Chapter 3: Hari-Hari Musim Panas
"Aku ingin slot tidur-dengan-berondong (netorare berondong) ya..."
T/n: Anjir suka berondong
Aku mengawalinya dengan monolog terburuk sejak bagian awal. Halo, aku Neetora Reiko. Aku sendiri heran bagaimana manusia bisa begitu patuh pada nafsunya, tapi apa boleh buat, kalau sudah ingin ya tetap ingin.
Andai kata tiba-tiba aku punya adik tiri, ya kan? Bagaimana kalau Ayah punya anak simpanan? Aku tidak keberatan membantu membujuk Ibu, tahu? Sambil memikirkan hal itu, aku terayun-ayun di dalam mobil selama beberapa jam.
Memasuki liburan musim panas, aku tiba di rumah kakek dan nenekku yang jauh dari kampung halaman. Wah, sejauh mata memandang hanya ada hijauan yang membosankan.
"Nenek, aku datang main nih!"
"Oh ya ampun, terima kasih sudah datang dari jauh. Ayo masuk, ayo masuk."
Nenek yang menyambutku melihat wajahku, tersapa senyum ramah, lalu melemparkan pujian klise.
"Reiko-chan, dalam waktu singkat kamu makin jadi gadis cantik saja, ya."
"Ah, Nenek ini. Bukannya itu diucapkan tiap kita ketemu setiap tahun?"
"Kaka-ka. Kalau seorang gadis jadi cantik, mau dipuji berapa kali pun tidak masalah. Nah, nah, teh barley-nya dingin, lho. Santai saja ya."
Dipandu oleh Nenek, aku melepas sepatu dan naik ke ruang keluarga.
"---Hah."
Seorang anak laki-laki yang sedang bersantai sambil memegang ponsel di ruang keluarga, memasang ekspresi terang-terangan tidak suka begitu melihat wajahku. Di sisi lain, aku memasang senyum lebar karena telah menemukan mainan terbaik di desa terpencil antah berantah ini.
"Aah! Chi-chan sudah datang ya~!"
"Jangan panggil aku Chi-chan! Bodoh Rei!"
Anak tengil di hadapanku ini adalah Sazanka Chihiro-kun alias Chi-chan. Dia adalah sepupuku yang satu tahun lebih muda dariku.
"Keterlaluan banget, padahal sebentar sebelumnya kamu masih nempel ke aku sambil bermanja-manja manggil 'Kakak-kakak'..."
"Membahas kapan itu, hah! Padahal kita cuma beda setahun, jangan pasang muka sok dewasa!"
Chi-chan melontarkan protes berapi-api, tapi bagiku, anak laki-laki di hadapanku ini begitu menggemaskan hingga aku tidak tahan. Jenis bocah tengil... tipe yang tidak ada di sekitar tempat tinggalku di kampung halaman.
"Hmm, kalau aku sih tidak masalah, tapi menggunakan cara bicara seperti itu pada orang yang lebih tua itu tidak baik, lho? Kalau kamu bilang begitu terus, aku tidak mau ajak kamu mandi bareng lho ya."
"Hah!? Bo... Bodoh ya kamu!? Kamu kan sudah SMP kan!?"
"Eh, itu ada hubungannya memangnya? Bukannya sampai beberapa waktu lalu kita masih mandi bersama. Chi-chan tidak suka mandi bareng aku?"
"I... ......Jelas-jelas tidak sukalah! Aku kan sudah kelas 6 SD!"
Jeda waktunya lama sekali. Seperti yang kalian lihat, di balik kata-katanya yang kasar, sangat terlihat jelas bahwa dia sebenarnya menyimpan perasaan menyukaiku, menjadikannya "bahan" yang benar-benar bagus. Sambil menelan ludah secara batin, aku menempel pada Chi-chan dengan wajah polos.
"Ahaha, begitu ya, begitu ya. Chi-chan kan tahun depan sudah SMP juga ya. Sudah saatnya malu ya kalau mandi bareng Kakak?"
"Pa... Panas banget! Jangan nempel! ......Rei yang begitu sama sekali tidak berubah ya. Memangnya benar-benar sudah lulus SD?"
"Su... Sudah kok! Coba lihat, nih! Penampilanku berseragam pelaut!"
Dari rol kamera ponselku, aku memamerkan penampilanku berseragam saat upacara masuk sekolah kepada Chi-chan.
"Mbu, mbu-h... Yah, mirip monyet pakai pakaian manusia sih."
"Astaga, jujur memuji 'imut' saja padahal tidak apa-apa."
Begitu aku memberikan ponselku pada Chi-chan, dia secara sukarela menggesek layarnya dan melewatkan foto-fotonya. Tentu saja itu adalah jebakan.
"Hm..."
Melihat foto swafoto berdua bersama Yuu-kun yang terselip dalam jumlah cukup banyak di rol kameraku, ekspresi Chi-chan menjadi masam. Sambil berbisik kecil dengan volume suara yang tidak terdengar oleh Chi-chan, "Fish...", aku tersenyum licik.
"...Rei, pria ini..."
"Ah, anak itu namanya 'Yuu-kun'! Tahu kan, teman masa kecilku! Belum pernah cerita ke Chi-chan ya?"
"Hih... Orang ini..."
Setelah beberapa saat menatap ponsel dengan wajah masam, Chi-chan bertanya padaku.
"Ah... Orang ini, pacarnya... Rei, ya?"
"--Eeeh!? Bu, bukan bukan! Yu, Yuu-kun itu, begitulah, bukan yang seperti itu kok!"
Aku merona merah dan menyangkal perkataan Chi-chan secara berlebihan. Setelah menunjukkan gerak-gerik keceplosan bicara secara terang-terangan, aku bertanya kepadanya sambil tersenyum malu-malu.
"...Ne, neeh, Chi-chan. Anu, aku dan Yuu-kun, kelihatan seperti sepasang kekasih tidak ya...?"
"----Cih! ...Ha! Sa... Sama sekali tidak kelihatan! Lagi pula, bocah seperti Rei punya pacar itu seratus tahun terlalu cepat!"
Aaaaa~~ tidak tahan rasanya~~~~ Rasa cemburu polos anak kecil yang benci melihat bayangan pria lain melekat pada wanita lebih tua yang disukainya! Tidak berlebihan jika kukatakan aku pulang kampung demi hal ini. Ada hasil yang setimpal karena terus memperdaya Chi-chan dalam berbagai aspek setiap kali pulang kampung. Bisa dibilang ini adalah festival setahun sekali. Selama aku tidak bisa menemui Yuu-kun dan kawan-kawan, biarkan aku mengisi ulang nutrisi secukupnya dari Chi-chan.
"Ke... Keterlaluan! Ah-ah! Aku jadi terluka nih! Sebagai hukuman karena sudah bicara keterlaluan pada Kakak, Chi-chan jadi bantal gulingku sampai makan malam yaー."
"Hah!? Bo... Bodoh hentikan! Ada bagian tubuh yang membentur tahu!?"
Dia adalah sepupu yang hanya bisa ditemui sekitar satu atau dua kali dalam setahun. Akan kuajak dia dengan sedikit spartan sampai emosinya menjadi berantakan, yuk.
Aku—Sazanka Chihiro, punya seorang sepupu perempuan yang perilakunya sangat meresahkan.
"Kua――Nenek, selamat pagi."
Kegiatan rutin liburan musim panas, yaitu pulang kampung ke rumah kakek dan nenek. Aku terbangun dengan sedikit perasaan melambung, merasakan keasyikan tersendiri dari aroma kehijauan yang pekat, yang tidak bisa dirasakan di kota asal.
"Selamat pagi, Chihiro. Tadi pagi sekali bangunnya, ya."
Nenek tersenyum kagum melihatku yang keluar dari kamar tidur dengan gaya berjalan malas-malasan. Yah, wajar saja, bangun lebih pagi membuat hari terasa lebih panjang dan memberi kesan menguntungkan, lagipula udara pagi hari jauh lebih sejuk dan nyaman untuk dilewati.
"Kalau Reiko-chan sudah pulang dari 'jogging'-nya, kita sarapan bersama, ya."
"…Dia itu, lari-lari lagi rupanya. Padahal bukan anak klub olahraga, tapi rajin banget."
Sambil bergumam meremehkan, aku mengeluarkan teko plastik berisi teh barley dingin dari kulkas, lalu menuangkannya ke dalam botol minum yang baru saja dicuci. Setelah memastikan tutup botol minumnya terpasang dengan erat, aku menjepitnya di ketiak, mengenakan sandalku, dan keluar lewat pintu depan rumah satu lantai itu.
Angin sejuk membelai permukaan aspal yang belum menyerap panas terik matahari. Setelah berjalan sedikit, aku duduk di area istirahat yang hanya dilengkapi mesin penjual otomatis dan sebuah bangku, tempat yang sama sekali tidak jelas siapa yang menggunakannya.
"…Sudah waktunya, ya."
Aku bergumam sambil memeriksa waktu pada ponsel di genggamanku. Tidak lama kemudian, seorang gadis yang mengenakan pakaian olahraga tipis—si "sepupu meresahkan" yang dimaksud—muncul dari tikungan jalan sambil mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah.
"――Eh, Chi-chan? Selamat pagi, rajin banget bangun pagi."
"Padahal lagi liburan musim panas tapi rajin banget. Bukannya di kota asal pun kamu lari pagi tanpa pernah bolong? Mending istirahat saja selama di rumah Nenek."
"Soalnya sudah terlanjur jadi kebiasaan sih. Kalau nggak lari justru rasanya malah nggak tenang. Lagian di sini kan orang dan mobilnya sedikit, udaranya juga bersih jadi enak banget buat lari. Nanti sore juga mau lari lagi, Chi-chan mau ikut nggak?"
"No thank you. ……Nih."
Aku menyodorkan botol minum yang tadi ditaruh di bangku kepada sang sepupu meresahkan—Neetora Reiko.
"Hm, apa ini?"
"…Teh barley. Kubawa dari rumah Nenek, tapi karena tidak diminum, jadi buat kamu saja."
"Eh, sengaja dibawain untukku!? Senang bangeet! Makasih ya, Chi-chan!"
Melihat Reiko yang senang secara berlebihan untuk hal sepele seperti ini, aku malah jadi merasa salah tingkah dan membuang muka sambil beralasan.
"Bu, bukan demi Rei, ya! Aku tadinya mau minum sekalian jalan-jalan, tapi ternyata udaranya lebih sejuk dari perkiraan jadi nggak butuh!"
"Meskipun begitu aku tetap senang kok. Langsung kuminum, ya?"
Reiko memiringkan botol minumnya dan meneguk isinya. Melihat tenggorokan putihnya yang berkeringat bergerak naik turun membuatnya terasa begitu memikat, membuatku tanpa sadar terpaku menatapnya.
"…Fuuuh. Ah, Chi-chan mau juga?"
Entah salah paham apa terhadap tatapanku barusan, Reiko mengulurkan botol minumnya ke arahku. ……Anak ini, apa dia tidak memikirkan soal ciuman tak langsung atau semacamnya itu? Sejujurnya tanganku nyaris menggapai botol minum itu, tetapi harga diri dan rasa maluku melarangnya, membuatku menolak tawaran Reiko mentah-mentah.
"…Tid, tidak usah. Lagi pula aku nggak haus."
"Hm, begitu? Kalau gitu, yuk kita pulang. Habis lari jadi lapar."
……Pulang sih boleh-boleh saja, tapi apa-apaan tangan yang diulurkan itu? Jangan-jangan dia menyuruhku untuk berpegangan tangan?
"…Aku bukan anak kecil lagi. Tanpa gandengan tangan pun aku baik-baik saja kali."
"Eeeh, Chi-chan dingin banget sih~"
Sambil mengomel merajuk, Reiko berlari mendekat dan berjalan tepat di sebelahku yang memimpin jalan. ……Sejujurnya, berdiri berdampingan dengan Reiko itu lumayan menyebalkan. Tinggi badanku tidak terlalu tinggi. Cukup pendek sampai-sampai berada di jajaran bawah di dalam kelas. Fakta bahwa aku harus mendongakkan pandangan untuk melihat wajah Reiko di sebelahku membuatku merasa harga diri kecilku sebagai seorang laki-laki dicubit-cubit secara menyebalkan. Apalagi, jika orang yang harus kudongakkan pandangannya adalah seorang wanita yang diemban perasaan suka, itu semakin memperparah kesan menyedihkan.
"Sarapannya bikin nggak sabar dehー. Umeboshi buatan Nenek itu rasanya ada buah-buahannya, bikin nasi jadi masuk berapa banyak pun tau~"
Kepada si dungu yang tidak peka dan sama sekali tidak bisa membaca perasaan orang lain ini, rasa jengkelku akhirnya memancingku melontarkan kata-kata ketus.
"Kamu bakal gendut lho."
"…………Fu, fufuun! Aku baik-baik saja kok! Ma, menurutmu apa tujuannya aku lari setiap pagi dan sore, hah?"
"Suaramu gemetar tuh."
"Nggak gemetar kok. Aku ini otot perutnya lumayan luar biasa, tahu! Plank juga kulakukan setiap hari tanpa pernah absen!"
"Hoo, begitu ya."
"Aah! Chi-chan tidak percaya! Meragukan kata-kata Kakakー!"
Ekspresinya berubah-ubah dengan lucu merespons ucapanku yang berbunyi "Mukiー!", membuatku menggigit bagian dalam pipi untuk menyembunyikan wajah yang hampir menyeringai. ――Lalu, sang sepupu perempuan ini tiba-tiba melakukan hal yang sangat luar biasa.
"Betulan kok! Nah, lihat nih Chi-chan! Meskipun bukan six-pack, tapi lekukan otot perutku kelihatan jelas lho!"
"——Buh!?"
Melihat Reiko yang tiba-tiba menyingkap keliman pakaian olahraganya dan memamerkan bagian perutnya, kesadaranku sempat melayang untuk sesaat. Kulit putih bersih tanpa noda sedikit pun, serta pinggang ramping dan kencang persis seperti yang ia katakan. Lekukan tipis garis vertikal pada otot perutnya serta pusar berbentuk lonjong yang indah membuatku terpesona tanpa memiliki sisa kelonggaran untuk membuang muka.
Entah salah paham apa melihat reaksiku, si bodoh ini mendengus bangga, lalu melontarkan kalimat yang semakin membuat kepalaku pening.
"Fufuun! Hebat, kan? Nah, mau coba disentuh sedikit?"
"…Ba, bodoh kamu ini!"
"Sakit?!"
Dengan tekad sekuat baja, aku menahan tanganku yang hampir meraba perut Reiko, lalu memukul kepala si bodoh itu dengan kuat.
"Ma, mana ada orang bodoh yang memamerkan perutnya ke cowok di jalanan umum begini!"
"…Eh, cowok? ……Di mana?"
D I S I N I , T A H U ! !
Kami sudah cukup lama saling mengenal, tetapi wanita ini selalu bertingkah seperti ini dalam segala hal.
Meski memiliki sifat sok baik dan suka merawat orang lain yang aneh, pertahanannya terhadap hal-hal berbau seksual sangatlah longgar.
Walaupun tidak akan pernah kukatakan langsung padanya, penampilan...
...Meskipun sifatnya yang suka merawat orang lain dan kelewat baik itu aneh, pertahanannya terhadap hal-hal berbau seksual sangatlah longgar. Walaupun tidak akan pernah kukatakan langsung padanya, wajahnya pun jujur saja setara dengan seorang idol.
Setiap kali bertemu setiap tahunnya, aku selalu merasa cemas setengah mati, takut kalau-kalau suatu hari nanti dia terjerat pada pria brengsek.
