulutnya.
"...Jijik."
Mengucapkan kata itu dengan suara pelan, dia berjalan pergi menuju kelompok siswi di bagian depan kelas seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Di tengah jalan, dia hampir menabrak siswi lain dan bergumam kecil, "Wah, sori-sori." Siswi yang hampir ditabraknya (kalau tidak salah namanya Sakado) membalas, "Ah, iya nggak apa-apa kok."
"Sori yaー," sapa Hoshigasaki sambil tertawa kepada Sakado, lalu bergabung dengan kelompok para siswi tersebut.
"Eh, Ruri, kamu ngapain aja sih?" "Nggak ngapa-ngapainー" "Eh-eh, coba lihat video ini deh, bukannya seru banget, ya?"
Sikapnya sama sekali tidak menganggap keberadaanku ada, Hoshigasaki mulai mengobrol dengan akrab dan ceria.
...Tunggu, nada suara itu, bukannya beda banget sama kata "jijik" yang tadi, ya? Apa suaranya keluar dari pita suara yang berbeda? Apakah ini sama seperti fenomena seorang ibu yang nada suaranya mendadak jadi lebih tinggi saat sedang menelepon?
Bagaimanapun juga, gyaru itu menyeramkan. Katanya ada ilusi bahwa gyaru itu bersikap baik pada kaum otaku, tapi kenyataannya sama sekali tidak ada hal seperti itu. Aku benar-benar direndahkan habis-habisan.
Ah, jangan-jangan masalahnya bukan karena aku seorang otaku, melainkan karena aku ini seorang bocchi. Kaum normie itu punya kebiasaan memandang rendah bocchi atau orang yang punya sedikit teman secara aneh. Kenapa bisa begitu, sih? Apa mereka tidak pernah diajarin konsep kualitas di atas kuantitas? Teman itu paling pas kalau secukupnya saja, kan.
Yah, kalau pakai teori ini, bocchi justru bakal mati kelaparan karena tidak makan sama sekali, sih.
Ngomong-ngomong, kalau dipikirkan kembali dari kehidupan SMA-ku yang sebelumnya, aku hampir tidak punya ingatan apa pun tentang Hoshigasaki. Padahal kami sekelas waktu kelas satu, jadi harusnya wajahnya sedikit nyangkut di ingatan. Tolong jangan ingatkan aku bahwa itu karena hidupku saking tidak ada isinya sampai tidak ada yang bisa dikenang. Yah, mungkin interaksi kami memang sekecil itu.
"...Cih."
Saat aku sedang melamun, suara decakan lidah terdengar dan membuatku tersentak kaget. Jangan-jangan aku dibenci sampai ke tingkat di mana sekadar duduk diam di bangku sendiri saja bisa bikin orang lain mendecak lidah?
Orang yang mendecak lidah itu ternyata Sakado, yang baru saja berjalan melewati samping mejaku. Rambut hitam yang dibiarkan tergerai sebahu dengan hiasan jepit rambut, Sakado memalingkan separuh wajahnya ke belakang sambil menatap tajam ke arah Hoshigasaki. Sepertinya decakan lidah tadi ditujukan untuk Hoshigasaki. Untung bukan buat akuー
Sakado juga tampak ribut dan bersenang-senang dengan teman-temannya saat jam istirahat, yang mana di mataku dia sudah sepenuhnya dikategorikan sebagai normie, tapi kelompoknya berbeda dengan Hoshigasaki. Rupanya kaum normie pun tidak sepenuhnya solid.
Saat aku sedang berpikir bahwa hidup sebagai normie itu ternyata juga melelahkan, ponselku tiba-tiba bergetar.
Sudah pasti bukan pemberitahuan penting, tapi atas dasar keisengan belaka, aku mengeluarkan ponsel dari saku.
Layar ponsel itu menampilkan nama "Hanamitsuji Sora".
Selama ini tidak pernah ada pesan LEIN yang masuk di jam-jam sekolah. Mengingat firasatku mengatakan ini bakal merepotkan, sebenarnya aku ingin mengabaikannya saja, tapi kalau tidak direspons rasanya masalah malah bakal semakin rumit.
Dengan perasaan enggan, aku membuka jendela obrolan tersebut.
Ada bagian lanjutan spesifik yang ingin kamu teruskan, atau ada detail tertentu dari teks ini yang ingin kita bahas (misalnya kelanjutan isi pesan dari Hanamitsuji)?
『Bisa ke koridor gedung khusus yang sama seperti kemarin?』
『Kalau bisa, sebaiknya saat jam istirahat siang, sih.』
Pesan seperti itu terpampang di layar, membuatku tanpa sadar memijat pangkal hidungku. Sekalipun itu pesan dari gadis cantik, yang namanya urusan merepotkan tetap saja merepotkan.
Begitu pesan sudah dibaca (read), tidak datang pun rasanya gawat. Alasan
『Maap, aku tadi ketiduran!』 itu cuma hak istimewa buat cewek-cewek imut.
『Tunggu sebentar, ya.』 Aku membalas pesannya, lalu berdiri sambil menelan keluhan di dalam hati.
"Lama banget, sih." "Mau gimana lagi. Dari kelasku ke sini itu jauh, tahu."
Hanamitsuji yang sedang berdiri di koridor lantai lima gedung khusus itu melipat tangan dengan ekspresi masam sambil berkacak pinggang.
Karena fitur wajahnya yang tegas, pose itu mendadak jadi kelihatan begitu mengintimidasi.
"Kamu tahu kan alasan kenapa kamu dipanggil ke sini?" "Nggak tahu."
Mendengar jawabanku, Hanamitsuji sengaja menghela napas panjang agar terdengar olehku. Lalu, dia melangkah maju mendekatiku dan berkata dengan suara rendah.
"Langsung ke intinya aja, ya. Kenapa Nanamura-kun, yang sudah susah payah kembali dari masa tiga tahun ke depan, di kehidupan kali ini tetap saja jadi bocchi?"
Ah, soal itu rupanya... karena bikin repot, sebenarnya aku tidak mau membahasnya terlalu dalam.
Sekalian untuk mengalihkan topik pembicaraan, aku balik bertanya padanya. "Lagian, kenapa kamu sampai segitunya peduli sama pergaulanku, sih? Memangnya kamu orang tuaku?"
"Tentu saja aku peduli. Kan kamu itu penyelamat nyawaku."
"Makanya, sudahlah, nggak usah dipikirkan."
Hanamitsuji langsung memotong kalimatku seolah ingin mencegahku mendebatnya. "Meskipun kita abaikan alasan itu, kalau tahu kenalan sendiri ternyata seorang bocchi, tidurku jadi tidak nyenyak. Wajar kan kalau aku ingin kamu berusaha mencari teman?"
Memangnya begitu, ya? Pola pikir anak gaul (normie) atau riyajuu benar-benar di luar pemahamanku. Kalau tahu begini, harusnya dulu aku lebih banyak membaca light novel yang karakternya anak gaul.
"Tunggu sebentar. Kenapa kamu bisa tahu kalau aku ini bocchi? Kelas kita kan beda."
"Di Kelas A itu ada temanku waktu SMP. Waktu aku iseng nanya-nanya soal Nanamura-kun lewat dia, reaksinya kayak, 'Oh, si Nanamura-kun (ketawa)' gitu."
"Sakit banget rasanya karena aku bisa ngebayangin reaksi cewek-cewek itu secara nyata!"
Wah, mengetahui reputasiku dibicarakan lewat orang lain ternyata nyesek juga, ya. Rasanya mirip seperti informasi pribadiku bocor ke seluruh teman sekelas gara-gara grup WhatsApp ibu-ibu.
Aku pun bisa menebak garis besar dari apa yang dikatakan teman SMP-nya itu. Paling-paling isinya, "Ah, si cowok itu yang kerjanya cuma duduk diam di bangku sendiri sambil baca light novel." Yup, tebakanku seratus persen benar.
"Lagian ya, waktu aku nanya 'Sudah bisa menemukan tempat di dalam kelas?', kamu malah balas 'Aku sudah cukup puas dengan kondisiku yang sekarang', kan! Kenapa kamu malah bohong dengan santainya gitu, hah?!"
"Yah, aku nggak bohong, kok. Aku kan memang nggak berniat cari teman. Kalau kerjanya cuma duduk diam sendirian baca light novel tanpa ngobrol sama siapa pun, ya wajar aja kalau ujung-ujungnya jadi bocchi."
Hanamitsuji yang mengerutkan keningnya dengan jelas, menatapku tajam dengan sorot mata menyelidik. "Aku tanyakan sekali lagi. Padahal sudah susah payah kembali ke tiga tahun lalu, apa alasanmu memilih untuk tetap menjadi bocchi lagi?"
Sambil mengangkat bahu dengan santai, aku menjawab seolah-olah itu bukan hal yang besar. "Hanamitsuji, kamu kan satu kelas denganku selama dua atau tiga tahun, jadi kamu pasti tahu, kan. Waktu itu pun aku seorang bocchi. Kali ini pun cuma mengulang hal yang sama."
