📢 Announce 📢

Jangan lupa bantu kami dengan donasi
Bocchikano

Chapter 4: Mana Mungkin Ada Kenangan Indah Dari Karyawisata Seorang Penyindiri

September 25, 2026 • Penerjemah: Jerinnn
Ukuran:
Mode:


Hari pelaksanaan karyawisata tiba dengan langit yang cerah tanpa awan.

Sempat terpikir olehku hal-hal tidak terpuji seperti, “Kalau bisa, hujan saja sekalian biar semuanya berantakan.” Namun, sepertinya langit dengan luar biasa mengabaikan permohonanku. Mungkin memang itu yang terbaik.

Aku pun pasrah dan mengenakan ransel untuk karyawisata. Karena tidak perlu membawa buku pelajaran ataupun bekal, rasanya jauh lebih ringan dibandingkan tas yang biasa kubawa ke sekolah.

“Kak, hari ini berangkatnya cepat, yaー.”

Saat sedang mengganti sepatu di depan pintu rumah, Satsuki sepertinya menyadari keberadaanku dan datang berjalan kecil-kecil untuk mengantarku.

Karena SMP-nya tidak mengadakan karyawisata atau kegiatan semacam itu hari ini, dia masih mengenakan piyama.

“Pulau yang didatangi kelas kami lumayan jauh, jadi waktu berkumpulnya juga lebih pagi. Padahal karyawisata cukup ke kebun binatang dekat sini saja.”

“Mana bisa. Kebun binatang itu dekat sekali dari SMA, jadi bukan karyawisata namanya. Lima menit jalan kaki, kan?”

“Itu pintu masuk kebun raya. Kalau sampai kebun binatang, masih lima belas menit jalan kaki.”

“Ya tetap saja dekatー.”

Tepat di dekat SMA Higashidani terdapat sebuah kebun binatang sekaligus kebun raya yang besar.

SMA Higashidani punya kebiasaan yang cukup mengerikan. Kalau saat homeroom tidak ada kegiatan yang harus dilakukan, mereka akan berkata, “Yah, mau bagaimana lagi. Kita ke kebun binatang saja untuk mempererat hubungan antarkelas.” Lalu benar-benar pergi ke sana.

Kalau tidak salah, di kehidupan SMA-ku yang sebelumnya pun kami pergi sekitar setahun sekali.

Tahun ini kami memang belum pergi, tetapi aku selalu merasa cemas menunggu kapan guru akan tiba-tiba berkata, “Hari ini tidak ada kegiatan, jadi kita ke kebun binatang, yuk.”

“Enak ya, kebun binatangー,” gumam Satsuki pada dirinya sendiri, sebelum tiba-tiba tersenyum.

“Tapi Kakak berani juga ikut karyawisata. Bukannya Kakak tidak punya teman?”

“Berisik. Sampai diamati secara langsung, belum bisa dipastikan apakah aku punya teman atau tidak.”

“Itu kucing, tahu.”

“Bocchi juga bisa ikut karyawisata. Jangan remehkan bocchi dengan mental baja.”

“Kalau Kakak, kupikir ada kemungkinan lima puluh persen bakal bolos.”

Adikku ini memang suka melontarkan komentar yang blak-blakan dan tidak sopan. Bukan hal baru memang, tapi menurutku dia bisa sedikit lebih baik kepada kakaknya.

“Yah, sebenarnya aku juga tidak masalah kalau bolos. Dapat uang dari Ibu untuk dipakai selama di tempat tujuan, lalu langsung pergi ke warnet juga punya keasyikan tersendiri.”

“Itu sama sekali bukan sesuatu yang keren! Itu malah keterlaluan sebagai manusia! Menipu Ibu juga tidak boleh!”

Aku menenangkan Satsuki yang tampaknya benar-benar marah dengan mengatakan bahwa itu hanya candaan.

Lagipula, sebenarnya aku juga tidak sanggup mengucapkan kebohongan yang bakal membuat hati tidak enak seperti itu.

Kalau memang tidak mau ikut, aku akan dengan gagah berani menyatakan, “Ada alasan yang sangat penting sehingga aku tidak bisa mengikuti karyawisata,” lalu bolos dengan tenang tanpa sedikit pun rasa bersalah.

“Yah, kupikir tidak ada salahnya sesekali serius mengikuti acara sekolah.”

Kali ini aku juga sudah dibantu Shiramine saat pembagian kelompok. Selain itu, ada juga orang-orang yang bakal kerepotan kalau aku tidak menikmati acara ini.

Aku sebenarnya masih kurang bersemangat, tapi... baiklah. Sekali ini, mari kita berusaha.

Akan kutunjukkan bahwa kalau aku benar-benar serius, aku juga bisa menikmati kehidupan SMA yang penuh canda tawa dan kebersamaan bersama teman-teman sekelas!

Suara lemak yang meletup-letup terdengar di udara, sementara aroma daging yang dipanggang hingga kecokelatan terbawa angin laut dan menggelitik hidung.

Di area barbekyu yang berada di antara pantai berpasir dan pemecah ombak, kompor-kompor dan gazebo berjajar rapi. Para siswa SMA memanggang bahan makanan sambil bersorak riang.

Di atas pelat besi yang digunakan kelompok kami, bukan hanya daging yang berjajar memenuhi permukaan. Ada pula makanan laut seperti udang dan kerang, serta sayuran klasik seperti bawang bombai dan paprika.

“Heiー, sudah matangー!”

