📢 Announce 📢

Jangan lupa bantu kami dengan donasi
Bocchikano

Chapter 3: Bukankah Pembagian Kelompok Karya Wisata itu Jauh Lebih Berat Daripada Acara Intinya Sendii

September 25, 2026 • Penerjemah: Jerinnn
Ukuran:
Mode:


Beberapa hari telah berlalu sejak saat itu, tetapi suasana di kelas terhadapku masih sama dinginnya seperti sebelumnya.

Meski begitu, teman-teman sekelas juga tidak sampai terang-terangan berbuat kasar kepadaku. Mereka hanya mengabaikanku sepenuhnya dan sesekali membicarakanku di belakang.

Gosip-gosip itu pun sepertinya perlahan mulai berkurang, jadi mungkin tidak lama lagi aku akan kembali menjadi botchi biasa.

……Tapi kenapa rasanya keadaan sama sekali tidak membaik, ya?

Di jam wali kelas, pembicaraan mengenai kegiatan karyawisata juga mulai muncul, membuat suasana hatiku semakin muram.

Bagi seorang botchi, kegiatan belajar di luar sekolah maupun karyawisata adalah wilayah terlarang.

Pada hari sekolah biasa, waktu pelajaran jauh lebih panjang daripada waktu istirahat. Kalau dihitung secara keseluruhan, waktu yang harus dilewati seorang botchi dalam keadaan canggung sebenarnya tidak terlalu lama.

Tapi begitu kegiatan sekolah dilakukan di luar lingkungan sekolah, ceritanya jadi berbeda.

Masalah pertama adalah waktu perjalanan.

Mau menggunakan transportasi umum, bus, ataupun berjalan kaki, selama seluruh kelas bergerak bersama-sama, pada dasarnya itu sama saja seperti jam istirahat.

Orang-orang yang punya teman akan mengobrol sesuka hati. Kalau bepergian dengan bus atau shinkansen, bahkan ada yang bermain game atau kartu remi.

Sementara itu, botchi benar-benar tidak punya kegiatan apa pun.

Yang bisa dilakukan hanyalah menyumpalkan earphone ke telinga dan menunggu waktu berlalu.

Kalau di dalam bus kebetulan duduk di sebelah seseorang, lalu orang itu sampai sengaja menggunakan kursi tambahan hanya demi pindah ke tempat lain, ruang di sebelahku memang jadi lebih lega.

Tapi hatiku terasa sakit.

Maaf ya, gara-gara aku kamu sampai harus pindah.

Sesampainya di lokasi tujuan pun, jadwal acaranya cukup longgar dan separuhnya kurang lebih hanyalah kegiatan bermain yang dibungkus sebagai acara sekolah.

Orang yang benar-benar menimba ilmu saat karyawisata jumlahnya mungkin hanya sedikit.

Apalagi kali ini memang namanya karyawisata, sebuah kegiatan sekolah yang sejelas-jelasnya memang dibuat untuk bersenang-senang.

Aku ingin mengatakan kepada kalian semua, “Tugas utama pelajar itu belajar, jadi belajarlah yang benar!”

Tapi aku sendiri juga tidak benar-benar ingin belajar, jadi aku tidak bisa terlalu keras mengatakannya.

Saat kelas satu SMA di kehidupan sebelumnya, tempat yang kami kunjungi untuk karyawisata sepertinya adalah sebuah pulau terpencil di dalam prefektur ini.

Aku memang tidak mengingatnya, tapi sepertinya aku juga tidak menikmatinya sama sekali.

Bahkan anggota kelompokku pun sama sekali tidak kuingat.

Pada suatu sore, ketika karyawisata yang menyebalkan itu semakin dekat, aku pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku.

Tidak ada pecinta buku yang setelah menyerahkan buku kepada petugas perpustakaan langsung berbalik dan pulang begitu saja.

Bahkan ketika tidak ada buku tertentu yang ingin dipinjam, setidaknya berkeliling melihat-lihat rak buku adalah sifat bawaan seorang pecinta buku.

Hari ini, entah kenapa aku sedang ingin melihat-lihat koleksi novel tunggal yang ada di ruang arsip.

Pintu masuk ruang arsip berada di sudut ruang baca, dan pintu gandanya selalu dibiarkan terbuka.

Jendela ruang arsip kecil, sementara lampu penerangannya juga sudah tua, sehingga bagian dalamnya cukup temaram.

Buku-buku yang disimpan di sana kebanyakan hanyalah novel-novel lama dan majalah. Setiap kali melihat ke dalam, hampir tidak pernah ada tanda-tanda keberadaan orang.

Namun, rak-rak besi yang berjajar dengan jarak sedemikian rapat sampai dua orang saja sulit berpapasan, ditambah buku-buku yang dijejalkan hingga ke tempat yang hanya bisa dijangkau dengan bangku pijakan...

Pemandangan seperti itu dijamin akan membuat siapa pun yang menyukai buku merasa bersemangat, bukan cuma aku.

Aku sendiri sudah menyukai ruangan ini sejak kehidupan sebelumnya.

Aku berjalan mondar-mandir di antara celah-celah rak selama beberapa saat, lalu menarik keluar sebuah buku secara acak karena judulnya menarik perhatianku dan membolak-balik halamannya.

Saat itulah, aku merasakan seseorang datang tepat di sebelahku.

「Ah, maaf.」

Kupikir dia ingin mengambil buku dari rak yang lebih dalam, jadi aku hendak menyingkir dari lorong.

Namun, ketika mengangkat wajah, yang kulihat justru wajah Hoshigasaki yang sudah tidak asing lagi.

「Yahoー.」

「Memangnya nggak apa-apa? Ini di sekolah, lho.」

「Sebelum menyapamu, aku sudah memastikan situasinya. Selain Nanamura, nggak ada orang lain di sini, jadi aman.」

「Kalau begitu, krisis anak muda yang semakin jauh dari buku di negeri ini ternyata memang cukup parah.」

Aku menghela napas kecil, lalu mengembalikan buku ke tempatnya.

Hoshigasaki melihat judul buku tersebut dan mengeluarkan suara kagum kecil.

「Wahー, Nanamura ternyata baca yang beginian juga, ya.」

「Yah, begitulah. Bukan berarti aku cuma membaca light novel.」

「Ahー, benar juga. Nanamura kan menulis light novel. Aku pernah lihat di suatu tempat katanya orang yang menulis light novel juga sebaiknya nggak cuma membaca light novel, tapi membaca berbagai macam karya.」

「Ada benarnya juga, sih. Tapi sebenarnya aku memang suka membaca buku selain light novel dan...」

「...Hm?」

Tunggu sebentar.

Kenapa dia bisa tahu soal itu?!

「Ehm... Hoshigasaki. Barusan kamu bilang apa?」

「Katanya Nanamura menulis light novel, kan?」

Benar.

Dia memang mengatakan itu.

Andai saja tadi aku salah dengar.

「Aku nggak ingat pernah memberitahukan hal itu kepada banyak orang. Bahkan sebenarnya aku cuma pernah mengatakannya kepada satu orang. Jadi, kenapa Hoshigasaki bisa tahu?」

Seperti yang sudah kuduga, Hoshigasaki tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya.

「Ahー, soal itu... aku dengarnya dari orang yang satu itu, sih.」

「Si Hanamitsuji itu, seenaknya saja membocorkan rahasia orang lain...!」

「Eh, tapi Sora-chan nggak bermaksud buruk, kok! Kalau dipikir-pikir, dia malah melakukannya demi kebaikanku...」

Sora-chan yang dimaksud Hoshigasaki tentu saja adalah Hanamitsuji.

Ternyata, sekitar sehari setelah aku dan Hanamitsuji mengobrol di restoran keluarga, Hoshigasaki sendiri yang menghubungi Hanamitsuji dan mereka bertukar kontak.

Belum sampai beberapa minggu berlalu, sekarang mereka sudah menjadi cukup dekat dan sering saling mengirim pesan.

Cara anak-anak yōkya mendekatkan jarak dengan orang lain ini... cepat banget, nggak sih?

Kalau dipikir-pikir, aku-lah yang menjadi perantara hubungan mereka berdua.

Tapi kenapa justru sang perantara tidak punya teman sama sekali?

Ada yang aneh dengan keadaan ini.

Ngomong-ngomong, menurut Hanamitsuji, Hoshigasaki rupanya salah mengira bahwa Hanamitsuji adalah sesama anggota kaum otaku.

Yah, kalau melihatnya dari sudut pandang bahwa aku dan Hanamitsuji tidak berpacaran, mungkin memang bisa sampai pada kesimpulan seperti itu.

...

Tidak, memangnya bisa sampai sejauh itu?

Sepertinya kemampuan Hoshigasaki dalam menarik kesimpulan memang agak bermasalah.

Tapi sudahlah.

「Kenapa demi memikirkan kebaikan Hoshigasaki, rahasiaku malah dibocorkan?!」

「Ehm, begini. Setelah kami beberapa kali bertukar pesan di LEIN dan mulai akrab, Sora-chan tiba-tiba bilang, “Ngomong-ngomong, cuma aku yang tahu rahasia Hoshigasaki-san. Kalau begini rasanya tidak adil, ya.”」

「Yah, benar juga.」

「Terus dia bilang, “Kalau begitu, sebagai gantinya, aku akan memberitahumu rahasia Nanamura-kun. Dengan begini kita impas.” Setelah itu dia menceritakannya kepadaku.」

「Begitu rupanya. Jadi menurutnya itu impas...」

Aku mengangguk paham.

Lalu baru menyadari sesuatu.

「...Eh, tunggu dulu! Sebagai ganti rahasiaku terbongkar, Hanamitsuji malah sama sekali nggak mengalami kerugian apa pun, kan?!」

Kalau ditarik kembali ke awal, apa jangan-jangan sebenarnya akulah yang salah karena menceritakan rahasia Hoshigasaki kepada Hanamitsuji?

Tapi waktu itu memang tidak bisa dihindari.

Itu murni keadaan di luar kendaliku.

Bagaimanapun juga, rahasiaku rupanya sudah dengan mudah digunakan sebagai kartu diplomasi.

Setidaknya gunakan kartu itu di situasi yang sedikit lebih penting, dong.

「Guuuooo...」

Aku meronta-ronta dalam hati karena frustrasi.

Mungkin merasa kasihan melihatku seperti itu, Hoshigasaki kemudian berbicara dengan nada ceria.

「Tapi menurutku keren banget, lho! Kamu bukan cuma membaca novel, tapi juga menulisnya sendiri. Kurasa itu sesuatu yang seharusnya bikin kamu lebih percaya diri!」

「S-sebegitukah?」

「Kalau kamu nggak keberatan, nanti kalau sudah selesai ditulis, boleh aku baca? Aku penasaran juga sebenarnya seperti apa novel yang ditulis Nanamura.」

「Ahー, kalau aku bisa mendapatkan pendapat dari pembaca, itu juga bakal sangat membantuku. Apalagi kamu memang pembaca light novel...」

Aku berpikir sejenak.

「Oke. Kalau yang sedang kutulis sekarang sudah selesai, nanti akan kuberi tahu.」

「Asyik! Terima kasih!」

「O-oh.」

Mendapat ekspektasi seperti itu malah membuatku agak takut.

Tidak, tidak. Percaya pada dirimu sendiri.

Kalau aku sendiri tidak percaya pada karyaku, nanti saat sedang menulis aku malah mulai berpikir, “Ini sebenarnya menarik nggak, sih?” dan akhirnya bukunya tidak akan pernah selesai.

Aku ini sebenarnya anak yang kalau berusaha pasti bisa... Aku cuma belum mengeluarkan kemampuan sebenarnya saja...