"Tapi, kamu yang sekarang punya pengalaman dari masa lalu, kan? Sekalipun dulu kamu bocchi, bukankah seharusnya kamu merefleksikan diri dan berpikir untuk mencoba mencari teman kali ini?"
Ampun deh, anak ini sama sekali tidak mengerti apa-apa. Yah, orang seperti Hanamitsuji mana mungkin paham rasanya menjadi seorang bocchi.
"Hanamitsuji, kamu melupakan satu hal yang sangat penting." Mendengar nada bicaraku yang terdengar serius, Hanamitsuji memasang ekspresi penasaran.
"Hal penting apa?" "Benar. Kamu tadi bilang, 'kamu punya pengalaman dari masa lalu, kan'. Artinya, kamu punya poin pengalaman (EXP) terkait hubungan sosial yang terakumulasi dari kehidupanmu sebelumnya."
"Ya iyalah. Siapa yang nyambung diajak ngobrol, siapa yang sebaliknya tidak cocok, hal-hal seperti itu kan sudah bisa kuduga
dari awal. Makanya aku bisa membuat teman dengan lebih mulus dibanding sebelumnya."
Aku sering melihatnya bersama teman-temannya di lingkungan sekolah, jadi perkataan itu pasti benar. Bukan berarti aku sengaja memperhatikan Hanamitsuji, tapi karena dia gadis cantik, berjalan saja sudah membuatnya jadi pusat perhatian.
"Nanamura-kun juga bukan berarti nggak ingat apa-apa tentang kejadian sebelumnya, kan? Kalau begitu, harusnya kamu bisa mengatasinya dengan lebih baik, dong."
"Terlalu naif, kamu terlalu naif, Hanamitsuji. Teori semacam itu tidak berlaku untuk seorang bocchi."
"K-Kenapa gitu?" Melihatku yang tiba-tiba berbicara dengan nada meremehkan dari atas, Hanamitsuji tampak jelas terkejut dan mundur selangkah. Merasa sedikit salah tingkah, aku membusungkan dada untuk menutupi rasa malu dan berbicara dengan penuh percaya diri.
"Seorang bocchi dari awal memang tidak memiliki hubungan sosial. Artinya, bagiku yang di kehidupan SMA sebelumnya adalah seorang bocchi, tidak ada poin pengalaman apa pun yang bisa diandalkan untuk mencari teman."
Meskipun aku punya muka tembok atau ketahanan mental yang tidak peduli pada status bocchi, hal-hal itu sama sekali tidak berguna untuk mencari teman.
"Makanya, mustahil buatku untuk mencari teman!" "Kenapa kamu malah ngomong begitu dengan bangganya, sih..."
Hanamitsuji tampak benar-benar kehabisan kata-kata dan sweatdrop. Yah mau bagaimana lagi, namanya juga bocchi, eksistensi yang mengisolasi diri. Sulit memang kalau berharap dipahami oleh orang normal.
"Lagian, jadi bocchi itu santai, tahu. Nggak perlu pusing memikirkan orang lain. Paling pas sama sifatku."
"Kamu bilang jadi bocchi itu santai, tapi emangnya Nanamura-kun tahu betapa susahnya menjaga hubungan sosial, hah?"
"Aku juga berusaha cari teman kok di kehidupan sebelumnya. Tapi kenyataannya tetap nggak bisa. Harus berusaha menyesuaikan diri dengan topik obrolan orang lain, mengiyakan pembicaraan dengan anggukan yang sebenarnya nggak tulus, atau senyum-senyum terpaksa demi basa-basi yang nggak seru sama sekali. Makanya waktu itu aku tetap jadi bocchi."
"...Tapi, bukan berarti kali ini pun kamu boleh bersikap sama kayak dulu, kan? Setidaknya, punya keinginan untuk berusaha lebih baik dari sebelumnya atau semacamnya gitu, nggak ada apa?"
"Enggak kok, aku menjalani hidup ini dengan meresapi poin-poin evaluasi dari masa lalu." "Hoh? Evaluasi macam apa tuh?"
Tampaknya tingkat kepercayaan Hanamitsuji terhadap diriku sudah menyentuh angka nol, terlihat dari tatapan matanya yang benar-benar kosong dan dingin. Bahkan ada kemungkinan sudah merosot ke angka minus.
Untuk menutupi rasa canggung, aku sedikit berdehem sebelum kembali membuka mulut. "Begini, bocchi itu terbagi menjadi dua jenis. Pertama, bocchi yang punya kenangan menyakitkan saat berusaha mencari teman dan dikelilingi oleh teman sekelas yang suasananya canggung. Kedua, bocchi yang mempertahankan prinsip menyendiri sejak awal.
Di kehidupan sebelumnya aku sempat khilaf dan berniat mencari teman, tapi kali ini aku memilih menyerah sejak awal sehingga berhasil terhindar dari terciptanya sejarah hitam yang memalukan."
"Bukankah itu jelas-jelas melangkah ke arah yang salah?" "Aku melangkah maju menuju masa depan yang benar, kok. Namanya juga naik pangkat dua tingkat sekaligus."
"Itu mah namanya gugur dalam tugas... meskipun benar sih kamu sempat mati sekali." Hanamitsuji mengucapkannya dengan nada gemas, lalu memijat dahinya persis seperti orang yang sedang migrain.
"Kenapa sih kamu selalu lari dari hubungan sosial?" "Bukannya lari. Sebut saja ini sebagai 'strategi memutar arah'." "Emangnya ini pasukan militer yang nggak boleh pakai kata 'mundur' apa?!"
Tapi pada kenyataannya, aku sama sekali tidak merasa sedang melarikan diri. "Lari itu kan pilihan pasif yang diambil karena terpaksa, tapi aku memang secara aktif memilih untuk tidak mencari teman. Jalan yang kuambil atas keputusan dan kepuasanku sendiri jelas tidak bisa disebut sebagai pelarian, kan?"
Aku merasa argumenku sudah sangat logis, tapi sayangnya Hanamitsuji tetap memasang tatapan curiga (jito-me) seperti biasa.
Ampun deh, inilah tipikal para penganut paham "teman adalah segalanya". Hari di mana aku bisa berdamai dengan kaum bocchi masih terasa begitu jauh.
"Tapi, buktinya sekarang kita bisa ngobrol normal begini, berarti kamu bukan penderita fobia sosial (komushou), kan?" "Yah, begitu lah. Aku sendiri merasa tidak sampai pada taraf komushou yang parah. Aku masih bisa ngobrol biasa sama adikku, dan kalau sama orang yang baru dikenal pun aku bisa bersikap ramah secukupnya."
"Kalau begitu, bukankah kamu seharusnya bisa sedikit menyesuaikan diri dengan orang lain? Kalau dengan sedikit usaha saja kamu bisa punya teman dan menikmati kehidupan SMA, kurasa itu bukan pertukaran yang buruk, kok."
Punya teman itu menyenangkan. Tentu saja, itu adalah argumen yang sering didengar baik di dunia nyata maupun dalam fiksi, dan aku sendiri juga suka cerita light novel bertema perjuangan seseorang yang berusaha mendapatkan teman.
Namun, teori itu tidak selalu berlaku bagi setiap orang. "Dengar ya, bahkan orang yang bukan penderita fobia sosial pun bisa saja merasa tidak pandai dalam hal hubungan antarmanusia. Mampu menangani komunikasi sesaat itu hal yang berbeda dengan menjadi bagian dari sebuah komunitas sosial, kan?"
"Yah, memang sih..." "Sekalipun di awal aku bisa menyesuaikan diri, cepat atau lambat topengku pasti akan terlepas. Kalau pada akhirnya hubungan itu hanya akan hancur, lebih baik tidak usah dibuat sejak awal."
Teman yang pada akhirnya bakal berpisah itu bagaikan bom waktu. Berada di dekat orang seperti itu tidak akan mendatangkan kesenangan, yang ada malah bikin cepat lelah.
Hanamitsuji terdiam sesaat, namun ekspresinya masih tetap terlihat tidak puas. Padahal berurusan denganku tidak akan mendatangkan keuntungan apa pun bagi dirinya, apa dia ini orang yang kelewat baik hati tanpa batas? Semoga saja nanti di masa depan dia tidak sampai tertipu bisnis MLM atau skema ponzi.
"...Kalau begitu, apakah saat aku mengajakmu ngobrol begini juga kamu anggap merepotkan, Nanamura-kun? Apakah kamu merasa sudah tidak ingin ngobrol lagi dengan1u?"
Sambil mengalihkan pandangannya, Hanamitsuji bergumam pelan. "Enggak, kalau Hanamitsuji sih ya nggak masalah."
Mendengar jawabanku yang keluar begitu saja tanpa jeda, Hanamitsuji membelalakkan matanya, lalu menatapku dari bawah sambil mendesak lebih jauh. "K-Kenapa? Kenapa kalau aku malah nggak masalah?"
"Ya karena Hanamitsuji itu spesial." Kenapa malah nanya lagi. Bukankah itu hal yang sudah jelas?
Kupikir begitu, tapi Hanamitsuji yang sedari tadi menatapku lekat-lekat justru memalingkan wajahnya dengan cepat. Sibuk banget ya, kadang nengok ke sini, kadang buang muka.