Seorang anak laki-laki bernama Sagawa berseru dari depan pelat besi. Ia memegang penjepit sambil memeriksa tingkat kematangan bahan makanan dengan sangat teliti.

Memang selalu ada orang seperti ini.

Begitu ada acara barbekyu, dia langsung menempel di depan pelat besi dan berubah menjadi penjaga pelat. Bahkan sampai ingin memanggangkan makanan untuk orang lain. Jiwa sukarelanya luar biasa.

Aku sendiri pernah dibilang Satsuki cocok ikut kegiatan memungut sampah lingkungan karena sifatku, tetapi sayangnya aku sama sekali tidak memiliki jiwa pengabdian seperti itu.

Begitu mendengar aba-aba Sagawa, anggota kelompok berbondong-bondong mendekati pelat besi sambil membawa piring kertas dan sumpit sekali pakai. Mereka mengambil makanan yang sudah matang ke piring masing-masing sambil tertawa riang.

Entah kenapa, pemandangan itu mengingatkanku pada anak-anak burung di dalam sarang yang sedang diberi makan oleh induknya.

Laut yang memantulkan cahaya matahari hingga berkilauan tak beraturan terus bergulung dan surut di kejauhan, hanya beberapa puluh meter dari tempat kami.

Sebulan lagi, pantai ini mungkin sudah dipenuhi keluarga dan pasangan.

Secara resmi, sekarang memang waktunya barbekyu. Namun, suasananya cukup bebas. Ada yang memanggang bahan makanan, sementara yang lain bermain-main di sekitar.

Banyak juga yang mengabaikan barbekyu dan berlari di tepi pantai atau merendam kaki di air laut. Beberapa anak yang terlalu bersemangat bahkan menggulung ujung celana dan menerjang masuk ke laut sepuasnya.

Hei, anak laki-laki yang sampai basah kuyup bagian atas tubuhnya itu, memangnya mau bagaimana saat naik bus pulang nanti?

Namun, kekhawatiran semacam itu pun lenyap begitu berhadapan dengan semangat anak muda yang luar biasa.

“Hohohoho... masa muda, ya...”

Aku berpura-pura menjadi seorang kakek misterius yang sedang mengenang masa mudanya, demi mengurangi kerusakan mental akibat pemandangan yang penuh aura青春 itu.

Omong-omong, aku sendiri sedang duduk di bawah bayang-bayang pohon beberapa meter dari kompor kelompok kami, menyeruput teh dari gelas kertas sedikit demi sedikit.

Dalam radius beberapa meter di sekelilingku, telah tercipta sebuah ruang abnormal yang sama sekali tidak memiliki nuansa masa muda.

Sungguh menyedihkan.

Yah, tidak apa-apa.

Aku memang tipe orang yang suka makan siang dengan tenang.

Jangan bilang kalau bocchi sebenarnya tidak punya teman bicara, jadi memang tidak punya pilihan selain makan dalam diam.

Area barbekyu secara garis besar dibagi antara kelas A kami dan kelas F tempat Hanamitsuji dan yang lainnya. Aku tidak tahu Hanamitsuji berada di mana.

Hoshigasaki tampak bersenang-senang dan bersemangat di tempat sekitar belasan meter dari kami.

Saat sedang melamun memandangi suasana di sekitar, tiba-tiba seseorang muncul di hadapanku.

Shiramine.

Dia mengenakan pakaian santai berupa kaus lengan panjang putih yang longgar dan celana skinny hitam. Topi hitam untuk melindungi diri dari sinar matahari juga terlihat sangat cocok dengannya.

“Nanamura-kun, kamu tidak makan? Sagawa-kun sudah memanggangkannya.”

Selain piring miliknya sendiri, Shiramine membawa satu piring tambahan.

Sepertinya dia sengaja menyisihkan makanan untukku.

“Ah, aku makan. Terima kasih.”

Aku meraih sumpit sekali pakai ke arah piring yang entah kenapa berisi sedikit lebih banyak sayuran, lalu mulai memakan bawang bombai dengan lahap.

Tingkat kematangannya benar-benar pas.

Terima kasih, Sagawa.

Shiramine tetap berdiri di sampingku seperti biasa. Alhasil, kami berdua berdiri sambil memandangi kompor.

“Menikmati barbekyunya?”

“Memangnya aku terlihat sedang menikmatinya?”

Menanggapi pertanyaanku, Shiramine menyibakkan rambut panjangnya dan melirik wajahku sekilas.

“Kalau harus menjawab, wajahmu terlihat seperti karyawan kantoran yang sedang tertunduk lesu di bangku stasiun kereta bawah tanah pada malam hari.”



“Wah, wajahmu benar-benar kelihatan capek.”

“Memangnya tidak begitu?”

“Ya, memang begitu. Terus terang, aku capek……”

Aku mengingat kembali perjalanan yang sudah kulalui sejauh ini, lalu merasa semakin lemas.

Sungguh, aku benar-benar meremehkan acara yang bernama karyawisata. Padahal aku seharusnya sudah pernah mengalaminya di kehidupan SMA sebelumnya, tetapi sepertinya ingatan traumatis semacam itu telah dikategorikan sebagai memori yang ingin kulupakan dan ditekan ke alam bawah sadar.

Hambatan pertama adalah tempat berkumpul.

Aku tiba terlalu cepat di tempat parkir pusat olahraga yang telah ditentukan. Akhirnya, aku menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit dengan berdiri sendirian, menjaga jarak belasan meter yang terasa serba tanggung dari teman-teman sekelas yang sedang asyik mengobrol dengan riang.

