📢 Announce 📢

Jangan lupa bantu kami dengan donasi
TS Tensei Bishoujo

Chapter 1: The Texas Chainsaw Massacre (Korban Persembahan Iblis)

September 19, 2026 • Penerjemah: Jerinnn
Ukuran:
Mode:

 

Nah, bagaimanapun juga, yang terpenting sekarang adalah mengumpulkan dan merapikan informasi.

Aku――tidak, nama baruku adalah Netorare Reiko.

Usia baru sekitar satu tahun. Terkadang tersenyum lebar dengan cara yang menyeramkan, selayaknya balita perempuan biasa pada umumnya.

Tentu saja, nama maupun jenisku berbeda dari kehidupan laluku saat aku masih menjadi seorang pria, dan kedua orang tuaku pun orang yang sama sekali tidak kuenal.

Beberapa hari lalu, karena sudah bisa berjalan sendiri, aku berjalan terhuyung-huyung ke ruang keluarga untuk mengumpulkan informasi dari koran dan televisi yang tergeletak begitu saja. Hasilnya, sepertinya aku bereinkarnasi ke Jepang modern di dunia paralel yang "sangat mirip" dengan kehidupan laluku.

Bagaimana tidak, wabah virus baru, berbagai kejadian berbahaya di luar negeri, dan peristiwa-peristiwa penting yang seharusnya terjadi pada masa ini justru sama sekali tidak ada dan dilewati begitu saja.

Mungkin ada perbedaan-perbedaan kecil lainnya, tetapi sekilas tempat ini terlihat hampir sama persis dengan Jepang modern di duniaku dulu, jadi kurasa itu bukan masalah besar.

Mengenai perbedaan sejarah dan lain-lain, bisa kulihat nanti setelah wajib belajar dimulai. Aku pun berhenti memikirkan hal itu terlalu dalam.

Sambil merasakan tatapan sang ibu yang tersenyum hangat dan mengawasiku saat aku sedang membentangkan koran, aku mulai merancang rencana hidupku ke depan.


Bagaimanapun juga, aku ingin menjadi seorang wanita yang direbut (korban NTR).

Aku ingin menggenggam impian di tangan ini—mimpi yang tidak akan pernah bisa terwujud saat aku masih menjadi seorang pria di kehidupan sebelumnya.

Namun, meskipun disebut sebagai NTR, situasinya ada bermacam-macam.

Apakah itu hubungan suka sama suka atau pemerkosaan? Apakah pria yang merebutnya adalah pria tampan atau pampasan (pria tua jelek)? Apakah pahlawan wanita yang direbut itu tipe gadis suci atau tipe wanita murahan?

Masih banyak unsur lain yang bisa disebutkan hingga tiada habisnya, dan aku harus memilih satu situasi di mana diriku sendiri akan berperan dari sekian banyak situasi NTR yang ada. Sungguh membingungkan.

Jika aku mendapat bonus reinkarnasi berupa kemampuan time-loop atau kembali setelah mati, aku bisa menikmati adegan NTR sepuasnya lalu menyayat perutku untuk mengulang dari awal, tetapi sayangnya aku sama sekali tidak ingat pernah mengadakan wawancara dengan malaikat atau dewa. Lebih baik berasumsi kalau aku tidak punya kemampuan cheat apa pun.

Sambil menyusu pada dot botol susu yang disodorkan ibuku, aku membayangkan jalan kemuliaan yang harus kutuju (jalur NTR).

Nah, meskipun aku sudah berbicara panjang lebar, sebenarnya garis besar jalurnya sudah kutentukan sejak awal.

Mumpung aku terbereinkarnasi menjadi seorang bayi, maka tidak ada pilihan lain selain mengincar jalur utama sekaligus mahakarya dari NTR, yaitu "NTR Teman Masa Kecil".

Segala hal yang dibangun oleh seorang pria dan wanita sejak kecil dengan menghabiskan waktu dan curahan kasih sayang, dihancurkan berkeping-keping oleh tangan pria selingkuhan.


Ini bahkan jauh lebih nikmat daripada seks.

Oleh karena itu, mengamankan seorang teman masa kecil yang akan diberi peran sebagai pihak pria yang direbut adalah tugas yang mendesak.

NTR itu ibarat wine; semakin lama waktu yang dihabiskan, semakin matang dan harum pula rasanya. Kalau bisa, aku ingin menemukan dan mengamankan bibit unggul itu selagi aku masih di taman kanak-kanak.