" M-Mengucapkan hal seperti itu secara tiba-tiba... kurasa itu agak curang, ya..."
Aku menelan kembali kata-kata protesku seperti, "Padahal kan kamu sendiri yang nanya tadi!" Di saat yang sama, pipinya sekilas tampak memerah, tapi entah itu karena efek pencahayaan atau bukan.
Setelah itu, Hanamitsuji mengangkat sudut bibirnya dan mulai berbicara dengan ekspresi bangga.
"Ma, masa sih? Kan kamu sudah mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkanku. Aku pun sebenarnya sadar kalau Nanamura-kun punya perasaan tertentu padaku, tapi kalau keadaannya masih begini, kita berdua bakal menghadapi berbagai macam masalah..."
Apa sih yang diomongkan anak ini? Aku langsung memotong ucapan Hanamitsuji yang meluncur dengan cepat.
"Yang kumaksud 'spesial' itu karena kamu adalah satu-satunya rekan yang datang dariku dari masa tiga tahun ke depan. Sebagai sesama penjelajah waktu dari masa depan, kita pasti punya masalah-masalah yang hanya bisa dibahas berdua."
Mendengar perkataanku, Hanamitsuji langsung terdiam kaku. Ada jeda sekitar beberapa detik, sebelum akhirnya wajah Hanamitsuji memerah dengan cepat. Reaksi macam apa itu?
Setelah menggelengkan kepalanya beberapa kali dan mengalihkan pandangan ke arah jendela, dia berdehem pelan ("Kofun"), lalu menjawab.
"Ah... iya, aku sudah tahu kok. Benar juga, kita memang harus menyusun sistem kerja sama sebagai sesama rekan yang datang dari masa tiga tahun ke depan. Ya, ya, aku sangat setuju."
"O-Oke, baguslah kalau kamu paham." "Anggap saja kita memang rekan, tapi karena di kehidupan sebelumnya kita hampir tidak pernah ngobrol, kurangnya pemahaman satu sama lain ini jadi masalah besar."
"Bukannya cuma kamu saja yang nggak pernah ngobrol, jadi tenang saja. Bukan bermaksud sombong, tapi waktu kelas tiga dulu, hampir tidak ada kenangan di mana aku berbicara dengan orang lain di luar obrolan administratif atau saat ditunjuk guru."
"Itu sama sekali nggak bisa dibanggakan, tahu." "Waktu festival olahraga kelas tiga, kaos kelas yang kita pakai semuanya pakai nama panggilan di bagian punggung, tapi punyaku doang yang tulisannya 'Nanamura-kun'."
"Glek... Eh, tunggu! Dilarang keras menceritakan kisah yang bikin hati orang yang mendengarnya terasa mencelos begini! Nanti kalau kuingat sebelum tidur, aku jadi susah merem, tahu!"
Kisah bocchi-ku malah diperlakukan mirip seperti cerita horor. Meskipun kenyataannya itu memang kisah horor nyata, sih.
"Ngomong-ngomong soal itu..." "Tapi, sudahlah. Buat apa Hanamitsuji repot-repot mencampuri urusanku. Ini namanya terlalu ikut campur alias chuka—ha, jangan-jangan kamu sebenarnya suka..."
"Nggak, ya." Dia langsung memotong ucapanku dengan cepat. Padahal aku baru ngomong huruf "s"-nya doang.
Saking jelasnya sampai kelihatan banget kalau aku sama sekali tidak punya peluang (no-chance), padahal aku sudah tahu. Memang ya, komedi romantis masa muda itu terlalu berat buat seorang bocchi.
"Ehem, ah, pokoknya begitulah, aku sama sekali nggak punya niat buat mengulang atau memperbaiki kehidupan SMA-ku. Karena aku sendiri sudah puas dan menerima keadaanku yang sekarang, Hanamitsuji sama sekali nggak punya hak buat ngatur-ngatur hidupku."
"Itu, sih, benar juga..."
Kehabisan celah untuk mendebatku, Hanamitsuji terdiam dengan ekspresi kesal. Hanya aku sendiri yang bisa membereskan kekacauan dalam hidupku. Maaf saja, aku tidak berniat mengubah prinsipku semudah itu.
"Lagian, Hanamitsuji sendiri kan nggak punya niat sampai segitunya buat membantuku keluar dari status bocchi, kan? Kalau kamu punya niat begitu sih lain cerita, tapi kalau nggak, jangan sok ngatur prinsip hidup..."
"Paham."
Memotong perkataanku, Hanamitsuji menatapku dengan sorot mata yang tajam, lalu mengacungkan jari telunjuknya tepat ke arahku.
"Ha?" "Keluar dari status bocchi? Aku yang bakal bantuin kamu. Dengan begini, kamu nggak bisa protes lagi, kan?"
Untuk beberapa detik, waktu terasa berhenti. Pertanyaan apa-apaan anak ini melintas di dalam benakku, sementara senyum penuh percaya diri yang tersungging di wajah Hanamitsuji sedikit banyak membuatku terpesona.
"Kamu sendiri kan yang bilang tadi, kalau aku beneran berniat bantu maka ceritanya bakal lain. Ini saatnya aku tunjukkan keseriusanku."
"A... anu, Hanamitsuji. Yang tadi itu cuma ungkapan kiasan, aku ini beneran ngerasa baik-baik saja kok jadi bocchi..." "Nggak usah banyak alasan! Gitu-gitu juga kamu cowok, jangan cemen gitu lah."
"Woi, zaman sekarang ngomong 'karena dia cowok' atau 'karena dia cewek' itu udah nggak boleh, tahu. Dari sudut pandang polically correct. Nanti kita nggak bisa tembus kancah Hollywood."
"Apa urusannya sama Hollywood, hah?! Ah sudahlah, repot banget, sih. Gadis cantik sepertiku nih rela nawarin diri buat bantu kamu keluar dari status bocchi, jadi hargai sedikit, dong!" "Tingkat kepercayaan diriku tinggi banget di bagian-bagian tertentu, ya!"
Tepat saat aku melontarkan komentar itu, bel peringatan berbunyi. Lima menit lagi pelajaran siang akan segera dimulai.
"Huuuh, ya sudahlah, pembicaraan ini kita tunda dulu." "Sebenarnya aku pengin topik keluar dari status bocchi ini dianggap nggak pernah ada, sih."
"Soal itu, nanti kita adakan rapat strategi sepulang sekolah." Semangat banget, ya. Urusannya jadi makin ribet gini...
"Bukan cuma soal keluar dari bocchi, tapi kita berdua—sebagai sesama orang yang datang dari masa tiga tahun ke depan—kan harusnya rutin bertemu untuk membahas berbagai macam hal atau kekhawatiran yang ada, kan? Tadi kamu sendiri juga bilang kalau aku ini spesial." "Aku memang sempat bilang begitu sih..."
Sambil mengusap kening karena pusing, Hanamitsuji tetap melanjutkan persiapannya tanpa peduli padaku. "Kira-kira gimana soal waktunya, ya? Kita berdua kan punya jadwal masing-masing... Eh, kalau aku sih ada jadwal kegiatan lain, jadi kita nggak bisa ketemu tiap hari, ya."
"Jangan berasumsi sepihak kalau aku ini nggak punya kesibukan, ya!"
"Heeh, emangnya kamu punya kesibukan apa?"
"Anggap saja ini sebagai wujud belas kasih seorang samurai, jadi tolong jangan dibahas." "Emangnya siapa di sini yang samurai?!"
Sambil menghela napas secara terang-terangan, Hanamitsuji mengeluarkan ponselnya dan mulai berpikir. "Hmm, kalau begitu kita jadikan setiap hari Senin sepulang sekolah, ya. Kita kumpul di restoran keluarga (family restaurant) yang agak jauh dari sekolah supaya nggak ketahuan orang-orang. Lokasinya nanti kukirim lewat pesan."
"Kenapa nggak di sini aja?" Padahal koridor lantai lima gedung khusus tempat kami berada ini harusnya jarang sekali dilewati orang. "Apa kamu nggak punya hati nurani sampai tega nyuruh gadis cantik datang ke tempat begini, hah?"
Dari tadi anak ini memanggil dirinya sendiri "gadis cantik" tanpa ada rasa malu sedikit pun. Yah, memang benar sih kenyataannya, tapi tingkat percaya dirinya benar-benar kelewat tinggi.
"Lagi pula di sini nggak ada tempat duduk, dan aku cuma mau kita ketemu di lingkungan sekolah kalau pas ada keadaan darurat aja. Bakal repot kalau sampai tepergok anak sekelas."
"Ah, soal itu... ya, kamu bakal kerepotan sendiri, ya."
Kalau aku sendiri dari awal memang tidak pernah dipedulikan oleh anak-anak sekelas, jadi reputasiku mau hancur seperti apa pun tidak masalah.
Namun, bagi Hanamitsuji yang kelihatannya menjalani kehidupan SMA keduanya dengan mulus dan sukses, ketahuan sedang menemui bocchi sepertiku pasti adalah hal yang ingin dihindarinya.