Apaan ini? Kenapa rasanya begitu pas seperti orang yang benar-benar gagal masuk ke lingkaran pergaulan kelas?!

Duduk di bangku sendiri di dalam kelas setidaknya membuat keberadaanku diakui sebagai bagian dari kelas.

Namun, ketika berdiri sendirian dengan jarak tertentu dari teman-teman sekelas, fakta bahwa aku benar-benar seorang bocchi menjadi sesuatu yang secara fisik tidak mungkin disembunyikan.

Diam-diam, ini menyakitkan.

Bahkan setelah naik bus, ketika orang-orang di sekitarku mulai bermain kartu dan saling menyuapi camilan, aku hanya memasang earphone lalu pura-pura tidur pulas.

Padahal aku sama sekali tidak mengantuk.

Cuma pura-pura tidur saja.

Setelah di atas feri pun mengalami kecanggungan yang sama dalam dosis penuh, akhirnya kami tiba di pulau ini dan dibawa ke area barbekyu hingga sampai pada keadaan sekarang.

Kalau dipikir-pikir, waktu yang kuhabiskan untuk duduk justru lebih lama. Namun, entah kenapa kelelahan mentalnya luar biasa.

Sebelum berangkat dari rumah, aku sempat menyemangati diri sendiri dengan berpikir, “Hari ini, sekali ini saja, mari kita berusaha.”

Maaf, Satsuki.

Ternyata aku tidak sanggup……

Shiramine mengalihkan pandangannya dariku, lalu mendongak menatap langit biru tempat matahari bertengger dengan seenaknya.

“Bisa memasang wajah semuram itu di bawah terik matahari seperti ini... dalam arti tertentu, itu bakat juga.”

“Suatu kehormatan. Tapi ngomong-ngomong, apa tidak masalah bagimu berada di sebelah pria yang memiliki bakat memasang wajah suram?”

“Aku juga tidak bisa begitu saja membiarkanmu. Tidak ada yang akan menyalahkanmu kalau hanya mengambil makanan yang ingin kamu makan dari pelat besi. Jadi ambil saja sesukamu. Itu saja.”

“Oh. Terima kasih.”

Shiramine melambaikan tangannya ringan, lalu kembali menuju anggota kelompok.

“Ah, Mashiro, kamu juga makan ini! Enak banget, lho!”

“Hmm, terima kasih.”

Anggota kelompok tampak akrab mengobrol dengan Shiramine. Di dekat mereka, anak-anak laki-laki sedang mencari-cari waktu yang tepat untuk mengajak siswi perempuan berbicara.

Masa muda, yaー.

Hari ini pun aku beberapa kali berbicara dengan anggota kelompok sebatas urusan seperlunya. Namun, tetap saja aku merasa seperti dihindari oleh semua orang selain Shiramine.

Rasanya juga tidak enak kalau terus-menerus aku yang memulai pembicaraan.

Akhirnya, setelah itu aku terus mengulangi rutinitas yang sama.

Aku menunggu saat perhatian anggota kelompok teralihkan dari kompor, lalu menggunakan taktik hit-and-away untuk menyambar makanan yang sudah matang dari pelat besi dan membawanya ke tempat teduh yang jauh dari sana untuk dimakan.

Rasa bersalah karena sama sekali tidak bekerja tetapi malah mengambil makanan begitu berat, sampai-sampai aku selalu mengambil daging yang gosong atau sisa sayuran.

Rasanya seperti seorang hikikomori yang diam-diam mengais makanan di dapur pada tengah malam.

Di bawah sinar matahari awal musim panas yang menyilaukan, di pantai berpasir yang menghadap laut biru...

Siapa sangka aku malah harus mengalami hal seperti ini……

Sekitar dua jam kemudian, acara barbekyu pun berakhir.

Setidaknya aku ikut membantu sedikit membereskan barang, lalu kami beralih ke kegiatan masing-masing berdasarkan kelompok.

Kelompok kami rupanya akan mengikuti pengalaman menangkap gurita di sebuah pantai yang letaknya tidak terlalu jauh dari area barbekyu.

Kenapa harus gurita, sih?

Aku memang paham kalau gurita merupakan salah satu hasil khas daerah ini, tapi tetap saja.

“Heiー, semuanya! Sini, sini!”

Di sebelah kiri terbentang laut yang berkilauan indah, sementara di sebelah kanan jalan pesisir dipenuhi penginapan dan hotel yang berjajar.

Di ujung jalan, para siswi dari kelompok kami melambaikan tangan dengan penuh semangat.

“Heiー!”

“Tungguin, dongー!”

Beberapa anak lain ikut berteriak kepada mereka.

Aku hampir saja ingin berkomentar, “Memangnya kalian segembira itu hanya karena mau menangkap gurita?”

Namun, setelah kupikir-pikir lagi, rasanya bukan itu masalahnya.

Sebenarnya apa pun tidak masalah.

Menangkap gurita, menangkap belut, bahkan menangkap bulu babi sekalipun.

Di usia SMA seperti sekarang, melakukan hal-hal semacam itu memang terasa menyenangkan.

Walaupun yang terakhir sepertinya malah sakit.

Mungkin karena mabuk oleh suasana yang tidak biasa, entah kenapa semua orang tampak memiliki tingkat semangat dua puluh persen lebih tinggi dari biasanya.