Sambil melakukan sugesti diri seperti itu, Hoshigasaki melihat ponselnya dan bergumam,

「Ah.」

「Sebentar lagi waktunya kerja, jadi sampai sini dulu, ya! Sampai ketemu lagi!」

「Begitu, ya. Yah, kerja yang rajinlah, setidaknya jangan sampai dipecat.」

Hoshigasaki melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkan ruang arsip.

Ya ampun...

Aku kembali mengarahkan pandangan ke rak buku, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

Ngomong-ngomong, sebenarnya dia datang ke sini ada urusan apa, ya...?

Aku benar-benar tidak tahu.

Sudahlah. Daripada memikirkan itu, lebih baik memikirkan buku yang mau kupinjam.

Aku kembali melihat-lihat rak buku.

Saat itulah, sebuah bayangan tiba-tiba melintas di lorong.

「Ada apa, Hoshigasa—...ah.」

Kupikir Hoshigasaki kembali lagi.

Ternyata bukan.

Orang yang berdiri tepat di hadapanku adalah ketua kelas, Shiramine.

Dengan rambut hitam lurus dan pembawaan yang tenang, Shiramine benar-benar terlihat menyatu dengan suasana ruang arsip ini.

「Hai, Nanamura-kun.」

Berbeda dari teman-teman sekelas lainnya, Shiramine masih menyapaku seperti biasa.

Yah, kalau dipikir-pikir, teman-teman sekelas yang lain juga sama seperti sebelumnya.

Mereka memang tidak pernah menyapaku.

「Apaan, ternyata Shiramine.」

Shiramine mengembuskan napas kecil lewat hidung, lalu berkacak pinggang sambil menatap wajahku dari bawah.

「“Apaan” itu kasar sekali. Kamu kecewa karena ternyata bukan Hoshigasaki-san?」

Aku sontak menahan napas.

Hei, Hoshigasaki-san. Tadi kamu bilang tidak ada orang lain di ruang arsip ini selain aku, kan?

Mulai dari kejadian di kelas waktu itu sampai sekarang, dia benar-benar ceroboh sekali.

Atribut dokikko itu lucu justru karena kecerobohannya masih bisa dimaklumi.

Kalau terus-terusan melakukan kecerobohan yang fatal, itu bukan lagi dokikko yang menggemaskan.

Itu cuma anak yang benar-benar berbahaya.

...Walaupun mengeluh dalam hati juga tidak akan mengubah apa-apa.

「Kamu melihatnya tadi?」

「Iya. Bukan cuma melihat, aku juga mendengarnya. Maaf soal menguping pembicaraanmu.」

「Jadi memang nggak bisa mengelak lagi, ya.」

「Begitulah. Tapi untuk sementara, soal kamu menulis novel dan semacamnya itu adalah aibmu, kan? Jadi akan kuanggap aku tidak mendengarnya.」

「Kamu malah mengungkitnya terang-terangan, tahu!」

Aku mengacak-acak rambut di belakang kepalaku, lalu melirik ke sekeliling.

Tidak ada orang lain selain kami.

Aku memberi isyarat dengan mata kepada Shiramine agar mengikutiku, lalu kami berjalan semakin jauh ke sudut ruang arsip.

Kami berdiri berdampingan di dekat jendela, kemudian saling berhadapan.

Dengan seragam yang dikenakannya begitu rapi, Shiramine memancarkan suasana yang lebih tegas daripada biasanya.

「Soal kejadian antara Hoshigasaki-san dan Sakado-san beberapa hari lalu, aku juga sudah mendengarnya dari temanku. Kebetulan hari itu aku sedang tidak berada di kelas karena ada urusan sebagai ketua kelas.」

Kalau dipikir-pikir, memang saat kejadian itu aku tidak melihat Shiramine di kelas.

Sibuk sekali, rupanya.

「Kalau menggabungkan cerita yang kudengar dari temanku, buku yang ditemukan di dalam ransel Hoshigasaki-san itu katanya memang sengaja kamu masukkan sendiri... Tapi kalau melihat percakapan kalian barusan, sepertinya Hoshigasaki-san sama sekali tidak memiliki perasaan buruk terhadapmu.」

「Yah, mungkin saja.」

「Ini memang hanya dugaanku, tapi... bukankah sebenarnya kamu sedang melindungi Hoshigasaki-san? Kamu sengaja mengambil peran sebagai orang jahat agar masalahnya bisa selesai.」

「Jangan terlalu melebih-lebihkan aku cuma karena nilai ujian tengah semesterku bagus.」

「Aku tidak mengatakan itu berdasarkan nilai ujianmu.」

「Menjadi pahlawan itu terlalu berat bagi seorang botchi biasa.」

「Memang, kalau dipikir-pikir, cara penyelesaianmu tadi juga tidak bisa dibilang cukup cerdas untuk disebut sebagai tindakan seorang pahlawan.」

「Berisik ka—...sudahlah, lupakan.」

Aku masih mencoba mengelak, tetapi Shiramine sengaja menghela napas panjang di hadapanku.

「Haaah... Kamu ini benar-benar keras kepala, ya. Tapi sudahlah. Kalau memang tidak ingin mengatakannya, aku tidak akan mengorek-ngorek lebih jauh.」

「……Maaf. Terima kasih sudah mengerti.」

Shiramine tersenyum lembut, lalu meletakkan tangan di dagunya sambil mengambil pose seperti sedang berpikir.

「Aku jadi tahu kalau sebenarnya kamu ini orang baik.」

「Cara ngomongmu begitu malah bikin malu, jadi berhenti, dong.」

「Tapi kalau melihat keadaan sekarang, menurutku kamu terlalu banyak menanggung kerugian. Sampai sekarang para siswi di kelas masih menganggapmu menjijikkan, sementara para siswa laki-laki juga tidak punya kesan yang baik terhadapmu.」

「Mau bagaimana lagi. Salahku sendiri karena cuma bisa menyelesaikannya dengan cara seperti itu.」

Kalau aku adalah seorang riaju yang punya banyak pengalaman hidup, mungkin masalah ini bisa kuselesaikan dengan lebih baik dan membuat semuanya berakhir dengan damai, alih-alih menghasilkan penyelesaian berantakan seperti tadi.

Tapi sayangnya, pengalaman hidupku dalam urusan hubungan antarmanusia adalah nol besar.

Bisa dibilang, itulah kemampuan maksimal yang kumiliki.

Atau lebih tepatnya, untuk ukuran diriku, aku sudah berusaha sebaik mungkin.

Terlepas dari hasil akhirnya, aku ingin usahaku dihargai.

Bukankah katanya yang penting adalah ikut berpartisipasi?

「Tapi menurutku, sikap pasrah seperti itu agak mengkhawatirkan untuk anak kelas satu SMA. Bagaimana? Sebagai ketua kelas, setidaknya aku bisa membantu meluruskan kesalahpahaman semua orang.」

「Nggak usah, terima kasih. Orang tuaku selalu bilang, bahkan dengan teman sendiri pun sebaiknya jangan saling meminjam atau meminjamkan sesuatu.」

「Kurasa itu maksudnya soal uang, deh.」

「Kalau kamu benar-benar peduli kepadaku, tolong jangan ceritakan kepada siapa pun soal yang dibicarakan Hoshigasaki tadi.」

「Soal itu, dari awal memang aku sudah berniat begitu.」

Shiramine mengangkat bahunya dengan ekspresi pasrah, lalu menghela napas.

「Aku sudah mengerti pendirianmu. Tapi ingat, aku tahu seperti apa dirimu sebenarnya. Kalau kamu mengalami kesulitan, jangan ragu untuk mengatakannya kepadaku. Bagaimanapun juga, aku ini ketua kelas.」

「Dimengerti, Ketua.」

「Bagus. ......Oh iya, kamu ternyata belum masuk grup LEIN kelas, ya?」

「Aku bahkan tidak tahu kalau grup seperti itu ada.」

「Ahaha, yah, mau bagaimana lagi. Kalau begitu nanti akan kutambahkan ke grup—...eh, tunggu. Kalau melihat situasimu sekarang, mungkin malah akan jadi masalah. Kalau begitu, secara pribadi saja. Mau bertukar kontak denganku?」

Waduh.

Hanamitsuji, Hoshigasaki, lalu sekarang Shiramine.

Sebenarnya apa-apaan gelombang pertukaran kontak yang terjadi belakangan ini?

Jangan-jangan dalam ramalan zodiak pagi tadi, kontak Nanamura dijadikan barang pembawa keberuntungan?

Aku sendiri sekarang sudah mulai terbiasa bertukar kontak, jadi kontak Shiramine pun berhasil kusimpan dengan mudah tanpa hambatan.

Ngomong-ngomong, nama depan Shiramine itu... Mashiro, ya?

「Kalau begitu, sampai di sini dulu untuk hari ini.」

「O-oh...」

「Sampai ketemu besok di sekolah.」

Senyum kecil Shiramine tampak begitu jelas, seolah-olah wajahnya muncul dengan sendirinya di tengah ruang arsip yang remang-remang itu.

◆

Akhir pekan setelah aku bertukar kontak LEIN dengan Shiramine, aku merapikan persiapan untuk pergi keluar, lalu turun ke ruang keluarga.

Kedua orang tuaku sedang pergi berdua untuk menonton pertunjukan teater, jadi rumah sedang kosong. Baguslah kalau hubungan suami istri mereka harmonis, tetapi melihat mereka bermesraan terang-terangan saat bepergian bersama agak membuatku malu.

Saat mencari-cari Satsuki, aku menemukannya sedang rebahan dengan lemas di atas sofa sambil menggaruk-garuk perut.

Itu benar-benar bukan wibawa yang pantas ditunjukkan oleh seorang siswi SMP.

Anak ini lama-lama semakin mirip Ayah, ya... Abang jadi khawatir.

「Hei, Satsuki. Aku mau pergi sekarang. Nanti sore tolong jemurkan cucian, ya.」

「Eeh, males banget... Eh, tunggu. Abang, kenapa pakaianmu seperti itu?」

Hari ini aku mengenakan skinny jeans hitam dan kaus, lalu menambahkan jaket tipis yang baru saja kubeli beberapa waktu lalu.

Ini adalah gaya berpakaian yang dirancang oleh diriku saat kelas tiga SMA di kehidupan sebelumnya, dengan tujuan mencapai puncak The Ultimate Plain Style—gaya yang benar-benar tidak memiliki ciri khas sama sekali.

Kombinasi pakaian yang sepertinya akan dikenakan manekin di Uniqlo.

Atau lebih tepatnya, memang hampir persis seperti itu.

「Abang punya baju seperti itu?」

「Baru beli, tahu. Aku kan sudah SMA.」

「Heeh... Tumben banget Abang mengeluarkan uang untuk sesuatu selain light novel. Sebagai adik, aku jadi merasa terharu.」

「Kamu ini orang tua, hah?」

Entah apa yang begitu lucu dari penampilanku, Satsuki sampai sengaja bangkit dari sofa dan memperhatikanku dari atas sampai bawah.

Ditatap seperti itu malah bikin malu, tahu.

「Yah, memang agak bau om-om sih. Tapi wajah Abang memang kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya, jadi mungkin lumayan cocok juga.」

Satsuki mengatakannya begitu blak-blakan.

Tidak, tidak.

Tentu saja aku tahu Satsuki sama sekali tidak bermaksud jahat.

Dia cuma sedikit kurang pandai memilih kata.

Aku berdeham pelan.

「Ehem. Sebagai senior dalam kehidupan, Abang akan mengajarkan sesuatu yang bagus kepadamu. Dalam situasi seperti itu, jangan bilang 'bau om-om' atau 'muka tua'. Seharusnya kamu bilang, 'Cocok dengan wajah dewasamu.' Dengan begitu, orang-orang tak bersalah seperti Abang tidak perlu terluka.」

「Memang sih, Abang ngomongnya sok seperti senior dalam kehidupan. Tapi Abang nggak punya teman, pengalaman hidupnya juga kelihatan minim, jadi secara keseluruhan nasihat Abang sama sekali nggak punya kredibilitas.」

「Sial, kenapa bagian yang sensitif itu bisa kamu tembak tepat sasaran begini?!」

Aneh banget.