Sambil dilanda rasa lelah yang luar biasa sejak pagi hari, aku pun menghela napas panjang.
……Apakah pusar tadi bisa kulupakan, ya?
Aku mengangguk-angguk seperti mainan akabeko sambil berusaha keras mengusir cekungan memikat milik sang sepupu yang telanjur melekat di mataku, demi mempertahankan sikap sok suci yang khas seorang doujin (perjaka).
*
"Aku ingin slot tidur-dengan-berondong (netorare berondong) ya..."
Aku—Neetora Reiko, sambil menyantap makan malam yang disiapkan oleh Nenek, membiarkan pikirannya melayang ke ujung tak bertebatas.
Sejak pulang kampung ke rumah kakek dan nenek, menghabiskan waktu seharian penuh untuk mempermainkan Chi-chan, keinginan untuk memiliki seorang pria selingkuhan yang lebih muda semakin kuat dari hari ke hari.
Memanfaatkan sifatnya yang lebih muda, sangat menyenangkan untuk mencoba berbagai perintah ecchi dan licik—dengan dalih "aku sama sekali tidak menganggapmu secara seksual, lho~"—yang akan membuatku ragu jika dicobakan pada Yuu-kun atau Fuyuki-kun. Rasanya mirip seperti saat job (kelas karakter) baru diterapkan dalam game online.
Kelebihan dari hal ini adalah memberikan kegembiraan kepada Chi-chan berupa "keuntungan istimewa karena memanfaatkan posisinya yang lebih muda", sekaligus di saat yang sama memberinya dilema keputusasaan karena "dirinya sama sekali tidak dianggap sebagai seorang laki-laki". Ibarat kata, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Namun, slot
tidur-dengan-berondong itu, jika dilihat-lihat ternyata pengelolaannya cukup sulit. Aku tidak tahu bagaimana dengan orang dewasa, tetapi bagi para pelajar, perbedaan usia satu tahun saja sudah membuat dunia terisolasi jauh melampaui angka tersebut. Secara sederhana, jika tingkat kelasnya berbeda, ritme kehidupan dan penyesuaian jadwal pun akan sangat melelahkan, dan ketika musim kelulusan tiba, mereka akan terpisah sekolah selama satu tahun penuh. Jika sudah begini, manajemen chart yang rumit hampir mustahil dilakukan.
Mempertimbangkan berbagai macam keadaan tersebut, aku pun belum bisa melangkah untuk mengamankan slot berondong tersebut. Kalau memang ingin banget, apakah sebaiknya aku memperdaya siswa tingkat bawah yang cocok saat aku kelas dua SMA nanti? Aku percaya diri bisa memikat bahkan orang yang baru pertama kali ditemui, tapi kalau terlalu mudah, rasanya kurang memiliki nuansa estetik sebagai pihak perusak hubungan (netorare). Dalam hal ini, Chi-chan bisa dikatakan membanggakan spesifikasi yang sangat unggul. Memanfaatkan posisinya sebagai sepupu, aku telah berhasil membangun hubungan kepercayaan yang memakan waktu dan tenaga dengan cermat, serta sikapnya yang menyembunyikan rasa suka bak tsundere murahan benar-benar merangsang seleraku.
Hanya saja, sayangnya, area tempat tinggal kami terlalu berjauhan. Sangat tidak masuk akal untuk memasukkan seseorang ke dalam chart yang alamatnya begitu jauh sampai-sampai harus mengebut di jalan tol untuk bisa menemuinya. Sayangnya, Chi-chan sepertinya hanya layak menempati slot camilan sebelum hidangan utama (Yuu-kun). Namun, aku tetap saja menginginkannya.
"…Aku ingin Chi-chan, ya..."
"Buh!?"
Chi-chan tersedak. Gawat, keinginanku bocor keluar dari mulut.
"Ba... Ha!? A, apa yang kamu katakan secara tiba-tiba, Rei bodoh!"
"Maaf, maaf. Tadi aku mikir, 'Andai punya adik seperti Chi-chan ya~', eh tahu-tahu malah terucap."
Melihat situasi kami berdua, ayah Chi-chan—paman bagiku—menyela sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kalau begitu, jadilah anakku saja, Reiko-chan? Kalau kamu, istri dan Chihiro pasti akan menyambutnya dengan tangan terbuka."
"Aha♪ Itu ide bagus~. ...Chi-chan, maukah kamu menjadikanku isterimu?"
"Ma, mana bisa aku ladeni! Aku sudah selesai! A, aku mau mandi!"
Begitu aku bermanja-manja pada Chi-chan dengan gestur centil yang terang-terangan, dia lari terbirit-birit dengan wajah memerah padam. Menurutku itu sangat berbau kepolisian perjaka (doujin), dan itu sungguh luar biasa. Nanti kalau aku mulai berpacaran dengan Yuu-kun di masa depan, aku pasti akan langsung melaporkannya, jadi siapkan dirimu untuk menikmati hidangan BSS (Boy Friend's Sweet Suffering) yang luar biasa, ya.
"Ahaha, apa aku terlalu berlebihan menggodanya...?"
"Tidak apa-apa, kok. Itu cuma karena dia malu saja."
"Kalau begitu sih tidak apa-apa... Terima kasih atas makanannya."
Setelah selesai makan, aku duduk di bereng (engawa) untuk menikmati sejuknya angin sore.
"Nah..."
Aku mengeluarkan ponselku lalu melakukan panggilan keluar ke Yuu-kun.
*
Mendapat panggilan telepon yang datang secara tiba-tiba dari Rei-chan membuat jantungku—Tachibana Yuuki—berdegup kencang seolah mau copot. Semenjak dia pulang kampung, kami memang sering bertukar pesan lewat obrolan grup beberapa kali sehari, tapi ini adalah pertama kalinya aku menerima panggilan telepon pribadi darinya. Mendengar ucapannya seperti, "Aku jadi ingin dengar suara Yuu-kun...", aku berusaha menepis perasaan seolah terbang ke langit ketujuh, lalu bertukar kabar remeh-temeh dengannya.
"--Di sini sih keadaannya begitu. Kalau Yuu-kun bagaimana?"
"Aku, ya biasa saja seperti biasa. Kadang-kadang ketemu Fuyuki-kun atau Shirase-san sih, tapi intinya lebih banyak bersantai di rumah secara indoor."
"Aha, bukannya itu bagus ya. Mirip Yuu-kun banget."
Suaranya yang sampai melalui smartphone menggelitik telingaku dengan manisnya. --Bagaimana ini. Perasaan suka terhadapnya sudah tidak bisa kutahan lagi.
"Ah, tapi PR liburan musim panas juga harus dikerjakan dengan benar, tahu? Khususnya tugas matematika, jumlahnya banyak banget jadi harus dicicil setiap hari--"
"…Rei-chan."
"Hm, apa tuh?"
Bagai air yang meluber dari cangkir, hatiku ingin sekali menyampaikan rasa cinta padanya.
"I, itu, aku rasa hal seperti ini sebenarnya nggak pas kalau dikatakan lewat telepon tapi..."
"Fufu, ada apa? Tiba-tiba serius begitu."
"…Rei-chan, aku—"
"(Rei, kamar mandinya sudah kosong tuhー)"
…………Terdengar suara selain Rei-chan di latar belakang panggilan telepon. Sepertinya dia sedang diajak bicara oleh seseorang. ……Oleh cowok yang tidak kukenal.
"Iyaaa. Chi-chan jahat banget deh~, padahal aku bilang kita mandi bareng saja, tapi kamu selalu duluan masuk sendirian."
--Hah? Mandi bareng? Rei-chan? Dengan siapa?
"(Ha, hah!? M, makanya omongan lamaran nikah tadi dan segala macam itu, benar-benar tolong dikondisikan--)"
"Maaf ya, Yuu-kun. Kalau tidak cepat-cepat mandi nanti antreannya keburu penuh, jadi aku tutup dulu ya?"
"Eh, ah, ya, ya. …Itu, Rei-chan. Cowok yang ada di sana itu siapa--"
"Senang rasanya bisa dengar suara kamu. Kalau begitu, selamat malam."
Seolah meredam suaraku yang terdengar kebingungan, sambungan telepon darinya diputus. Perasaan melayang dari beberapa menit lalu lenyap tak bersisa, dan digantikan oleh hawa dingin yang menyelimuti seluruh tubuhku hingga membuatku gemetar.
*
"Chi-chan tahu nggak? Tanaman tomat di pot itu, kalau diberi sedikit air garam, bisa menghasilkan tomat yang manis banget, lho?"
"……Hah? Ngomongin apa sih?"
"Maksudnya, bukan cuma memanjakan saja, tapi sesekali memberikan sedikit 'cambuk' justru bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik."
"?"
Chi-chan memiringkan kepalanya seolah sama sekali tidak mengerti. Menumbuhkan kasih sayang lewat kemesraan yang murni memang bagus, tapi sesekali merusak kewarasannya dengan cara seperti ini justru akan memperkuat rasa obsesinya padaku, sehingga nuansa NTR-nya makin terasa.
*
"………………Panas banget."
Di tengah pantai berpasir yang dibakar oleh sengatan panas matahari, aku—Sazanka Chihiro—menunggu tanpa kepastian dengan gelisah dan tidak tenang.
Rekreasi di pantai yang terletak hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari rumah kakek dan nenek adalah salah satu tradisi rutin setiap tahun.
Kesempatan untuk bisa masuk ke laut hanya ada saat pulang kampung, dan aku pun tidak benci berenang. ……Tetapi, hal yang paling ku nantikan adalah—
"Chi-chan! Menunggu ya!"
"……っ!"
Mendengar suara si itu yang sudah sangat kutunggu-tunggu dari arah belakang, aku langsung menegangkan tubuh dan berbalik dengan kaku.
"La, lama banget! Rei—"
Begitu berbalik, untuk kesekian kalinya aku benar-benar terpaku.
"Aha, maaf maaf. Karena aku jarang pakai pakaian renang, jadi agak repot tadi waktu memakainya."
Pakaian renang yang dikenakan Rei bukanlah model one-piece terusan atas-bawah yang sering ia pakai sampai tahun lalu, melainkan model bikinin yang terpisah antara atasan dan bawahan. Paparan kulit yang secara otomatis bertambah banyak dibanding model terpusat, ditambah pusarnya yang telanjur melekat di mataku sejak kejadian tempo hari dan hampir membuatku tergiur untuk menatapnya lekat-lekat, kutahan sekuat tenaga sambil menggertakkan gigi.
"Chi-chan? Ada apa?"
Entah sadar atau tidak dengan perasaanku, Rei mengintip wajahku yang sedang membeku dengan ekspresi heran. Nah, seperti yang mungkin sudah kujelaskan sebelumnya, tinggi badanku jauh lebih pendek dari Rei.
Saat dia mencoba mengintip wajahku seperti itu, secara otomatis posisinya jadi sedikit membungkuk ke depan. Sejak sekitar tahun lalu, dada Rei mulai berkembang menjadi bentuk tubuh wanita secara tiba-tiba, dan belahan dadanya kini tepat berada di depan—
"---A, ada apa memangnya! S, selain itu, ayo cepat berenang! Karena nungguin Rei, badanku jadi panas banget tahu!"
"Eits. Nggak boleh, nggak boleh, kita harus melakukan pemanasan dulu dengan benar."
Aku ingin segera masuk ke laut untuk menyembunyikan bagian bawah tubuhku yang nyaris memicu situasi gawat, tapi Rei menghentikannya dengan argumen logis yang masuk akal.
"Ngh~~"
Rei mengangkat kedua tangannya lurus ke atas kepala sambil meregangkan tubuh bagian atasnya ke belakang untuk mengendurkan otot-ototnya. Dada itu…… ketiak itu…… pusarnya……! Aku rasanya mau gila. Tolong siapa pun selamatkan wanita pembuat masalah ini.
"……Dih, Chi-chan? Kamu ngeliatinnya kelewatan lho."
Mungkin akhirnya menyadari tatapanku yang penuh niat terselubung, Rei memasang wajah agak marah sambil menutupi bagian tubuhnya dengan tangan. Padahal sama sekali nggak tertutup. Malah jadi kelihatan semakin erotis.
"---Hah!? A, b, bukan, ini tuh..."
Melihatku terbata-bata tanpa mampu memberi alasan, Rei tersenyum geli dengan ekspresi seolah merasa kesulitan.
"Chi-chan juga sudah jadi cowok ya. Tertarik pada tubuh perempuan sih bukan hal yang salah, tapi... kalau kamu terlalu terang-terangan melotot begitu, nanti bisa dibenci sama cewek yang kamu suka, lho?"
"Ugh."
Kalimat yang secara tidak langsung menempatkannya di luar jangkauan target asmaranya itu menancap telak di lubuk hatiku.
"……Tapi, mumpung kebetulan, aku mau tanya deh sama Chi-chan?"
"N, nanya apaan?"
"Pakaian renang ini, gimana menurutmu? Aku sudah berusaha cukup keras lho, apa di mata cowok ini kelihatan 'mantap'?"
Man, menancapnya parah banget. Bar nyawaku sekarang sudah merah nih. Tentu saja aku tidak mungkin bisa mengucapkan hal itu secara jujur, jadi aku mengakalinya dengan kata-kata yang ambigu.
"Ya, yah, lumayanlah buat ukuran Rei?"
"Cara ngomongnya agak menyebalkan ya... Tapi, yah, karena tadi kamu ngeliatinnya segitunya, berarti kelihatannya lumayan bagus ya~?"
"Yang mulia Kakak, demi kebaikan saya, mohon lupakan kebodohan saya yang barusan."
Kepada sang sepupu yang terus menggodaku sambil menyeringai, aku langsung berlutut bersujud (dogeza) di atas pasir pantai. Lutut dan dahiku terasa panas banget.
"……Fufu. Kira-kira Yuu-kun bakal senang nggak ya lihat pakaian renang ini..."
——Mendengar kata-kata itu, otakku mendadak membeku seketika. Lagi. Pria itu lagi.
Saat aku mendongakkan pandangan, gadis yang kucintai itu sedang merona pipinya sambil memikirkan laki-laki lain, bukan aku.
"----っ!"
"Kya! Chi-chan?"
Tanpa sadar aku mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar, lalu berlari menuju ke tepi ombak.
"---M, mau sampai kapan kamu ngoceh terus, hah! Di depan kita ada laut, jadi biarkan aku cepat berenang!"
Menutupi rasa cemburu yang jelek ini dengan alasan seperti anak kecil, aku menyeret Rei secara paksa masuk ke dalam air.
"Wap! Sialanー! Kena kau!"
Sambil tertawa cekikikan dengan rambut hitamnya yang basah, dia mencipratkan air laut yang disendok dengan kedua tangannya ke arahku.
Benar. Sekarang, orang yang ada di hadapanmu bukanlah cowok bernama Yuu. Melainkan aku. Jangan melihat ke arah lain.
Seolah ingin memuntahkan endapan kekecewaan yang menumpuk di dalam hati, aku bersenang-senang bermain di pantai bersamanya dengan bertingkah lebih bersemangat dari biasanya.
"……Fuh."
Di tengah-tengah menikmati permainan air, aku disuruh oleh Rei—yang bilang kalau tenggorokannya kehausan—untuk pergi membelikan minuman ke mesin penjual otomatis.
Yah, karena dia juga membelikannya untukku, jadi aku tidak punya keluhan. Mendapatkan dua botol minuman olahraga untuk Rei dan diriku, aku kembali ke pantai.
"……Eh?"