Bukan acara berenang atau kegiatan dengan pakaian renang sekalipun, tetapi mereka bisa sesemangat itu.

Begitulah namanya masa muda.

Karena hari ini adalah hari kerja, jumlah pengunjung memang tidak terlalu banyak. Meski begitu, selain para siswa SMA, terlihat juga beberapa anak muda lain di sekitar sini.

Mungkin ada warga lokal, tetapi sebagian besar sepertinya wisatawan.

Meskipun puncak musim panas masih beberapa waktu lagi, sinar matahari sudah cukup kuat untuk membuatku muak.

Sambil benar-benar menyesali kecerobohanku yang meremehkan keadaan dan lupa membawa tabir surya, aku berjalan di barisan paling belakang kelompok.

“Pernah menangkap gurita?”

Aku terkejut mendengar suara tepat dari samping, lalu menoleh.

Tanpa kusadari, Shiramine sudah berjalan sejajar denganku.

Sepertinya dia sengaja memperlambat langkahnya.

“Sayangnya... Ah, kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak ada yang perlu disayangkan sih. Belum pernah.”

“Begitu, ya. Sejujurnya, aku agak takut. Pasti licin, kan?”

“Pasti licin, ya.”

“Benar-benar setuju. Tapi bagi anak SMA yang sedang menikmati masa muda, merasa takut dengan lendir gurita pun mungkin akan menjadi kenangan indah.”

Meski begitu, sepertinya aku sudah membuat Shiramine terlalu banyak memedulikanku.

“Maaf, ya. Dari tadi aku sudah banyak merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa. Aku cuma melakukan apa yang ingin kulakukan.”

“Kalau begitu, syukurlah.”

Saat itulah aku merasakan tatapan aneh.

Ketika mengangkat kepala, kulihat anggota kelompok yang sedang menunggu kami di ujung jalan tampak mengawasi kami sambil berbisik-bisik.

Gawat. Sepertinya kami terlalu lama tertinggal.

Kami pun berlari kecil untuk menyusul rombongan di depan.

Gurita yang berenang di dalam kolam ternyata benar-benar berlendir seperti yang kuduga. Para siswi berteriak-teriak heboh, sementara anak-anak laki-laki pun mengernyitkan wajah karena merasakan sensasi aneh yang menempel di tangan mereka.

Beginikah sesuatu yang populer? Dunia ini sebenarnya sudah menjadi seperti apa?

Jangan-jangan tentakel ternyata merupakan salah satu fetisisme yang cukup umum?

Pada akhirnya, gurita yang kami tangkap setelah berjuang mati-matian itu tak berdaya di tangan sang juru masak. Kami pun menikmatinya dalam bentuk takoyaki, sashimi, dan berbagai hidangan lainnya.

Padahal tadi dia masih bersemangat menempelkan alat pengisapnya ke tubuh kami......

Benar-benar membuatku menyadari betapa berharganya kehidupan.

Setelah itu, saat perjalanan menuju kegiatan memancing, kami memutuskan untuk melihat-lihat oleh-oleh. Kami semua masuk ke toko suvenir di sekitar pelabuhan nelayan.

Deretan ikan kering dan tsukudani yang berjajar memenuhi toko membuatku merasa terintimidasi, sampai aku berhenti di dekat pintu masuk.

Anggota kelompok yang lain melihat-lihat camilan dan gantungan kunci entah apa di bagian dalam toko.

Aku mengalihkan pandangan kepada Shiramine yang sedang melihat-lihat oleh-oleh di tempat yang agak jauh dari anggota kelompok—atau lebih tepatnya, di tempat yang lebih dekat denganku.

Ekspresinya tetap serius seperti biasa.

Bahkan saat karyawisata pun dia tetap terlihat seperti seorang ketua kelas. Aku benar-benar kagum.

Sepanjang perjalanan sampai sejauh ini, Shiramine berkali-kali mengajakku bicara setiap kali aku mulai terisolasi.

Aku sangat berterima kasih atas perhatian dan kepeduliannya kepadaku seperti ini.

Namun, ada sedikit masalah.

Aku kembali memeriksa kesimpulan yang sudah kubuat di dalam kepala.

Semakin kupikirkan, semakin aku yakin bahwa inilah jawaban yang benar.

Seharusnya tidak mungkin salah.

Aku menyemangati diriku sendiri dalam hati, lalu perlahan mendekati Shiramine.

“Shiramine, bisa bicara sebentar?”

“Ada apa?”

Di tempat yang tidak terlihat oleh anggota kelompok, aku mendekatkan wajah kepadanya dan berbisik.

“Aku akan keluar dari kelompok di sini. Setelah ini, jaga dirimu baik-baik.”

“Hah!? Tiba-tiba ngomong apa—”

Shiramine membelalakkan mata. Aku mengangkat telunjuk untuk menyuruhnya tenang, lalu menjelaskan dengan nada datar.

“Dari tadi kamu sudah sering mengajakku bicara, dan itu sangat membantuku. Berkat itu, aku bisa sedikit melupakan kenyataan bahwa aku seorang bocchi.”

“Kalau begitu baguslah.”

“Tapi ada juga orang-orang yang sebenarnya tidak senang melihatnya.”

Aku melirik sekilas ke bagian dalam toko. Shiramine sepertinya langsung memahami maksudku.

“Yah, kalau soal itu aku mengerti.”

Ketika aku dan Shiramine berbicara tadi, anggota kelompok jelas-jelas memperhatikan kami.