Jangan-jangan Satsuki sebenarnya punya niat jahat yang besar, ya?

Jangan-jangan dia memang benar-benar membenciku?

Cuma gara-gara kemarin aku makan es krim di freezer tanpa izin?

Lagi pula, aneh juga seorang adik bisa tahu begitu banyak tentang lingkaran pertemanan kakaknya yang terpaut dua tingkat kelas.

Jangan-jangan cerita tentang wawancara tiga pihak saat semester dua kelas tiga SMP dulu juga bocor dari Ibu?

「Sepertinya Hodaka-kun masih belum bisa membaur dengan kelasnya...」

Hotline ibu dan anak itu benar-benar mengerikan.

Lagi pula, kalau sampai semester dua kelas tiga SMP masih belum bisa membaur dengan kelas sendiri, bukankah itu berarti sudah tamat?

「Lagian, kamu bilang aku nggak punya teman, padahal akhir-akhir ini nggak begitu, lho. Sejak masuk SMA, jumlah kontak LEIN-ku sudah bertambah tiga orang, tahu.」

「Abang, tolong jangan menyebutnya seolah-olah itu sebuah prestasi besar, deh. Saking menyedihkannya, aku sampai ingin menangis.」

Satsuki benar-benar membuat matanya berkaca-kaca.

Sepertinya aku baru saja salah memilih opsi dialog.

Sampai dikasihani dengan serius oleh adik sendiri begini, wibawa seorang abang benar-benar berada di ambang kehancuran.

Atau malah sebenarnya sudah lama hancur.

「Ngomong-ngomong, hari ini mau ke mana? Perpustakaan? Toko buku? Minimarket?」

「Kebetulan sekali semua tempat yang kamu sebutkan cuma tempat yang bisa didatangi sendirian, ya? Jangan-jangan kamu berpikir, 'Mana mungkin Abang pergi keluar bersama seseorang,' kan?」

「Justru kalau aku tidak berpikir begitu, aku yang bakal mempertanyakan kewarasan orang yang berpikir sebaliknya.」

「Kamu meremehkan Abang. Hari ini aku ada janji bertemu dengan seorang siswi sekelas di restoran keluarga.」

Aku menjawab sambil membusungkan dada seolah ingin berkata, Sudah takjub belum?

Namun, Satsuki malah mendengus mengejek.

I-ini... aku baru saja ditertawakan oleh adikku sendiri...!

「Hah, Abang ini, ya. Kalau mau bohong, setidaknya buat kebohongan yang sedikit lebih masuk akal.」

「Ini benar-benar terjadi, tahu. Coba lihat mataku.」

Aku menatap wajah Satsuki lekat-lekat.

Sepertinya keseriusanku akhirnya tersampaikan kepadanya.

「Oh begitu. Jadi benar-benar pergi ke restoran keluarga karena mengincar cewek, ya.」

「Tolong jangan menggunakan kata 'mengincar' itu.」

「Sampai menguntitnya ke tempat kerja juga... Jujur saja, itu benar-benar bikin ilfil.」

「Bukan begitu, bego!」

「Jangan bikin Ibu menangis, ya. Tapi tetap saja, apa sebaiknya sekarang kita latihan untuk wawancara TV? Jawabannya, 'Saya sudah menduga cepat atau lambat dia akan melakukan sesuatu seperti itu.'」

「Jangan latihan hal seperti itu! Setidaknya latihanlah mengatakan, 'Di rumah, dia adalah abang yang baik.'」

「Ternyata kalimat itu memang perlu dilatih, ya...」

「Bercandanya cukup. Aku ke sana bukan untuk mengintip dia saat bekerja. Aku benar-benar mau bertemu dengannya secara normal.」

「Dibayar berapa?」

「Ya gratis, lah! Eh, tapi cara ngomong 'gratis' itu malah terdengar aneh juga! Kamu sebenarnya menganggap Abang ini orang macam apa, sih?! Serius...」

Karena terlalu banyak membela diri, aku mulai terengah-engah sampai harus bernapas dengan bahu.

Kenapa aku sudah secapek ini bahkan sebelum keluar rumah?

Melihatku terus bersikeras sampai sejauh itu, Satsuki akhirnya tampak sedikit percaya.

Dia melipat tangan di dada dan terdiam sejenak dengan ekspresi hmm.

「Hmm, kalau kamu sampai ngotot begitu, sepertinya kamu memang nggak bohong, sih. Tadinya aku sempat berpikir Abang sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk dipameri, sampai akhirnya mulai berbohong kepada adik sendiri.」

「Sepertinya kita memang perlu bicara serius berdua nanti!」

「Ugem-ugem, jangan marah begitu, dong. Aku ini, bagaimanapun juga, sebagai keluarga tentu senang kalau Abang bisa bahagia, tahu? Jadi, janji dulu sama aku.」

「Janji apa?」

「Pertama, kalau ada wanita cantik yang mengajak Abang masuk agama tertentu, jangan ikut. Kalau ada yang mencoba menjual guci atau lukisan mahal, langsung kabur. Dan jangan pernah menjadikan anggota keluarga sebagai penjamin utang tanpa izin.」

「Kamu ini benar-benar meremehkan Abang, ya.」

Satsuki menertawakan protesku dengan suara ahaha, lalu melambaikan tangan dengan santai.

「Yah, pokoknya selama Abang nggak sedang ditipu seseorang, ya sudah bagus. Abang juga mulai kelihatan sedikit lebih manusiawi.」

「Aku ini android yang baru belajar merasakan emosi, hah?!」

「Haah...」

Aku menghela napas panjang, lalu membalikkan badan.

Kalau tidak segera berangkat, waktunya bakal benar-benar gawat.

Hari ini aku sudah berjanji akan membiarkan Hoshigasaki membaca novel yang kutulis.

◆

Beberapa puluh menit kemudian, aku sudah tiba di tempat janjian dengan Hoshigasaki—yang tidak lain adalah restoran keluarga langganan kami.

Aku benar-benar sudah menjadi pelanggan tetap di sini.

Setiap kali berkumpul di restoran keluarga, uang di dompetku perlahan-lahan pasti berkurang, tetapi mau bagaimana lagi.

Anggap saja ini adalah salah satu harga yang harus dibayar untuk membangun hubungan antarmanusia.

Yah, tetap saja hidup sebagai botchi memang yang terbaik!

「Jadi, kenapa kamu ada di sini?」

「Memangnya ada masalah?」

Orang yang menjawab pertanyaanku dengan santai adalah Hanamitsuji.

Wajahnya memang bagus, jadi pakaian apa pun pasti cocok dengannya. Kaus pas badan yang dipadukan dengan cami dress juga terlihat sangat cocok.

...Tapi tunggu sebentar.

Memang benar aku sudah berjanji kepada Hoshigasaki untuk memperlihatkan novelku.

Tapi aku tidak pernah membuat janji seperti itu denganmu, kan?

Kenapa kamu bisa ada di sini?

「Tapi aku agak tidak menyangka, sih. Mengingat kamu itu Nanamura-kun, aku kira kamu bakal datang dengan bandana di kepala dan sarung tangan tanpa jari atau semacamnya.」

「Seberapa jadul otaku Akihabara yang kamu bayangkan? Itu mah sudah level cosplay, tahu.」

Katanya sekarang Akihabara sudah jauh lebih mirip kota biasa.

Walaupun aku sendiri belum pernah ke sana dan cuma tahu dari informasi yang kudengar di internet.

「Sudahlah, lupakan soal pakaianku. Kenapa Hanamitsuji ada di sini?」

Saat kutanya dengan nada mendesak, Hanamitsuji menghela napas kecil, lalu menatap Hoshigasaki yang duduk di sebelahnya.

Hoshigasaki mengenakan blus pastel dan rok lipit.

Melihatnya mengenakan pakaian yang begitu feminin, aku dengan jujur berpikir bahwa gaya seperti itu memang cocok untuknya.

Yah, wajar saja.

Dia memang perempuan.

Tapi manusia memang bisa terlihat sangat berbeda hanya karena pakaian yang dikenakannya.

「Aku dipanggil Hoshigasaki-san. Katanya ada sesuatu yang menarik.」

「Jadi aku cuma dianggap bahan lelucon, begitu?」

「Soalnya setelah aku datang ke sini, ternyata kamu malah menyuruhku membaca novel buatanmu. Benar-benar bikin kecewa. Ngomong-ngomong, apa aku bisa menuntut ganti rugi dari Nanamura-kun?」

「Jangan menuntut ganti rugi atas urusan yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku!」

「Kalau menuntut ganti rugi dari Hoshigasaki-san, rasanya kasihan, kan.」

「Menuntut ganti rugi dariku juga kasihan, tahu! Tolong, setidaknya kasihanilah aku!」

Hanamitsuji, kamu mungkin merasa sedang berbicara dengan samsak tinju, tapi sayangnya aku ini manusia berdarah dan berdaging, tahu. Jangan lupa, ya?

「Eeh, nggak apa-apa, dong! Sora-chan juga penasaran, kan? Novel yang ditulis teman sekelas kita, lho! Bukankah itu keren?」

Hoshigasaki tiba-tiba merapatkan tubuhnya ke arah Hanamitsuji yang memasang ekspresi masam.

Hanamitsuji memang menghela napas seolah-olah merasa kerepotan, tetapi suasananya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia benar-benar merasa terganggu.

Aneh.

Hanamitsuji terlalu baik kepada Hoshigasaki.

Padahal kepadaku dia begitu pedas!

Sebenarnya, di titik mana perbedaan perlakuan antara aku dan Hoshigasaki mulai terjadi, sih...?

Kalau dipikir-pikir, melihat mereka berdua bersama seperti ini memang baru pertama kali sejak insiden Hoshigasaki waktu itu.

Aku memang sempat mendengar bahwa mereka sudah menjadi teman, tetapi tidak menyangka hubungan mereka akan sedekat ini.

Kecepatan anak-anak yōkya dalam memperpendek jarak dengan orang lain benar-benar keterlaluan.

「Yah, kalau bilang aku sama sekali tidak penasaran, mungkin itu juga bohong. Tapi kemungkinan besar isinya biasa saja dan akhirnya cuma membuat suasana jadi canggung.」

「Menurutku nggak begitu, kok.」

「Hoshigasaki-san kelihatannya terlalu percaya kepada Nanamura-kun, jadi sebaiknya kamu mengubah pandanganmu sedikit. Sekilas dia mungkin terlihat seperti siswa SMA biasa, tetapi sebenarnya Nanamura-kun itu seorang botchi.」

「Jangan terus-terusan menjelek-jelekkan aku. Dilihat sekilas ataupun dua kali, aku ini tetap siswa SMA biasa, tahu!」

Kalau sampai organisasi hak asasi manusia kaum botchi menyerangku, jangan salahkan aku...

Namun, kalau dipikir-pikir, bukankah kaum botchi yang sampai membentuk organisasi berarti sudah tidak bisa disebut botchi lagi?

Paradoks organisasi botchi.

「Sudahlah. Kalau kalian punya keluhan, sampaikan saja setelah membacanya.」

Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan dua bendel kertas yang dijepit dengan double clip.

Salah satunya sebenarnya hanya cadangan, tetapi karena kebetulan ada dua orang, akhirnya kubagikan satu kepada masing-masing.

「Wah, jumlah halamannya lumayan banyak juga, ya.」

「Iya. Sebagian sebenarnya sudah kutulis sejak sebelumnya, lalu dalam beberapa hari terakhir langsung kukebut sampai selesai. Jadi, tolong maklumi kalau ada sedikit salah ketik atau typo.」

Novel yang kubawa kali ini panjangnya sekitar empat puluh ribu karakter.