Untuk peran pria selingkuhan (si perebut), paling buruk aku bisa memakai sembarang cowok genit di jalanan, tetapi untuk peran pria yang direbut, aku tidak boleh berkompromi sama sekali. Aku yakin orang yang asal-asalan memilih posisi ini tidak akan pernah bisa sukses secara sosial seumur hidupnya.

Saat aku sedang bersemangat mendebat teoriku sendiri di dalam kepala, tanpa sadar aku ikut mengerahkan tenaga pada mulutku yang sedang menyedot dot botol susu.


Bagaimanapun juga, aku baru bisa bergerak menuju jalur NTR ini sedikit lagi di masa depan. Untuk saat ini, aku harus fokus tumbuh dengan sehat sebagai seorang bayi.

Perutku sudah kenyang dan rasa mengantuk mulai menyerang. Sambil terus memandangkan situasi NTR yang ideal, aku pun tertidur siang. Zzz...

*

Begitu pula keadaannya, waktu pun berlalu, dan aku yang tumbuh dengan sehat akhirnya masuk ke "TK Daria" yang ada di lingkungan sekitar.

Omong-omong, bahasa bunga dahlia adalah "kejenuhan" (mudah berubah hati) dan "pengkhianatan".



Karena bisa masuk ke taman kanak-kanak dengan nama yang sangat membawa hoki ini, aku pun tersenyum lebar dengan seringai jahat yang dipenuhi rasa bahagia.

Nah, pertunjukan sesungguhnya dimulai dari sini.

Aku akhirnya mencapai usia di mana aku bisa bergerak bebas sampai tingkat tertentu. Masa-masa di mana aku hanya bisa membayangkan skenario NTR di dalam kepala sambil menahannya sudah berakhir.

Mulai sekarang, aku bisa bergerak sendiri demi mewujudkan lamunan itu. Aku harus segera mencari pria yang akan menjadi korban NTR untuk berjalan bersamaku di jalur kehormatan NTR.

Namun, tidak boleh terburu-buru.

Sangat disayangkan jika atribut NTR tingkat tinggi berupa "teman masa kecil sejak zaman TK" disia-siakan begitu saja pada pria yang sembarangan.

Pertama-tama, aku harus menyeleksi kandidat dengan cermat dan teliti. Untuk saat ini, aku akan mengambil sikap "mengamati" tanpa tergesa-gesa.

Selain menyeleksi pria yang akan ditipu, meningkatkan daya tarik diriku sendiri juga merupakan tugas yang mendesak.

Menurutku, NTR terbaik sangat membutuhkan pesona dari wanita yang direbut—pesona yang membuat orang lain berpikir, "Aku tidak ingin kehilangan pasangan sehebat ini" atau "Aku harus merebut wanita itu bagaimanapun caranya."


Oleh karena itu, sudah sewajarnya bagiku untuk bertekad menjadi gadis cantik yang sempurna dan terus mengasah diri.




Meskipun begitu, tentu saja dari segi finansial aku belum bisa menyentuh urusan kecantikan atau fesyen di usia TK ini. Untuk saat ini, aku akan mulai dari mengasah daya tarik sebagai manusia.

Aku memanfaatkan kemampuan komunikasi yang telah kutanamkan selama kehidupanku sebagai pria selingkuhan di masa lalu, dan mulai dari menjadi sosok yang disukai semua orang.

Beberapa bulan setelah kehidupan taman kanak-kanak itu dimulai, aku mengarahkan pandanganku pada seorang anak laki-laki.

Namanya adalah Tachibana Yuuki.

Bukan berarti dia sangat tampan, dia adalah anak laki-laki biasa yang sedikit bertubuh gempal.

Meskipun sedikit pemalu dan tertutup, dia adalah anak laki-laki baik berhati mulia yang sangat menyayangi bunga dan hewan, serta tidak pernah ragu mengulurkan tangan pada orang yang sedang kesulitan.

Melihat bakat terpendam yang seolah memang dilahirkan untuk menjadi pria yang pacarnya direbut, aku sampai menelan ludah dengan penuh selera.

Aku sudah menyelidiki bahwa alamat rumahnya hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari rumahku.

Idealnya, aku ingin rumah kami berdampingan sehingga kami bisa mengobrol lewat jendela, tetapi tentu saja tidak mungkin segala sesuatunya berjalan semulus itu. Yah, bagian itu bisa dibilang kompromi.

Satu-satunya hal yang kucari dari pria korban NTR adalah "kecantikan hatinya".