Di dekat Rei yang kulihat dari kejauhan, ada sosok pria asing. Rupanya ada dua orang pemuda. Mereka kelihatan sedang berbicara sesuatu dengan Rei, tapi bagaimanapun juga mereka sama sekali tidak terlihat seperti orang kenalannya.
"…………"
Memiliki firasat buruk, aku mempercepat langkah mendekatinya. Tepat sebelum salah satu dari pemuda itu merangkul bahu Rei dengan akrab, aku berdiri menempatkan diri di hadapan mereka berdua.
"Lama ya, Rei. Ayo berangkat."
"Ch, Chi-chan?"
Sambil mencengkeram tangan Rei secara paksa, aku mencoba beranjak pergi dari tempat itu.
"Heh, tunggu sebentar dong~ Adik kecil? Kita cuma mau ngobrol sebentar kok sama Kakak manis ini..."
Mendengar ucapan pria yang kelihatan murahan itu, aku mengalihkan pandanganku ke arah Rei. Melihat ekspresi ketakutan yang sedikit terpancar dari wajahnya, aku menatap tegas ke arah para pemuda itu.
"Maaf ya. 'Pacar'ku ini kelihatannya sudah capek, jadi aku mau biarkan dia istirahat. Kalau begitu."
Mendengar ucapanku, para pemuda itu memasang ekspresi terperangah. Memanfaatkan celah itu, aku dan Rei meninggalkan tempat tersebut.
"……Ah, sori. Minuman olahraga titipanmu malah ketinggalan di sana."
"A, ah. Kalau itu sih nggak apa-apa tapi..."
Begitu sosok para pemuda yang tadi mengganggu Rei sudah tidak terlihat lagi, aku membuka suara untuk mengusir udara kecanggungan di antara kami.
"Sekadar tanya aja, emangnya yang tadi itu kenalanmu?"
"Mana mungkin. Cuma orang iseng ngajak kenalan biasa. Sempat repot juga karena mereka agak gigih... Untung saja Chi-chan datang menyelamatkanku."
Mengingat kembali rasa takut saat diganggu tadi, tangan yang kami gandeng bergetar tipis. ……Ah, benar juga. Karena sikap alaminya sehari-hari, aku hampir lupa, tapi dia kan juga perempuan biasa. Dikelilingi oleh dua pria yang berbadan jauh lebih besar darinya, tidak mungkin dia tidak merasa takut.
"……Udah beres kok, jadi tenang saja."
"Eh?"
Untuk menenangkan Rei, aku mengelus kepalanya pelan. Postur tubuhku yang sedikit berjinjit ini pasti terlihat sangat menyedihkan jika dilihat dari luar. Tubuh berbadan pendek ini benar-benar membuatku kesal. Namun, tampaknya caraku itu tetap berhasil meringankan beban perasaan Rei. Dia memasang senyuman yang terlihat nyaman, membiarkan dirinya terus dielus olehku.
"Kamu benar-benar cowok yaー. Aku jadi sedikit berdebar."
"……Hah, hari ini tumben banget anteng. Apa lagi yang sedang kamu rencanakan, hah?"
"Fufu, itu bukan candaan, kok. Aku benar-benar mengatakannya dari hati. Rasanya Chi-chan keren bangetー. Kata-kata seperti 'Jangan ganggu pacarkuー' itu adalah hal yang ingin didengar oleh setiap perempuan setidaknya sekali seumur hidup."
……Wanita ini sungguh. Kenapa dia begitu pandai mempermainkan hati orang lain.
"……Fufu, ya ampun. Chi-chan itu, benar-benar, benar-benar―――― Enak banget ya."
"Hmm? Sori, kamu bilang apa?"
"Aku bilang, perempuan yang kelak jadi pacar Chi-chan pasti bakal beruntung bangetー."
"Iya, iya, terima kasih banyak kalau begitu."
Begitulah, hari di musim panas itu pun akhirnya berakhir.
*
Mungkin, aku—Neetora Reiko—sedikit lebih licik daripada orang lain. Mungkin aku juga sedikit lebih egois daripada kebanyakan orang.
Meskipun aku mencela diriku sendiri dengan kata-kata kasar seperti orang sampah atau bajingan, jauh di lubuk hatiku aku berpikir,
"Bukankah aku tidak sekampungan itu sampai harus dibilang begitu?"
, dan aku menganggap diriku sebagai sosok tragis yang memiliki latar belakang menyedihkan layaknya seorang antihero. Dan aku sadar bahwa aku adalah tipe orang yang akan meremehkan siapa pun yang tidak bisa bersimpati padaku sebagai sampah berhati sempit yang miskin jiwa.
Meskipun aku mencela diriku sendiri sebagai monster jahat, aku ingin semua orang di sekitarku berkata
, "Kamu itu manusia kok,"
dan aku ingin mereka berpikir bahwa di balik setiap perbuatan burukku selalu ada alasan yang menyedihkan dan hal itu tidak dapat dihindari.
Manusia adalah makhluk yang berbuat salah. Dengan kata lain, itu juga berarti manusia adalah makhluk yang melakukan kejahatan.
Namun, meski pun seseorang salah jalan, orang yang bisa memaafkannya juga adalah manusia. Manusia bisa memulai kembali berapa pun kali. Benci dosanya, jangan benci manusianya. Kata-kata yang bagus.
Makanya, jangan membenciku meskipun aku berbuat salah. Orang yang melakukan hal seperti itu adalah monster jahat yang telah kehilangan kemanusiaannya. Tidak bisa dimaafkan, kan?
Q.E.D. (Quod Erat Demonstrandum / Bukti Selesai).
Nah, aku sudah memulai monolog yang agak melankolis, tapi mau bagaimana lagi. Pasalnya, hari perpisahan dengan Chi-chan—yang telah menghibur hatiku selama beberapa waktu belakangan ini—telah tiba.
"Uuuhhhuu~ Chi-chaan..."
Di samping Ayah dan Ibu yang sedang memasukkan barang-barang ke dalam mobil, aku memeluk Chi-chan erat-erat seolah menyayangkan perpisahan kami.
"Buset... Tiap tahun, kalau nggak ngelakuin ini kayaknya Rei nggak bakal puas ya."
Biasanya dia akan berwajah merah padam dan melawan, tapi karena saat ini aku benar-benar sedang menangis sungguh-sungguh, dia hanya pasrah dibiarkan begitu saja. Gampang banget.
"Soalnya aku sedih banget! Kita nggak bakal ketemu lagi selama setahun penuh, tahu!?"
Ini adalah perasaan yang jujur. Baru-baru ini, aku menikmati emosi negatif yang meluap darinya dengan cara merusak mental Chi-chan lewat sentuhan fisik berlebihan layaknya manga ero one-shota serta memancing keberadaan Yuu-kun, sambil meresapi rasa "Ah~~ enak banget, enak banget", tapi hal itu harus dipendam lagi selama setahun penuh. Sungguh murni menyedihkan.
"Setahun itu sebentar kali. Tahun depan aku pasti bakal nyusul tinggi badan Rei."
"Eh, ah, un, semangat ya?"
"Jangan tiba-tiba balik bersikap normal! Emosi orang lagi hancur tahu nggak sialan!? Sialan, sebelum tahun depan aku pasti bakal tembus 160 sentimeter!"
Di tengah-tengah obrolan seperti itu, kedua orang tuaku memanggil. Rasanya berat hati, tapi ini benar-benar waktu perpisahan. Aku mengeluarkan ponselku lalu mengaktifkan kamera depan.
"Kalau gitu, karena ini pemandangan terakhir melihat Chi-chan yang kecil dan imut, kita foto kenang-kenangan yuk?"
"Kamu lagi cari ribut ya, Rei bodoh."
"Udah, biarin. Nih, nempelnya lebih dekat lagi."
Aku menariknya mendekat dengan kuat, merapatkannya hingga pipi kami bersentuhan. Jepret, tepat sebelum Chi-chan yang telinganya sudah merah padam sempat melawan.
"Fotonya bakal kukirim ke aplikasi pesan Chi-chan juga ya. Boleh dipake buat wallpaper kok!"
"Mana mungkin, bodoh! Nanti aku disangka-sangka yang nggak-nggak sama anak sekelas!"
"……Eh? Bukannya cuma dikira sebagai sepupu yang akur seperti biasa ya? Disangka apa maksudnya?"
Ketika aku memasang wajah polos ala protagonis dense bertelinga tuli, Chi-chan menyadari kalau dia telah menggali lubang kuburnya sendiri dan wajahnya langsung memerah padam. Ah~ enaknya, enaknya.
"Daaa~! Udah sana, cepetan pergi! Tante dan yang lain dari tadi udah nungguin tahu!"
"Iyaa. Kalau begitu, sampai ketemu lagi tahun depan ya."
Sekali lagi untuk terakhir kalinya, aku memeluk Chi-chan ringan lalu berbisik di telinganya.
"……Tahun depan tunjukkan Chi-chan yang jauh lebih keren ya? Aku menantikannya."
"Ha, hah!?"
Nah, kurasa kerusakan mental segitu saja sudah cukup. Aku ingin dia berjuang habis-habisan demi cinta yang tak sampai itu. BSS juga mirip-mirip kerabatnya NTR, jadi aku bisa menikmatinya dengan lezat.
"Da-daah! Sampai jumpa lagiー!"
Aku melambaikan tangan dari dalam mobil ke arah Chi-chan dan kakek-nenek. Memang agak sepi karena terpisah dari Yuu-kun dan yang lain, tapi liburan pulang kampung kali ini benar-benar sangat bermakna.
*
"……Sialan."
Begitu mobil yang membawa rombongan Rei sudah tidak terlihat lagi, aku—Sazanka Chihiro—melontarkan kata-kata makian.
"……Setahun itu cuma sebentar. Nggak ada waktu buat bersantai-santai..."
Kalau aku terus bermalas-malasan, sepupu yang meresahkan itu pasti akan segera pergi ke tempat yang tidak bisa kugapai. Apa yang bisa dilakukan oleh diriku yang masih anak-anak tentu ada batasnya. Namun, itu juga berarti bahwa sekecil apa pun hal itu, pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan.
"Cara melanjutkan sekolah ke kota asalnya... coba kucari tahu, deh."
Mungkin mustahil. Mungkin tidak akan sempat. Mungkin hanya akan berakhir sia-sia. Segala macam kenyataan negatif bermunculan seperti gunung. Namun, hal-hal itu sama sekali bukan alasan bagiku untuk menyerah.
Aku menatap foto swafoto berdua bersama Rei yang dikirimkan ke ponselku.
"Untuk sekarang, coba kucoba berusaha belajar dengan giat, deh."
Tentu saja tidak realistis untuk memindahkan sekolah menengah pertamaku ke sana sekarang. Namun, jika tingkat SMA. Kalau aku belajar dengan sungguh-sungguh seolah bertaruh nyawa, seharusnya aku bisa memilih sekolah unggulan di perkotaan. Kalau aku mengincar sekolah yang lebih tinggi sampai batas di mana orang tuaku tidak merasa keberatan, mereka mungkin akan protes tapi tidak akan melarangnya.
"……Tunggu ya, Rei. Akankutunjukkan diriku yang paling keren..."
Di dalam lubuk hati sang bocah, semangat juang yang bahkan mampu mengalahkan teriknya matahari musim panas mulai berkobar.
* Beberapa waktu setelah liburan musim panas dimulai.
Aku—Shirase Yuri—sedang membuat janji untuk bertemu dengan seseorang di sebuah pusat perbelanjaan besar di kota asalku.
"……Aku tidak aneh, kan?"
Sambil menjadikan kaca besar sebagai cermin rias untuk memeriksa pakaianku, atau mengecek apakah riasanku luntur menggunakan cermin kompak yang diberikan oleh sahabat berharganya—bukan, wanita berharga—aku menghabiskan waktu menunggu kedatangan orang yang ditunggu-tunggu dengan perasaan gelisah.
Kalimat yang pernah kulihat di televisi atau entah di mana, 'Waktu menunggu pun adalah inti dari kencan', ternyata benar adanya ya, pikirku sambil merasakan sensasi aneh antara rasa takut dan hati yang melayang-layang.
……Yah, kurasa orang itu tidak menganggap ini sebagai kencan sama sekali, jadi ini murni perasaanku sendiri yang bertepuk sebelah tangan.
"---Eh, bohong! Kamu sudah datang!? Yuri-chan, lama menunggu yaー!"
Jantungku melompat kaget mendengar suara yang sudah sangat kunantikan.
Saat mengarahkan pandangan ke arah asal suara, sang teman kencan—Rei-chan—datang dengan langkah cepat sambil sedikit mengatur napasnya yang terengah.
"Maaf! Aku bikin kamu nunggu ya?"
"T, tidak, aku juga baru sampai kok..."
Itu kebohongan.
Padahal aslinya aku sudah datang lebih cepat satu jam dari waktu yang dijanjikan.
Namun, karena Rei-chan pun datang lebih awal tiga puluh menit dari janji, aku jadi hampir kegeeran dan mengira kalau dia juga menantikan jalan-jalan bersama-ku.
"Aah! Kalimat 'aku juga baru sampai' itu, padahal aku yang mau bilang!"
"Eh, ah, itu, maaf ya...?"
"Ahaha, canda kok. Tapi aku juga tadinya berniat datang lumayan cepat, emangnya Yuri-chan sudah nunggu dari jam berapa? ……Jangan-jangan kamu ngebut datang sejam lebih awal?"
Mendengar Rei-chan menebak persis dengan tepat, aku merasa kaget, tapi aku berusaha agar keterkejutanku tidak terlihat di luar. Aku tidak mau dikira sebagai perempuan yang posesif dan berat...
"B, beneran baru sampai kok..."
"Fuuuuuuun……"
"Uu, Rei-chan curiga..."
"Maaf maaf. Kalau gitu, yuk kita berangkat! Aku sudah menantikan bisa 'kencan' bareng Yuri-chan lagi lho setelah sekian lama."
Mendengar kata-katanya yang santai, hatiku terasa seperti diremas.
Kata "kencan" itu, dia pasti mengucapkannya hanya sebagai candaan semata, tapi meskipun begitu, ada bagian dalam diriku yang telanjur terpikat padanya tanpa bisa dicegah saat dia melemparkan kata-kata yang kuinginkan itu.
"……Nee, Rei-chan. Tachibana-kun dan Kaishima-kun tidak perlu diajak juga tidak apa-apa?"
Bukan cuma aku satu-satunya orang yang ingin menemuinya yang baru saja pulang kampung dari rumah kakek-neneknya.
Tentu saja aku merasa senang bisa memilikinya sendirian seperti ini, tapi di sisi lain aku juga merasa tidak enak pada kedua anak laki-laki itu, sehingga tanpa sadar aku menanyakannya.
"……Yah, rasanya agak kasihan juga kalau ngajak anak cowok ikut-ikutan belanja hari ini, kan?"
"U... K-kalau dipikir-pikir memang benar juga sih..."
Tujuan utama berbelanja hari ini adalah persiapan untuk pergi ke kolam renang di mana kami berempat berencana main bersama dalam waktu dekat... intinya adalah membeli pakaian renang baru.
Meski begitu, Rei-chan sepertinya sudah membeli pakaian renang baru saat pulang kampung kemarin, jadi yang akan memilih-milih nanti hanya aku seorang.
"Haa, nggak nyangka baju tahun lalu sudah nggak muat lagi..."
"Badan Yuri-chan kan bagus sihー. Walaupun kamu bangga, sebenarnya nggak perlu sampai malu begituuu."
Sambil menatap deretan pakaian renang yang dipajang, Rei-chan mempertimbangkan tren dan padu padan tahun ini, lalu memilihkan berbagai macam kandidat untukku.