Jumlah itu masih belum cukup untuk ukuran satu buku bunko dan lebih cocok disebut novel menengah. Tapi menyuruh mereka tiba-tiba membaca satu buku bunko penuh juga jelas terlalu keterlaluan.

Bukan berarti aku menyerah karena menulis satu novel panjang itu terlalu melelahkan atau semacamnya, ya.

Sumpah, benar-benar bukan karena itu.

Ngomong-ngomong, isi ceritanya adalah komedi romantis sekolah dengan banyak heroine imut.

Belakangan ini, komedi romantis dengan pasangan satu lawan satu memang sedang populer, tetapi secara pribadi aku lebih suka kalau jumlah heroine-nya banyak.

Semakin banyak karakter, semakin banyak tipe kepribadian yang bisa dinikmati. Lebih menguntungkan juga, kan? (?)

Sebenarnya, aku juga sudah punya gambaran samar tentang perkembangan ceritanya nanti, dengan rencana agar masing-masing heroine mendapatkan momen terbaik mereka sendiri.

「Aku nggak tahu kalian berdua butuh waktu berapa lama untuk membacanya, tapi santai saja dan nikmati.」

「Begitu, ya. Kalau bahasa Jepangnya masih bisa dipahami, kurasa satu jam sudah cukup untuk membacanya.」

「Kalau aku mungkin butuh sedikit lebih lama.」

Aku mengangguk mantap.

「Baiklah.」

Lalu aku pergi mengambil tiga minuman dari area drink bar.

Anggap saja ini bentuk pelayanan kecil untuk dua orang yang bersedia meluangkan waktu membaca tulisanku.

Ini sama sekali bukan karena tubuhku bergerak sendiri sebelum sempat disuruh Hanamitsuji, ya.

Aku kembali dan duduk di hadapan mereka berdua, lalu pura-pura memainkan ponsel sambil sesekali melirik ke arah mereka.

Dan saat itulah aku menyadarinya.

Membiarkan orang membaca novel buatanku tepat di depan mataku ternyata memalukan setengah mati, ya!

Ini sudah seperti hukuman mempermalukan diri sendiri!

Tidak, tidak.

Aku harus percaya diri.

Setelah selesai membaca, mereka berdua pasti akan terkesan dengan kemampuan menulisku yang jauh melampaui siswa SMA biasa, kemampuan menyusun struktur cerita, humor penuh kecerdikan, dan berbagai macam hal lainnya.

Mungkin mereka bahkan akan meminta tanda tanganku.

Benar! Pasti begitu!

Aku ini mungkin memang jago menulis novel!

Merasa puas dengan imajinasi—atau lebih tepatnya, khayalanku sendiri, aku meneguk kola dari gelas dengan santai.

Jadi begini rasanya anggur kemenangan.

Walaupun cuma kola biasa.

◆

Tepat satu jam lima belas menit kemudian.

「Selesaiー.」

Hoshigasaki mengangkat pandangannya dari bendel kertas sambil mengatakan itu.

Sementara Hanamitsuji sepertinya sudah selesai membaca sekitar empat puluh menit yang lalu dan sekarang sedang santai menikmati teh oolongnya.

Ooh, akhirnya tiba juga saatnya.

Bagaimana, ya?

Jangan-jangan mereka berdua sudah terpikat oleh bakatku sampai-sampai hubungan kami tidak akan pernah bisa kembali seperti sebelumnya?

Bagaimana kalau mulai sekarang mereka menggunakan bahasa formal kepadaku sebagai bentuk penghormatan kepada diriku yang sebentar lagi pasti akan menjadi penulis terkenal?

Fufufu... kalau dibayangkan, rasanya malah geli sendiri.

Hei, kalian berdua, santai saja. Jangan terlalu formal begitu.

Aku ini, ya, tipe orang yang tidak terlalu memedulikan perbedaan status dan semacamnya.

Kalau bukuku nanti terbit, akan kutandatangani untuk kalian.

Bahkan mungkin akan kutulis ucapan terima kasih untuk kalian berdua di bagian kata penutup.

Saat aku sedang melayang-layang dalam lamunanku sendiri, Hanamitsuji meletakkan gelasnya dengan bunyi koton.

「Sebelumnya, ada satu hal yang ingin kutanyakan.」

「Apa? Kalau ada pertanyaan mengenai latar belakang penulisannya atau semacamnya, tanyakan saja. Mulai dari buku yang menjadi inspirasiku sampai asal-usul subjudulnya...」

「Bukan itu. Yang ingin kutanyakan, Nanamura-kun benar-benar ingin mendengar kesan jujur dari kami berdua?」

Ekspresinya sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.

Justru ada sedikit rasa canggung, seolah-olah dia sendiri sebenarnya enggan mengatakannya.

Kenapa?

「Yah, tentu saja. Kalian sudah repot-repot membacanya. Kurasa aku memang punya kewajiban untuk mendengar pendapat kalian, sih...」

「Begitu, ya. Kalau begitu, izinkan aku mengatakannya.」

Hanamitsuji berhenti sejenak.

Lalu dia mengembuskan napas kecil.

「Haah...」

「Kalau mau dikatakan secara singkat, ceritanya membosankan. Benar-benar membuang-buang waktu.」

「Apa...!!」

「Aku mengerti maksud dari apa yang ditulis, tetapi lalu apa? Hanya itu kesan yang kudapatkan. Kalau ini sekadar buku harian, mungkin masih tidak masalah. Tapi sebagai sebuah novel, alurnya terlalu datar dan sama sekali tidak memiliki naik-turun yang menarik. Apa sebenarnya yang harus dinikmati dari cerita ini?」

「I-itu... genre komedi romantis sekolah memang pada dasarnya cenderung tidak memiliki banyak konflik besar, sih... Lagipula, mereka juga tidak sedang berusaha menyelamatkan dunia atau semacamnya...」

「Kalau ini manga, mungkin masih bisa dibaca karena ada gambar para karakternya. Tapi kalau novel seperti ini, rasanya bakal berat. Dialog maupun narasi deskriptifnya sama-sama tidak menarik.」

「U, ughhhhh...!」

「Selain itu, kalau dikonversikan menjadi buku bunko, kurasa novel ini paling banyak hanya sekitar seratus halaman. Tapi untuk cerita setipis itu, jumlah karakter yang muncul terlalu banyak. Belum lagi hampir semua nama karakternya memiliki cara baca yang tidak biasa, jadi malas rasanya menghafalnya.」

Hanamitsuji melanjutkan kritiknya tanpa ampun.

「Aku juga merasa terganggu karena ada beberapa karakter yang muncul sekadar untuk berkenalan, lalu setelah itu langsung menghilang begitu saja. Sebenarnya apa gunanya mereka ada di dalam cerita?」

「Eh, soal karakter-karakter itu, sebenarnya rencananya akan dibahas lebih lanjut di sekuelnya nanti—」

「Kita hanya membaca jilid ini. Jadi, bagi kami, keberadaan mereka tetap tidak ada artinya. Lagipula, di bagian akhir tertulis 『Tamat』.」

「Sial! Seharusnya tadi kutulis 『Bersambung』!」

「Bukannya itu masalah utamanya, kan?! Lagipula, aku sama sekali tidak berniat membaca kelanjutannya. Membosankan.」

「Gunununu...」

Aku memegangi kepala sambil menggeliat kesakitan.

Melihatku yang sudah benar-benar terpukul, Hanamitsuji mungkin merasa sedikit kasihan. Dia menepuk pundakku pelan dengan gerakan menenangkan.

「Tentu saja, mungkin ini hanya karena aku sendiri tidak cukup memahami genre seperti ini. Jadi, kamu tidak perlu terlalu memikirkannya.」

「J-jadi kamu sedang mencoba menghiburku? Padahal aku ini cuma bisa menghasilkan tulisan sampah yang sama sekali tidak berguna...」

Anak ini ternyata baik juga, ya...

Di sebelahnya, Hoshigasaki bergumam sambil mengangguk-angguk.

「Begitu, ya. Berarti Hanamitsuji-san ternyata lebih suka genre fantasi...」

Sepertinya Hoshigasaki salah memahami Hanamitsuji lagi.

Dan yang bersangkutan sendiri sepertinya sama sekali tidak menyadarinya.

Aku menatap Hanamitsuji dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Hanamitsuji membalas tatapanku dengan senyum lembut.

「Yah, bahkan kalau aku benar-benar memahami genre ini pun, kurasa aku tetap akan menganggapnya membosankan.」



「Jadi kamu cuma mau menimpali dengan serangan susulan, begitu?!」

「Baiklah, sekarang giliran Hoshigasaki-san.」

Setelah mengatakan itu, Hanamitsuji menyerahkan giliran kepada Hoshigasaki.

Aku langsung menoleh kepadanya.

Hoshigasaki memasang senyum canggung dengan ekspresi seperti orang yang sedang kebingungan.

「A-aku juga harus mengatakannya, ya?」

「Tolong perlakukan aku dengan lembut...」

Aku sempat mengatakannya, tetapi langsung menggeleng.

「Nggak, itu nggak boleh. Sampaikan saja apa yang benar-benar kamu pikirkan. Aku sudah siap mental.」

Benar.

Aku adalah seorang pria yang bercita-cita menjadi novelis profesional.

Sekalipun aku menerima ulasan pedas, selama itu adalah pendapat dari seseorang yang benar-benar membaca karyaku, aku harus menerimanya.

Aku sedikit menegangkan otot perut sambil menunggu kata-kata keluar dari mulut Hoshigasaki.

「Eum... begitulah...」

Dia sempat bergumam aah dan uuh sambil kebingungan, sebelum akhirnya membuka mulut.

「Ngomong-ngomong, Nanamura, kamu sudah baca komedi romantis dari GA Bunko yang terbit bulan lalu belum?」

「Jangan mengalihkan pembicaraan secara terang-terangan begitu!! Bahkan cara mengalihkannya juga asal banget!!」

「Eh, bukan berarti aku bermaksud mengalihkan pembicaraan, sih... Oh iya, aku mau ambil minum sebentar.」

「Gelasmu masih terisi lebih dari setengah!」

Setelah ditegur, Hoshigasaki buru-buru memasukkan sedotan ke mulutnya dan menghabiskan minumannya.

Telat banget reaksinya.

Kalau mau mengalihkan pembicaraan, setidaknya lakukan dengan sedikit lebih halus.

Ini terlalu kentara sampai-sampai seolah-olah dia sedang berusaha menyampaikan, “Ceritanya membosankan,” secara tidak langsung.

Ah, bukan seolah-olah lagi, deng.

Dia memang sedang menyampaikannya.

「J-jadi... aku mau ambil minum...」

Hanamitsuji mencengkeram pundak Hoshigasaki yang hendak berdiri dan memaksanya kembali duduk.

「Tidak boleh begitu, Hoshigasaki-san. Kamu sudah repot-repot menahan rasa tersiksa sampai membaca cerita ini hingga selesai, jadi keluhanmu harus disampaikan dengan tuntas.」

「M-menahan rasa tersiksa sampai segitunya juga nggak...」

「Nanamura-kun benar-benar bercita-cita menjadi novelis, kan? Menyampaikan pendapat secara jujur justru merupakan bentuk dukungan untuk membantu mewujudkan impiannya.」

Apa yang dia katakan memang tidak salah.

Sekilas bahkan terdengar seperti dia sedang memikirkan kepentinganku.

Tapi sebenarnya kamu cuma ingin menjelek-jelekkanku, kan?!

Sorot matamu memancarkan niat jahat dengan begitu jelas!