Penampilannya tidak penting, bahkan penampilan yang sedikit suram justru jauh lebih menguntungkan dalam berbagai hal. Seseorang yang memiliki kompleks inferioritas terhadap dirinya sendiri akan jauh lebih mudah dibuat bergantung pada wanita yang akan merebutnya, dan ketika wanita yang menjadi tempat bergantung 


itu direbut, dia pasti akan memperdengarkan suara kehancuran mental yang sangat merdu.

Yah, penampilan fisik anak-anak seusia ini toh akan berubah seiring berjalannya waktu.

Sambil memikirkan hal itu, aku menghampiri Yuuki-kun yang sedang bermain sendirian, terpisah dari anak-anak lainnya.

「Hei, Yuuki-kun. Boleh aku ikut bermain bersama?」

「...Eh?」

Aku menyembunyikan sisi batinku yang jahat sepenuhnya, lalu melemparkan senyuman secerah bunga kepada anak laki-laki itu.

*

Aku――Tachibana Yuuki, memiliki seorang teman masa kecil yang sangat manis.

「Pagi, Yu-kun」

「Hah... Pagi, Rei-chan」

Pagi-pagi buta. Di depan rumah, seorang anak perempuan melemparkan senyuman manis secerah bunga kepada diriku yang sedang menahan menguap.

Namanya adalah Netorare Reiko. Seorang teman yang sangat berharga dan telah menghabiskan waktu bersamaku sejak kami masih di taman kanak-kanak.

「Ah, tunggu sebentar, Yu-kun. Rambutmu berantakan. Diam ya, nanti aku rapikan」

「T-tidak usah, biarkan saja soal rambut berantakan...」

「Ng-gak bisa. Nah, jangan bergerak」

Dia adalah tipe orang yang suka mengurus orang lain.


Aku tidak tahu apa yang dia sukai dariku, tetapi sejak hari di mana dia menyapaku saat aku masih kecil, pemalu, dan belum begitu akrab dengan lingkungan TK, dia memperlakukanku dengan perhatian yang boleh dibilang terlalu berlebihan.

Berkat bantuannya jugalah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan TK maupun SD, dan tentu saja aku sangat berterima kasih atas hal itu, tetapi...

「Sudah kubilang jangan bergerak」

「De-dekat banget, Rei-chan...」

Merasa malu diurus oleh anak perempuan, aku mencoba menjaga jarak, namun Rei-chan malah menempel erat seolah mengurungku.

Baik aku maupun Rei-chan, sekarang sudah duduk di kelas 6 SD.

Merasakan sentuhan Rei-chan di mana tubuhnya mulai menampakkan bentuk feminin di berbagai tempat, aku langsung menunduk agar dia tidak menyadari pipiku yang memerah.

「Aduh-aduh, aku selalu merepotkanmu ya, Reiko-chan. Bibi sangat terbantu karena kamu sudah mengurus Yuuki」

「Selamat pagi, Bibi. Mengurus Yuuki-kun adalah hal yang kulakukan atas kemauanku sendiri, jadi Bibi tidak perlu khawatir」

Di tengah-tengah percakapan antara Rei-chan dan ibuku yang akhir-akhir ini sering menggoda hubungan kami, saat aku sedang menciutkan diri, Rei-chan sudah merapikan gaya rambutku menggunakan botol semprotan air dan sikat yang entah diambil dari mana.

「Nah, selesai. Hm-hm! Hari ini pun kamu kelihatan keren, Yuuki-kun♪」

「Te-terima kasih, Rei-chan...」

……Aku merasa tidak enak pada Rei-chan yang memujiku tanpa rasa malu, tapi penampilanku jujur saja bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan.


Dibandingkan anak laki-laki sebayanya, wajahku biasa saja, dan bentuk tubuhku sedikit kendur meskipun belum bisa disebut obesitas.

Rei-chan yang berdiri di sampingku adalah sosok populer yang berwajah rupawan serta pandai dalam akademik maupun olahraga. Dia bahkan disebut sebagai gadis tercantik bukan hanya di kelas, melainkan di seluruh sekolah. Dibandingkan dengan dirinya, aku ini... Merasa benci pada diri sendiri seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari.

「Yuuki-kun? Kalau tidak cepat-cepat, nanti kita terlambat, lho?」

Seolah menghapus pikiranku itu, tangan hangat Rei-chan menggenggam tanganku.