"Kalau saja kamu bisa sedikit lebih becus, aku kan nggak perlu repot-repot begini." Hanamitsuji mendengus dengan nada bicara yang agak merajuk. Ini salahku, gitu? pikirku, tapi kenyataannya memang seratus persen salahku, sih.
"Yah, sudahlah. Aku bakal berusaha supaya kamu bisa keluar dari status bocchi dan menjalani kehidupan pelajar yang normal." "Padahal aku sama sekali nggak minta tolong..."
"Kan kamu baru kembali ke kelas satu SMA, tahu? Rugi banget kalau nggak menghabiskan waktu dengan seru bersama teman-teman. Kalau penyelamat nyawaku sendiri malah menjalani kehidupan SMA yang membosankan, aku juga ikutan nggak enak hati."
"Makanya, sudahlah, nggak usah dipikirkan begitu." "Ya sudah, aku mau pulang duluan. Sampai jumpa lagi nanti sepulang sekolah." "Kamu ini pada dasarnya emangnya nggak pernah mau dengerin penjelasan orang lain, ya?!"
Tanpa menunjukkan tanda-tanda mau mendengarkanku, Hanamitsuji melangkah turun menuruni tangga. Karena tidak mungkin bagi kami berjalan turun bersamaan, aku menghabiskan waktu sejenak untuk membunuh waktu sebelum akhirnya menyelinap masuk ke dalam kelas tepat sebelum bel pelajaran dimulai.
Untungnya, karena ini sudah mepet jam pelajaran, tidak ada kasus di mana kursi milikku diduduki oleh orang yang bahkan belum pernah kuajak ngobrol. Aku sedikit merasa lega. Kursi milik seorang bocchi itu rawan banget dirampas hak kepemilikannya. Kenapa bisa begitu, coba?
◆
Sepulang sekolah, aku sudah berada di sebuah restoran keluarga yang terletak di sepanjang jalan raya, agak jauh dari area sekolah. Bagi Hanamitsuji yang terbiasa naik bus, tempat ini adalah jalur pulang sekolahnya, sementara bagiku yang naik sepeda, jaraknya bisa ditempuh dalam waktu lima belas menit saja dari sekolah.
Sebagian besar murid di sekolah kami datang dengan naik sepeda atau kereta bawah tanah, jadi jumlah murid yang naik bus tidak begitu banyak. Berkat itu, Hanamitsuji sepertinya belum pernah melihat siswa berseragam sekolah kami nongkrong di restoran keluarga ini.
"Nah, sekarang soal misi mengeluarkan Nanamura-kun dari status bocchi..." Hanamitsuji yang duduk di hadapanku membuka suara dengan ekspresi yang amat serius. Di hadapan Hanamitsuji ada segelas oolong tea, sementara di hadapanku ada segelas cola.
"Emangnya kita benar-benar mau bahas itu, ya..." "Ya iyalah. Kan tujuan kita kumpul di sini memang buat itu."
Aku tahu, tapi aku sama sekali tidak bersemangat. Rasanya aku cuma kena jebakan batunya saja. "Padahal aku sendiri sudah bilang kalau jadi bocchi terus juga nggak masalah buatku."
"Tapi, menyia-nyiakan kehidupan SMA selama tiga tahun itu sayang banget, tahu. Mumpung kita punya keuntungan dari masa lalu, itu harus dimanfaatkan dengan benar."
"Meskipun kamu semangat banget ngurusin hidupku, aku ini nggak punya keuntungan apa-apa, tahu? Di kehidupan sebelumnya pun aku tetap bocchi dan nggak punya teman."
"Hmm, kalau gitu kita ubah sudut pandangnya. Apa ada seseorang yang dulu pengin kamu ajak temenan?" "Nggak ada. Aku paling nggak bisa berurusan sama orang yang punya teman lebih banyak dariku."
"Berarti hampir semua orang di dunia ini dong." Dengan tatapan jito-me dan ekspresi melongo, aku mengalihkan pandangan lalu meneguk cola-ku.
"Kalau begitu, orang yang bisa diajak ngobrol santai sesekali?" "Nggak ada. Tingkatan bocchi-ku itu bukan sekadar nggak punya orang akrab di kelas, tapi beneran di level di mana aku hampir nggak pernah buka suara di dalam kelas. Aku ini benar-benar menjunjung tinggi isolasi mandiri."
"Itu mah namanya memperdalam pengucilan diri sendiri." "Bawel amat."
"Lagian, apa kamu nggak merasa kerepotan kalau jadi bocchi? Kayak pas nggak masuk sekolah, pas lupa bawa buku pelajaran, atau pas jam olahraga yang harus cari pasangan berdua."
"Bukannya sombong, tapi aku ini sehat walafiat dan hampir nggak pernah bolos sekolah. Kalau lupa bawa buku pelajaran, ya tinggal pasrah." "Gimana sih konsep pikirmu itu..."
"Pasangan berdua di jam olahraga memang berat, sih. Tapi biasanya selain aku, selalu ada satu-dua orang murid yang juga nggak punya pasangan. Nanti gurunya bakal berinisiatif, 'Ya sudah, kamu gabung sama Nanamura sana'."
Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, kalimat itu agak janggal, ya. Orang yang tidak punya pasangan kan bukan cuma aku saja. Kenapa situasinya malah seolah-olah aku yang "ditumpangkan" ke orang lain? Nggak terima aku rasanya.
"Mentalitasmu yang sanggup bertahan dalam situasi kayak gitu tiap kalinya benar-benar... aku nggak berniat buat respek, tapi jujur aku kagum."
Hei, tolong jangan menatapku dengan tatapan kasihan begitu. Seorang bocchi paling benci dikasihani. Menghadapi tatapan orang-orang sekitar jauh lebih menusuk hati ketimbang status bocchi itu sendiri.
"Sekolah kita kan sekolah bagus dan muridnya nggak pada brutal, jadi meskipun jadi bocchi kita nggak bakal di-bully kok. Kalau sudah terbiasa, nanti juga santai sendiri."
Yah, meskipun aku sempat dibilang "jijik" oleh seorang gyaru, paling banter cuma segitu doang. Paling-paling nanti aku teringat lagi pas mau tidur terus mendadak menggeliat-geliat kesenokan sendiri karena malu.
"Mau gimana lagi, kalau gitu aku bakal menyesuaikan standarku dengan levelmu. Omong-omong, Nanamura-kun, apa kamu bisa buka mata di dalam kelas?" "Ini pelajaran renang anak kelas satu SD, ya? Standar ukuranmu kerendahan banget!"
"Begitu ya, jadi kamu nggak bisa buka mata, ya?" "Buka, aku buka kok! Kalau ditunjuk sama guru pas jam pelajaran aku bakal jawab, dan kalau cuma obrolan administratif yang bersifat formal, aku juga pernah ngobrol."
"Hoh, sama siapa?" Mata Hanamitsuji berbinar penuh rasa penasaran. Sambil merasakan sedikit rasa salah tingkah, aku menjawab dengan suara pelan.
"Sama siapa ya... ya paling sama ketua kelas."
Meskipun aku sempat dibilang "jijik" oleh gyaru, rasanya harga diriku sebagai bocchi masih menolak untuk memasukkan kejadian itu ke dalam kategori "mengobrol". Bocchi juga punya harga diri, tahu.
Mendengar jawabanku, wajah Hanamitsuji terlihat sedikit cerah. "Ketua kelas Kelas A itu, kalau nggak salah namanya Mashiro Shiramine, kan?"
"Kok kamu bisa tahu? Lagian, meskipun kamu sebutkan nama depannya, aku sendiri bahkan nggak tahu siapa dia." Benar juga, ketua kelas kami memang seorang siswi bernama Shiramine. Rambut hitam lurus yang tergerai sampai ke punggungnya begitu berkesan, benar-benar memancarkan aura siswi teladan.
Beberapa waktu lalu, sewaktu aku asyik membaca light novel di meja tanpa sadar kalau pelajaran berikutnya pindah kelas, dia sempat menegurku,
"Nanti kita pindah kelas, lho," dan kujawab, "Oh, o-oke. Makasih." Kalau dipikir-pikir secara jernih, memasukkan interaksi itu ke dalam kategori "mengobrol" sih rasanya kelewatan, tapi ya mau bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan lain.
Sudahlah, abaikan soal itu. Kenapa anak ini bisa tahu soal Shiramine, coba? Masa iya... jangan-jangan dia diam-diam memikirkan dan mengamat-amati keadaanku di kelas...?
"Mashiro itu temanku waktu kehidupan SMA sebelumnya, kok." "Oh, begitu toh. Aku sempat mengira kamu ini tipe yang hobi stalking, lho."
"Mana mungkin begitu!! Lagian, setidaknya hafalkanlah nama anak sekelas sendiri."
"Biasanya kan orang nggak sampai hafal nama depan lawan jenis."
Yah, jangankan nama depan, nama anak cowok sekelas aja aku nggak tahu. Seharusnya aku bahkan dipuji cuma karena masih ingat nama belakang mereka.
Shiramine sekelas denganku saat kelas satu dan dua di kehidupan SMA sebelumnya, dan aku ingat pernah beberapa kali mengobrol dengannya.