「Hmm... gimana, ya... Kalau ditanya apakah ceritanya menarik atau tidak, jujur saja... menurutku kurang menarik, sih.」

「Sudah kuduga... Yah, maklum saja. Soalnya ini ditulis olehku, sang mesin pembuat tulisan sampah yang berjalan...」

「Kenapa tiba-tiba merendahkan diri sendiri begitu?! Hei, kamu benar-benar nggak apa-apa?」

「T-tidak apa-apa. Lanjutkan.」

「Baiklah... Eum, begini. Memang tadi rasanya membosankan, tapi setidaknya aku bisa memahami isi tulisannya dengan baik. Dan menurutku hebat juga kamu bisa menyelesaikannya sampai halaman terakhir. Aku sendiri bahkan belum pernah menulis sebanyak ini untuk tugas laporan buku.」

「Ya jelas. Kalau tugas laporan buku sampai ditulis sebanyak seratus halaman ukuran buku saku, gurumu juga pasti kebingungan.」

Hanamitsuji menyela dengan tenang.

Namun, Hoshigasaki tetap membuka mulut dengan ekspresi sungguh-sungguh.

「Selain itu, iya! Menurutku hebat banget kamu bisa menulis sebanyak ini padahal baru kelas satu SMA!」

「K-kelas satu SMA...」

Nah.

Sekarang aku benar-benar paham bahwa Hoshigasaki sama sekali tidak punya niat buruk.

Aku benar-benar paham.

Masalahnya adalah...

Aku sudah pernah menjalani tiga tahun masa SMA sekali sebelumnya.

Kalau dihitung berdasarkan usia mental, diriku sekarang sebenarnya sudah sembilan belas tahun.

Justru karena Hoshigasaki tidak bermaksud jahat, serangannya terasa berkali-kali lebih menyakitkan!

「Pffft!! ...Fuh, fufu... kelas satu SMA, ya. Benar juga. Dia memang masih kelas satu SMA... Uh...」

Di sebelah Hoshigasaki, Hanamitsuji mati-matian menahan tawanya.

Sekalian saja bunuh aku.

Melihat reaksi kami berdua, Hoshigasaki mulai kebingungan dan gelagapan.

「A-ada apa? Aku tadi mengatakan sesuatu yang salah?」

「Tidak, Hoshigasaki-san. Tidak ada yang salah sama sekali. Itu kan memang fakta. Benar, kan, Nanamura-kun? Novel ini, untuk ukuran siswa kelas satu SMA... lumayan hebat. Kamu menulisnya dengan cukup baik... Fufu.」

Hanamitsuji menutup mulutnya untuk menahan tawa sambil melirikku dari sudut mata.

Dia benar-benar sengaja mengorek titik yang paling menyakitkan bagiku!

「Terima kasih banyak, Hoshigasaki...」

Aku menoleh ke arah Hanamitsuji.

「Kamu, Hanamitsuji... ingat ini baik-baik. Suatu hari nanti akan kubalas...!」

「T-tunggu! Jangan-jangan aku memang tadi mengatakan sesuatu yang salah, kan?!」

Mengabaikan Hoshigasaki yang sendirian tidak memahami sumber masalahnya, aku terus menatap tajam ke arah Hanamitsuji.

Namun, melihatnya tertawa dengan begitu lepas dan tampak sangat menikmatinya, perlahan-lahan semangatku untuk memprotes pun ikut mengendur.

Lagipula, kalau mau mencari siapa yang salah...

Yang salah memang novel buatanku yang membosankan.

Menyedihkan, memang.

Setelah puas tertawa, Hanamitsuji tiba-tiba bertanya seolah baru teringat sesuatu.

「Aku jadi penasaran. Sebenarnya, kenapa Nanamura-kun menulis novel?」

Awalnya kupikir dia sedang menyindirku dengan maksud seperti, “Tulisanmu saja jelek, tapi kenapa masih sok menulis novel?”

Namun, nadanya sama sekali tidak terdengar mengejek.

Sepertinya dia benar-benar bertanya karena penasaran.

Mendengar pertanyaan itu, entah kenapa Hoshigasaki yang duduk di hadapanku malah berdiri.

「Alasan seseorang menciptakan karya itu sudah jelas, Sora-chan! Di dalam hati seseorang ada sesuatu yang membara, dan ketika perasaan itu sudah tidak bisa lagi ditahan, saat itulah manusia menuangkannya ke dalam sebuah karya! Benar, kan, Nanamura?!」

Hoshigasaki mengepalkan tangan dan berbicara dengan penuh semangat.

Aku hanya menggelengkan kepala pelan.

「Nggak. Alasanku sederhana. Aku ingin dipuji oleh orang yang membaca novel buatanku. Aku ingin memuaskan hasrat akan pengakuan. Selain itu, aku juga ingin mendapatkan royalti dan malas bekerja.」

「Terus, apa arti pidato pembukaanku yang penuh semangat tadi?!」

Ya, kamu sendiri yang terlalu bersemangat dan mendahului pembicaraan.

Aku bahkan tidak pernah meminta pidato pembuka seperti itu.

「Yah, tentu saja kalau menulis novel, kadang-kadang aku juga merasa bersemangat dan ada hal-hal yang ingin kusampaikan. Tapi, lebih dari itu, aku ingin dipuji gara-gara novel buatanku!」

「......Aku sama sekali tidak menyangka jawaban sejujur ini yang akan keluar.」

Entah kenapa Hanamitsuji bahkan terlihat mundur selangkah.

Kenapa?

Padahal aku sudah menjawab dengan jujur.

Aku menempelkan mulut ke gelas kola dan menyeruputnya.

Zuuuh...

Kemudian aku mengutarakan semua yang ada di pikiranku.

「Lagi pula, bukankah penulis yang tidak memiliki hasrat untuk mendapatkan pengakuan berarti tidak punya motivasi dasar untuk menghibur pembacanya? Menurutku, mustahil karya yang ditulis oleh orang seperti itu bisa menjadi cerita yang menarik.」

「Tapi kalau membaca kata penutupnya, ada juga penulis yang kelihatannya sama sekali tidak memiliki hasrat untuk mendapatkan pengakuan, lho.」

「Itu pasti bohong atau cuma sedang jual mahal. Kalau memang benar, itu curang. Aku ingin mereka membagi royalti mereka kepadaku.」

「Wah, ukuran hati Nanamura ternyata jauh lebih kecil dari yang kubayangkan!」

「Benar. Kalau bukan disebut wadah hati, mungkin lebih tepat disebut sendok teh.」

「S-sejauh itu juga aku nggak bilang...」

「Benar, Hanamitsuji. Meskipun itu kenyataan, tetap ada hal-hal yang boleh dikatakan dan tidak boleh dikatakan.」

「Kamu malah mengakui bahwa ukuran hatimu cuma sebesar sendok teh?!」

Yah, terlepas dari apakah ukuran hatiku memang kecil atau tidak...

Dengan kondisi seperti ini, impianku untuk debut sebagai novelis mungkin masih sangat jauh.

Sepertinya debut saat masih duduk di bangku SMA memang bakal sulit tercapai...

Ah, sudahlah.

Sepertinya aku juga akan membatalkan rencana mengunggah karya ini ke internet.

Bisa-bisa jumlah pembacaku langsung punah dalam sekejap. 

◆

Minggu berikutnya, akhirnya tiba juga acara yang paling kutakuti. Penentuan kelompok untuk karyawisata.

Tujuan karyawisata ditentukan melalui voting di masing-masing kelas, dan Kelas A memutuskan untuk pergi ke sebuah pulau kecil di dalam prefektur, yaitu Pulau Fumiki. Persis seperti yang dikatakan Hanamitsuji.

Pada hari H, kami akan naik bus carteran menuju ujung sebuah semenanjung yang menjorok ke laut, lalu dari sana naik feri menuju Pulau Fumiki. Perjalanan dengan feri diperkirakan memakan waktu sekitar dua puluh menit.

Katanya, siang nanti kami akan mengadakan barbekyu. Namun, dari apa yang kudengar, kegiatan itu rupanya cuma memanggang bahan makanan yang sudah disiapkan di atas jaring pemanggang lalu memakannya.

Kalau begitu, bukankah lebih baik sekalian pergi ke restoran yakiniku dan makan daging saja?

Aku lebih suka daging daripada udang atau cumi-cumi.

Setelah barbekyu selesai, masing-masing kelompok akan berpencar untuk berkeliling pulau.

Atau, lebih tepatnya, bermain-main.

Yah, ampun. Kenapa sih kami harus bertindak dalam batasan yang namanya kelompok?

Pertimbangan terhadap kaum minoritas seperti anak penyendiri benar-benar tidak ada.

Pak Guru, abad kedua puluh satu ini adalah zaman untuk mengakui keberagaman, lho.

Sementara aku sibuk memikirkan cara melarikan diri dari kenyataan tersebut, guru yang berdiri di depan papan tulis menepukkan kedua tangannya.

"Untuk laki-laki dan perempuan, masing-masing buat kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang, lalu gabungkan menjadi satu kelompok beranggotakan lima atau enam orang, yaー."

Suasana kelas langsung dipenuhi suara riuh rendah. Para siswa mulai berbicara dengan teman-teman dekat mereka.

Hanamitsuji sebelumnya sudah berkata kepadaku, "Bergeraklah sendiri dan masuk ke salah satu kelompok."

Tapi kalau menyuruh seorang botchi melakukan hal semacam itu, bukankah itu keterlaluan?

Tolong jangan meremehkan kaum penyendiri.

Begitu aku bergerak maju, kerumunan orang justru terbelah sesuai arah langkahku. Pada akhirnya, aku tetap tidak bersentuhan dengan siapa pun.

Entah kenapa, rasanya seperti Musa yang membelah Laut Merah.

Lumayan keren juga.

Aku sebenarnya tidak tahu harus bergerak ke mana, tetapi duduk diam di kursi juga terasa tidak nyaman. Jadi, mau tidak mau aku berdiri.

Karena tidak punya tujuan ke mana-mana, akhirnya aku hanya berdiri termangu di samping papan tulis.

Sebentar lagi, guru pasti akan berkata,

"Ada kelompok yang mau menerima Nanamura-kun, tidakー?"

Lalu dimulailah permainan saling melempar kecurigaan dan enggan menerima tanggung jawab.

Aku sudah membaca sampai sejauh itu, jadi aku sengaja berjaga di samping papan tulis agar siap kapan pun guru memanggil namaku.

Aku ini benar-benar pria yang bisa diandalkan, ya.

Ketika melihat ke bagian belakang kelas, kulihat Hoshigasaki sudah berada dalam sebuah kelompok yang terdiri dari kelompok cewek yang biasa bersamanya dan kelompok cowok yang paling ikeike di kelas.

Syukurlah, anak itu sepertinya bisa menikmati karyawisatanya dengan tenang.

Aku memandangnya seperti seorang ayah yang sedang mengawasi anaknya.

Menyadari keberadaanku, Hoshigasaki diam-diam mengangkat kedua tangannya dan menyatukannya di depan dada.


"Maaf!"


Padahal, bukan salah Hoshigasaki kalau aku menjadi seorang botchi.


Teman-teman sekelas mulai membentuk kelompok mereka satu demi satu.


Rasanya seperti menjadi pemain bisbol yang tak kunjung dipanggil dalam acara draft.


Mungkin judul acara televisinya juga harus diubah dari "Ibu, Terima Kasih" menjadi "Ibu, Maafkan Aku."


Saat aku sedang melamun dan menganggap keributan di kelas itu sebagai urusan orang lain, tiba-tiba seseorang memanggilku.


"Hei, kamu. Ngapain bengong begitu?"


Mendengar suara yang terdengar terlalu muda untuk ukuran seorang guru, aku menoleh.


Di sana, Shiramine berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang dan ekspresi jengkel di wajahnya.


Meskipun sekarang sudah berganti ke seragam musim panas, cara berpakaiannya tetap rapi seperti biasa. Aura ketua kelas yang melekat padanya benar-benar kuat.


"Oh, ada apa?"