Aku juga sempat merasakannya saat dia mengajariku makeup dulu, jumlah pengetahuan yang dimilikinya benar-benar luar biasa.
Bukan hanya soal fesyen dan pelajaran, aku bahkan pernah melihatnya membicarakan hal-hal seperti kedokteran olahraga dengan Kaishima-kun. Rasanya hampir tidak ada hal yang tidak dia ketahui.
Saat kutanya dulu, 'Kenapa kamu tahu banyak hal begituan?', dia menjawab dengan wajah malu-malu, 'Ini diperlukan demi impian yang mutlak ingin kugapai'.
Meskipun dia tidak mau memberitahu detailnya karena 'malu', sosoknya yang berjuang dengan sungguh-sungguh demi mimpinya itu tampak bagaikan cahaya yang sangat menyilaukan di mataku.
"Hmm. Atau sebaliknya, gimana kalau kita pakai desain yang sama sepertiku? Aku agak pengen coba gaya kembar (twin coordinate)."
"P, pakaian renang Rei-chan kan model bikini yang lumayan berani, kan? A, aku agak..."
"Padahal menurutku Yuri-chan pasti bakal cocok banget lho."
Mengingat kembali foto pakaian renang Rei-chan yang dikirimkan di obrolan grup, wajahku langsung merona merah.
[REIKO: Pantai di rumah Nenek! Indah!]
Sambil diiringi kalimat tersebut, saat melihat fotonya yang tampak bersenang-senang dengan pose peace ganda dalam balutan pakaian renang, aku sempat merasakan kejutan yang cukup besar.
Mungkin dia sendiri tidak menyadari hal itu, tapi menurutku terlalu ceroboh mengirimkan foto berbikini di dalam grup chat yang juga dilihat oleh Tachibana-kun dan Kaishima-kun.
Sedikit banyak, aku sempat merasa agak canggung karena para cowok hanya membubuhkan tanda centang terbaca (read) lalu terdiam cukup lama, tahu?
……Yah, bukan berarti aku tidak punya perasaan ingin memonopoli foto pakaian renang Rei-chan sendirian, sih.
"Mu~... Yah, kurasa yang ini paling cocok, gimana menurutmu?"
"U, un. Aku juga tadinya mikir kalau yang ini bagus."
Pilihan akhir yang dipilihkan oleh Rei-chan adalah pakaian renang terusan (one-piece) dengan desain menyerupai pakaian biasa yang menyatu dengan rok.
Meskipun bagian kulit yang terekspos tidak terlalu banyak, desainnya yang imut dan modis sangat sesuai dengan seleraku, dan fakta bahwa dia memilihkannya khusus untukku saja sudah cukup menjadikannya barang favoritku.
Meskipun sedikit malu rasanya pergi ke kolam renang bersama anak-anak cowok sekelas, tapi aku menantikan saat-saat bisa bermain bersama Rei-chan, pikirku sambil memeluk erat pakaian renang yang baru kubeli itu bagaikan harta karun.
"Fuh..."
"Kamu nggak apa-apa, Yuri-chan? Capek ya?"
Setelah selesai berbelanja, aku dan Rei-chan beristirahat sejenak di sebuah kedai kopi waralaba di dalam pusat perbelanjaan.
"Enggak kok, aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong, habis ini kita mau ngapain lagi?"
"Hmm, Yuri-chan ada waktu luang? Gimana kalau kita nonton bioskop?"
"Bioskop? Aku sih nggak keberatan, tapi sekarang lagi tayang film apa ya..."
Saat aku bertanya, Rei-chan menunjukkan situs bioskop di dalam mal tersebut lewat smartphone-nya.
"Kalau yang ini gimana? Ini adaptasi film dari novel yang sempat dibaca sama Yamada-kun."
"Ah, aku kayaknya pernah dengar sekilas judulnya."
Film yang ditunjukkan oleh Rei-chan adalah film anime yang diangkat dari novel.
Ceritanya adalah drama masa muda yang berlatar di sekolah, dan meskipun aku belum pernah membaca novel aslinya, kurasa itu adalah karya yang cukup menjadi bahan perbincangan.
"Ulasannya juga nggak jelek, jadi sepertinya boleh juga, kan?"
"Kalau begitu putus! Aku bakal pesan tiketnya secara online, jadi kita buang-buang waktu sebentar di sini sampai filmnya mulai ya."
"Un. Pasti seru ya, Rei-chan."
Belanja bersama, minum teh, menonton film...
Rasanya ini benar-benar seperti kencan sungguh-sungguh, pikirku dalam hati.
……Hari di mana aku bisa melakukan "kencan yang sebenarnya" bersama Rei-chan, sepertinya tidak akan pernah datang.
Karena orang yang melihatnya dengan "pandangan khusus" seperti itu, sepertinya hanya aku seorang.
Meskipun aku merasa kesepian karena hal itu, aku sama sekali tidak berniat mengubahnya. Perasaan jujur ini akan kubawa sampai mati.
Karena aku ingin terus, terus menjadi sahabat berharganya.
"Ngomong-ngomong, rumah neneknya Yuri-chan itu tempat seperti apa sih?"
"Anu, isinya cuma gunung dan nggak ada apa-apa, tapi akhir-akhir ini cukup banyak orang yang datang ke tempat perkemahan terdekat..."
Sambil terpesona menatap senyuman gadis yang tidak tahu apa-apa itu, aku bersikeras mempertahankan posisi sebagai "sahabatnya".
Jika sekadar menyembunyikan satu atau dua perasaan cinta kasih yang memuakkan ini bisa membuatku tidak kehilangan tempat di sisinya, maka itu bukanlah harga yang mahal.
……Jadi, begini saja sudah cukup.
(——Padahal sempat berpikiran begitu! Apa-apaan film ini sebenarnya!?)
Aku ingin memukul kepalaku sendiri yang beberapa puluh menit lalu dengan polosnya bersemangat bersama Rei-chan mengatakan, 'Asyik, nggak sabar nonton filmnyaー'.
Bukannya filmnya membosankan, tidak sama sekali. Alurnya sangat menarik, visualnya indah, dan kurasa film ini cukup seru.
----Hanya saja, bagaimana ya, naskahnya tergolong sangat ekstrem.
Adegan hubungan antar pria dan wanita, yah, itu masih bisa diterima.
Masalahnya adalah persahabatan antar sesama wanita yang sudah keterlaluan—ah, sudahlah, berhenti berpura-pura.
Kadar yuri-nya terlalu pekat. Bukan tipe yuri yang bernuansa estetis atau lembut, melainkan ada ilusi seolah-olah emosi penuh gairah yang basah dan pekat dihantamkan langsung ke arah kami dari layar lebar.
"…………"
Aaaa, Rei-chan di sebelahku juga tampak canggung.
Seharusnya aku mencari tahu lebih dulu tentang isi filmnya, tapi mau dipikirkan bagaimana pun nasi sudah menjadi bubur.
Baru saja beberapa waktu lalu aku bersumpah pada diri sendiri untuk membawa orientasi seksualku sampai ke liang kubur, tapi hukuman macam apa ini. Rasanya aku benar-benar sedang dipermainkan oleh dewa jahat.
"――――――?"
——Di layar, dua siswi SMA sedang berciuman dengan penuh gairah. Menyadari diriku tanpa sadar telah mengganti sosok mereka berdua dengan diriku sendiri dan Rei-chan, aku langsung dilanda rasa benci pada diri sendiri yang teramat sangat. ……Kurang dari dua jam penyiksaan itu akhirnya berakhir. Di dalam teorium yang perlahan-lahan kembali terang, aku menghela napas pelan. Fakta bahwa filmnya sendiri sebenarnya bagus justru membuatku semakin jengkel. Selain itu, aku takut melihat wajah Rei-chan yang berada di sebelahku. Yah, meskipun sebenarnya aku tidak melakukan kesalahan apa pun.
"……R-Rei-chan? Ayo kita ke luar, yuk?"
Dengan tekad yang bulat, aku memanggil Rei-chan yang duduk di sebelahku. Namun, tidak ada respons yang kembali darinya. "……Rei-chan?" Merasa heran, aku meletakkan tanganku di atas bahunya.
"——Hyaah!?"
Pada saat itu, tubuhnya tersentak kaget dengan hebat. Gerakannya yang tidak seperti biasanya—yang selalu tenang dan santai—membuatku ikut panik secara beruntun.
"R-Rei-chan!? A, ada apa?"
"Eh, ah, Yu, Yuri-chan? Aー, anu, e, etto……"
Karena kepanikan Rei-chan yang tidak wajar, meskipun sebagian besar penonton sudah keluar, tatapan penuh curiga dari orang-orang yang masih tertinggal di dalam teater mulai terkumpul ke arah kami. Ini situasi yang kurang bagus.
"B-bagaimana kalau kita keluar dulu? Bisa jalan?"
"U, un…… Maaf ya, Yuri-chan……"
Aku pun memutuskan untuk membimbing Rei-chan keluar secara paksa untuk sementara waktu.
"Ini, air mineral. ……Sudah tenang?"
"Un. Maaf ya, Yuri-chan……"
Menempelkan botol plastik yang diterimanya dariku ke bibirnya, Rei-chan akhirnya tampak mulai mendapatkan kembali ketenangannya. Bagian belakang bioskop. Di tempat istirahat sepi yang hanya berisi bangku-bangku, aku dan Rei-chan duduk berdampingan.
"……Anu, waktu nonton film yang tadi, tuh"
Seperti sedang berbicara pada diri sendiri, Rei-chan mulai bercerita sedikit demi sedikit.
"Aku jadi teringat masa lalu."
"Masa lalu……?"
Saat aku mengulangi kata-katanya karena cara bicaranya yang samar-samar, Rei-chan mengangguk.
"Un, aku, itu…… Padahal kukira aku sudah sembuh, tapi kalau sampai ketahuan, aku takut Yuri-chan atau Yuu-kun dan yang lainnya bakal benci sama aku, makanya……"
Kata-kata yang tidak jelas intinya. Rasanya seperti ada endapan rasa sakit yang menumpuk di dadanya, ingin ia muntahkan tapi tidak bisa dikeluarkan…… suasananya seperti itu.
"Yuri-chan……?"
Aku memberanikan diri menggenggam tangan Rei-chan yang sedang bergetar.
"……R-Rei-chan kalau tidak mau bicara, t-tidak usah dipaksa tidak apa-apa. Tapi, kalau bercerita bisa membuatmu merasa lebih lega, aku bersedia mendengarkan apa pun kalau itu denganku?"
Mendengar kata-kataku yang terbata-bata, Rei-chan tersenyum tipis, lalu membuka mulut seolah telah membulatkan tekad.
"Waktu SD——eh, mungkin lebih awal lagi. Aku, itu………… bisa menyukai 'keduanya', baik cowok maupun cewek."
"…………Hah?"
Barusan Rei-chan bilang apa?
"……B-bisa menjadikan kedua jenis kelamin sebagai target ketertarikan romantis. Menjelang masuk SMP, aku sempat merasa kalau itu aneh, jadi aku berusaha membiasakan diri untuk hanya menyukai cowok saja sih…… tapi pas nonton film tadi, anu, rasanya kayak kambuh lagi…… Aaaah! J-jangan salah paham ya!? Bukan berarti aku mendekati Yuri-chan dengan niat tidak suci atau semacamnya, beneran bukan begitu kok!"
Jika dirangkum, Rei-chan sepertinya adalah seorang biseksual—memiliki ketertarikan pada kedua jenis kelamin. ——Eh, tunggu, bukankah ini berarti ada peluang besar bagiku!?
Di dalam kepalaku, efek visual konyol berputar saat cahaya warna-warni pelangi berantulan diiringi suara dentuman terompet kemenangan (fanfare).
*
Hehehe…… Yah, kurasa hasilnya lumayan lah.
Sambil menatap Yuri-chan yang memasang ekspresi kosong seperti kucing kebingungan (uchuu neko), aku—Neetora Reiko—merasa yakin bahwa skenario yang kubuat berjalan dengan sangat lancar.
Aku sangat puas karena berhasil menanamkan batu loncatan menuju NTR dengan sedikit dorongan ekstra kepada Yuri-chan yang ternyata jauh lebih "herbivora" (pasif) daripada perkiraanku.
Yuri-chan selama ini selalu merasa sedikit bersalah terhadap orientasi seksual sesama jenisnya, tetapi begitu dia tahu bahwa kami berada dalam perahu yang sama, ke depannya dia pasti akan lebih proaktif mendekatiku.
Duh, aku jadi tidak sabar menantikan liburan ke kolam renang bersama semua orang nanti. Hehehe.
*
"——Yo, Yuki."
"Ah, Fuyuki-kun! Pagiー!"
Di tengah cuaca yang panas menyengat dan terik matahari puncak musim panas, aku—Kurishima Fuyuki—bersama sahabatku, Yuki, mengunjungi sebuah kolam rekreasi yang berlokasi beberapa stasiun dari rumah kami.
"Mana Rei-chan dan Shirase-san?"
Tentu saja ini bukanlah kegiatan gerah khusus dua lelaki pergi ke kolam renang, melainkan tamasya berempat yang menggabungkan dua anak perempuan yang memang sering bepergian bersama kami.
Menjawab pertanyaan Yuki, aku mengecek keberadaan kedua gadis itu melalui aplikasi pesan di smartphone, dan balasannya tidak lama kemudian datang.
"Katanya mereka bakal sampai sebentar lagi, jadi kita suruh tunggu di lobi dulu. Panas banget, ayo kita masuk ke dalam cepat."
Setelah melewati pintu otomatis dan menarik napas sejenak di dalam ruangan ber-AC, kami menghabiskan waktu dengan membeli air mineral di mesin penjual otomatis.
"Kira-kira sudah berapa lama ya sejak terakhir kali aku ke kolam renang bareng Fuyuki-kun dan Rei-chan? Aku lumayan menantikannya lho."
"Kolam renang ini juga terakhir kali kudatangi waktu kelas bawah SD... jadi sekitar empat tahun yang lalu ya?"
"Sepertinya sejak saat itu wahana permainannya makin bertambah banyak, ya. Ada selancar air di atas air, terus ada seluncuran air yang besar juga."
Sambil memegang brosur yang dibagikan di pintu masuk, Yuki tampak begitu polos dan bersemangat, membuat keusilanku seketika muncul.
"Menantikan, ya... Yah, pastinya seru sih. Apalagi baju renang Rei dan Shirase..."
"Ehhaaa!? F-Fuyuki-kun!? A-aku kan nggak1..."
"Hehehe, sesama cowok kok. Nggak usah ditutup-tutupi gitu. Bikini Rei yang dikirim di grup chat kemarin itu, kita bisa lihat langsung, lho? Shirase juga badannya lumayan mantap, wajar aja kan kalau cowok-cowok pada penasaran."
Saat aku sedang mempermainkan Yuki yang wajahnya sudah merah padam, sebuah suara yang tidak asing terdengar dari kejauhan. Rupanya, orang yang ditunggu-tunggu telah tiba.
"Maaf ya sudah membuat kalian menunggu!"
"Tachibana-kun, Kurishima-kun, halo."
Shirase datang dengan blus longgar dan rok panjang, sementara Rei mengenakan gaun terusan putih (white one-piece) dipadu topi jerami—penampilan klise yang sangat pas dengan musim panas.
Melihat dua gadis berpenampilan kasual itu, aku dan Yuki sama-sama sempat salah tingkah sejenak, namun kami berhasil menyembunyikan rasa gugup itu dan membalas sapaan mereka.
"Un. Rei-chan, Shirase-san juga halo."
"Yo, kalian berdua kerja bagus ya di tengah panas begini."