Tentu saja itu sebatas obrolan formal, tapi karena orang yang mau ngobrol biasa denganku—si bocchi ini—sangat langka, hal sepele begitu pun jadi berkesan.
Seingatku, waktu itu Shiramine juga menjabat sebagai ketua kelas, makanya dia menegurku karena alasan itu.
Sambil mengangguk-angguk paham, Hanamitsuji menegakkan jari telunjuknya. "Nah, bukankah itu bagus? Mashiro punya kepribadian yang jujur, dan dia pasti bakal memperlakukanmu tanpa pilih kasih."
"Jangan ujug-ujug memajukan topik obrolan, deh. Bahas apa sih dari tadi?" "Ya soal misimu keluar dari status bocchi, lah. Udah lupa?"
Aku bukannya lupa, tapi lebih tepatnya ingin melupakan. Lagi pula, kalau mengikuti alur pembicaraan tadi... "Meskipun itu cuma obrolan formal, setidaknya akan lebih mudah kalau sama orang yang pernah diajak ngobrol, kan? Mulai besok, coba deh kamu ajak Mashiro ngobrol duluan."
"Eh, tunggu dulu! Bukannya hal semacam itu biasanya dimulai dari pihak cowok, ya! Kalau ujug-ujug ngajak cewek ngobrol, buat ukuran bocchi itu tantangannya ketinggian!"
"Buat cowok biasa pun sepertinya itu tetap tantangan yang berat, jadi bukannya sama saja?"
"Bukannya begitu masalahnya!"
Memang sih, di light novel ada saja adegan seperti itu! Tapi bagi seorang bocchi, mengajak cewek ngobrol di dunia nyata dengan tujuan ingin berteman adalah hal yang mustahil.
Kalau diajak ngobrol duluan seperti yang dilakukan Hanamitsuji sih aku masih bisa merespons, tapi kalau harus berinisiatif bergerak sendiri begitu, rasanya berat banget.
"Lagi pula, kalau aku tiba-tiba ngajak dia ngobrol terus malah dilaporkan karena dianggap mengganggu gimana?"
"Topik pembicaraan seperti apa yang kamu pakai sampai-sampai bisa langsung dilaporkan di percobaan pertama, hah?!"
Yah, kalau dipikir-pikir, topik obrolan yang bisa diajukan ke cewek yang hampir tidak pernah kenal kira-kira seperti...
"Gimana ya. 'Rambut Shiramine harum banget, ya. Pakai shampo merek apa?' gitu mungkin."
"Kamu benar-benar mepet ke batas garis di mana dilaporkan polisi pun nggak bakal bisa dibela..."
Hanamitsuji menarik tubuhnya ke belakang sambil menatapku dengan sorot mata jijik. Woi, jangan pasang ekspresi begitu, hatiku jadi sedikit terluka.
Yah, aku sendiri yang salah karena melontarkan omongan ngawur, sih.
"Kesampingkan dulu soal itu, aku ogah menjadikan Shiramine sebagai batu loncatan buat keluar dari status bocchi. Kasihan dia, dan kalau sampai aku malah dijauhi Shiramine, kelangsungan hidupku di sekolah ini bisa-bisa benar-benar hancur."
"Aku yakin kalaupun Mashiro sampai menjauhimu, itu pasti seratus persen karena ada salahmu... Ya sudah deh. Kalau gitu, bagaimana kalau cowok aja? Hmm, kalau cowok di Kelas A... kalau nggak salah ada Kuno-kun dari klub bisbol, kan? Waktu kelas tiga kemarin kalian juga sekelas, bukan?"
"Aku nggak ingat waktu kelas tiga gimana, tapi memang ada cowok bernama Kuno di kelasku sekarang. Orangnya berisik, tipikal cowok populer yang suka hura-hura (way-way)." "Apa maksudnya tipe yang hura-hura?"
Kalau ngomongin Kuno, dia itu tipe cowok yang tidak sengaja menginjak tahi kucing di hari pertama masuk sekolah. Di kelas, dia selalu asyik nongkrong dan hura-hura bareng geng anak bola dan voli. Jelas-jelas golongan kasta atas (normie).
Geng seperti itu berisik banget dan paling tidak kusukai... Rasanya risih saja saat menyadari keberadaan mereka meskipun mereka tidak masuk ke dalam bidang penglihatan.
Padahal keberadaan seorang bocchi bahkan tidak akan disadari orang lain meskipun jelas-jelas terpampang di depan mata.
"Aku paling nggak akur sama cowok populer tipe begitu, frekuensi kita nggak nyambung."
"Jangankan dia, kurasa nggak banyak orang di dunia ini yang frekuensinya nyambung sama Nanamura-kun."
"Kalau aku disuruh ngomong ke dia, 'Maukah kamu jadi temanku?', lebih baik aku gigit lidah sampai putus."
"Sampai segitunya?! Huft, kalau begitu... bagaimana dengan... cowok bernama Tashiro yang sekelas sama kita waktu kelas dua? Dia kelihatannya suka anime atau hal semacam itu, sepertinya hobi kalian bakal cocok."
Tashiro adalah cowok berkacamata yang kelihatan agak teliti, dan dia tergabung dalam kelompok otaku di kelas.
"Aku pernah ngobrol sama dia di kehidupan sebelumnya. Memang benar hobinya kelihatannya mirip, sih."
"Heeh. Kalau begitu, kenapa nggak coba berteman saja kali ini?" Hanamitsuji mencondongkan tubuhnya ke depan sambil mendesak. Sasaran yang dipilihnya tidak buruk, tapi ada jurang pemisah yang cukup besar antara aku dan Tashiro.
"Mustahil. Dia sukanya anime bergenre isekai reinkarnasi, sedangkan aku sukanya light novel komedi romantis modern. Teman-teman yang nongkrong bareng Tashiro juga tipenya mirip-mirip, obrolan kami nggak bakal nyambung."
"Bukannya sama-sama suka anime atau light novel berarti sama saja, ya?" "Sesama otaku juga bukan berarti sepemikiran, tahu."
Bukan berarti semua otaku di dunia ini membaca light novel. Sebagian besar dari mereka hanya fokus pada anime atau game mobile (gacha), dan kalaupun ada yang membaca light novel, biasanya hanya sebatas judul-judul yang diadaptasi menjadi anime.
Orang yang membaca light novel baru yang bahkan berisiko dibatalkan (tanken) setelah beberapa jilid seperti aku ini adalah minoritas.
Selain itu, aku jarang menonton anime dan tidak memainkan game mobile yang sedang tren. Game gacha karakternya memang imut, tapi mekanisme permainannya terasa melelahkan.
Aku tipe orang yang ingin langsung menikmati ceritanya saja tanpa ribet. Kalau light novel atau manga, cukup dengan membalik halaman saja sudah praktis dan menyenangkan.
Di mata Tashiro, aku mungkin dinilai sebagai, "Udah kelihatan banget kucel dan kuper begini, tapi kok malah nggak ngerti anime ataupun game mobile..."
Meskipun begitu, kalau saja aku bisa beradaptasi dan masuk ke dalam kelompok mereka, mungkin situasinya bakal lumayan. Tapi, kelompok Tashiro itu punya semacam pemikiran eksklusif dan tekanan konformitas yang kuat di antara mereka.
Waktu aku ditanya soal topik anime yang lagi populer di kelompok mereka terus menjawab, 'Maaf, aku nggak nonton itu', reaksi mereka langsung heboh seolah-olah berhasil menemukan kelemahan orang, 'Hah, nggak mungkin banget nggak nonton!', 'Padahal itu anime terlaris musim ini, lho!', 'Kalau nggak nonton, nggak usah ngaku-ngaku otaku dehー' dan ribut sendiri. Mana sanggup aku meladeni hal semacam itu. Lagian, aku juga nggak pernah berniat mendeklarasikan diri sebagai otaku.
Oleh karena itu, di kehidupan sebelumnya pun aku gagal akrab dengan kelompok otaku pimpinan Tashiro. Kalau aku mencoba mengulanginya lagi sekarang, hasil akhirnya pasti bakal sama persis.
"Pokoknya aku ogah ngajak ngobrol Tashiro ataupun anak-anak lain di kelompoknya. Lebih baik aku seppuku sekalian." "Bisa nggak usah pakai perumpamaan yang serem-serem begitu?"
Hanamitsuji menghela napas panjang, lalu menyedot minumannya dengan sedotan dalam balutan ekspresi lelah. "Kalau begitu, sesuai rencana awal kita tadi, coba ajak Mashiro ngobrol, ya. Semangat."
"Siap, serahkan pa... Eh?"
Eh? Aneh, kok bisa begini? Tanpa sadar, mengajak Shiramine ngobrol malah sudah diputuskan menjadi agenda mutlak! Kenapa bisa, ya? Padahal di awal aku kan sudah menolak mentah-mentah ide mendekati Shiramine, terus kami membahas opsi cowok, lalu aku menolak opsi cowok... Jangan-jangan ini jebakan Zhuge Liang?!