"Bukan 'ada apa'. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kamu bisa memasang wajah seolah-olah tidak ada hubungannya denganmu di tengah penentuan kelompok seperti ini."


"Memangnya kenyataannya ini bukan urusanku? Kalau tiba-tiba aku berteriak, 'Tolong masukkan aku ke kelompok kalian!' semua orang pasti ketakutan, tahu."


"Tolong jangan jadikan teriakan histeris sebagai salah satu pilihan dalam berkomunikasi."


"Yah, meskipun aku tidak berteriak, kalau aku yang mengajak bicara, mereka juga pasti bakal merasa kerepotan."


"Mungkin saja. Tapi pada akhirnya kamu tetap harus masuk ke salah satu kelompok. Jangan bilang kamu berniat melakukan barbekyu sendirian? Tolong pikirkan juga perasaan kami yang harus menyaksikan pemandangan seperti itu."


"Meskipun kamu bilang begitu..."


"Haaah..."


Shiramine menghela napas panjang, lalu berjalan menghampiriku dengan langkah tegas.


Jarak personal anak ini dekat sekali, ya.


Kalau seorang gadis dengan wajah secantik itu mendekatiku tanpa sedikit pun kewaspadaan, aku juga jadi serba salah.


Nanti aku bisa salah paham, tahu.


"Aku sebenarnya tidak perlu memastikan lagi, tapi... kamu memang belum mendapatkan kelompok, kan?"


"Begitulah."


"Baguslah. Kalau begitu, masuk saja ke kelompokku. Beres, kan?"


"Hah?"


Masih kebingungan karena situasinya tiba-tiba berubah seperti ini, aku melihat Shiramine melirik ke belakang.


Di ujung pandangannya, beberapa siswa laki-laki dan perempuan tampak menatap ke arahku dengan ragu-ragu.


"Anggota kelompok lainnya sudah kuberi pengertian. Lagipula, kamu kan botchi. Jadi tidak ada hak untuk menolak."


"Kenapa kamu sampai segitunya membantuku?"


Apa alasan sebenarnya anak ini sampai mau ikut campur dalam urusanku?


Kalau dia melakukan semua ini karena masih memikirkan kejadian dengan Hoshigasaki waktu itu, berarti dia benar-benar salah sasaran.


Lagipula, aku sama sekali tidak melakukan sesuatu yang layak dipuji saat itu.


Aku hanya berbohong dan asal meredakan situasi di tempat.


Kenyataan bahwa Hoshigasaki masih menyimpan rahasia juga sama sekali tidak berubah.


Aku hanya menunda masalah.


Suatu hari nanti, Hoshigasaki mungkin saja melakukan kecerobohan dan membocorkan rahasianya lagi, lalu kejadian serupa terulang kembali.


Dan ketika saat itu tiba, kemungkinan besar aku tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk membantunya.


Aku bukan siswa SMA super yang memiliki kemampuan luar biasa.


Aku hanyalah seorang botchi yang kebetulan punya muka setebal tembok.


Lagipula, Shiramine juga sama sekali tidak punya alasan untuk ikut menanggung beban akibat kejadian Hoshigasaki itu...


Saat aku masih terdiam memikirkan hal tersebut, Shiramine menatapku dengan mata setengah menyipit.


"Sebelum kamu masuk ke salah satu kelompok, kami juga tidak bisa melanjutkan pembicaraan. Jadi, anggap saja aku mengambil tanggung jawab atasmu demi kepentingan bersama. Bagaimana? Dengan alasan seperti ini, masuk akal, kan?"


Oh, jadi begitu caranya.


Dengan kata lain, ini sama sekali bukan karena kejadian Hoshigasaki.


Ini adalah keputusan yang diambil sang ketua kelas demi kepentingan seluruh kelas.


Kalau alasannya seperti itu, tentu saja aku tidak bisa menolaknya.


"Baiklah. Tolong bantu aku."


"Bagus."


Shiramine mengangguk puas.


Aku pun mengikutinya dari belakang untuk bergabung dengan teman-teman sekelas yang akan menjadi anggota kelompokku.


Meskipun masih lebih baik daripada bergabung dengan kelompok Hoshigasaki atau Sakado, menjadi satu kelompok dengan teman-teman sekelas yang hampir tidak pernah kuajak bicara tetap membuatku gugup.


"S-salam kenal. A... aku Nanamura."


Karena hampir tidak pernah berbicara dengan mereka, aku malah tanpa sengaja memperkenalkan diri kepada teman sekelas sendiri.


Apa-apaan ini?


Tapi kalau dipikir-pikir, Sakado saja sepertinya sempat lupa namaku. Jadi, mungkin memperkenalkan diri memang bukan ide yang buruk.


Atau sekalian saja aku memakai name tag?


Rasanya seperti menghadiri acara pertemuan offline, tempat orang-orang bahkan belum bisa mencocokkan wajah dengan nama asli satu sama lain.


"Oh, iya. Salam kenal..."


"Yo..."


"............"


Gawat.


Percakapanku dengan anggota kelompok sama sekali tidak berlanjut!


Atau lebih tepatnya, pihak sana juga sepertinya sama sekali tidak berniat melanjutkan percakapan, jadi aku pun merasa sungkan untuk memaksakan diri memulai pembicaraan.


Dalam situasi seperti ini, kalau aku berkata, "Cuacanya cerah sekali, ya," yang tercipta paling-paling hanya suasana canggung yang benar-benar mati.


Kalau aku malah berkata, "Eh, tahu nggak? Novel terbaru yang terbit dari GA Bunko bulan lalu itu seru banget! Terus anime yang diadaptasi dari light novel juga..."


Mereka pasti langsung bersujud kepada Shiramine dan memohon agar aku segera dikeluarkan dari kelompok.


Kalau melihat pemandangan di mana satu pihak sama sekali tidak berniat berbicara, sementara pihak lainnya terus memaksakan percakapan, rasanya benar-benar bikin tidak nyaman kalau melihatnya di tempat umum.


Orang-orang dengan mental sekuat baja seperti itu sebenarnya terbuat dari apa, sih?


"Nah, kalau begitu, semuanya berkumpul sesuai kelompok masing-masing dan rapatkan meja kalian, yaー."


Guru menepukkan kedua tangannya berkali-kali, dan kami pun mulai menggeser meja.


Untungnya kami sudah SMA, jadi tidak sampai terjadi hal seperti mejaku sendiri dibiarkan berjarak dari meja anggota kelompok lain.


Waktu makan siang di SD dulu, kalau seseorang terlalu terasing dari lingkungan sekitar, mejanya sering kali tidak digabungkan dengan meja yang lain, kan...


Lalu ketika guru menyadarinya dan memaksa meja itu untuk digabungkan, anak-anak perempuan dalam kelompok tersebut sampai terlihat seperti hendak menangis.


Yang ingin menangis itu aku, tahu.


Meskipun begitu, bukan berarti hanya karena meja kami sudah dirapatkan, aku jadi bisa ikut dalam percakapan.


Ah...


Andai saja karena suatu kesalahan aku membuka mata nanti dan ternyata acara karyawisatanya sudah selesai.


Sambil melirik anggota kelompok yang sedang sibuk membicarakan jadwal kegiatan setelah barbekyu, aku menguap lebar-lebar sembari memikirkan hal semacam itu.


◆


Sepulang sekolah hari itu, aku dipanggil oleh Hoshigasaki lewat LEIN.


Hei, tunggu sebentar.


Dipanggil seorang siswi sepulang sekolah begini... jangan-jangan ini bisa jadi sesuatu, bukan?


Kalau pengirimnya bukan Hoshigasaki, mungkin aku bakal mengabaikannya karena mengira ini pola penjebakan untuk memalak, atau aku dititipi surat dengan pesan seperti, “Tolong berikan ini kepada si A.”


Tapi kalau dipikir-pikir lagi, orang yang mengetahui kontak LEIN-ku saja cuma beberapa orang. Jadi, kemungkinan aku dipanggil sepulang sekolah oleh orang yang tidak kukenal sebenarnya nol besar.


Pertahanan seorang botchi memang tinggi.


Kalau Hoshigasaki, kemungkinan aku dipalak jelas tidak ada. Dan kalau cuma dititipi pesan untuk seseorang pun tidak masalah.


Aku yang pernah mengalami kejadian saat SD, ketika seorang siswi sengaja memanggilku ke lorong sekolah pada Hari Valentine hanya untuk memberiku cokelat sambil berkata, “Tolong berikan ini kepada Ozawa-kun,” tentu saja punya mental yang cukup kuat untuk menghadapi hal seperti ini.


Kadang-kadang, ketika mengingat kembali kejadian itu, aku berpikir...


Bukankah tidak ada gunanya memanggilku dan bukan Ozawa-kun?


Kami satu kelas, lho.


Ozawa-kun bahkan cuma berjarak beberapa meter dariku saat itu.


Panggil saja orangnya langsung.


Atau jangan-jangan...


“Kalau Nanamura, kayaknya tidak mungkin ada pengakuan cinta sungguhan, deh.”


Jangan-jangan ada semacam kesepakatan tak tertulis seperti itu di antara mereka, sehingga memanggilku adalah pilihan yang paling aman?


Kekejaman anak-anak SD yang dilakukan tanpa sadar benar-benar menyakitkan.


Tempat Hoshigasaki memanggilku adalah area parkir khusus guru di belakang gedung khusus.


Ketika aku tiba, sosoknya belum terlihat. Jadi, untuk menghabiskan waktu, aku memperhatikan mobil-mobil milik para guru.


Aku memang tidak terlalu paham soal mobil, tetapi sesekali ada mobil yang kelihatannya mahal atau memiliki desain yang menarik.


Ternyata cukup menghibur juga.


Tak lama kemudian, Hoshigasaki datang dengan berlari kecil.


Aku mengangkat sebelah tangan untuk menyambutnya.


"Yo."


"Maaf, sudah manggil kamu ke sini tapi malah telat. Tadi susah banget buat keluar dari sana."


Pipi Hoshigasaki yang sedikit terengah-engah tampak merona, dan suaranya yang bercampur dengan hembusan napas entah kenapa membuat jantungku berdebar.


Tunggu, tunggu.


Masa cuma begini saja aku sudah gugup?


Aku menggelengkan kepala dengan sengaja dan berlebihan untuk menenangkan diri, lalu menjawab dengan nada seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Nggak masalah. Anak yōkya punya urusan pertemanan yang rumit, anak botchi sepertiku juga bisa mengerti."


"Ah, Nanamura, jangan sering-sering bilang botchi, botchi begitu, dong. Katanya kalau kita terus mengucapkannya meskipun cuma bohong, lama-lama bisa jadi kenyataan."


"Kalau soal itu sih aman. Aku sudah jadi botchi dari awal, jadi tidak mungkin kondisiku memburuk lagi!"


"Menurutku itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan sambil membusungkan dada..."


Aku bisa merasakan tatapan jengahnya.


Aku buru-buru berdeham untuk mengalihkan pembicaraan.


"Jadi, ada keperluan apa? Memangnya ini sesuatu yang harus dibicarakan sampai perlu keluar dari lingkungan sekolah?"


"Oh, soal itu... tadi itu, anu... maaf ya karena aku nggak bisa membantumu..."


Hoshigasaki menundukkan kepala dengan wajah murung dan bergumam pelan.


Yang dimaksud tadi tentu saja penentuan kelompok karyawisata tadi.


"Eh? Cuma itu?"


Aku sampai merasa sedikit kecewa.


Bukan karena ini ternyata bukan pengakuan cinta, lho. Sungguh, bukan begitu.


Memang Hoshigasaki tidak memberikan uluran tangan kepadaku saat penentuan kelompok, tetapi itu memang tidak bisa dihindari.


Manusia memiliki sesuatu yang disebut keterikatan sosial.


Selama berada di dalam kelompok anak-anak populer, membentuk kelompok dengan orang-orang yang seimbang dan cocok satu sama lain adalah hal yang wajar.