Dari suasananya, sepertinya mereka tidak memiliki kesan yang terlalu positif terhadapku.

Bagi mereka, Shiramine adalah bagian dari kelompok mereka. Jadi, mungkin mereka tidak suka melihat Shiramine memedulikan anak bermasalah sepertiku—orang yang sebelumnya melakukan tindakan yang nyaris seperti penguntitan terhadap Hoshigasaki.

Meskipun tidak mengatakannya secara langsung, perasaan semacam itu tetap bisa terasa dari suasana sekitar.

“Kurasa sudah waktunya aku pergi.”

Mendengarnya, Shiramine masih menggelengkan kepala seolah belum bisa menerimanya.

“Memang benar kamu dan mereka belum bisa dikatakan akrab. Tapi setidaknya selama karyawisata ini, kita bisa mencoba—”

“Bukan itu masalahnya. Memang benar, kalau kamu, Shiramine, mungkin bisa menjadi jembatan antara aku dan mereka. Tapi dalam prosesnya, bukankah justru kamu yang akan menanggung ketidakpuasan mereka?”

Benar.

Kalau ketidakpuasan mereka hanya ditujukan kepadaku, sebenarnya tidak terlalu masalah.

Aku cuma perlu menanggung sedikit rasa canggung.

Tapi kalau ketidakpuasan itu sampai diarahkan kepada Shiramine, aku tidak bisa membiarkannya.

“Cara terbaik agar mereka tidak semakin kesal kepadamu adalah kamu tidak perlu memedulikanku. Tapi kamu pasti tidak suka melakukan hal seperti itu, kan?”

“Yah, memang begitu.”

“Kalau begitu, aku saja yang keluar dari kelompok dan bergerak sendiri. Dari awal aku memang bocchi. Menghabiskan waktu sendirian bukan hal yang asing bagiku.”

Inilah jawabanku.

Untuk menyelesaikan masalah ini, cara inilah yang paling tepat.

“……Sebagai ketua kelompok, aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja meninggalkan kelompok.”

“Aku akan kembali sebelum waktu berkumpul, jadi jangan khawatir.”

“Bukan itu masalahnya.”

Aku menghela napas menghadapi Shiramine yang masih keras kepala.

Yah, sejak awal aku sudah tahu dia bukan tipe orang yang akan dengan mudah menerima usulan seperti ini.

Aku menatap lurus wajah Shiramine dan terus berusaha meyakinkannya.

“Aku berterima kasih kepadamu, Shiramine. Aku bisa bertahan sampai sejauh ini bersama kelompok juga berkatmu. Aku bisa makan barbekyu dengan benar, bahkan berhasil menangkap gurita.”

Kalau tidak ada Shiramine, mungkin aku akan makan siang di kios dekat terminal feri.

Bahkan, kalau dipikir lebih jauh, mungkin saja aku malah membolos dari karyawisata ini sejak awal.

“Justru karena itulah, aku tidak bisa membiarkan karyawisatamu hancur gara-gara aku.”

Di kehidupan SMA sebelumnya, Shiramine pasti bisa menikmati karyawisata tanpa beban seperti ini.

Aku tidak boleh mengubah sesuatu yang seharusnya menjadi kenangan menyenangkan menjadi kenangan pahit hanya karena aku kembali ke tiga tahun lalu.

“Kalau aku tiba-tiba menghilang, mereka pasti bingung. Jadi, tolong jelaskan kepada mereka dengan baik. Aku bukan mau menghilang begitu saja. Aku cuma akan pergi sendiri untuk sementara.”

“……Kamu ini benar-benar seenaknya sendiri.”

“Namanya juga bocchi. Orang seperti aku memang cenderung hanya memikirkan diri sendiri. Biarkan saja aku.”

Aku menyelinap melewati sisi Shiramine dan hendak keluar dari toko suvenir.

Namun, ujung bajuku ditarik.

“Kamu tidak mengerti? Bagiku, karyawisata yang sukses adalah ketika kamu juga ikut menikmatinya bersamaku.”

“Kalau kamu mau berkata seperti itu saja, aku sudah cukup senang. Oh, iya. Sebenarnya tidak perlu kuingatkan lagi, tapi jangan sampai keceplosan soal itu, ya.”

Aku tidak ingin Shiramine, yang berniat mendamaikan aku dengan teman-teman sekelas, malah tanpa sengaja membocorkan rahasia Hoshigasaki.

Hanya itu yang ingin kuhindari.

“Untuk itu aku janji, tapi……”

“Memang menyenangkan punya ketua kelas yang bisa diajak bicara. Bahkan tertulis di Kojiki.”

“Kamu mengarang lagi, ya.”

“Aku kan bercita-cita menjadi novelis. Mengarang sembarangan adalah keahlianku.”

“Kamu punya prasangka yang aneh sekali terhadap novelis, ya?”

Shiramine menatapku dengan tatapan jitome, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin rendah.

“Tapi, aku tidak bisa setuju dengan caramu berpikir bahwa selama kamu sendiri yang dirugikan, semuanya akan baik-baik saja.”

“Kan kenyataannya semuanya jadi baik-baik saja.”

“Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri? Aku tidak suka.”

“Ah……”

Mendengar perkataan yang begitu terus terang, aku tidak mampu memberikan jawaban.

Aku keluar dari kelompok agar tidak merepotkan Shiramine.

Sebagai orang yang sudah terbiasa menjadi bocchi, bagiku itu bukan masalah. Bahkan anggota kelompok mungkin akan menyambutnya dengan lega.