Bukan hanya Rei, bahkan Shirase yang penampilannya dirombak habis-habisan oleh tangan Rei pun, tanpa pilih kasih, memang tergolong gadis yang sangat cantik.
Melihat kedua gadis itu berjalan berdampingan benar-benar sangat mencolok. Saat aku merasakan sedikit rasa unggul melihat tatapan orang-orang di sekitar yang sesekali melirik ke arah kami, Rei tiba-tiba melirik botol mineral di tanganku.
"Ah, Fuyuki-kun pegang barang bagus. Minta satu teguk, ya?"
"Hmm... Yah, silakan aja sih kalau mau."
……Ciuman tidak langsung. Ah, tunggu, bukankah cewek ini jenis orang yang tidak akan memikirkan hal-hal erotis seperti itu? Rei pada dasarnya hanya bersikap tanpa pertahanan sama sekali terhadap orang yang sudah dianggapnya sebagai bagian dari lingkaran terdekatnya.
Kalau aku bereaksi berlebihan di sini, situasinya malah jadi canggung, jadi aku memasang sikap senatural mungkin dan menyerahkan botol itu kepadanya.
"Fuyuki-kun, makasihー! ……Nkh."
Tanpa ragu-ragu, bibir Rei bersentuhan dengan ujung botol. Melihat pemandangan itu membuatku merasa agak canggung, jadi aku mengalihkan pandanganku sedikit ke bawah. ……Hei, ada sesuatu yang tidak masuk akal terlihat di sana.
Sepertinya Yuki juga menyadarinya karena telinganya sudah memerah sampai ke pangkal. Bodoh ini, kenapa sudah pakai gaun putih selonggar itu tapi tidak pakai pelapis anti-tembus pandang sih!?
Pakaian dalam Rei sedikit tembus pandang, membuatku nyaris kehilangan akal sehat. Baik bra maupun celana dalamnya bisa terlihat cukup jelas kalau sedikit disipitkan. Atau lebih tepatnya, sebagai sesama perempuan, Shirase harusnya sadar dong! Hal semacam itu harusnya diingatkan sesama cewek!
"——Fuh. Makasih ya, Fuyuki-kun."
Tanpa tahu apa yang berkecamuk di dalam hatiku, Rei mengembalikan botol itu sambil tersenyum polos. ……Bagaimana pun juga, ini sudah keterlaluan. Kalau aku yang melihat sih sebenarnya senangsala—salah maksudku. Kesal rasanya kalau dilihat oleh cowok selain aku—salah lagi. ……Rei kan bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa lagi. Kalau begini caranya, mau tidak mau aku harus menegurnya. Dengan enggan, aku memutuskan untuk mengambil undian sial ini.
"Ehm, itu, Rei. ……Tembus pandang, tahu."
"Eh? Apaan yang tembus?"
"……Pakaian dalammu, kelihatan banget tembus dari gaunnya. Kalau mau pergi jauh, seenggaknya pasang kewaspadaan dikit la—"
"Oh, kalau itu sih nggak masalah. Soalnya ini bukan pakaian dalam kok."
"……Hah?"
Di tengah kebingunganku yang tidak mengerti maksud ucapannya, Rei dengan santainya menarik bagian dada gaun terusan itu ke depan, membiarkan aku dan Yuki mengintip ke dalam pakaiannya. Apa yang dia lakukan anak ini!?
"Nih, aku kan sudah pakai pakaian renang di dalamnya dengan benar! Tentu saja aku nggak lupa bawa pakaian dalam ganti, dan pulangnya juga bawa baju rangkap (inner) supaya nggak tembus pandang! Malu tahu kalau sampai kelihatan."
Sambil menahan sakit kepala akibat Rei yang memamerkan double piece dengan senyuman seolah ingin berkata, "Persiapan beres!", aku melemparkan tatapan ke arah Shirase yang menyiratkan, "Bagaimana sih pendidikan seks partner-mu ini?" Shirase langsung membuang muka dengan cepat. Hei.
Menoleh ke sebelah, Yuki sedang mendongak ke langit sembari berusaha menahan mimisan.
"Kalau begitu, sampai jumpa nanti yaー!"
Meskipun ada sedikit keributan sesaat setelah kami bergabung, aku dan Yuki berpisah dari Rei dan kawan-kawan lalu berjalan menuju ruang ganti. Yah, namanya juga pakaian ganti laki-laki, tinggal lepas lalu pakai, jadi selesainya cepat banget. Aku dan Yuki yang sudah selesai berganti pakaian dengan sigap menunggu Rei dan Shirase di dekat pintu masuk kolam.
"……Kupikir waktu di kolam renang sekolah juga, tapi otot perut Fuyuki-kun keren banget ya..."
"Jangan ngomong hal yang sama kayak Rei. Yuki sendiri juga kelihatan jauh lebih ramping kan kalau dibandingin waktu SD dulu?"
Mendengar ucapanku, Yuki menggaruk pipinya sambil tersenyum kecut.
"Ah, soalnya aku sempat ikut lari-lari bareng Rei-chan sih. Dia jago banget membaca batas kemampuan orang lain sampai aku hampir mati tiap latihan, jadi sedikit bikin trauma juga sih..."
"Teknik coaching anak itu yang misterius hebatnya itu sebenarnya apa sih. Bisa nggak ya dia kita bajak jadi manajer tim beneran..."
……Sambil membahas hal-hal seperti itu sembari tertawa, di dalam hati aku justru merasa ada sesuatu yang mengganjal melihat sikap Rei yang terlalu melindungi Yuki. Padahal aku sendiri, aslinya ingin lebih dekat lagi dengan Rei—
"Lama menungguー!"
"U, kalian berdua maaf ya lama menunggu..."
Di saat pikiranku mulai ternodai oleh rasa cemburu yang buruk, suara Rei dan Shirase membuyarkannya. Di belakang Rei yang berdiri berkacak pinggang dengan penuh percaya diri, Shirase berdiri seolah bersembunyi.
……Yah, sesuai dugaan, penampilan mereka berdua benar-benar sangat bagus. Rei mengenakan bikini berwarna biru muda segar yang sempat dipamerkannya di foto, sementara Shirase mengenakan pakaian renang terusan (one-piece) dengan model tertutup yang mirip baju biasa.
Keduanya sama-sama sangat cocok dan kelihatan seperti model majalah, sebuah kesan klise yang tebersit di benakku.
Meskipun pandanganku sempat teralihkan oleh banyaknya area kulit terbuka bernuansa non-biasa dari para gadis ini, aku berusaha tetap tenang agar tidak bereaksi berlebihan, tapi sepertinya Yuki tidak bisa berbuat demikian.
"Wha…… e, etto Rei-chan. Aー, anu..."
"Oーh, kalian berdua cocok banget, kan. Menurutku imut kok."
Karena Yuki terbata-bata, aku memberikan uluran tangan penyelamat dari samping, dan Rei langsung memasang senyuman bagaikan matahari.
"Fuyuki-kun seratus poin! Cara mujinya nggak pake malu-malu jadi poin plus yang tinggi lho! ……Yuu-kun, coba berusaha lebih keras lagi dong?"
"Uu, maaf ya, Rei-chan…… etto, tapi, menurutku kalian berdua juga cocok banget kok. Baik Rei-chan maupun Shirase-san."
Mendengar pujian yang setengah mati dikeluarkan oleh Yuki, Rei mengangkat bahunya sambil tersenyum kecut.
"Hmm…… yah, boleh dibilang pas batas lulus minimum, deh?"
"Merasa diri ini siapa lu."
Saat aku menimpali, Rei terkikik geli lalu mulai melakukan pemanasan ringan.
"Kalau gitu, setelah melemaskan badan sedikit, kita langsung berenang yuk. Mau mulai dari mana?"
"Mau kita habisi dari ujung? Sepertinya kita bisa melihat area lain dari kolam arus (lazy river), jadi gimana kalau kita lihat-lihat dulu sambil jalan. Waktunya masih banyak kok."
Waktu masih menunjukkan pagi hari. Karena Rei dan Yuki sangat bersemangat hingga mengatur waktu berkumpul hampir berbarengan dengan jam buka kolam, waktu bermain kami masih sangat melimpah.
Atau lebih tepatnya, kalau kami bermain dengan tenaga penuh sekarang, kurasa kami bakal kehabisan tenaga di tengah jalan.
"Kalau begitu, ayo berangkat."
Menanggapi suara serempak ketiganya, "Oーh", aku tersenyum kecut sambil melangkah menuju pintu masuk kolam arus.
"Ehー, ada seluncuran sebesar itu ya. Waktu kita bertiga kesini sebelumnya belum ada, kan?"
Sambil mampir-mampir ke wahana selancar air di tengah perjalanan, atau kolam ombak besar, di hadapan kami bertiga yang sedang mengapung santai di kolam arus, muncullah sebuah bangunan raksasa yang langsung mencuri perhatian.
"Kurasa itu seluncuran air raksasa khusus dua orang, ya. Mau coba kita cek? Rei-chan?"
"Un, ayo ke sana, ayo! Yuri-chan, bareng—”
Rei berkata demikian dan menoleh ke arah Shirase yang sedang memegang ban renang, namun yang dituju justru menggelengkan kepala dengan wajah pucat pasi.
"M-, maaf ya Rei-chan. Aku kurang tahan sama tempat tinggi..."
"Ah…… kalau begitu, mau bagaimana lagi ya. Seluncurannya kita tunda ke kesempatan lain—"
"T-, tidak kok! Jangan pedulikanku dan naik saja! Aku akan menunggu di bawah."
Yah, kalau mengingat kepribadian Shirase, dia pasti akan merasa lebih tidak enak jika membuat Rei tidak bisa menikmati kolam renangnya hanya karena menemaninya.
"Kan muat untuk dua orang, kan? Kalau begitu aku akan menunggu bersama Shirase, jadi biar Yuki dan Rei saja berdua yang—"
"Gu-pa-jas!" (Hompimpa alaium gambreng)
"Hah?"
Menanggapi teriakan Rei, aku secara refleks merespons dan mengacungkan kepalan tangan yang tertutup. Yuki sepertinya juga sama, karena secara refleks merespons dengan mengeluarkan jari terbuka (kertas).
Lalu, bentuk tangan Rei ternyata menunjukkan kepalan tangan tertutup yang sama sepertiku.
"Kalau begitu, untuk sekarang bagaimana kalau aku dan Fuyuki-kun yang naik duluan?"
"Hah? E, eh, aku..."
"Aah, padahal aku juga pengen naik..."
"Gilirannya nanti Yuu-kun yang diunggulkan (seeded), lalu kita suit lagi antara aku atau Fuyuki-kun, gimana?"
Sebelum aku sempat berkata apa-apa, pembicaraan itu terus berjalan seolah-olah sudah menjadi keputusan mutlak.
……Memangnya tidak apa-apa, Rei? Bukan Yuki, tapi aku.
Aku juga tidak sebodoh itu. Aku cukup peka untuk menyadari bahwa Rei menyimpan perasaan lebih dari sekadar teman kepada Yuki. Oleh karena itu, terlepas dari bagaimana perasaanku sendiri, aku berniat untuk mengalah pada Yuki dalam berbagai hal untuk hal-hal sepele, tapi...
"Ehm, Rei?"
"Ada apa, Fuyuki-kun?"
Sambil menaiki tangga menuju pintu masuk seluncuran, aku bertanya kepada Rei.
"Itu, bukankah lebih baik kalau sama Yuki? Kenapa malah naik seluncuran bareng aku"
"Eh? Ya jelas, mau naik bareng Yuu-kun lah?"
"…………っ"
……Dengan jawaban yang bagiku sudah bisa ditebak itu, secara egois aku hampir merasa patah semangat. Tentu saja, Rei pasti lebih memilih bersama Yuki daripada aku—
"——Makanya, beruntung banget bisa naik bareng Fuyuki-kun duluan! Karena aku jago suit, maaf ya Fuyuki-kun, tapi nanti aku bakal naik bareng Yuu-kunー!"
"……Hah?"
"Soalnya, aku juga kepingin naik seluncuran bareng Fuyuki-kun. Ah, tentu saja bareng Yuri-chan juga, ya!"
"……Hah, apaan sih. Serakah banget."
"Biarin kan. Kapan lagi kita bisa ke kolam renang bareng-bareng kayak gini, jadi wajar dong kalau sedikit antusias."
Melihat Rei yang menggembungkan pipinya dengan sebal, aku tersenyum pasrah. Meskipun aku tidak begitu paham soal urusan percintaan, Rei tetap menganggap aku dan Yuki sama-sama berharga baginya.
……Kalau begitu, menyerah begitu saja dengan gampangnya rasanya masih terlalu cepat, kan?
Dengan langkah kaki yang terasa sedikit lebih ringan, aku dan Rei berhasil menaiki anak tangga terakhir yang terhubung ke pintu masuk seluncuran air.
"Wawa…… ternyata lebih tinggi dari yang kubayangkan ya, Fuyuki-kun……"
"Kalau tidak salah di brosurnya tertulis tingginya dua puluh meter. Kurasa ini adalah salah satu seluncuran air dengan perbedaan ketinggian teratas di tingkat nasional."
"……Mirip kayak Yuri-chan, aku jadi agak ciut nyali, deh."
Sambil tersenyum kecut melihat Rei yang berkata begitu namun tetap dengan wajah riang, kami bersiap menaiki perahu karet khusus seluncuran air yang tampak seperti dua pelampung digabungkan secara vertikal.
"Rei mau di depan atau di belakang?"
"Sudah pasti di depan! Mau suit dulu?"
"Enggak, aku di mana saja boleh, jadi di belakang juga nggak masalah."
Sambil bertukar obrolan seperti itu, kami menunggu aba-aba keberangkatan dari petugas pengawas di atas lintasan.
……Arus airnya kelihatan cukup deras, ya.
Sambil merasakan sedikit ketegangan, aku menyusul Rei naik ke bagian belakang perahu karet.
"Hyaff, fufu, geli tahu Fuyuki-kun?"
"……Aー, sori."
……Berdasarkan struktur perahu karetnya, posisi duduk orang yang berada di belakang membuat kakinya mau tidak mau terselip di sekitar area ketiak orang yang duduk di depan. Meskipun hanya kaki, sentuhan lembut dari tubuh Rei membuatku salah tingkah sendiri. Yah, Rei sendiri sepertinya sama sekali tidak mempedulikannya, jadi ini cuma aku saja yang terlalu GR...
Saat aku sedang memikirkan hal itu, tanda "GO" dari petugas pengawas meluncur turun.
"Fuyuki-kun! Berangkattー!"
"Ho, jangan sampai terlempar yaー!"
Saat berikutnya, perahu karet kami mulai meluncur turun dengan kecepatan tinggi menuju permukaan bawah.
"Uhya——!!"
"Ini ternyata jauh lebih liar dari penampakannya...!"
Sambil mendengarkan sorakan Rei, aku memfokuskan kesadaran pada perahu yang terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Mungkin hanya memakan waktu sekitar beberapa menit. Perahu kami meluncur dengan kecepatan penuh dan menerobos masuk ke permukaan air di garis finis sambil menerbitkan cipratan air yang besar.
"Waph!"
"——Buhaph! Hah, Rei? Kamu nggak apa-apa—"
Sambil mengusap wajahku yang basah kuyup oleh cipratan air yang dahsyat, aku memanggil Rei.
"Aha, seru banget tadi! Fuyuki-kun!"
Melihat sosok Rei yang menoleh ke arahku sambil tersenyum dan menyibak rambutnya yang basah, aku langsung membeku di tempat.
"A, ga……t!?"