"Kira-kira kapan waktunya? Hal-hal kayak gini kalau nggak menutup jalur pelarian... maksudku, kalau nggak dibuat rencana yang jelas, biasanya bakal gampang ditunda-tunda." "Kamu tadi hampir keceplosan ngomong 'kalau nggak menutup jalur pelarian', kan?!" "Iya, iya, jangan mengalihkan topik. Ayo kita tentukan jadwalnya sekarang."
Pembicaraan ini benar-benar sudah melangkah maju dengan asumsi kalau aku pasti akan mengajaknya ngobrol! Aku benar-benar dibuat tercengang oleh teknik negosiasi Hanamitsuji yang agresif. Anak ini sepertinya punya bakat terpendam buat jadi sales barang antik atau lukisan mahal. Jangan-jangan aku bakal jadi korban pertamanya.
"Pepatah bilang, kebaikan itu harus disegerakan, jadi bagaimana kalau besok saja kamu ajak dia ngobrol?"
"Masih perlu diperdebatkan apakah tindakan ini bisa disebut kebaikan atau bukan... Yah, kalaupun harus ngobrol, kalau dilihat dari kelonggaran waktu, pas jam istirahat siang sepertinya saat yang paling tepat, ya."
"Hoh, berani juga."
"Hah?"
"Nggak apa-apa, terserah kamu saja kalau memang sudah siap. Kalau begitu, kita jadwalkan besok siang, ya. Nanti aku juga bakal memantau situasi Kelas A dari kejauhan."
Hanamitsuji terkekeh pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi puas. Saat aku meneguk cola-ku dengan perasaan ganjil yang belum sepenuhnya hilang, ternyata isinya sudah habis.
Ketika aku berdiri untuk mengambil isian ulang (refill), Hanamitsuji menyodorkan gelas kosongnya ke arahku.
"Punya-ku iced tea ya. Tolong tanpa es."
"Woi, jangan seenaknya nyuruh-nyuruh orang!"
Keesokan harinya. Keinginanku agar gajah atau jerapah dari kebun binatang terdekat lepas dan mengacak-acak segalanya sama sekali tidak terwujud, dan waktu istirahat siang pun datang dalam sekejap. Meskipun kalau benar-benar terwujud, aku juga bakal pusing sendiri, sih.
Hari ini selera makanku benar-benar hilang, sampai-sampai sandwich minimarket yang biasanya bisa kuhabiskan dalam waktu lima menit malah butuh waktu sepuluh menit. Eh, bukan berarti makan sendirian (bocchi-meshi) bikin rasanya hambar atau gimana, ya.
Dengan tenang aku berdiri, lalu mulai mencari keberadaan Shiramine dengan tatapan yang dipenuhi tekad penuh kepasrahan.
Shiramine duduk di pojokan dekat jendela, di sisi kiri papan tulis. Namun, di sekelilingnya sudah berkumpul beberapa siswi lain yang merapatkan meja mereka sambil asyik mengobrol.
Ya iyalah. Namanya juga jam istirahat siang. Sudah pertengahan bulan April, kelompok-kelompok di dalam kelas sudah terbentuk dengan mapan, dan saat jam makan siang tiba, pulau-pulau kecil berupa geng pertemanan bertebaran di mana-mana.
Orang yang dengan santainya makan sendirian cuma aku doang. Rasanya untung banget, ya, karena cuma lewat makan siang saja mentalku sudah bisa ditempa sedemikian rupa.
Tapi, masalahnya jadi rumit begini. Menerobos masuk ke gerombolan Shiramine yang sedang asyik makan siang bareng teman-temannya itu tingkat kesulitannya ketinggian. Dijamin aku bakal ditatap dengan sorot mata jijik seperti,
"Hah, apa-apan orang ini..." Kalau cuma aku saja yang dipandang aneh sih nggak masalah, tapi kalau sampai membuat Shiramine merasa terganggu, aku jadi tidak enak hati.
Lagian, kenapa juga aku milih jam istirahat siang coba?! Orang normal kan menghabiskan jam istirahat siang bareng teman-teman! Susahnya minta ampun buat diajak ngobrol!
Ya, aku tahu alasannya. Karena aku seorang bocchi, gagasan menghabiskan jam istirahat siang bersama teman saja bahkan tidak terlintas di kepalaku, dan aku cuma berpikir, "Yah, kalau pas jam istirahat siang kan ada waktu luang, jadi gampang buat ngajak ngobrol." Bodohnya murni tanpa tapi.
Lagian, kalau aku mah wajar karena memang bodoh, tapi si Hanamitsuji itu pasti sudah tahu dari awal. Anak itu sengaja mendiamkanku karena ingin cari tontonan, ya...
Tapi tunggu dulu. Kalau aku melapor, "Udah kucoba ngobrol tapi gagalー", bukannya tetap nggak bakal ketahuan? Betul juga, tidak ada kewajiban bagiku untuk melapor secara jujur. Toh, aku memang tidak punya niat khusus buat cari teman.
Begitu berpikir begitu, perasaanku langsung mendadak lega. Astaga, ternyata ini bukan masalah besar yang harus dipusingkan sedalam itu.
Huuuh, ada-ada saja, bikin pusing sendiri. Mending aku ke mesin penjual otomatis buat beli minuman, deh. Saat aku hendak melangkah keluar ke koridor, seorang siswi menatapku tajam dari luar.
Itu Hanamitsuji. Sorot matanya memancarkan peringatan keras: "Heh, jangan coba-coba kabur, ya." Seram, seram banget! Ekspresinya sudah mirip orang yang mau nge-gatot alias ngajak ribut, jadi tolong turunkan sedikit intensitas tatapannya!
Kenapa anak ini berkeliaran di depan Kelas A? Bagaimana kalau sampai ketahuan kalau dia kenal sama aku... Pikiran-pikiran cemas sempat melintas di benakku, tapi setelah diamati lebih teliti, di sebelah Hanamitsuji ternyata ada siswi Kelas A. Sepertinya mereka sedang asyik ngobrol.
Ngomong-ngomong, Hanamitsuji sempat bilang kalau dia punya teman SMP di Kelas A. Punya relasi yang luas ternyata memang berguna di saat-saat tak terduga, ya.
Karena jalur pelarianku sudah ditutup, dengan terpaksa aku mengambil langkah untuk menghampiri Shiramine. Shiramine di hadapan, Hanamitsuji di belakang.
Jujur saja aku malas setengah mati, tapi mau bagaimana lagi. Ini ibarat kata semacam event kekalahan wajib yang harus dilewati sebelum bisa lanjut ke cerita berikutnya, ya.
Dengan ragu-ragu aku mendekat, dan rupanya Shiramine juga menyadari kehadiranku. Rambut hitam lurusnya sedikit bergeming, sementara wajahnya yang nyaris tanpa riasan namun proporsional itu sedikit miring ke samping.
Sepasang mata yang jernih dengan bibir terkatup rapat memancarkan aura yang kelihatannya cukup populer di kalangan cewek.
"Emm, Shiramine?"
"Ah, Nanamura-kun. Ada perlu apa, ya?"
Suaranya yang tenang dan terkesan cerdas itu sangat cocok dengan penampilan Shiramine, sampai-sampai aku sempat terpesona sejenak... tapi bukan waktunya buat mengagumi hal semacam itu sekarang!
Emm, topik obrolan santai, ya... baiklah. ...Dan aku baru sadar kalau seorang bocchi sepertiku sama sekali tidak punya stok topik obrolan semacam itu.
Terus bagaimana dong? Sambil membasahi punggung dengan keringat dingin, aku memutar otak sekuat tenaga dan memeras kata-kata.
"E-Emm... Maaf mengganggu waktunya di saat sibuk begini, bolehkah saya minta waktunya sebentar?"
"Nggak sibuk-sibuk amat, sih. Lagian kenapa nada bicaramu jadi mirip email urusan bisnis kantor gini?"
"Ah! Soal jadwal pindah kelas siang nanti, kira-kira di mana lokasinya, ya?"
"Kamu tadi kelihatan banget memaksakan diri buat nyari-nyari topik, kan? Barusan kamu bahkan sempat ngomong 'Ah!' dengan jelas, lho... Ngomong-ngomong, tidak ada mata pelajaran yang mengharuskan kita pindah kelas siang ini."
"Ah, begitu yaー Wah, aku kecolongan rupanya."
"Aku sama sekali nggak ngambil apa-apa darimu. Sebenarnya apa sih yang baru saja kamu 'kecolongan'...? Cuma mau nanya itu doang?"
"Ah, iya, makasih banyak, ganbatte ya."
"Kenapa nada bicaramu jadi mirip junior klub olahraga begini..."
Diiringi tatapan penuh kebingungan dari Shiramine dan teman-teman sekelompoknya, aku kabur terbirit-birit dengan perasaan malu luar biasa.
Fuuuh... Untuk ukuran diriku, itu tadi sudah pencapaian yang luar biasa. Tingkat keakraban kami pasti sudah meroket naik, kan?
Saat aku bergetar karena rasa puas yang melanda, ponselku bergetar pelan.
『Koridor lantai lima gedung khusus. Datang sekarang juga.』
Sebuah kalimat perintah yang sangat singkat dan padat. Tentu saja pengirimnya tidak perlu disebutkan lagi.