「A-aku tahu kok. Makanya, lepaskan tangannya...」

「Kalau begitu, kami berangkat dulu ya, Bibi」

「Iyaaa, hati-hati di jalan ya sama mobilnya~」

Entah tidak mendengar perkataanku atau sengaja mengabaikannya, Rei-chan sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dan malah berjalan melangkah maju dengan mantap.


Sambil merasa salah tingkah oleh sentuhan tangan lembutnya, beberapa teman sekelas yang berpapasan dengan kami menggoda saat melihatku berjalan menyusuri jalan sekolah.

「Wah, pengantin baru kita kelihatan akur banget ya hari ini~」

「Dih, mesra banget sih」

T/n: MASIH BOCAH LO PADA WKWK

Di usia seusia kami, jika anak laki-laki dan perempuan bergaul terlalu dekat, besar atau kecil kemungkinan mereka akan digoda dengan nada yang sedikit bernada usil atau dengki. Namun, tidak ada suasana suram seperti itu dalam suara-suara yang menggoda kami berdua.

Semua itu semata-mata karena kepribadian Rei-chan yang ceria dan baik hati membuat orang lain merasa segan untuk melontarkan niat buruk kepadanya.

「M-mau-an sih! Bukan begitu tahu! Ayo, Yuuki-kun!」

Melihat Rei-chan yang pipinya sedikit merona merah, aku hampir saja merasa sedikit kegeeran.

Aku jujur tidak begitu mengerti tentang cinta atau asmara, tapi setidaknya aku tahu dia tidak membenciku.

Dianggap seperti itu oleh teman masa kecil yang menjadi kebanggaanku. Hanya karena hal sepele itu saja, aku hampir bisa sedikit menyukai diri sendiri.

「…………Bagus. Bagus banget. Pasangan yang sudah direstui oleh lingkungan sekitar. Sungguh prolog NTR yang luar biasa...」

——Untuk sesaat, aku merasa wajah Rei-chan berkedut dan terlihat seperti orang lain.

「Eh, Rei-chan? Kamu barusan bilang apa?」

「——Hm? Aku nggak ngomong apa-apa kok?」

Mendengar suaraku, Rei-chan menoleh ke belakang dengan ekspresi bingung.

……Sepertinya aku cuma salah lihat.

Mana mungkin teman masa kecilku yang sangat manis, baik hati, dan menjadi idola semua orang itu terlihat seperti monster penjahat dari acara tokusatsu yang tayang Minggu pagi... Mungkin aku masih mengantuk.


Untuk mengusir kantuk, aku pun mengucek-ngucek mataku.

——Lalu, sepulang sekolah.

Rei-chan, yang biasanya selalu pulang sekolah bersamaku, datang menghampiri mejaku dengan memasang ekspresi seperti merasa bersalah. Apakah telah terjadi sesuatu?

「Maaf ya, Yuuki-kun. Hari ini aku ada sedikit urusan, jadi kamu pulang duluan ya?」

「Begitukah? Kalau ada sesuatu yang bisa kubantu...」

「Ah... nggak kok. Bukan hal seperti itu, jadi nggak apa-apa. Kalau begitu, sampai jumpa besok!」

Begitu mengucapkan kalimat itu dengan terburu-buru, Rei-chan langsung meninggalkan ruang kelas dengan langkah cepat.

Melihat gerak-geriknya yang tidak seperti biasanya, aku sedikit memiringkan kepala kebingungan.

「...Pulang sendirian, sudah lama banget ya rasanya」

Sambil merasa sedikit kecewa karena tidak bisa pulang bersama Rei-chan, aku bersiap untuk pulang ketika tiba-tiba sesuatu menerjang punggungku.

「Yuuki! Pulang bareng yuk~!」

「Uwaaaah!? Fu-Fuyuki-kun?」

Saat aku menoleh ke belakang, Kurushima Fuyuki-kun—salah satu dari sedikit teman yang kumiliki—tersenyum cerah ke arahku.

Dia adalah penyerang andalan klub sepak bola sekaligus pemuda tampan yang menyegarkan. Kami adalah kombinasi aneh tanpa banyak kesamaan antara dirinya yang anak outdoor dan diriku yang anak indoor, tetapi berkat perantara Rei-chan yang menjadi teman bersama kami, kami akhirnya bisa berteman.  Meskipun begitu, kami sebenarnya cukup nyambung, dan tanpa rasa malu dia memanggilku "sahabat baik". Dia adalah temanku yang berharga, sama seperti Rei-chan.