"Hal seperti itu sudah biasa bagi seorang botchi. Jangan dipikirkan. Lagipula, akhirnya Shiramine juga yang membereskannya."


"Iya... Ketua Kelas memang hebat, ya. Padahal aku sama sekali nggak bisa berbuat apa-apa..."


"Yang hebat itu Shiramine. Kamu sama sekali tidak perlu merasa bersalah."

Shiramine itu juga...


Kalau dia terus-terusan terlalu suka ikut campur seperti ini, bukankah dia bakal sering mendapat bagian yang merugikan dirinya sendiri?


Tapi dia tetap melakukannya.


Aku bahkan harus mengakui bahwa aku sedikit menghormatinya.


Meski tentu saja aku tidak berniat menirunya.


"Tapi kalau kejadian yang melibatkan aku waktu itu nggak terjadi, mungkin penentuan kelompokmu bakal berjalan lebih lancar..."


Hoshigasaki masih terlihat murung.


Aku menghela napas dalam hati.


Melihat orang lain ikut murung gara-gara masalah yang sebenarnya menyangkut dirinya sendiri membuatku merasa tidak nyaman.


"Itu nggak benar, jadi tenang saja. Jauh sebelum kejadian itu pun aku sudah menjadi botchi. Mau bagaimana lagi, toh tidak ada kelompok yang bakal menerimaku."


"Kenapa kamu malah mengatakannya dengan penuh percaya diri begitu?"


Meskipun mengomel demikian, Hoshigasaki akhirnya tersenyum sedikit.


Sejujurnya, aku merasa lega.


"Oh iya, aku dengar kelas Sora-chan juga pergi ke Pulau Fumiki."


"Katanya begitu."


"Kalau sudah benar-benar terpaksa, apa kita nggak bisa bergabung dengan Sora-chan?"


"Tunggu. Kok jadi begitu?


"Dia itu tipe orang yang setiap ada kesempatan pasti menjelek-jelekkan aku, tahu. Kalau dia sampai tahu bahwa aku tersisih dari kelompok saat karyawisata, masa depan di mana aku dicaci maki habis-habisan olehnya sudah terpampang jelas di depan mata."


Kenapa karyawisata saja sudah cukup menyakitkan, masih harus ditambah penderitaan seperti itu?


Karyawisata ditambah Hanamitsuji?


Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.


"Eeh, masa sih? Menurutku Nanamura sama Sora-chan kelihatannya cukup akrab, lho."

"Ampuni aku. Lagipula, Hanamitsuji juga sudah membuat kelompok bersama teman-temannya, kan? Kalau aku menemuinya, paling ujung-ujungnya aku cuma bakal diabaikan."


Meskipun kami adalah dua orang yang pernah mengalami time leap bersama, perbedaan antara aku dan Hanamitsuji bagaikan langit dan bumi.


Bukan berarti itu tidak adil atau semacamnya.


Itu hanya menunjukkan perbedaan seberapa besar kami menghargai hubungan dengan teman sekelas dan seberapa banyak usaha yang kami curahkan untuk membangunnya.


Ya, sungguh.


Kalau aku benar-benar serius, mencari teman itu gampang, kok.


Hanya saja, aku punya sisi stoik yang rela mengorbankan hubungan sosial demi menulis novel.


Argumen seperti, “Bukankah di kehidupan SMA sebelumnya kamu juga tidak punya teman?” akan kutolak semuanya.


Tidak sah.


"Yah, benar juga. Sora-chan juga sudah membuat kelompok bersama teman-temannya. Sepertinya memang tidak semudah itu."


Hoshigasaki tampak berpikir dengan wajah penuh kebimbangan.


Aku sengaja menghela napas panjang agar dia bisa mendengarnya dengan jelas.


"Hei, Hoshigasaki. Jangan memikul masalahku sebagai masalahmu sendiri."


Di kehidupan SMA sebelumnya pun aku adalah seorang botchi.


Jadi, kondisi diriku sekarang ini tidak lebih dari sekadar mempertahankan status quo.


Jangan-jangan menjadi botchi memang sudah ditakdirkan oleh langit sebagai nasibku.


Mungkin saja keluargaku adalah keturunan botchi turun-temurun.


...


Tapi bukankah garis keturunan itu berhenti di generasiku?


Lagipula, tidak baik juga memberikan rasa iba kepada seseorang hanya karena dia seorang botchi.


Sering kali, dibandingkan penderitaan karena berada dalam situasi yang sulit, ditatap dengan tatapan penuh rasa kasihan justru terasa lebih menyakitkan.


"Kamu pikirkan saja bagaimana caranya menikmati karyawisatamu sendiri. Mumpung ini acara sekolah yang lumayan menyenangkan."


"Kalau Nanamura yang bilang 'nikmati karyawisata', kok sama sekali nggak terdengar meyakinkan, ya... Tapi, yah, yang kamu bilang memang benar juga."


Dengan ekspresi seperti orang yang menerimanya dengan setengah hati, Hoshigasaki mengangguk.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi."


Setelah mengatakan itu, dia pergi.


Meskipun tadi aku mengatakan hal seperti itu...


Pada kenyataannya, menjadi botchi selama karyawisata memang merepotkan, ya.


Aku sudah meminta bantuan Shiramine, jadi sekarang aku juga tidak mungkin seenaknya membolos.


Justru itu yang membuat semuanya terasa merepotkan.


Kalau aku dan Shiramine tidak punya hubungan apa-apa dan tidak pernah berbicara, mungkin aku tidak akan merasa bersalah sedikit pun meskipun memilih membolos.


Ternyata benar.


Semakin banyak hubungan dengan manusia yang kumiliki, semakin banyak pula masalah yang muncul.


Aku sampai pada kesimpulan bahwa menjadi botchi ternyata sangat berkontribusi terhadap kestabilan mental.


Setelah mencapai kesimpulan itu, aku pun meninggalkan tempat tersebut.


◆


"Begitu, ya. Jadi kamu berhasil masuk ke sebuah kelompok."


Setelah berpisah dengan Hoshigasaki, aku kembali duduk berhadapan dengan Hanamitsuji di restoran keluarga langganan kami, dengan sebuah gelas sebagai pembatas di antara kami.


Entah karena dia memang tidak terlalu suka minuman manis atau karena memperhatikan kalori, hari ini pun Hanamitsuji meminum teh buah tanpa memasukkan gula sedikit pun.


"Yah, entah bagaimana akhirnya beres."


"Kalau aku sih sempat tertarik ingin melihat Nanamura-kun melakukan barbekyu bersama para guru."


"Memangnya aku sedang melakukan pemanasan sebelum pelajaran olahraga?"


"Toh, pada akhirnya pasti Mashiro atau Hoshigasaki-san yang membantumu."


Tebakannya benar-benar tajam.


Dia ternyata sudah memahami luar-dalam bahwa aku tidak mungkin bisa membentuk kelompok dengan kemampuanku sendiri.


Aku sebelumnya memang sudah menceritakan kepada Hanamitsuji bahwa Shiramine mendengar percakapanku dengan Hoshigasaki dan kemudian menawarkan bantuan.


Mendengar cerita itu, Hanamitsuji hanya mengangguk penuh pengertian sambil berkata,


"Begitu rupanya. Itu memang sangat mencerminkan dirinya."


"Hoshigasaki-san sepertinya juga punya banyak hubungan pertemanan dalam kelompoknya. Jadi, pasti Mashiro, ya."


"Tepat sekali. Dia memang punya sifat suka ikut campur yang cukup parah."


"Kamulah yang salah karena bahkan tidak bisa membentuk kelompok kalau tidak ada orang yang mengurusimu."


Aku tidak punya jawaban untuk itu.


Daripada mengatakan sesuatu yang bodoh lalu kembali dibuat tidak berkutik olehnya, aku memilih menghabiskan cola yang esnya sudah mencair dan membuat rasanya menjadi encer.


Melihat sikapku, Hanamitsuji tiba-tiba bergumam.


"Kamu sebenarnya ingin satu kelompok dengan Hoshigasaki-san?"


"Hah? Kenapa tiba-tiba nama dia yang keluar?"


"Soalnya Hoshigasaki-san itu imut, dan kamu sendiri sepertinya juga tidak keberatan, kan? Waktu itu saja kamu datang mengenakan pakaian baru."


Waktu itu pasti yang dia maksud ketika aku datang untuk meminta pendapat tentang novelku.


Kalau bisa, aku ingin menghapus kenangan itu dari ingatan.


"Ngomong-ngomong, memang kelihatan kalau itu baju baru hanya dari melihatnya?"


"Ya. Kelihatan dari cara kamu memakainya yang masih terasa belum terbiasa."


Serius?


Hal seperti itu bisa diketahui hanya dengan melihatnya?


Wah, kalau begitu bakal susah memakai jersey olahraga lusuh di depan orang ini.


Padahal kalau cuma pergi ke minimarket dekat rumah, aku sering memakai jersey yang sudah kusut dan agak melar.


"Kembali ke pembicaraan tadi, Hoshigasaki-san itu anak yang baik, kan?"


"Walaupun dari penampilan memang agak menakutkan."


"Dia bahkan berusaha membungkus pendapatnya tentang novelmu dengan kata-kata yang lebih halus."


"Walaupun bungkusnya sama sekali tidak berhasil menutupi isinya."


"Karena itu, kupikir kamu pasti senang kalau bisa satu kelompok dengan Hoshigasaki-san."


"Masalahnya tidak sesederhana itu. Kalau aku masuk, Hoshigasaki pasti malah merasa kerepotan. Aku tidak punya muka setebal itu sampai bisa menikmati keadaan seperti itu."


Benar.





Masalahnya bukan hanya soal perasaanku sendiri.


Hubungan antarmanusia selalu melibatkan pihak lain.


Hubungan yang hanya membuat salah satu pihak menanggung kerugian jelas tidak bisa disebut sebagai hubungan yang sehat.


Dalam hal itu, menjadi botchi memang lebih praktis.


Kalau diriku sendiri baik-baik saja, semuanya selesai.


Aku tidak perlu memikirkan perasaan orang lain.


Itulah salah satu hal yang membuat hidup sebagai botchi terasa nyaman.


"Aku juga bukannya tidak mengerti maksudmu, tapi..."


Meski begitu, Hanamitsuji tetap menggembungkan pipinya dengan ekspresi tidak puas, lalu menatapku seolah masih ada sesuatu yang ingin dia katakan.


"Jangan-jangan kamu mengira aku jatuh cinta kepada Hoshigasaki?"


"Memangnya bukan begitu?"


"Tentu saja bukan. Memangnya karena aku laki-laki, aku jadi akan menyukai perempuan tanpa pandang bulu begitu?"


Memang, pembicaraan tentang gadis cantik adalah topik yang hampir selalu seru untuk dibicarakan.


Namun, menganggap seseorang imut karena penampilannya jelas berbeda dengan benar-benar menyatakan cinta atau menjalin hubungan dengannya.


"Begitu. Jadi kamu sama sekali tidak menyukai Hoshigasaki-san, ya. Hmm."


Hanamitsuji bergumam pelan entah mengatakan apa, lalu perlahan mengalihkan pandangannya.


Ketika percakapan kami mencapai jeda, aku membuka mulut tanpa memikirkan apa-apa.


"Yah, aku sendiri juga tidak terlalu suka kegiatan berkelompok. Bisa saja nanti di tengah acara aku malah memisahkan diri dan menjalani kegiatan sebagai botchi."


"Eh?"


Hanamitsuji memasang ekspresi aneh yang kaku, lalu menjauhkan sedotan dari mulutnya.


Apa-apaan reaksi itu?


"Jangan memasang wajah seperti itu. Lagipula, mana mungkin aku bisa ikut bersenang-senang bersama anak-anak yōkya selama karyawisata?"


"Memang benar juga, tapi..."