Krik-krik, leherku berderit kaku bagaikan mesin yang kehabisan pelumas saat menoleh ke arah koridor. Kulihat Hanamitsuji sedang menatapku sekilas sambil memasang senyum tipis, lalu berbalik melangkah pergi ke arah tangga.
Senyuman paling mengerikan yang pernah kulihat seumur hidup. Malas banget ke sana...!
"Kamu tahu kan alasan kenapa dipanggil ke sini?" "Kemarin kayaknya aku juga denger kalimat yang mirip. Jangan-jangan kita lagi mengalami time loop lagi?"
Begitu aku mencoba mengelak sekenanya, Brak! Hanamitsuji menepakkan tangannya ke dinding tepat di sebelahku. Wah, kabe-don! Nggak disangka bakal ada di posisi yang "diberi" kabe-don... Tapi kalau dipikir-pikir, kemungkinan besar memang lebih sering jadi pihak yang menerima daripada yang memberi, sih. Kalau sampai aku yang cowok mencoba kabe-don ke cewek, bisa-bisa malah dilaporkan ke polisi.
"Nanamura-ku~un?" "Baik, baik! Evaluasi soal tadi, kan, aku ngerti kok!" "Jangan bilang kamu barusan sempat mikir, 'Aku udah berusaha dengan baik kok', kan?"
Sebenarnya aku agak mikir begitu sih, tapi dengan suasana mencekam begini mana berani aku bilang "Iya".
"Enggak, jujur aja tadi aku sempat mikir kalau usahaku agak menyedihkan... tapi Hanamitsuji-san, biarkan aku membela diri sebentar, ya?" "Silakan didengar."
"Pertama-tama, motif ingin ngajak ngobrol karena 'ingin berteman' itu terlalu tidak murni. Teman itu kan seharusnya terbangun secara natural dari kecocokan perasaan antarindividu..." "Sebuah lelucon dari seorang bocchi yang mencoba menceramahi apa arti teman?"
"Bukannya ngelawak, nih! Ah, tapi arah argumen ini kelihatannya bakal merugikan buatku, jadi aku tarik ucapan tadi.
Pokoknya begini, buatku ada hal yang jauh lebih penting daripada teman. Jadi, aku nggak bisa menyia-nyiakan waktu berharga di masa SMA cuma buat urusan cari teman."
"Emangnya apa yang lebih penting dari teman? Lagian, ngomong begitu pakai mulut siapa coba, kan kamu belum pernah punya teman seumur hidup."
"Pembahasannya jadi nggak jalan, tolong maklumi bagian itu ya, kumohon! ...Pokoknya begitulah, aku ini memandang hidup dari sudut pandang yang makro."
"Makro maksudnya apa?"
"Ya jelas, mimpiku kan mau jadi novelis... ah."
Duh, gawat. Mulutku keceplosan. Seketika itu juga, mata Hanamitsuji berbinar penuh rasa tertarik. "Heeh, jadi kamu selama ini nulis novel, ya."
"Ugh... a-ah... ya, begitulah kurang lebih." "Begitu ya, ternyata kamu punya hobi semacam itu."
Sambil menopang dagunya dengan tangan, sudut bibir Hanamitsuji sedikit tertarik membentuk senyuman. "Woi, jangan ketawa."
"Bukannya aku lagi ngeremehin, kok. Cuma mikir aja, di kehidupan sebelumnya aku nggak tahu kalau Nanamura-kun ternyata hobi nulis novel."
"Ha? Yah, kita kan bahkan nggak pernah ngobrol... ya wajar kalau nggak tahu."
Meskipun aku tidak paham apa maksudnya, Hanamitsuji malah tersenyum senang. Reaksi macam apa ini? Jangan-jangan dia pikir dia baru saja memegang kelemahanku?
"Asal kamu tahu ya, mencoba memeras atau mengancamku pakai rahasia itu sama sekali nggak ada gunanya. Lagian, tidak ada satu pun orang yang tertarik mau tahu rahasiaku.
Sekalipun kamu beberkan ke orang lain, respon mereka paling cuma, 'Nanamura itu siapa?' doang."
"Kamu nggak merasa sedih ngomong begitu ke diri sendiri? Lagian, aku nggak ada niat buat meras kamu, kok."
Saat aku mendahuluinya dengan memberikan peringatan, Hanamitsuji malah mengerutkan kening dengan ekspresi jenuh.
"Terus terang saja, obrolan kita tadi itu apa, sih? Kenapa sama aku kamu bisa ngobrol normal begini, tapi giliran sama Mashiro malah nggak bisa ngomong apa-apa dengan benar?"
"Kalau ada alasan atau motif yang jelas buat ngobrol, ya aku pasti bisa ngobrol secara normal. Kalau sama Hanamitsuji, entah gimana ya, semenjak kita pertama kali ketemu di sini, kita kan sudah melewati rintangan menyebalkan semacam itu duluan."
Tiba-tiba dilempar ke dunia tiga tahun di masa lalu, ditarik tangannya sambil menangis di koridor, lalu mendengarkan penjelasan lengkap tentang apa yang terjadi setelah kecelakaan itu. Kalau setelah semua itu aku masih belum bisa bersikap biasa, justru itu yang aneh.
Hanamitsuji yang kelihatannya masih belum puas menghela napas, lalu mengacungkan jari telunjuknya dengan tegas ke arahku. "Huft... Hari ini kuampuni karena sudahlah. Tapi aku belum menyerah, ya! Teruslah berusaha keluar dari status bocchi kedepannya!"
"Yah, padahal aku sama sekali nggak pengin berusaha..." Menghadapi Hanamitsuji yang entah kenapa bersemangat luar biasa, aku hanya bisa menghela napas kecil.
◆
Beberapa hari setelah Operasi Besar Berusaha Jadi Teman Shiramine berakhir dengan kegagalan telak.
Di tengah statusku yang masih dikukuhkan sebagai pengungsi mandiri di dalam kelas, jam istirahat siang ini aku kembali menikmati makan siang seorang diri (bocchi-meshi). Roti lauk minimarket yang kubeli langsung ludes dalam hitungan menit. Anak-anak sekelas sibuk mengobrol seru sambil makan bersama, sementara seorang bocchi sepertiku karena tidak punya teman ngobrol, otomatis jadi bisa melahap makanan dengan kecepatan kilat.
Karena waktu istirahat masih panjang, hari ini aku memutuskan pergi ke perpustakaan. Selain light novel, aku juga cukup sering membaca novel umum, dan biasanya aku meminjam novel-novel tersebut dari perpustakaan sekolah.
Perpustakaan SMA Higashidani memiliki meja sirkulasi peminjaman dan pengembalian di sisi kanan pintu masuk. Ruangan bagian depan difungsikan sebagai ruang baca, sementara bagian dalamnya adalah ruang penyimpanan buku (arkib). Di ruang baca, selain rak-rak buku yang dipenuhi jajaran buku paperback dan buku baru (shinsho), terdapat juga deretan meja panjang dan kursi-kursi.
Suasana perpustakaan memang selalu paling nyaman, pikirku. Karena sepi jadi terasa tenang, dan pengunjung lain yang datang rata-rata juga sendirian, jadi tidak ada rasa minder sedikit pun meskipun berstatus sebagai bocchi. Zona paling aman bagi kaum bocchi.
Aku berjalan memutari bagian belakang salah satu rak buku sambil melirik-lirik judul buku yang berjejer.
Setelah memilih beberapa buku paperback yang namanya pernah kudengar tapi belum pernah kubaca, aku berniat memutar kembali ke bagian depan rak. Tepat di saat itulah...
Sosok yang tidak asing tertangkap oleh penglihatanku di balik meja resepsionis yang menjadi titik buta dari arah belakang rak buku, membuatku buru-buru menyembunyikan diri.
K-Kenapa Hanamitsuji bisa ada di sini?!
Mau tidak mau, aku terpaksa berpura-pura sibuk mencari buku sambil menunggu Hanamitsuji pergi. Sebenarnya tidak ada alasan khusus bagiku untuk bersembunyi, tapi kebetulan berpapasan dengan Hanamitsuji di lingkungan sekolah rasanya agak canggung.
Hanamitsuji tampak akrab mengobrol dengan siswi penjaga perpustakaan, suasananya akrab dan santai. "Maaf ya Sora, makasih banyak bantuannya!"
"Mau gimana lagi, makanya cepetan selesaikannya." "Iya!"
Di dalam perpustakaan yang sunyi, suara-suara kecil pun terdengar sangat jelas. Suara buku yang ditumpuk (gedebak-gedebuk) juga terdengar. Sepertinya mereka berdua sedang membantu merapikan buku.
Hanamitsuji itu, ternyata anggota komite perpustakaan, ya? Belum pernah dengar cerita soal itu sebelumnya.
Saat aku berpikir begitu, terdengar bunyi pintu terbuka kik-klak, disusul suara pustakawan, "Eh, kerja bagus ya.
" Ruang staf pustakawan terletak tepat di belakang meja sirkulasi dan terhubung langsung ke dalam ruang perpustakaan.