"Um, aku sih tidak masalah, tapi... bagaimana dengan klub sepak bolanya?"



"Ah, sebenarnya tadi pas pelajaran olahraga pergelanganku sedikit terkilir. Nggak parah sih, tapi disuruh istirahat buat berjaga-jaga."

"Ehh! A-Apa tidak apa-apa?!"

"Haha, kan kubilang tidak apa-apa. Kamu lebay banget, Yuki. ... Ngomong-ngomong, si Rei mana?"

Fuyuki-kun melihat ke sekeliling, mencari sosok Rei-chan yang juga merupakan sahabat baiknya.

Saat aku menjelaskan situasinya, ia memasang ekspresi curiga.

"Urusan yang bikin Rei lebih mementingkannya daripada Yuki, ya... Kok rasanya mencurigakan, ya."

"Mencurigakan apanya?"

"Kalau dia, bukankah biasanya dia bakal bilang, 'Aku mau pulang bareng, jadi tungguin sampai urusanku selesai ya~', atau kalau urusannya bakal lama, dia bakal jelasin dulu ke kamu sebelum pergi, kan? Soalnya tingkat overprotektif Rei ke Yuki itu sudah nggak normal, tahu."

"U-Uhm... begitu ya..."

"Pasti begitu. ... Tasnya kan masih ada di meja, jadi si Rei pasti masih ada di dalam sekolah, kan? ... Baiklah! Yuki, ayo kita main jadi detektif! Kita kejar dia, kejar!"

Entah karena terpengaruh drama TV atau apa, Fuyuki-kun mengatakannya dengan mata yang berbinar-binar, membuatku jadi ciut dan ragu.

"Ehh... Kalau kita ngelakuin itu, nanti Rei-chan marah, lho..."

"Kalau itu sampai terjadi, kita tinggal minta maaf bareng-bareng. Kamu sendiri penasaran kan, Rei sebenarnya lagi ngumpet dan ngapain?"

"U... b-benar juga sih..."

Begitulah, karena tidak enak menolak, aku akhirnya terseret oleh Fuyuki-kun untuk mencari keberadaan Rei-chan.

"Otora-san? Ah, kayaknya aku sempat lihat dia naik ke lantai atap, deh..."


Setelah bertanya ke beberapa orang dan mendapatkan informasi bahwa Rei-chan sepertinya menuju ke atap, aku dan Fuyuki-kun mengendap-endap menuju atap gedung sekolah.

"... Oh, si Rei kelihatan tuh."

Fuyuki-kun membuka perlahan pintu yang terhubung ke atap agar tidak berbunyi, lalu menemukan sosok Rei-chan.

Dia melambaikan tangan menyuruhku mendekat. Aku menghampiri sisi Fuyuki-kun tanpa menimbulkan suara, lalu atas dorongannya, aku mengintip ke arah atap dari balik bayangan.

Di sana, tampak Rei-chan sedang berhadap-hadapan berdua saja dengan seorang anak laki-laki yang tidak kukenal.

"Hm? Siapa cowok yang lagi bareng dia itu? Kalau tidak salah... anak klub basket, ya?"

"... Y-Ya. Betul."

Fuyuki-kun memasang ekspresi penasaran, tapi aku bisa langsung menebak apa yang sedang terjadi dalam sekejap.

Tentu saja, Rei-chan sangat populer.

Kalau gadis seperti itu sedang berduaan dengan cowok di atap, tidak perlu dipikirkan lagi apa yang sedang terjadi.

"... Fuyuki-kun, ayo kita pergi saja."

"Eh? Tapi..."

"Kumohon..."

Aku mati-matian mengatupkan giginya agar suaraku tidak bergetar, lalu berniat meninggalkan tempat itu bersama Fuyuki-kun.

Anak laki-laki di hadapannya itu memiliki wajah yang sangat tampan. Jauh lebih cocok berdampingan dengan Rei-chan ketimbang diriku.

... Kalau terus berada di sini, ketidakberdayaan ini pasti akan membuatku menangis karena merasa begitu menyedihkan.

"Maukah kamu pacaran denganku?"


Suara cowok yang sedang berhadapan dengan Rei-chan terdengar.

Tidak mau. Aku tidak mau berada di sini lebih lama lagi. Sebelum mendengar kata-kata yang fatal itu, aku berniat menutup telingaku.

Namun, lebih cepat dari tindakanku, suara Rei-chan menggema.

"Maaf. Aku tidak bisa berpacaran denganmu."