Kalau sedang sial, aku bisa saja malah berakhir menjadi tukang foto setiap kali kelompok kami ingin berfoto bersama.


Itu sebisa mungkin ingin kuhindari.


"Terlepas dari itu, penentuan kelompok memang terasa canggung dan menyebalkan. Tapi menjalani kegiatan sendirian saat hari H sendiri sama sekali bukan masalah bagiku. Aku punya ketahanan terhadap kesepian yang cukup tinggi."


"Kamu benar-benar tidak masalah dengan itu?"


Hanamitsuji kembali memonyongkan bibirnya dengan ekspresi tidak puas.


Kenapa dia malah terlihat tidak senang?


Bukankah tidak masalah kalau aku menjadi botchi?


Belakangan ini gaya hidup ohitorisama juga sedang menjadi tren.


Kalau begitu, bukankah aku justru sedang mengikuti tren zaman?


"Karyawisata itu acara penting untuk mempererat hubungan dengan teman-teman sekelas, tahu."


"Kalau melihat kondisiku, bukankah sudah jelas aku bakal menjadi botchi? Sampai sekarang saja aku bahkan tidak punya orang yang bisa diajak bicara dengan layak."


"Jangan begitu..."


"Memang tidak ada orang di kelas yang cocok denganku. Jadi, tidak masalah. Kalau bisa mendapatkan teman tanpa melakukan apa-apa, tentu saja aku mau. Tapi aku tidak sampai ingin berusaha keras dan aktif hanya demi mendapatkan teman."


Setelah karyawisata selesai, liburan musim panas tinggal sekitar satu setengah bulan lagi.


Semester dua nanti memang ada festival budaya sekolah, tetapi kalau aku tetap menjadi botchi, aku bisa dengan mudah melarikan diri dari persiapannya.


Demi bisa bermalas-malasan sepuas hati, mempertahankan posisi sebagai botchi sejak awal juga bukan pilihan yang buruk.


Saat aku sedang memikirkan rencana tersebut, Hanamitsuji yang sejak tadi diam dengan wajah murung tiba-tiba membuka mulut.


"...Kelasmu juga jadwalnya begitu, kan? Begitu sampai di pulau, pertama-tama barbekyu, lalu berkeliling pulau."


"Hm? Oh, kalau tidak salah memang begitu."


Meskipun perjalanan dari daratan utama hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit dengan feri, tetap saja itu sebuah pulau terpencil.


Mau mengikuti pengalaman menangkap ikan ataupun berjalan-jalan sambil mencicipi makanan hasil laut, semuanya bisa dilakukan sesuka hati.


Kelompokku nanti mau melakukan apa, ya?


Seingatku, memancing atau pengalaman menangkap ikan sempat masuk sebagai kandidat, tetapi aku sudah lupa.


Yah, kalau urusannya Shiramine, semuanya pasti sudah ditangani dengan baik.


Ketika aku sedang berusaha mengingat-ingatnya, Hanamitsuji tiba-tiba bergumam dengan nada seolah-olah sedang mengatakan sesuatu yang sepele.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berkeliling bersama?"


Eh?


Berkeliling bersamanya?


Kenapa Hanamitsuji menawarkan hal seperti itu?


Kalau dipikir-pikir, Hoshigasaki juga sebelumnya mengatakan sesuatu yang hampir serupa...


"Lelucon macam apa itu?"


"Aku serius, tahu? Lagipula, meskipun kita berbeda kelas, begitu waktu berkeliling dimulai, kita tinggal membuat janji bertemu di suatu tempat."


Secara teori memang begitu.


Namun, kalau benar-benar dilakukan, ceritanya tentu berbeda.


"Jangan bicara sembarangan. Kamu juga punya kelompok, kan?"


"Ya tinggal keluar dari kelompok."


"Nggak bisa."


"Kenapa? Kamu tidak mau berkeliling bersamaku?"


"Bukan begitu... Dengar. Kalau dua orang botchi yang melakukan itu, aku masih bisa mengerti. Toh waktu itu memang waktu bebas, dan kalau keduanya sama-sama tidak punya teman, meninggalkan kelompok juga tidak akan menimbulkan masalah besar.


"Tapi kalau salah satu punya teman, orang itu yang akan dirugikan. Tadi kamu sendiri yang bilang, kan? Karyawisata itu penting untuk mempererat kelompok pertemanan."


"Aku tidak mau mendengar ceramah seperti itu dari seorang botchi sepertimu."


"Ya, tapi..."


Tentu saja aku juga seorang laki-laki.


Kalau tiba-tiba aku meninggalkan kelompok lalu berkeliling pulau berdua dengan seorang gadis cantik, tentu saja aku bakal bersemangat.


Apa-apaan ini, kencan?


Tapi masalahnya tidak sesederhana itu.


Kalau dua orang botchi yang sama-sama tidak punya tempat dalam kelompok sepakat untuk berkeliling berdua, tidak ada masalah.


Namun, kalau Hanamitsuji berkeliling denganku, berarti dia harus meninggalkan kelompoknya sendiri di kelas.


Bisa saja hubungan dengan teman-teman satu kelompoknya menjadi renggang, bahkan retak.


Lagipula, apa sebenarnya alasan Hanamitsuji sampai ingin berkeliling denganku sejauh itu?


Aku juga tidak mengerti.


Aku ini bukan pemandu wisata ataupun komedian yang pekerjaannya mencicipi makanan dan membuat ulasan kuliner.


"Dengar. Mungkin kamu merasa kasihan melihat botchi sepertiku, tapi aku sendiri sudah puas dengan keadaan ini. Diberi rasa iba yang aneh-aneh justru malah merepotkanku."


"Ini bukan karena rasa iba."


Hanamitsuji menatapku dari bawah dengan tatapan tajam.


Tangannya yang menggenggam gelas pun semakin mengerat.


"Aku hanya ingin... kamu juga bisa menikmati hidupmu."


Tenggorokanku mendadak kering dan tidak ada kata-kata yang keluar.


Aku sempat berpikir untuk menyeruput minuman demi menciptakan jeda, tetapi isi gelasku ternyata sudah kosong.


Udara di sekitar kami terasa perlahan menegang, dan entah kenapa tubuhku seolah tidak mampu meninggalkan kursi.


Hanamitsuji hari ini benar-benar sudah melangkah terlalu jauh.


Aku sudah menyadarinya sejak awal.


Nilai-nilai yang kami pegang memiliki perbedaan yang sangat mendasar.


Aku menganggap statusku sebagai botchi saat ini adalah sesuatu yang kupilih sendiri.


Dan menurutku, tidak ada yang salah dengan itu.


Sementara Hanamitsuji menganggap menjalani masa SMA sebagai botchi adalah sebuah kerugian, sehingga seseorang seharusnya berusaha mendapatkan teman.


Wajar jika nilai-nilai kami berbeda.


Kami dilahirkan dengan latar belakang yang berbeda, dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, dan menjalani kehidupan yang berbeda pula.


Perbedaan seperti itu tidak mungkin dijembatani dengan mudah.


Sesuatu yang bisa berubah begitu saja dalam sekejap bahkan tidak pantas disebut sebagai nilai hidup.


Selama ini, meskipun memiliki nilai yang berbeda, kami berusaha untuk saling memahami dan membiarkannya begitu saja.


Kami berhati-hati agar tidak melewati garis tak kasatmata yang secara tidak sadar telah kami tarik di antara kami.


Namun, tawaran Hanamitsuji kali ini berarti dia bersedia mengorbankan dirinya sendiri demi aku.


Ini sudah benar-benar melewati batas.


Tidak.


Aku tidak bisa menerimanya.


"Maaf, tapi aku tidak bisa menerima tawaran itu."


Aku mengatakannya dengan jelas.


Seharusnya, hubungan antara aku dan Hanamitsuji sekarang ini bahkan tidak pernah ada.


Semua ini terjadi karena sebuah perkembangan yang terlalu kebetulan dan menguntungkan cerita.


Padahal, jalan hidupku dan Hanamitsuji seharusnya tidak pernah bersinggungan seperti ini.


Alasan Hanamitsuji mau terlibat denganku...


Jawabannya sudah jelas.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah. Bukankah sejak awal kita sudah sepakat? Aku menyelamatkan Hanamitsuji, dan Hanamitsuji menghidupkanku kembali. Dengan begitu, utang kita sudah lunas."


Kemungkinan besar, dia merasa tidak enak hati kepadaku.


Mungkin dia merasa bahwa hanya dirinya yang berhasil menjalani hidup dengan baik.


Namun, itu keliru.


Di kehidupan sebelumnya, Hanamitsuji juga memiliki teman.


Dan aku juga tidak memiliki teman.


Kehidupan kami sekarang pun hanya mengikuti jalan yang sama seperti sebelumnya.


Jadi, merasa bersalah karena hal seperti itu benar-benar salah sasaran.


Beberapa detik berlalu dalam keheningan.


Hanamitsuji kemudian mengembuskan napas kecil.


"Begitu, ya. Aku tidak bisa mengatakan bahwa perasaan itu sama sekali tidak ada."


Di luar dugaan, Hanamitsuji justru mengakui perkataanku.


Padahal, kukira dia akan langsung membantah.


"Tapi, bukan hanya itu alasannya... Aku ingin... kamu dan aku..."


Selepas itu, Hanamitsuji terdiam.


Di satu sisi, aku ingin mendengar kata-kata yang seharusnya menyusul setelah itu. Namun, di sisi lain, ada rasa ngeri yang tak bisa kujelaskan—seolah-olah jika aku mendengarnya, aku tidak akan bisa kembali seperti semula.


Aku sendiri juga tidak menemukan kata-kata yang seharusnya kuucapkan. Waktu pun terus berlalu tanpa kami saling bertatapan.


Rasanya seperti sudah satu jam kami terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, padahal kenyataannya mungkin baru beberapa menit.


Hanamitsuji mengembuskan napas pelan, lalu bergumam dengan suara serak.


“Maaf sudah mengatakan hal aneh. Bertemu di tempat tujuan saat karyawisata nanti memang tidak realistis, ya. Setelah mendengar cerita dari Hoshigasaki-san dan Mashiro, sepertinya aku tadi agak terbawa suasana.”


“Yah, sepertinya memang begitu.”


“Maaf, tapi hari ini aku pulang duluan. Ini, uang bagianku.”


Hanamitsuji meletakkan beberapa keping uang di atas meja, menyunggingkan senyum kaku, lalu membereskan barang-barangnya dan pergi.


Setelah memastikan suara pintu di pintu masuk telah tertutup, aku perlahan bangkit dari kursi. Gelas yang sudah kosong kubawa ke drink bar.


Hanya dengan menatap gelembung-gelembung karbonasi yang berdesis naik dari dalam gelas kola, aku bisa berhenti memikirkan apa pun.


Aku menyesap kola yang sebenarnya tidak ingin kuminum, lalu menghela napas panjang.


Aku tidak mengerti Hanamitsuji.


Sebenarnya, aku sudah tidak pernah benar-benar mengerti apa pun tentang dirinya sejak dulu. Hanya saja, baru hari ini aku akhirnya menyadarinya.


Kenapa Hanamitsuji mau berurusan denganku.


Kenapa dia selalu bersamaku.


Kenapa dia selalu bicara dari atas.


Kenapa dia begitu keras kepadaku, tetapi begitu baik kepada Hoshigasaki.


Kenapa dia selalu menyuruh-nyuruhku mengambilkan minuman di drink bar.


Sudahlah. Aku benar-benar tidak mengerti lagi.


Tanpa terasa, karyawisata sudah semakin dekat.


Kalau mengingat Hanamitsuji juga akan pergi ke pulau yang sama, mau tak mau aku memikirkan hal itu.


……Aku benar-benar nggak mau ikut karyawisata, ahー.



Daftar Bab Novel
Memuat daftar chapter...