Melihat bagian atas tubuh Rei yang—tepatnya, bagian tubuh atas Rei yang "sama sekali tidak mengenakan apa-apa", aku hanya bisa mengeluarkan suara rintihan yang menyedihkan. Sejak menginjak usia SMP, bentuk tubuh Rei semakin bertambah feminin.
Terpaku dan tidak bisa mengalihkan pandanganku dari tonjolan dada serta ujung merah mudanya itu, Rei akhirnya menurunkan pandangannya ke bawah dan menyadari keadaannya sendiri.
"——Hah? ……Eh, ah, bohong!? F-, Fuyuki-kun! Jangan dilihatっ!?"
"T-, tenang la—Uoh!?"
Akibat guncangan dari gerakan tiba-tiba Rei yang sedang panik, perahu karet yang kami tumpiki terbalik dengan mulus.
Meskipun kedalaman airnya hanya sebatas pinggang, Rei yang sedang panik meronta-ronta bagaikan orang kebingungan, sehingga aku dengan buru-buru menghampirinya.
"Hei, Rei!?"
"——Puhah! Ekhok, kohok!"
Saat aku menariknya mendekat secara paksa, Rei terbatuk-batuk kecil sambil memelukku erat-erat tanpa tahu apa yang harus dilakukan. ……Kalau sudah begitu, ya mau tidak mau dada Rei jadi menempel pasrah dengan sensasi "guniu"...
Aku hampir pingsan, tapi aku berusaha setengah mati membayangkan wajah kakek dan nenek di dalam kepalaku agar aliran darahku tidak terpusat ke bagian bawah tubuh.
Di tengah situasi itu, Rei sepertinya mulai mendapatkan kembali kesadarannya, lalu bergumam dengan wajah memerah sampai ke telinga.
"……I-, itu, Fuyuki-kun. S-, sekarang kalau aku menjauh, nanti kelihatan ke mana-mana... jadi bolehkah kalau begini dulu sebentar...?"
Begitu mengatakannya, Rei malah semakin erat memelukku hingga dadanya kian tertekan ke tubuhku. Tolong beri ampun aku... Sensasi dada Rei yang terasa di dadaku membuat bayangan wajah kakek dan nenek di kepalaku lenyap seketika. Kurishima Fuyuki, kau akan mati di sini hari ini.
"――――Ah."
Rei mengeluarkan suara seolah menyadari situasi yang gawat. Yah, dengan posisi menempel sebegini rupa, tentu saja bagian bawah perutku yang sedang mengalami "keadaan darurat" jadi ketahuan dong. Aku hanya bisa menutup wajahku dengan kedua tangan dalam keheningan.
"I-, itu, maaf ya? F-, Fuyuki-kun kan juga cowok ya………… etto, itu…… k-, kelihatan gagah dan bagus kok!"
"Bunuh saja aku..."
Puluhan detik kemudian. Shirase dan Yuki—yang tadi mengamati situasi kami dari daratan—berlari menghampiri sambil membawa atasan pakaian Rei yang sempat terbawa arus, dan berkat kedatangan mereka, aku akhirnya dibebaskan dari surga dan neraka.
*
――Yah, padahal semuanya sudah diatur dari awal.
Aku—Neetora Reiko—sambil memeluk Fuyuki-kun, menyeringai lebar hingga mulutku membentuk bulan sabit. Di tengah perjalanan meluncur menuju dasar, aku dengan gerakan super cepat melonggarkan tali pakaian renang bagian atasku, dan berhasil menghancurkan mental Fuyuki-kun dengan sempurna.
Sebagai bonus, dengan bersikap tersipu-sipu pada "bagian" milik Fuyuki-kun, aku juga sekaligus menyampaikan pesan tersirat: "Aku benar-benar melihatmu sebagai seorang cowok, lho". Benar-benar sempurna.
Semua kerja kerasku melakukan survei dan location hunting ke kolam renang ini secara diam-diam tanpa sepengetahuan Yuu-kun dan yang lain sebelumnya benar-benar terbayar sudah. Tadi aku bilang ini kunjungan pertamaku setelah empat tahun, ya? Itu bohong.
Aku adalah wanita yang rela mengorbankan fisik demi "tujuan besar". Demi skenario Netorare di masa depan, seorang wanita NTR sepertiku sama sekali tidak keberatan melemparkan pakaian renang dan mempertontonkan atau menempelkan payudara.
Beberapa saat setelah bagian perut bawah Fuyuki-kun digesek-gesekkan padaku secara intens, Yuu-kun dan yang lain datang membawakan atasan pakaian renang yang sempat hanyut.
Setelah menerima atasan tersebut dari tangan Yuri-chan dan mengenakannya kembali, aku mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua.
"Ahaha…… itu, makasih ya Yuu-kun, Yuri-chan. Aku tadi sempat panik banget……"
"U, un……"
"E, etto, pokoknya syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa, ya……"
Melihat pemandangan saat aku bergelayut manja di pelukan Fuyuki-kun tadi, mereka berdua tampak sangat terguncang dengan jelas.
Ahhh~~ rasanya benar-benar luar biasa.
* "Seneng banget~! Kan, semuanya!"
Waktu senja. Aku menyapa Yuu-kun dan yang lainnya dengan senyum riang dan ceria sambil berjalan menuju stasiun terdekat dari kolam renang.
"Haha, memang seru sih, tapi... besok badanku pasti bakal pegal-pegal banget..."
"Ugh... Habis dari kolam renang tuh, keta-rasanya jadi ngantuk banget ya."
"Aku juga... Khawatir ketiduran di kereta pas pulang nanti..."
Suasana di antara kami sempat sedikit canggung tepat setelah insiden pakaian melorot di seluncuran air, tapi karena pihak yang memamerkan dada telanjangnya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, saat waktu pulang tiba, permukaan hubungan kami sudah kembali normal seperti biasa.
"…………A, apa sih, Rei."
Yah, Fuyuki-kun tetap saja tidak bisa menyembunyikan isi hatinya yang sedang salah tingkah berat. Pengorbanan fisik ini benar-benar terbayar sudah. Nikmat banget.
"Hmm~? Aku lagi mikir, seru juga kali ya kalau kita semua ketiduran sampai stasiun ujung, rasanya kayak adegan di anime masa remaja gitu."
"Jangan, jangan. Jangan bikin flag yang aneh-aneh deh."
"Ufufu, kalau ketiduran, bakal kuambil foto wajah tidurnya Yuri-chan lho."
"Eeeh, j-, jangan dong, Rei-chan."
"Ah, benar juga. Ngomong-ngomong soal foto..."
Sambil bercanda dan beramah-tamah ala yuri dengan Yuri-chan, aku memainkan smartphone-ku dan mengirimkan sebuah foto ke grup chat.
"Hm? Rei-chan, apa yang kamu kirim?"
"Foto kenang-kenangan yang diambil di kolam tadi. Belum sempat dikirim soalnya."
Layar obrolan menampilkan foto grup kami berempat yang diambil di kolam renang. Yuri-chan yang tersenyum malu-malu sambil menempel padaku. Fuyuki-kun yang tersenyum segar, seolah sudah terbiasa dengan foto semacam ini. Yuu-kun yang berpose peace dengan senyum kikuk, terpengaruh oleh Fuyuki-kun.
――Hmm. Tidak buruk.
"……Foto yang bagus ya, Rei-chan."
"Kan? Cuma dengan ini saja rasanya sudah untung bisa datang ke kolam renang bareng kalian."
Aku mengarahkan senyuman lembut kepada Yuu-kun. Teman-teman yang benar-benar berharga. Orang-orang yang sangat berarti.
Kenangan musim panas yang kuhabiskan bersama mereka. Setiap kali melihat foto ini, aku pasti akan teringat kembali. Dinginnya air kolam renang. Rasa makan siang yang kami santap bersama.
Bau angin sore yang berhembus saat kami berjalan berdampingan. Senyuman dari orang-orang tersayang.
"Kenangan" masa muda yang tidak bisa tergantikan... Itulah "hidangan pembuka" dari kursus lengkap NTR-ku...
Omong-omong, kursus lengkapku ini setelahnya akan menyajikan menu-menu terburuk seperti "Keputusasaan Yuu-kun" dan "Perasaan Bersalah Fuyuki-kun". Sungguh sampah yang tidak bisa ditolong lagi, pikirku pada diri sendiri.
Sambil berimajinasi dengan penuh ekstasi tentang rasa dari hidangan lengkap yang akan kucium suatu hari nanti, kami tiba di peron stasiun dan naik ke kereta untuk perjalanan pulang.
*
「Kaa……」
Merasa ayunan kereta pun terasa begitu nyaman, aku—Kurishima Fuyuki—menguap lebar untuk kesekian kalinya.
"Fuyuki-kun juga kalau ngantuk tidur saja tidak apa-apa, lho? Nanti akan kubangunkan dengan benar kok."
Yuki dan Shirase sudah terlelap pulas, jadi yang masih terjaga hanya aku dan Rei. Mendengar suara dan senyuman lembut itu membuat jantungku berdegup kencang, tapi aku mengangkat bahu secara berlebihan lalu tersenyum sinis.
"Kalau aku tidur, kamu mau ambil fotoku, kan? Hobimu agak buruk ya, Rei."
"Ketahuan, ya? Yuki dan Yuri-chan kan sudah difoto, jadi tinggal Fuyuki-kun saja supaya lengkap semuanyaー!"
Rei tertawa kecil sambil memainkan smartphone-nya, membuatku tersenyum kecut. ……Gagal. Aku jadi tidak bisa berhenti memikirkannya. Insiden di kolam renang tadi benar-benar obat kuat yang terlalu keras bagi seorang anak laki-laki SMP yang normal.
Meskipun aku mencoba melupakannya, tanpa sadar pandanganku terus melayang ke arah dada Rei, membuat bentuk dan sensasi dada Rei berputar-putar di dalam benakku
. "……F-Fuyuki-kun mesum..."
"Huh!?"
Menyadari tatapanku yang dipenuhi nafsu, Rei langsung menutupi dadanya dengan kedua tangan.
"Padahal aku sudah bilang untuk melupakannya..."
"……Yah, aku memang benar-benar merasa bersalah, tapi otak manusia itu bukan smartphone. Nggak semudah itu buat menghapus atau membuang ingatan..."
"Uuuh~~! M-, mentang-mentang kamu menempelkan 'benda itu' ke pusar orang lalu malah bersikap seolah tidak bersalah, menurutku itu benar-benar nggak boleh!"
"Berhenti! Aku bisa mati sungguhan karena rasa bersalah dan malu tahu! C-, cowok mana bisa mengendalikan hal kayak gitu! Punya kamu tadi juga sempat agak mengeras, kan!"
"J-, jorok banget!? I-, itu karena air kolamnya dingin...!"
Melihat Yuki dan Shirase mulai bergerak-gerak kecil di tengah keributan kami, kami berdua langsung kembali bersikap tenang secara bersamaan.
"……Sudahlah. Aku tidak ingin Yuri-chan dan Yuki mendengarkan perdebatan konyol seperti ini."
"……Iya juga. Ehem, itu…… aku benar-benar merasa bersalah, dan walau dibilang permintaan maaf itu aneh, kalau ada hal yang bisa kulakukan untukmu, bilang saja. Biar impas, bagaimana?"
Melihat wajahku yang tampak kebingungan luar biasa, Rei tersenyum kecil sebelum mengajukan satu syarat.
"Kalau begitu, minggu depan temani aku jalan-jalan ke festival musim panas yang diadakan di area pusat perbelanjaan. Dengan begitu aku memaafkanmu."
"Eh, aー…… itu……"
Jangan-jangan ini ajakan kencan? Pikiran penuh harap semacam itu melintas di kepalaku, tapi tentu saja cewek ini bukanlah tipe orang yang memikirkan hal-hal berbau romantis.
"Aku juga akan mengajak Yuki dan Yuri-chan kok, jadi kita main berempat lagi ya. Liburan musim panas kan sebentar lagi mau habis."
Ah, iya, iya. Aku sudah menduganya, sialan. Tapi, pergi ke festival musim panas bersama-sama sebagai kenangan terakhir liburan bukanlah ide yang buruk. "Baiklah, baiklah, dengan penuh takzim saya terima perintahnya."
"Hm, baguslah. Kalau begitu, kita anggap sudah berbaikan, ya."
Mengatakan itu, Rei tersenyum polos sambil mengulurkan sebelah tangannya ke arahku. Aku menggenggam tangan kecilnya yang putih, lalu sedikit mengayunkannya naik turun.
"Padahal kita tadi tidak sedang bertengkar juga sih."
"Tidak apa-apa. Hal seperti ini kan masalah perasaan."
Disinari oleh cahaya matahari senja yang menyelusup dari jendela kereta, rambutnya yang sedikit basah berkilau dengan indahnya. ――Ah, rasanya aku tetap tidak ingin menyerah.
Percikan api dari perasaan cinta yang selama ini kupendam rapat-rapat, terus berpendar dengan pendaran yang redup.
*
「Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Bu」
「Iyaaa, jangan pulang terlalu malam yaー!」
Mengucapkan kata-kata itu kepada ibuku, aku—Tachibana Yuu—keluar dari rumah. Tujuan yang dituju adalah jalan besar tempat pusat perbelanjaan berada. Itu adalah lokasi festival musim panas yang diadakan di lingkungan sekitar. Seperti biasa, atas usul dari Rei-chan, aku, Fuyuki-kun, dan Shirase-san memutuskan untuk pergi bermain ke festival musim panas bersama-sama dalam formasi empat orang seperti biasanya.
Mengingat kembali perkataan gadis itu, "Aku akan pergi memakai yukata bersama Yuri-chan, jadi nantikan ya", aku berjalan menuju pusat perbelanjaan dengan perasaan melayang-layang gembira.
「——Oh, cepat sekali kamu, Yuu」
Di pintu masuk pusat perbelanjaan yang menjadi tempat pertemuan, Fuyuki-kun muncul duluan di hadapanku yang sedang mati gaya memainkan smartphone.
「Tentu saja, kan nggak enak kalau membuat Rei-chan dan yang lain menunggu」
「Ada benarnya juga sih. Rei dan Shirase penampilannya mencolok soalnya. Bakal nggak seru kalau mereka diganggu orang aneh dan bikin keributan」
「Betul juga. Aku nggak mau merusak kenangan terakhir liburan musim panas ini」
Sambil membicarakan hal itu, kami berdua menunggu sambil mati gaya. Karena festival musim panas di pusat perbelanjaan ini adalah acara yang cukup besar di daerah setempat dengan menutup jalan raya utama, kami juga melihat beberapa murid SMP kami yang datang untuk bersenang-senang.
「Ah, Kurishima-kun dan Tachibana-kun」
「Yo, selain kita berdua, ada cukup banyak juga murid sekolah kita yang datang bermain ya」
Di antara mereka, ada juga anak-anak yang menyapa kami seperti ini. Setelah menyapa sekilas sekelompok siswi sekelas yang mengenakan yukata, mereka mengajak kami berdua untuk bergabung dan bermain bersama.
「Maaf ya, kami juga lagi menunggu seseorang」
「Iya. Terima kasih tawarannya, tapi maaf ya」
Mendengar jawaban kami, mereka memasang ekspresi kecewa setengah bercanda.
「Aduh, ditolak ya」
「Kalau nanti berubah pikiran, sapa kita ya. Kami masih akan main agak lama kok」
Mengatakan itu, mereka melambaikan tangan dengan ringan lalu pergi. Di dalam hati, aku merasa lega karena tidak dipaksa terus-menerus, sementara di sebelahku Fuyuki-kun menyunggingkan senyuman usil sambil menyenggol rusukku dengan sikunya.