Mendengar suara yang sampai ke telingaku itu, aku sontak membeku.

"... Kenapa?"

"... Itu... tidak bisa kukatakan."

"... Apakah karena dia? Cowok yang selalu menempel di dekatmu itu? Apa bagusnya cowok culun, suram, yang nggak bisa apa-apa baik dalam pelajaran maupun olahraga itu!"

Aku adalah orang yang paling paham siapa yang sedang dimaksud oleh cowok yang berteriak dengan nada emosi itu.

Hubunganku dan Rei-chan memang bukan sepasang kekasih, tapi wajar saja jika dia mengatakan hal seperti itu.

Meskipun tidak pernah dikatakan secara terus terang di depan muka, siapa pun yang melihatnya pasti tahu kalau aku dan Rei-chan sama sekali tidak sepadan dalam hal apa pun.

... Hal seperti itu adalah sesuatu yang paling aku sadari...

Bacht!! Suara seperti udara yang meledak terdengar, disusul sosok anak laki-laki yang berdiri mematung sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh seorang gadis.

"Aku tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang menghina Yuu-kun!!"

"A, a..."

"Bagiku, Yuu-kun adalah... orang yang paling berharga dan tak tergantikan di dunia ini! Sejak hari pertama kita bertemu, terus-menerus... dia adalah orang yang paling kucintai dan kujaga sepenuh hati, sosok paling berharga melebihi siapa pun!"

Teriakan Rei-chan yang meledakkan perasaan yang baru pertama kali kudengar itu, membuatku menerima kejutan yang jauh lebih besar daripada anak laki-laki yang baru saja ditampar pipinya.

Bahwa aku adalah orang yang paling berharga baginya. Bahwa sejak hari pertama kita bertemu, dia terus memikirkanku selama ini. Tanpa sadar, aku berbalik dan lari meninggalkan tempat itu.

"Heh, Yuu, Yuki!"

Suara Fuyuki-kun yang memanggil dari kejaksanaan bahkan tidak masuk ke telingaku. Apakah saat ini aku sedang menangis atau tertawa, aku bahkan tidak tahu. Kenapa sosok diriku yang begitu payah dan menyedihkan ini bisa sangat dihargai olehnya sedemikian rupa? Jawabannya tetap saja tidak bisa kutemukan.

"... Meskipun begitu!"

Aku harus menjadi manusia yang pantas untuk perasaannya. Aku harus menjadi pria yang bisa berdiri di sampingnya. Sebagaimana aku menganggapnya sebagai "teman masa kecil yang membanggakan", aku ingin menjadi sosok yang membuat Rei-chan bisa membusungkan dada dan berkata bahwa aku adalah "teman masa kecil yang membanggakan". Mari akhiri diriku yang selama ini hanya memanfaatkan kebaikannya dan tidak mau berubah! Hari itu, Tachibana Yuu seolah terlahir kembali untuk kedua kalinya.

*

"...... Sial nyaris aja, hampir aja tadi ceroboh masuk ke route NTR di awal..."

Aku — Otora Reiko — yang baru saja mengusir anak laki-laki yang kehilangan semangat juangnya akibat tamparan tadi, memeluk diriku sendiri sendirian di atap demi meredam gejolak sesaat yang nyaris mengalahkanku.

Bagaimanapun juga, masuk ke route NTR pada tahap sekolah dasar itu terlalu cepat. Kalau usianya masih semuda ini, perkembangan cerita setelah NTR nanti akan menjadi sangat tipis dan hampa. Padahal sudah jelas-jelas kutahu bahwa 

kematangan Yuu-kun yang diperlukan untuk brain damage ala NTR masih jauh dari cukup...

Di hadapan Yuu-kun, pria NTR kelas kakap yang terus membuatku "menahan diri" ini, aku tadi hampir goyah oleh bujukan NTR dari sang pria/anak-orang ketiga (calon).

Demi menekan diriku sendiri yang hampir saja hanyut oleh kenikmatan sesaat itu, aku tadi sampai kelepasan bersikap kejam pada anak laki-laki yang bahkan tidak begitu kukenal. Kuakui ini bahan instrospeksi. Tapi, yang salah bukan aku! Yuu-kunlah pelakunya!