Di dalam kepalaku, ini adalah solusi yang sempurna.

Aku pikir tidak ada cara lain.

Namun, hanya dengan satu kalimat dari Shiramine—

“Aku tidak suka.”

—solusi yang tadinya terasa sempurna itu tiba-tiba menjadi sesuatu yang salah.

Kenapa, sih?

Kenapa Shiramine, Hoshigasaki, dan Hanamitsuji begitu peduli kepadaku?

Padahal nilai-nilai yang mereka pegang jelas berbeda dengan milikku.

Sejauh apa pun kami melangkah, kami hanya akan terus berjalan paralel. Atau malah bertabrakan.

Untuk sesaat, aku mencoba memikirkan solusi lain.

Tapi pada akhirnya, aku tidak menemukan cara selain ini.

“……Mau bagaimana lagi. Cara seperti inilah yang paling biasa kulakukan.”

“Setelah ini aku serahkan kepadamu.”

Dengan meninggalkan kata-kata itu, aku perlahan melepaskan diri dari tangan Shiramine.

“Kamu itu bodoh, ya.”

“Ya…… mungkin memang Shiramine yang benar.”

Aku merasa ada sesuatu yang salah.

Namun, aku memang hanya tahu cara seperti ini.

Selama masalahnya melibatkan hubungan antarmanusia, jawaban sempurna yang kita pikirkan sendiri tidak akan menjadi jawaban yang benar jika pihak lain tidak bisa menerimanya.

Kalau hanya bergerak berdasarkan kepentinganku sendiri, pasti ada seseorang yang akan kerepotan.

Seseorang akan merasa tidak nyaman.

Dan pada akhirnya, hubungan kami akan seperti salah memasang kancing baju.

Apakah aku orang yang terlalu dingin karena selalu berpikir, “Ah, merepotkan sekali,”?

Atau memang sejak awal aku tidak cocok bergaul dengan orang lain?

Mungkin dua-duanya.

Kali ini, Shiramine tidak mengatakan apa-apa lagi.

Aku keluar dari gedung tanpa menoleh ke belakang.

Sinar matahari perlahan-lahan membakar kulitku. Kilauan laut terasa menyilaukan dan mengganggu mata. Bau air laut yang busuk menusuk tajam hidung.

Entah dari mana, suara tawa riang terdengar, tetapi kemudian tersapu angin seolah-olah hanya halusinasi.

Yah, untuk sementara pergi ke arah kota saja.

Aku mulai berjalan tanpa tujuan yang jelas.

◆

Dari pesisir menuju bagian tengah pulau, jalannya menanjak dengan kemiringan yang landai. Setelah berjalan beberapa menit, aku sampai di kawasan yang dipenuhi rumah penduduk, toko-toko, dan berbagai fasilitas umum.

Berbeda dengan daerah tempat tinggalku, yang jalan-jalannya melewati kawasan perumahan, di sini bangunan-bangunan kota terbentuk mengikuti jalur jalan.

Pemandangan seperti itu terasa cukup segar bagiku.

Di kejauhan terlihat sebuah bangunan yang tampaknya adalah sekolah.

Oh, iya. Di pulau terpencil pun ada pelajar, ya.

Baru sekarang aku menyadari sesuatu yang sebenarnya sangat wajar.

Ada begitu banyak kehidupan orang lain yang tidak kuketahui, di tempat-tempat yang bahkan tidak kuketahui.

Memikirkan hal sesederhana itu entah kenapa terasa sedikit menyedihkan.

Aneh.

Padahal aku yang seorang bocchi sudah terbiasa tidak bertemu dengan orang lain.

Bertemu dengan seseorang itu merepotkan.

Aku harus memikirkan berbagai macam perasaan, menjaga sikap, dan pada akhirnya mungkin kami akan saling menyakiti lalu berpisah sambil membawa perasaan buruk.

Kalau begitu, bukankah lebih baik tidak pernah bertemu sejak awal?

Aku mengalihkan pikiranku dan melihat buku kecil Panduan Karyawisata yang dibagikan kepada kami.

Kalau terus berjalan di sepanjang pesisir, ada kemungkinan aku bertemu orang yang kukenal.

Kalau sampai ketahuan guru dan ditanya, “Kelompokmu mana?”, aku juga akan kesulitan menjawab.

Jadi, lebih baik aku menghabiskan waktu sampai feri berangkat dengan mengunjungi situs-situs bersejarah di pulau ini yang kemungkinan besar tidak akan didatangi para siswa SMA.

Saat siswa lain sedang bersenang-senang, pria yang kompeten justru memperkaya wawasan seperti ini dan membuat perbedaan di tikungan.

Walaupun sebenarnya tidak perlu juga belajar saat karyawisata.

Setelah itu, sambil mencocokkan peta dengan pemandangan di sekitarku, aku berkeliling mengunjungi kuil Buddha kuno, dinding batu di lereng gunung, sebuah hokora besar, hingga kuil Shinto yang memiliki patung batu berbentuk gurita.

Sesuai dugaanku, aku tidak berpapasan dengan anak-anak dari sekolah.

Semuanya berlangsung sangat damai.

Karena terus berjalan hingga kelelahan, aku akhirnya kembali ke bagian tengah pulau.

Di sekitar sini terdapat beberapa toko suvenir, sehingga dari kejauhan sesekali terlihat siswa SMA dan wisatawan.

Yah, selama aku bersikap biasa saja, mungkin tidak akan ada yang mempersoalkanku.