「Ditawari gyan-nan (cewek yang nembak duluan) begini, populer banget ya kamu, Yuu?」
「Itu mah tujuannya Fuyuki-kun kali. Aku mah paling cuma dianggap kayak hewan peliharaan yang lucu aja」
「――Nggak usah merendah begitu dong? Yuu-kun juga cukup populer lho di kalangan cewek, nggak kalah kok dari Fuyuki-kun」
Mendengar suara yang datang dari belakang, aku dan Fuyuki-kun menoleh. Di sana berdiri Rei-chan yang mengenakan yukata bermotif bunga morning glory, dan Shirase-san yang memakai yukata dengan corak ikan maskoki.
「Menunggu ya, kalian berdua」
「Maaf ya jadi lama. Aku tadi agak kerepotan waktu pakai yukatanya……」
「Karena dadanya besar, jadi agak susah buat merapatkan yukatanya dengan pas yaー」
「R-, Rei-chan! Malu tahu, jangan ngomong begituっ!」
Menghadapi kedua orang yang saling berbalas gurauan akrab itu, aku mengucapkan kalimat yang sudah kulatih secara diam-diam.
「U-, un. B-, berdua, yukatanya sangat cocok lho」
「Wah, aktor amatiran banget」
「Ugh!」
Saat aku merasa cukup terpukul oleh perkataan Rei-chan yang menusuk tajam, Shirase-san datang menyelamatkanku.
「R-, Rei-chan. Tachibana-kun kan sudah berusaha, jadi tolong bicaranya disaring sedikit……」
「Ahaha, maaf-maaf. Senang deh dipuji! Terima kasih ya, Yuu-kun」
「U-, un」
Meskipun terpesona melihat Rei-chan dalam balutan yukata, aku segera mengencangkan ekspresiku agar tidak terlihat seperti orang bodoh yang sedang terpesona.
「Lagian ya, kita berdua sudah berusaha seheboh ini, tapi kenapa para cowok malah pakai pakaian biasa sih~?」
「Bukannya cowok pakai apa aja nggak masalah, ya kan?」
「Kalau menurutku, mumpung ini festival musim panas, aku maunya para cowok pakai pakaian seperti jinbei atau semacamnya gituー. Fuyuki-kun sepertinya bakal cocok banget」
「Iya, iya, baiklah. Kalau aku ingat sampai tahun depan, nanti kupikirkan deh」
Fuyuki-kun dan Rei-chan bertukar percakapan ringan sambil berseloroh. ……Entah kenapa, rasanya sejak insiden di kolam renang tempo hari, jarak di antara mereka berdua menjadi sedikit lebih dekat. Apakah itu cuma perasaanku saja ya?
「Tachibana-kun? Ada apa?」
「――Ah, nggak apa-apa kok, Shirase-san」
Shirase-san menegurku yang tanpa sadar memasang wajah cemas. Aku buru-buru memasang ekspresi tenang dan memberitahunya bahwa tidak ada masalah apa-apa.
――Tidak apa-apa. Aku cuma terlalu banyak berpikir. Lagipula, Fuyuki-kun tahu kalau aku menyukai Rei-chan. Bukankah Fuyuki-kun dulu yang menyemangati dan mendukungku saat aku menyimpan perasaan cinta yang tidak tahu diuntung kepada Rei-chan sejak masa SD?
『Nggak apa-apa kok. Yuu itu orangnya baik banget, dan Rei juga tahu banyak kelebihan Yuu.』
『Tapi, aku kan nggak Keren kayak Fuyuki-kun……』
『Lebih dari yang kamu bayangkan, Rei sangat menghargai dan memikirkanmu, tahu. Semangatlah!』
Bukankah Fuyuki-kun selalu menghibur dan menyemangati diriku yang pengecut ini, setiap kali aku merasa down karena Rei-chan menyatakan cinta atau didekati seseorang? Curiga kepada teman yang seperti itu adalah tindakan yang benar-benar tidak tahu balas budi.
Aku menggelengkan kepala pelan untuk menepis rasa bersalah. Meskipun kecurigaan yang melekat itu tidak mudah hilang dari kepalaku, setidaknya aku sudah memiliki cukup kelonggaran untuk mengalihkan perasaan.
「Kalau begitu, ayo kita pergi! Nah, Yuu-kun. Kalau terpisah nanti repot, jadi ayo pegangan tangan, ya?」
「R-, Rei-chan…… sudah, hentikan memperlakukanku seperti anak kecil……」
Aku bukanlah anak kecil yang harus terus-menerus diurus olehmu. Aku ingin kamu melihatku sebagai seorang “pria” yang bisa berdiri sejajar di sampingmu. Perasaan seperti itu melebur ke dalam hiruk-pikuk keramaian festival.
「………………」
Krik-krik-krik-krik (suara mengukir)
「Emm…… Rei-chan?」
Prak!
「Aaaaah!? Padahal tinggal sedikit lagi—!」
Rei-chan yang sedang mencungkil cetakan lempengan gula merah berwarna merah muda dengan jarum pentul menjerit histeris. Melihat gadis itu yang begitu asyik dengan permainan katanuki (mengukir bentuk permen), aku tersenyum kecut sambil meletakkan tangan di bahunya.
「Ahaha, sayang sekali ya」
「Y-, Yuu-kun, sekali lagi! Biarkan aku coba sekali lagi sajaっ」
Rei-chan melampiaskan kekesalannya dengan langsung memasukkan kepingan permen berbentuk tulip yang patah tepat di bagian tangkainya ke dalam mulut, sementara Fuyuki-kun membuat gestur tanda silang dengan jarinya.
「Jangan malah main permainan yang makan waktu lama kayak katanuki dari awal begini dong. Kita bahkan belum jalan sepuluh meter dari pintu masuk area pertokoan, tahu」
「Kurishima-kun juga bilang begitu, jadi katanuki-nya nanti lagi ya?」
「Uuuh, kalau Yuri-chan yang bilang begitu……」
Dibujuk oleh semuanya, Rei-chan akhirnya meninggalkan kedai katanuki dengan penuh rasa penasaran dan penyesalan.
「Haa, padahal aku ingin menambah modal di sini tadiー」
「Sudahlah, sudahlah. Paman penjual kedai itu teliti banget, kalau cuma satu atau dua keping mungkin dia bakal langsung tukar sama uang hadiah, tapi kalau lebih dari itu dia bakal cari-cari alasan buat bikin kita gagal, tahu」
「Ahaha, aku dan Fuyuki-kun dulu juga sering banget kena batunya……」
Karena alasan itulah, aku dan Fuyuki-kun hanya berhasil menyelesaikan satu keping katanuki pertama saja, dan sukses mendapatkan beberapa koin kecil. Ngomong-ngomong, karena kemampuan ketangkasan Shirase-san sangat mengenaskan, dia bertugas sebagai pemandu sorak untuk Rei-chan. Rei-chan sendiri yang menargetkan hadiah besar nekat menyerang cetakan tingkat kesulitan tinggi, dan berakhir dengan kekalahan telak, membuat kelompok cewek pulang dengan tangan kosong. Nanti kita traktir sesuatu saja sebagai hiburan buat mereka.
「Nah, mau ngapain lagi nih? Masih agak kecepetan buat makan malam, jadi bagaimana kalau kita lihat-lihat dari ujung dulu?」
「Boleh juga. Sambil jalan kita bisa tandai kedai makanan yang kelihatan enak, terus nanti baru kita ke sana buat beli-beli」
Mendengar usulan Fuyuki-kun, kami pun menyetujuinya dan mulai berjalan membelah keramaian festival. Mungkin karena banyak orang yang ingin menikmati sisa musim panas, area pertokoan ini dipadati oleh lautan manusia yang cukup padat. Kalau tidak hati-hati, kami bisa gampang terpisah.
「Yuri-chan, ramainya minta ampun, jadi yuk kita pegangan tangan?」
「U-, un. Terima kasih, Rei-chan」
Mendengar ajakan Rei-chan, Shirase-san mengangguk patuh lalu menggenggam tangan gadis itu. Melihat pemandangan tersebut, Rei-chan memasang senyuman puas lalu melemparkan senyum usil kepadaku.
「Fufu, Yuri-chan ini benar-benar penurut dan menggemaskan yaー. Kalau Yuu-kun malah sok dewasa dan paling anti kalau diajak pegangan tangan sama aku」
「B-, bukan berarti aku benci atau risih kok……」
Saat aku bergumam memberikan berbagai alasan dengan suara tidak jelas, Rei-chan yang sepertinya sudah puas langsung tersenyum polos tanpa beban.
「Canda, canda. Yuri-chan pasti masih agak risih kalau harus pegangan tangan sama cowok, lagian repot juga kalau bertiga pegangan tangan sekaligus, jadi ya mau gimana lagi, kan」
Sambil mengobrol santai seperti itu, membahas progres tugas liburan musim panas, dan lain-lain, kami menikmati suasana festival musim panas sepenuhnya. Menikmati undian berhadiah tali yang terkenal zonk, menjaring ikan maskoki, hingga bermain tembak-menembak mainan (shateki), kami menghabiskan waktu sekitar satu jam berjalan-jalan menyusuri jalanan yang meriah oleh festival.
「Nah, karena sudah jalan-jalan perut jadi lapar juga, bagaimana kalau kita mulai cari makanan?」
「Setujuuu. Kebetulan tempat istirahatnya ada di sebelah sana, ayo kita amankan tempat duduknya」
Mendengar perkataan Fuyuki-kun, Rei-chan menyetujuinya, dan kami berdua langsung menuju ke area istirahat yang dilengkapi dengan tenda kerucut, kursi, serta meja yang berjajar rapi.
Beruntung kami berhasil mengamankan tempat untuk empat orang. Setelah menarik napas lega, Rei-chan menunjukkan foto-foto kedai makanan yang sempat ia potret menggunakan smartphone di sepanjang jalan tadi.
「Mau makan apa nih? Pokoknya takoyaki sama yakisoba itu wajib dan nggak boleh ketinggalan, yaー」
「Kalau aku penasaran sama kedai kebab sihー」
「Rei-chan, aku tadi lihat kedai boba juga lho di sebelah sana」
「Eh, beneran!?」
Sambil berseru seru dan riuh berdiskusi menyesuaikan dengan anggaran, kami memutuskan menu apa saja yang akan dibeli.
「Nah, sepertinya sudah pas ya? Kalau begitu, aku dan Yuu yang akan pergi belanja, jadi para cewek tunggu dan jaga tempat duduk di sini ya—」
「Tunggu sebentar Fuyuki-kun. Yang belanja itu aku sama Yuu-kun saja, jadi Fuyuki-kun temani Yuri-chan menunggu di sini」
Mendengar ucapan Rei-chan, kami berdua memasang ekspresi kebingungan, sementara Rei-chan menjelaskan alasan di balik pemilihan personel tersebut.
「Kalau kalian berdua cewek bengong sendirian terus diganggu orang aneh kan repot, kan? Yuri-chan juga sepertinya agak kelelahan karena jalan-jalan terus, jadi Fuyuki-kun tolong jaga mereka di sini sebagai ksatria ya」
「Hm, yah sebenarnya nggak masalah sih kalau gitu……」
「Un, tolong ya? Kalau begitu, ayo berangkat Yuu-kun」
「Eh, ah, un」
Mengatakan itu, Rei-chan yang bangkit berdiri langsung menarik tanganku, lalu berjalan melangkah begitu saja menerobos kerumunan orang.
――Meskipun sempat merasa ada sedikit kesan memaksa yang janggal dari tindakan tersebut, senyuman ceria di wajah Rei-chan membuat rasa janggal kecil itu langsung melebur dan lenyap seketika.
「…………」
「Kurishima-kun?」
「——Hm, ah, maaf. Aku tadi sempat melamun sebentar. Ada apa, Shirase?」
「E, etto, bukan ada apa-apa sih…… cuma tadi wajahmu kelihatan agak menyeramkan jadi aku sedikit khawatir……」
「Hmm? Emangnya mukaku kelihatan begitu ya? Maaf ya, bukan berarti lagi badmood kok—」
Di belakang kami, Fuyuki-kun dan Shirase-san sepertinya sedang membicarakan sesuatu, namun isi percakapan mereka tertelan oleh keriuhan dan hiruk-pikuk festival sehingga tidak sampai ke telingaku.
――――――Nicyat. (suara lidah)
「Yuu-kun, lihat-lihat, warnanya jadi warna stroberi」
Menunjukkan lidahnya yang berubah menjadi kemerahan karena sirup es serut sambil berkata ‘Blewah’, membuatku merasa mura—salah. Merasa mura—salah. Mu—meskipun jantungku berdegup kencang karena gemas, aku tetap mengetuk kepala pelan gadis itu.
「Aitah!」
「Etika makanmu buruk sekali ya, Rei-chan」
「Muu, kurasa tidak ada aturan tata krama meja yang berlaku untuk makanan di pasar malam sihー」
Setelah urusan belanja makanan selesai, kami berempat berkumpul kembali di tempat istirahat untuk makan bersama. Perut sudah kenyang, dan suasana sekitar berubah menjadi santai (mahoroba mode/santai).
「Kira-kira masih berapa lama lagi sampai waktu kembang api dimulai, ya?」
Rei-chan menanyakan sisa waktu menuju peluncuran kembang api yang akan menjadi penutup festival musim panas, sementara Fuyuki-kun menyalakan layar smartphone-nya.
「Hmm, sekitar sepuluh menit lagi sih. Mau pindah tempat nggak?」
「Tempat-tempat bagus pastinya sudah diduduki orang lain. Dari sini pun kembang apinya tetap kelihatan kok, jadi mari kita santai-santai saja di sini」
Kami bertiga yang sudah agak kelelahan bermain menyetujui usulan tersebut, lalu mengisi waktu singkat menjelang kembang api diluncurkan dengan mengobrol santai.
「Nggak nyangka, ternyata kalian semua menyelesaikan tugas liburan musim panas dengan sangat tuntas, ya」
「Dari dulu sudah sering diingatkan sama seseorang (Reiko) untuk mengerjakannya dengan terencana, sih.」
「Yah, rasanya agak memalukan kalau sudah SMP tapi masih dimarahi guru gara-gara PR liburan musim panas.」
「……Liburan musim panasnya mau berakhir, ya.」
Rei-chan bergumam dengan nada yang sedikit menyiratkan kesedihan. Mendengar ucapan itu, Shirase-san memasang ekspresi terkejut.
「Kupikir Rei-chan bakal bilang, 'Senang rasanya bisa ketemu kalian tiap hari lagi,' lho?」
「Memang sih, tapi kalau acara besar kayak gini selesai, rasanya waktu kita untuk bisa tetap jadi 'anak-anak' berkurang satu lagi…… jadi entah kenapa aku merasa sedih.」
「Rei-chan……?」
Tatapan penuh kepedulian serta kata-kata penuh makna itu membuatku merasa sedikit cemas. Saat aku ragu sejenak memikirkan apa yang harus kukatakan kepadanya, sebuah suara melengking pelan bergema di langit malam.
「――Ah.」
Suara dentuman. Bersamaan dengan sensasi udara yang bergetar, kembang api bermekaran di tengah kegelapan malam.
「Waa……」
「Lagian, musim panas itu ya paling pas sama ini ya.」
Meskipun skala peluncurannya tidak sebesar festival kembang api resmi, bunga api yang menerangi langit malam itu tetap begitu indah hingga membuat orang-orang menghela napas kagum.