Sebenarnya, sejak jauh-jauh hari aku sudah menyadari kalau Yuu-kun mengintip dari balik bayangan. Pancaran mata Yuu-kun!! Ekspresi wajahnya!! Keputusasaannya saat melihat sahabat 

masa kecil tersayangnya nyaris direbut oleh pria tidak dikenal!! Ah, rasanya aku ingin segera... menghancurkanmu sekarang juga... ♥

Setelah menjilat bibirku dengan gerakan berol, aku menggelengkan kepala untuk menenangkan pikiran yang telanjur bersemangat ini. Mumpung ada kesempatan bagus, mari kita tinjau ulang rencana route NTR ke depannya sekalian merapikan situasi.

Pertama-tama, soal kapan aku akan direbut (menjadi korban NTR), aku merencanakannya saat kami sudah SMA. Pada dasarnya, semakin lama masa pematangannya, rasa "sedap" dalam NTR akan semakin pekat. Namun, di saat yang sama, semakin panjang masa "menahan diri" ini, semakin besar pula kemungkinan terjadinya event kejutan tak terduga yang bisa merusak segalanya. Secara ekstrem, jika Yuu-kun mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia, semuanya akan langsung berantakan.

... Yuu-kun yang itu. Pria NTR yang telah kubina dan kujaga sepenuh hati... kalau sampai terjadi hal seperti itu, membayangkannya saja sudah membuat sekujur tubuhku gemetar ketakutan. Gawat, aku merasa tidak akan sanggup menahannya. Kalau sampai itu terjadi, aku bisa-bisa melakukan aksi bunuh diri menyusulnya.

Yah, meski tidak sampai separah itu, kalau masa "menahan diri" dari pria NTR kualitas super bernama Yuu-kun ini terlalu lama, ada kemungkinan aku malah meledak di tempat yang tidak semestinya. Usia sekitar SMA adalah batas tertingginya.

Tahun depan, aku dan Yuu-kun akan menjadi anak SMP. Memang masih kurang memuaskan jika dibandingkan dengan anak SMA yang sudah diizinkan bekerja paruh waktu, tapi ruang gerak untuk beraktivitas secara bebas akan semakin luas, dan sedikit banyak kita akan memiliki kebebasan finansial.

Saat ini pun, semua uang saku dan angpao tahun baruku kuinvestasikan untuk mempercantik diri seperti produk perawatan kulit, alat olahraga, dan suplemen. Namun ke depannya, aku bisa lebih fokus menaikkan tingkat kesempurnaanku sebagai gadis cantik korban NTR.

Kedua orang tuaku terkadang memasang wajah khawatir padaku yang tidak menggunakan uang selayaknya anak seusiaku, tapi jika kupikir semua ini demi mempersembahkan pengalaman NTR hakiki kepada Yuu-kun, sama sekali tidak ada rasa lelah yang kurasakan. Sebaliknya, semakin aku menjadi gadis cantik, wajahku justru akan menyunggingkan senyum seringai penuh kepuasan membayangkan betapa dalamnya keputusasaan Yuu-kun nanti.

Nah, dalam kurun waktu hampir sepuluh tahun sejak TK hingga SD, aku rasa tingkat favorability dan ketergantungan Yuu-kun padaku sudah berhasil dinaikkan setinggi-tingginya. Dari titik ini ke depan, tahapannya akan beralih ke peningkatan kualitas diriku sendiri.

Soal akademis, aku punya tabungan ilmu dari kehidupan sebelumnya, jadi aku santai saja. Lagipula, jika perbedaan kemampuan akademis kami terlalu ekstrem, ada kemungkinan aku tidak bisa melanjutkan ke SMA yang sama dengan Yuu-kun. 


Jadi, ketimbang menaikkan prestasi akademisku sendiri, lebih baik aku memprioritaskan dukungan belajar untuk Yuu-kun.

Dunia olahraga biasanya tidak sinkron dengan skill tree kecantikan yang sangat penting bagi seorang gadis NTR, jadi cukup lakukan secukupnya. Lagipula, kalau aku masuk klub olahraga dan takdir mempertemukan ku dengan pelatih mirip gorila, aku takut tidak sanggup menolak daya tarik route NTR tipe kekuatan jarak dekat (pukul 4) di dunia NTR. Klub budaya sepertinya pilihan yang lebih aman.

Lalu, di masa SMP di mana lingkungan sosial baru akan terbentuk, ada satu tugas penting yang harus kulaksanakan. Yaitu menyeleksi kandidat pria/anak ketiga.

Aku sudah menjerat Kurishima Fuyuki-kun—seorang pemuda tampan tipe olahragawan ceria yang memicu rasa rendah diri Yuu-kun—ke dalam taring beracunku sebagai route NTR sahabat.