Sejak dulu, aku memang terkenal punya kemampuan menghilangkan keberadaan.

Di dalam bus saja aku bisa menunjukkan kemampuan stealth sempurna.

Jangan-jangan suatu hari nanti militer suatu negara membuat pesawat tempur dengan mengadaptasi kemampuan stealth-ku.

Akhirnya, aku menemukan sebuah toko tua di pinggir jalan.

Atau lebih tepatnya, toko yang menjual berbagai macam permen dan jajanan tradisional.

Aku membeli sebotol cola, lalu duduk di bangku di depan toko.

Sambil melamun, kuteguk minuman berkarbonasi itu dan membiarkannya mengalir ke tenggorokan.

“Fuh……”

Aku mengembuskan napas lega, lalu memeriksa waktu di ponsel.

Masih cukup lama sampai waktu keberangkatan feri……

Berkeliling situs bersejarah memang tidak buruk, tetapi sekarang aku sudah ingin duduk santai dan bermalas-malasan dengan tenang.

Pulau ini tidak punya restoran keluarga, ya.

Aku jadi merindukan drink bar.

Saat sedang melamun memandangi berbagai jajanan yang berjajar di dalam toko, aku merasakan seseorang mendekat.

Kalau ternyata guru, aku harus menjawab apa?

Sambil memikirkan alasan yang bisa kugunakan, aku sengaja membuang muka dengan keras kepala.

Lalu—

GATAN!

Sesuatu menghantam tulang keringku.

“Aduh!”

Aku tiba-tiba ditendang!

Guru bukan. Jangan-jangan berandalan!?

Aku buru-buru menoleh ke depan.

Di sana berdiri seorang gadis cantik dengan ekspresi tidak senang.

Dia mengenakan hot pants denim dan hoodie tanpa lengan yang terlihat sejuk. Dari bagian bahunya tampak inner bergaris.

Gadis cantik dengan pakaian santai yang cukup terbuka, di tengah suasana yang begitu kental dengan nuansa musim panas.

Kalau dalam keadaan normal, kombinasi itu mungkin bisa membuatku terpana.

Tapi sekarang jelas bukan waktunya untuk memikirkan hal seperti itu.

Orang yang menduduki peringkat nomor satu dalam daftar “orang yang paling tidak ingin kutemui saat ini” sedang berdiri tepat di depanku.

“Kamu kenapa ada di sini?”

“Itu pertanyaanku. Mashiro dan yang lainnya ke mana?”

Hanamitsuji menatapku dengan dingin.

Suaranya begitu rendah hingga terasa seolah-olah sampai membekukan dasar lambungku.

Tidak ada siswa yang tampaknya merupakan anggota kelompoknya di sekitar sini.

Kenapa anak ini sendirian?

Aku menghela napas dalam hati.

Mungkin datang ke tempat seramai ini memang sebuah kesalahan.

Hanamitsuji, yang membeli cola di toko jajanan tradisional, duduk di sampingku lalu membuka tutup botolnya dengan kasar. Kalau dipikir-pikir, sepertinya ini pertama kalinya aku melihatnya minum cola.

“Hanamitsuji, kamu minum cola juga?”

“Bukan berarti aku suka.”

Kalau tidak suka, jangan dibeli, pikirku dalam hati sambil mengamati profil samping Hanamitsuji yang diam-diam meneguk colanya. Di balik wajahnya yang cantik dan rapi, terlihat jelas rasa kesal yang tidak mampu dia sembunyikan.

Bagaimanapun juga, dia kelihatan marah banget, ya...

Setelah memastikan tidak ada sosok yang tampak seperti siswa SMA di sekitar kami, aku pun membuka suara.

“Hanamitsuji, kenapa kamu ada di sini? Bagaimana dengan kelompokmu?”

“Karena aku melihatmu sedang melamun sendirian, jadi aku bilang, ‘Maaf, aku ada sedikit urusan,’ lalu keluar dari kelompok.”

“Hah...?”

Aku sampai benar-benar terkejut dan melongo.

Serius? Memangnya orang biasa melakukan hal sejauh itu?

Tergantung situasinya, mungkin kata-kata seperti itu seharusnya terasa menyenangkan. Namun, Hanamitsuji yang duduk di sebelahku tampak sangat tidak senang, jadi aku sama sekali tidak bisa merasa gembira.

Ditambah lagi, rasa bersalah karena telah merusak rencana Hanamitsuji gara-gara diriku sendiri terasa luar biasa besar.

Sial. Kemampuan stealth-ku ternyata payah banget, ya.

“Kenapa kamu tidak bersama Mashiro dan yang lainnya?”

“Kalau aku tetap berada di kelompok, dia pasti akan terus mengurusiku. Aku memang berterima kasih, tapi itu malah akan merepotkannya.”

“Oh, begitu.”

Tanpa perlu menjelaskan semuanya secara mendetail, Hanamitsuji rupanya sudah memahami garis besar kejadiannya. Aku sendiri juga malas menjelaskan panjang lebar, jadi aku cukup terbantu karena dia cepat tanggap.

“Shiramine juga punya sifat yang suka merugikan diri sendiri, ya.”

“Nanamura-kun juga begitu, kan?”

“Tidak juga. Aku punya alasan sendiri kenapa sampai merugi. Mulai dari sifat kemanusiaan, kemampuan bersosialisasi, kemampuan berinteraksi dengan orang lain, perilaku sehari-hari, sampai karma dari kehidupan sebelumnya.”