「――Indah ya, Yuu-kun.」
Tiba-tiba, di bawah meja, tangan gadis itu menggenggam tanganku. Bukan genggaman kuat seperti biasanya saat ia memimpin diriku, melainkan genggaman ragu-ragu yang menyelipkan jemari demi jemari dengan begitu lemah lembut, membuatku tanpa sadar mengalihkan pandangan dari kembang api dan menatap ke arah Rei-chan.
「Rei-chan……?」
「……Cukup selama kembang api ini menyala saja.」
Senyuman rapuh di wajahnya yang tampak begitu tenang namun sekaligus menyedihkan itu membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain kembali mendongak menatap kembang api.
Lalu, ditandai dengan peluncuran kembang api terbesar sebagai penutup, pengumuman berakhirnya kembang api terdengar dengan suara yang sedikit parau dan retak.
Jari-jari Rei-chan yang tadinya bertautan dengan jemariku perlahan lepas begitu saja, seolah-olah semuanya hanyalah mimpi belaka.
「Aah, rasanya berat hati berpisah, tapi sudah selesai ya.」
Sosok yang ada di sana sekarang tetaplah gadis yang selalu ceria dan baik hati seperti biasanya.
「――Kalau begitu, kita mungkin baru akan ketemu lagi di sekolah ya?」
「Yo, Rei sama Yuu, kalian hati-hati ya pulangnya karena jalanan gelap.」
Perjalanan pulang usai festival musim panas.
Mengantarkan Shirase-san pulang, berpisah dengan Fuyuki-kun, aku dan Rei-chan berjalan menyusuri jalan pulang berdua saja.
「Seru banget ya, Yuu-kun!」
「Iya, nanti tahun depan kita dateng bareng-bareng lagi ya.」
Sisi diri gadis itu yang tampak menyimpan kegelisahan saat kembang api dinyalakan tadi kini sudah benar-benar lenyap tanpa sisa. Hampir-hampir membuatku berpikir apakah itu tadi cuma salah lihat atau semacamnya.
「…………」
Meskipun begitu, sensasi sentuhan jemarinya yang masih tertinggal di telapak tanganku seolah bersaksi bahwa kejadian tadi bukanlah sebuah khayalan belaka.
「Yuu-kun, terima kasih sudah mengantarku pulang.」
「Hm, ah, un……」
Tanpa sadar, kami sudah tiba di depan rumah Rei-chan. Aku mengucapkan terima kasih padanya karena sudah mengajakku ke festival musim panas, lalu berniat untuk berpamitan dan meninggalkan tempat itu.
「……Nihil, Yuu-kun. Masih ada waktu, kan?」
「Eh?」
Mendengar suara yang seolah menahan langkahku itu, aku pun berhenti. Gadis itu tergesa-gesa memasuki teras rumahnya, lalu kembali ke hadapanku beberapa saat kemudian.
「Babak tambahan, mau nggak?」
Di tangan Rei-chan tergenggam sebuah pemantik api portabel berbatang panjang serta sekantong kembang api batang (senkou hanabi).
Setelah menyetujui ajakan Rei-chan, aku membawa sebatang kembang api di tangan dan berjalan selama beberapa menit dari rumahnya menuju sebuah taman kecil.
「Udah lama banget ya nggak ke sini.」
「Waktu kita masih anak-anak TK, kita sering banget main di taman ini ya, Yuu-kun.」
Taman sepi yang hanya memiliki kotak pasir kecil dan segelintir mainan bermain anak-anak itu memang tidak populer di kalangan anak-anak seusia kami, persis seperti kesan kuno dan apa adanya. Namun, justru karena alasan itulah hampir tidak ada orang lain yang datang selain aku dan Rei-chan. Dulu, aku sebenarnya tidak benci taman ini karena kami bisa memonopolinya berdua saja.
「Kalau begitu, kembang apinya dibagi dua ya.」
Setelah mengambil air dari keran taman menggunakan ember kecil yang dibawa dari rumah Rei-chan, kami mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk menyalakan kembang api.
「Nih, Rei-chan.」
「Makasih ya, Yuu-kun.」
Aku menyalakan kembang api yang dipegang olehnya menggunakan pemantik api bertangkai tadi. Setelah memastikan percikan api kecil mulai berderak, aku menyalakan kembang api milikku sendiri. Dibandingkan dengan kembang api besar yang diluncurkan di festival musim panas tadi, kembang api ini terasa sangat kecil hingga rasanya konyol jika dibandingkan, tetapi kembang api jenis ini memiliki nuansa syahdu tersendiri yang tidak buruk sama sekali.
「……Nihil, Yuu-kun.」
Cahaya kecil dari kembang api serta lampu jalan yang temaram menerangi wajah Rei-chan secara samar-samar.
「Waktu masuk SMP dulu, aku sempat mikir, 'Aku pengen bisa lebih akrab lagi sama Yuu-kun,' lho.」
「Itu kan……」
Aku juga merasakan hal yang sama. Aku ingin menjadi lebih dekat dengan Rei-chan. ……Kalau bisa, lebih dari sekadar teman.
Sebelum aku sempat mengungkapkan isi hatiku itu, ia melanjutkan kata-katanya.
「……Tapi ya, setelah aku bisa berteman dengan Yuri-chan, terus jadi lebih akrab juga dari sebelumnya sama Fuyuki-kun…… lalu Yuu-kun selalu ada di sisiku. Sekarang setiap hari terasa begitu menyenangkan. Aku selalu merasa sangat bahagia.」
Intensitas api dari kembang api di tangan Rei-chan perlahan-lahan mulai melemah. Hal itu seolah mencerminkan isi hatinya yang sedang bimbang.
「Aku ingin jadi lebih dekat lagi dengan Yuu-kun. ……Tapi, sekarang kebahagiaan ini rasanya sudah terlalu berlimpah, dan kebersamaan kita semua ini begitu menyenangkan sampai-sampai rasanya aku mau menangis…… Kalau aku melakukan sesuatu, aku takut semua ini (kebahagiaan saat ini) malah akan berakhir……」
「Rei-chan……」
Kembang api yang telah mencapai akhir usianya padam dalam kesenyapan berwarna hitam, dan bagian ujungnya yang membara terjatuh begitu saja ke tanah.
「……Aku takut. Aku takut banget, Yuu-kun…… Berubah itu, hal yang menakutkan buat aku……!」
Melihatnya menunduk dan bergetar, aku pun mendekapnya ke dalam pelukan.
「Rei-chan」
「Yuu-kun……?」
「……Aku nggak bisa bilang 'nggak apa-apa buat nggak berubah'. Soalnya, berkat kamulah aku bisa berubah.」
Dulu, diriku yang tenggelam dalam rasa rendah diri dan keputusasaan telah diselamatkan dan diubah oleh gadis inilah―― dialah yang menarikku keluar dari kegelapan itu.
Karena itulah, sekarang giliran aku yang akan menariknya bangkit.
――Seperti dulu dia pernah melakukannya untukku!
"——Bagiku, kamu adalah seorang gadis yang jauh lebih berharga dan tak tergantikan dibanding apa pun. Sejak hari pertama kita bertemu, terus dan terus..."
"Y-, Yuu-kun..."
"Ayo kita berubah bersama, Rei-chan. Pasti, hari-hari setelahnya akan menjadi masa-masa yang jauh lebih menyenangkan dan luar biasa."
Aku sedikit mengeratkan pelukannya di dalam dekapanku.
"Aku——kami semua ada di sisimu."
……Memang kebiasaanku yang buruk sih, tidak bisa sepenuhnya percaya diri dan mengatakan "aku akan selalu ada di sisimu" sampai tuntas.
Tapi, Fuyuki-kun dan Shirase-san pasti merasakan hal yang sama sepertiku.
Kita tidak bisa selamanya menjadi anak-anak.
Kalau begitu, mari kita berubah bersama. Menuju hari esok yang lebih baik. Menuju masa depan yang jauh lebih menyenangkan.
"...Sok berani sekali padahal cuma Yuu-kun."
"Karena aku kan selalu dipermainkan semaunya sama Rei-chan. Sekali-sekali boleh dong?"
Sambil memasang senyuman usil seolah-olah sedang memprovokasi Rei-chan.
Meskipun akting itu terlihat sangat kentara dan kekanak-kanakan, ia tetap mengikutinya seolah ingin memahami maksudku.
"Kamu ini benar-benar tidak manis! Sejak kapan anak laki-laki sepertimu jadi nakal begini!"
"Ahaha, kalau kamu sudah semengesalkan itu, berarti kamu sudah baik-baik saja ya. Nah, ayo kita lanjutkan sisa kembang apinya."
Bersama Rei-chan yang menunjukkan ekspresi sedikit rumit—antara kesal dan senang—kami membereskan sisa kembang api batang (senkou hanabi) tersebut.
Profil wajah sampingnya yang disinari oleh cahaya rembulan dan kilatan kembang api sungguh terlihat sangat indah.
*
「……Takut. Takut banget, Yuu-kun…… Takut untuk berubah……っ」
Dengan memegang kembang api batang (senkou hanabi) yang apinya sudah padam, aku—Otoha Reiko—menundukkan kepala. Ini sama sekali bukan akting atau rekayasa, melainkan isi hatiku yang paling jujur dan tidak dibuat-buat.
――Aku benar-benar ketakutan setengah mati terhadap yang namanya "perubahan".
Ya, di saat sekarang di mana aku sudah berhasil menyiapkan aktor NTR berkualitas tinggi seperti Yuu-kun, Fuyuki-kun, dan Yuri-san, kalau aku sampai menambah kandidat pria selingkuhan (madokoro) lagi dari titik ini, bukankah alur progres ceritanya bakal berantakan dan kacau? Aku sangat ketakutan sampai tidak tahu harus berbuat apa.
Memang benar, penyaringan kandidat pria selingkuhan sejauh ini belum berjalan sesuai rencana awal. Aku masih butuh tipe berandalan, otaku mesum menyebalkan, dan tipe gorila berotot. Bahkan cowok chara-o (playboy) yang bisa diandalkan untuk mendekati junior cewek pun belum berhasil kudapatkan.
……Tapi, apakah dengan Fuyuki-kun dan Yuri-san saja sebenarnya sudah cukup? Daripada memaksakan diri memperluas jaringan sampai semuanya hancur berantakan, sudah pasti berpegang teguh pada mempertahankan kondisi yang ada (status quo) adalah pilihan yang paling aman dan pasti.
Mengurangi risiko, meminimalisir kesalahan, dan mengincar kesempurnaan mutlak—tidak mungkin hal itu salah. Ini bukanlah sebuah permainan ataupun main-main. Ini adalah proyek akbar di mana taruhannya adalah kehidupanku sendiri.
Aku nggak lagi main-main, tahu!! Kalau saja tidak ada Yuu-kun di sisiku, aku pasti sudah bersinar terang berwarna merah muda sambil meraung-raung.
Di saat aku tengah bergelut dengan pergulatan batin seperti itu, tiba-tiba Yuu-kun merengkuh dan memelukku erat.
「……Aku nggak bisa bilang 'nggak apa-apa buat nggak berubah'. Soalnya, berkat kamulah aku bisa berubah.」
Maaf ya, Yuu-kun. Aku lagi mikirin sesuatu sebentar, jadi bisa tunggu sebentar nggak?
Namun, aku adalah seorang wanita yang tahu cara menempatkan diri dan membaca situasi (TPO). Membaca suasana sekitar, aku memutuskan untuk mendengarkan perkataan Yuu-kun dengan memasang wajah muram dan penuh penghayatan. Aku memang anak yang pintar, ya. Aku memuji diriku sendiri.
「——Bagiku, kamu adalah seorang gadis yang jauh lebih berharga dan tak tergantikan dibanding apa pun. Se sejak hari pertama kita bertemu, terus dan terus...」
「――――――」
Kata-kata itu adalah kutipan persis dari kalimat yang pernah kuucapkan dulu kepadanya. Ya. Masa-masa di mana aku tidak takut pada kegagalan, saat aku berjuang habis-habisan dengan penuh kenekatan demi menggapai impian――
「Y-, Yuu-kun...」
Dengan bibir yang bergetar, aku memanggil namanya seolah terengah-engah.
「Ayo kita berubah bersama, Rei-chan. Pasti, hari-hari setelahnya akan menjadi masa-masa yang jauh lebih menyenangkan dan luar biasa.」
――Ah, benar juga ya. Mendengar kata-kata Yuu-kun yang begitu percaya pada kemungkinan di masa depan, aku menyadari kesalahanku sendiri.
Kesempurnaan demi mempertahankan status quo sama sekali tidak ada artinya. Jika sudah mencapai tingkat "sempurna", maka tidak ada lagi yang tersisa di atasnya. Di sana tidak ada ruang bagi "penciptaan", yang berarti tidak ada celah bagi kebijaksanaan maupun bakat untuk masuk. Rasanya ini bukan dialog yang pantas diucapkan oleh seorang pahlawan wanita (heroine) anime komedi romantis, tapi ya sudahlah, semuanya sudah terlambat.
Intinya, yang kubutuhkan saat ini bukanlah "kesempurnaan". Menuju masa depan (NTR) yang lebih baik daripada hari kemarin. Menuju kemungkinan (pria selingkuhan) yang lebih luar biasa dari saat ini. Menuju masa depan tak dikenal (brain damage) yang jauh lebih cemerlang daripada kondisi sekarang!
Inilah impian manusia! Inilah hasrat manusia! Inilah karma manusia!! Aku mengalihkan masalah fetisismeku sendiri menjadi masalah bagi seluruh umat manusia.
Betapa jahatnya umat manusia ini. Ternyata aku juga hanyalah korban yang malang dari karma yang dipikul oleh umat manusia. Makanya, kasihanilah aku. Anggaplah aku sebagai sosok yang sangat malang. Jangan menindas yang lemah!!
Tanpa sedikit pun memperlihatkan bahwa aku sedang melakukan side-step kecepatan tinggi di antara pembenaran diri yang bobrok seperti kotoran dan argumen putar balik yang mirip sampah, aku menikmati kembang api senkou hanabi bersama Yuu-kun, lalu diantar pulang olehnya sampai ke depan rumah.
「E-, etto, itu, Yuu-kun……」
「U-, un.」
「Itu, aku senang banget. Kamu bilang aku itu berharga buat kamu. ……A-, aku juga, sebenarnya Yuu-kun……」
「Rei~? Sudah pulang, yaー?」
「「!?」」
Karena ibuku memanggil di saat yang sangat pas dan sempurna, aku memutuskan untuk mengakhiri event festival musim panas bersama Yuu-kun sampai di sini saja. Aku sangat puas dengan intersepsi ilahi yang membuat situasi yang hampir berujung pada pengakuan cinta itu menjadi mengambang tidak jelas (tska-tska). Nitchari (tersenyum licik).
「K-, kalau begitu, Yuu-kun selamat malam! Terima kasih banyak sudah menemaniku sampai larut malam ya!」
「Eh, ah, un! S-, selamat malam!」
Menggunakan kontrol sirkulasi darah untuk memerah kan pipiku, aku dengan paksa memutus percakapan lalu ngibrit pergi dari hadapan Yuu-kun.
Terima kasih ya, Yuu-kun. Berkat dirimu aku bisa kembali ke titik awal. Padahal aslinya nggak boleh! Meski itu hal yang keterlaluan……!
Tambahan lima orang pria selingkuhan lagi! ――Aku ingin sekitar 10 orang!! Aku ingin menghancurkan banyak otak (brain break) yaaa!! Fuh, lega rasanya.
Kalau begitu, semester baru nanti aku bakal berjuang lebih keras lagi, ya. Karena perasaanku sudah lega, aku memutuskan untuk tetap bersemangat di semester baru. Liburan musim panas pun telah usai.