"Loh, anak kelas dua, Okada-kun, tidak datang hari ini?"
"Iya, kelihatannya dia sedang izin... tapi teman sekelasnya datang membantu."
"Ah, halo. Saya Hanamitsuji dari kelas satu F."
"Oh begitu ya. Terima kasih banyak, ya, sangat membantu sekali."
Sepertinya mereka berdua sedang merapikan dan menata kembali koleksi buku. Hanamitsuji kelihatannya bukan anggota panitia perpustakaan, tapi dia datang untuk membantu (suketto) karena dipanggil oleh temannya yang sedang kerepotan sendirian tanpa partner.
"Makasih banyak ya, Sora, padahal ini kan jam istirahat siang."
"Udah kubilang nggak apa-apa. Kamu kan bukan satu-satunya yang patut disalahkan."
"Wuaah! Aku sayang banget sama Sora!"
"Ih, jangan meluk-meluk gitu, dong."
Suasana mesra dan akrab di antara mereka berdua terpancar jelas hanya dari suara dan bunyi-bunyian yang tertangkap telinga. Hal itu malah membuatku semakin segan untuk keluar dari tempat persembunyian. Kalau di perpustakaan, tolong jangan ribut, dong.
Omong-omong soal si Hanamitsuji itu, ternyata dia anak yang cukup baik kalau berhadapan dengan temannya. Di depanku dia memang sering melontarkan omongan blak-blakan, tapi rupanya dia tidak bersikap begitu ke semua orang.
Orang yang punya banyak teman mungkin memang punya kepekaan dan keseimbangan sosial yang bagus di sekitar mereka. Tolong bagikan sedikit kebaikan itu ke aku juga, dong.
"Ah. Buku itu, pinjamkan ke sebelah sini, ya." "Iya. Makasih banget bantuannyaー" Mereka berdua melanjutkan pekerjaan merapikan buku sambil saling mengobrol ke sana ke mari. Mau tidak mau, aku membuka buku paperback yang ada di tangan dan memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan membaca sampai Hanamitsuji pergi.
Sambil mengikuti deretan huruf kecil di halaman buku, aku bergumam dalam hati bahwa posisi dan sudut pandangku dengan Hanamitsuji memang benar-benar berbeda jauh. Kalau saja kami adalah anggota sebuah band, kami pasti sudah bubar karena perbedaan visi bermusik.
◆
"Wih, tumben cepat."
Hari Senin berikutnya. Saat aku memasuki restoran keluarga (family restaurant) yang menjadi tempat janjianku dengan Hanamitsuji, gadis itu ternyata sudah duduk manis di dalam bilik tempat duduk (booth).
"Sudah dapat teman?" "Kalimat itu yang pertama kali kamu ucapkan ke aku, hah?!"
Sambil menghela napas panjang dan megah, aku mendudukkan diri di bangku serong di hadapan Hanamitsuji. Duduk tepat berhadap-hadapan entah kenapa membuatku merasa canggung. Sudah kebiasaan menyedihkan kaum bocchi yang selalu memilih posisi duduk secara diagonal.
"Kalau aku bisa dengan mudah dapat teman, dunia ini pasti nggak bakal menderita karena perang dan kemiskinan." "Nggak nyambung sama sekali, tahu! Kenapa bawa-bawa masalah kolosal begitu, sih?"
Dengan ekspresi tertegun, Hanamitsuji meneguk minumannya, lalu menyodorkan buku menu ke arahku dengan gestur, nih.
Aku melambaikan tangan untuk menolak tawaran itu, lalu memesan paket drink bar kepada pelayan yang kebetulan lewat. Mohon maaf ya, tiap kali datang ke sini aku selalu nebeng pakai fasilitas ini doang.
Sambil menuangkan cola dari mesin drink bar lalu kembali ke meja, tiba-tiba aku teringat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Ngomong-ngomong, waktu itu kamu ngapain di perpustakaan?" "Hah? Bahas apa, sih, mendadak banget?" "Itu, pas jam istirahat siang waktu itu, kamu sempat bantu-bantu panitia perpus, kan."
"Oh, itu. Aku lagi merapikan majalah edisi lama (backnumber) terbitan klub budaya. Banyak yang harus dijilid ke dalam file jadi lumayan repot juga, sih... Eh, kok kamu bisa tahu soal itu?" "Nggak sengaja lagi di perpustakaan aja." "Begitu ya, aku nggak sadar." "Soalnya aku sembunyi di balik rak buku." "Kamu stalker?"
"Bukannya stalker. Pas aku mau pinjam buku, kamu keburu masuk, jadi aku agak segan mau ke meja resepsionis. Hanamitsuji sendiri pasti bakal repot kan kalau ketahuan ngobrol sama aku di lingkungan sekolah?" "Aku sih nggak masalah, tinggal pura-pura nggak kenal aja." "Ya benar juga, sih."
Ucapannya memang masuk akal, tapi entah kenapa kalau dibayangkan benar-benar diabaikan di depan umum begitu, rasanya agak menusuk juga, ya. Hati seorang bocchi itu rapuh, tahu.
Setelah meneguk cola-ku, aku memberanikan diri menanyakan hal yang sudah mengganjal di hatiku sejak hari itu.
"Aku penasaran, deh. Kenapa sikapmu beda banget waktu ngadepin aku sama orang lain? Kamu boleh juga kok bersikap ramah ke aku."
Hanamitsuji mendengus kecil, lalu melipat kedua tangannya di atas meja. "Menurutku, alasan kenapa aku sering ngomong ketus itu justru karena Nanamura-kun sendiri yang memancingnya, lho."
"Kok bisa? Padahal aku ini eksistensi yang mirip personifikasi dari makhluk tak bersalah." "Biasanya orang-orang nggak bakal ngomong hal kayak gitu tentang diri sendiri, tahu." "Kalau bukan aku sendiri yang ngomong, nggak bakal ada orang lain yang mau muji. Kan aku bocchi."
Tapi, dipikir-pikir aku tidak punya alasan yang jelas. Paling-paling karena aku kurang antusias menanggapi saran soal cari teman, mengabaikan pesan LINE, atau kalau pas ketemu langsung kami selalu adu argumen sampai berantem? Eh, tunggu dulu, ternyata aku punya banyak sekali alasan, ya.
"Lagian, aku memang bakal bersikap ramah ke teman-temanku, tapi emangnya Nanamura-kun itu temanku, apa?"
Mendengar pertanyaan itu, aku merenung sejenak. Hubunganku dengan Hanamitsuji... sebenarnya apa, ya?
Sulit diungkapkan dengan satu patah kata saja, tapi yang jelas kami bukan teman. "...Bukan juga, sih."
"Nah, kan. Makanya, aku memang selalu mengubah sikapku tergantung siapa orangnya."
"Beraninya kamu ngomong begitu di depan orangnya langsung."
"Hal kayak gini juga nggak bakal kukomunikasikan ke temanku, kok, jadi tenang saja."
Hanamitsuji tersenyum tipis sinis sambil mendengus kecil. Mendengar cara bicaranya, sekilas memang terdengar seolah-olah aku mendapat perlakuan khusus, tapi kurasa aku cuma sedang direndahkan saja.
"Yah, kalau dari sudut pandangku, punya kemampuan mengubah sikap tergantung siapa orangnya itu kelihatannya sedikit bikin iri, sih."
Itu adalah trik yang mustahil kulakukan. Aku tidak pandai berbohong, tidak bisa asal menimpali obrolan hanya demi mengikuti suasana, dan tidak tahu cara menanggapi dengan tepat.
Sambil menopang dagunya, Hanamitsuji sedikit membelalakkan matanya, lalu menatapku dengan sorot mata penuh rasa tertarik, "Heeh..." "Aku sama sekali nggak menyangka bakal dibilang bikin iri oleh orang sepertimu."
"Bukannya aku ini benci atau anti terhadap konsep pertemanan, tahu. Kalau seandainya aku punya kepribadian seperti Hanamitsuji, aku yakin aku juga bakal bisa punya teman."
Jangan sampai salah paham, aku sama sekali tidak menentang hubungan pertemanan. Punya relasi pertemanan yang santai dan dangkal hanya sekadar untuk menikmati hari-hari juga bagus banget kok. Orang-orang yang dikaruniai bakat berteman silakan saja memperbanyak teman mereka.
Hanya saja, aku ini memang tidak punya bakat untuk itu, titik.
"Soal usahamu yang menyuruhku mencari teman itu, mungkin bakal kupikirkan lagi nanti kalau seandainya ada orang yang punya chemistry atau frekuensi yang benar-benar klop denganku."
"Hmm, benar juga ya. Buat kamu, orang yang kecocokannya pas itu... mungkin... ada... ada kemungkinannya... Yah, tapi nggak bisa dibilang nggak ada juga sih... mungkin, ya." "Woi, tolong jangan ragu begitu pas ngomong!"
Emangnya sekecil itu ya kemungkinan bakal muncul orang yang cocok denganku? Keberadaanku ini sudah mirip spesies langka, tahu. Jangan-jangan aku harus dilindungi di bawah Undang-Undang Konservasi Spesial, ya?