Seharusnya, Yuu-kun yang merupakan tipe introvert rumahan dan Fuyuki-kun yang merupakan tipe extrovert aktif memiliki potensi besar untuk tidak nyambung. 

Namun, di sinilah sosokku yang merupakan seorang super-pervert dengan obsesi abnormal terhadap NTR berperan. Demi terwujudnya NTR, membuat dua anak laki-laki menjadi akrab bukanlah hal yang sulit bagiku.

Berdiri di antara keduanya, secara perlahan aku menanamkan ketertarikan pada Fuyuki-kun ke dalam diri Yuu-kun melalui game, manga, anime, dan hobi sepak bola kesukaan Fuyuki-kun...

untuk memancing ketertarikannya.

Sebaliknya, Fuyuki-kun adalah tipe yang pada dasarnya menyukai segala jenis hiburan, jadi aku secara diam-diam merekomendasikan karya-karya dari genre subkultur kesukaan Yuu-kun yang sekiranya akan disukai oleh Fuyuki-kun, sehingga mereka berdua bisa memiliki topik pembicaraan yang sama.

Sisanya, jika aku berdiri di tengah dan memperbanyak kesempatan bagi kami bertiga untuk bermain bersama, berkat kepribadian baik hati dari Yuu-kun dan Fuyuki-kun, mereka berdua langsung menjadi akrab dalam sekejap.



Hm-hm, karena Yuu-kun punya sedikit teman, dia pasti sangat senang bisa berteman dengan Fuyuki-kun, kan? Demi saat di mana aku direbut olehnya nanti, kalian berdua harus akur sampai nyaris seperti BL, ya...

Tentu saja, hanya membuat mereka berdua berteman tidak ada artinya, jadi aku juga menjalin keintiman dengan Fuyuki-kun agar dia memiliki keinginan untuk merebutku dariku.

Anak laki-laki seumuran itu pada dasarnya bermental preman yang akan langsung bersimpati jika kamu memamerkan kekuatanmu, jadi aku membuat Fuyuki-kun "sadar" akan perbedaan kekuatan kami di bidang sepak bola yang merupakan lapangannya.

Mempertimbangkan kasus seperti ini, sejak masa kanak-kanak aku tidak pernah absen berlatih agar bisa bergerak di atas rata-rata dalam semua olahraga utama. 

Seorang gadis NTR yang sempurna harus menguasai berbagai macam seni dan keterampilan. Lagipula, jika itu anak seumuran SD, sering kali kemampuan fisik anak perempuan justru lebih tinggi daripada anak laki-laki.

Fuyuki-kun, yang babak belur dihajar olehku di bidang keahliannya sendiri, akhirnya mengakuiku sebagai rival sesuai rencana. Terkadang bersaing ketat sebagai musuh bebuyutan, terkadang menggunakan pesonaku sebagai gadis paling cantik di sekolah untuk membuatnya salah tingkah... Dia dipermainkan di telapak tanganku bagaikan fidget spinner yang berputar-putar, dan saat setahun berlalu sejak pertemuan kami, dia mulai menunjukkan perasaan cintanya kepadaku.

Tentu saja nuraniku — yang jumlahnya bahkan lebih sedikit daripada batu login bonus game gacha — sempat merasa sakit karena mempermainkan kepolosan bocah malang itu, tapi semua ini demi pengalaman NTR hakiki milik Yuu-kun, jadi mau bagaimana lagi, kan?

Nah, meskipun aku sudah mengamankan satu kandidat pria ketiga dengan cara ini, aku adalah wanita yang bisa melakukan manajemen risiko. Cadangan adalah hal yang mutlak diperlukan dalam segala situasi.

Di sekolah dasar, aku sempat menundanya karena tidak menemukan bakat yang melebihi Fuyuki-kun, tapi di sekolah menengah pertama nanti, aku ingin mengamankan kandidat pria ketiga yang baru.

Direbut secara tiba-tiba oleh pria tak dikenal yang baru muncul memang memberikan kenikmatan yang mendalam tersendiri, tapi karena kita memiliki kelonggaran waktu, aku ingin mengamankan banyak sekali kandidat peran pria ketiga yang telah diseleksi dan dipertimbangkan matang-matang. Semakin banyak pria ketiga, tentu semakin baik.

Meskipun aku sendiri yang mengatakannya, ini adalah pola pikir yang mirip seperti di neraka, ya.


Daftar Bab Novel
Memuat daftar chapter...