“Kamu terlalu banyak punya hal yang bisa dikaitkan dengan itu, deh.”

Aku mengalihkan pandangan dari Hanamitsuji, yang menatapku dengan mata setengah menyelidik, lalu kembali meneguk cola.

Meskipun bangku ini berada di luar ruangan, posisinya tepat di bawah bayangan pohon. Anginnya juga masih terasa sejuk. Ditambah cola dingin di tangan, tempat ini ternyata cukup nyaman untuk bersantai.

“...Tapi tetap saja, aku tidak bisa berpikir bahwa tidak apa-apa kalau kamu yang dirugikan.”

Hanamitsuji bergumam pelan, lalu mengetukkan ujung sepatunya ke tanah.

Katsutsu.

Aku mengarahkan pandangan jauh ke depan sambil mengembuskan napas kecil.

“Bukan berarti aku hanya mendapatkan kerugian. Bagi seorang botchi sejati, kegiatan sendirian memang lebih cocok daripada aktivitas berkelompok. Ada, kan, orang yang lebih suka bepergian sendirian daripada ikut tur rombongan? Tipe serigala penyendiri yang berjalan di jalannya sendiri.”

“Kemampuanmu membuat kehidupan seorang botchi terdengar keren itu tinggi sekali, ya.”

“Lagipula, selama Shiramine bisa menikmati karyawisata, kurasa tidak masalah. Aku ini seorang humanis, kok.”

“Humanis apanya? Kamu sama sekali tidak memikirkan perasaan orang-orang di sekitarmu. Memangnya kamu tahu bagaimana perasaanku saat—”

“...Mungkin saja...”

Hanamitsuji yang hendak melanjutkan ucapannya dengan nada penuh amarah tiba-tiba terdiam.

Mendengar kata “orang-orang di sekitar”, dadaku terasa gelisah.

Apaan itu? Mana mungkin seorang botchi memahami hal seperti itu hanya karena dibilang begitu.

Memang benar, aku tidak pernah terlalu memikirkan apa yang dirasakan orang-orang di sekitarku. Seorang botchi juga minim pengalaman berinteraksi dengan orang lain. Dipikirkan seperti apa pun, kalau memang tidak mengerti, ya tetap saja tidak mengerti.

Terlalu banyak membaca situasi, terlalu banyak berpikir, lalu salah paham. Setelah itu, orang yang menaruh harapan aneh-aneh dan akhirnya kecewa juga diri sendiri.

Kalau begitu, lebih baik sejak awal tidak usah memikirkan hal-hal yang merepotkan.

Daripada berusaha mati-matian keluar dari status botchi dan menambah kenalan yang hubungan kami pun serba tanggung, bukankah lebih mudah kalau sejak awal menyerah saja pada urusan hubungan antarmanusia?

“Pokoknya, aku sudah puas dengan diriku yang sekarang. Kamu tidak punya alasan untuk ikut campur, Hanamitsuji. Bahkan ibuku jauh lebih menganut paham lepas tangan.”

“Puas, katamu? Kamu serius? Tidak punya teman, tidak punya tempat di kelas... Kamu benar-benar berpikir kehidupan SMA seperti itu tidak masalah?”

Cara bicaranya membuatku ikut kesal.

Menjadi botchi dan mencela diri sendiri sesuka hati tidak masalah. Tapi kalau orang lain yang menunjukkannya secara langsung, tetap saja rasanya menyakitkan.

Aku ingin diperlakukan dengan hati-hati seperti kerajinan kaca.

“Aku tidak punya keinginan seperti Hanamitsuji, yang ingin bernyanyi dan menari sambil barbekyu.”

“Aku juga tidak ingin bernyanyi dan menari sambil barbekyu, tahu! Dari mana datangnya gambaran aneh itu?”

Aku berdeham kecil, lalu melanjutkan kata-kataku seolah hendak menutupi kecanggungan.

“Tapi soal kamu tidak punya alasan untuk ikut campur, aku serius. Lagipula, kenapa kamu terus mengurusiku?”

Rasa kesal itu begitu saja meluncur dari mulutku.

Aku sendiri tidak tahu apakah aku sedang kesal kepada Hanamitsuji atau justru kepada diriku sendiri.

Gong!

Hanamitsuji meletakkan botol plastik colanya di atas bangku. Kemudian dia bergeser dan perlahan merapatkan tubuhnya kepadaku.

Bau air laut yang terbawa angin hingga ke sini bercampur dengan aroma manis yang berasal dari tubuh Hanamitsuji.

“Aku ingin tetap berhubungan denganmu di dunia ini. Akulah yang menarikmu kembali ke tiga tahun lalu—ke dunia yang sekarang ini. Karena itu, aku punya tanggung jawab untuk terlibat denganmu.”

Aku teringat saat Hanamitsuji mengajakku berkeliling karyawisata berdua tempo hari.

Tanpa kusadari, sekarang kami kembali berada dalam situasi yang hampir serupa. Aku sampai ingin tertawa pahit.

Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya bersama kata-kataku.

“Kamu bilang soal tanggung jawab, tapi bukankah tanggung jawab atas hidupku cuma bisa kutanggung sendiri? Mana mungkin kamu bisa bertanggung jawab atas hidupku.”

“Mungkin saja begitu, tapi...”

“Untuk hari ini, cepatlah kembali ke kelompokmu. Semua orang pasti mengkhawatirkanmu.”

“Tidak ada seorang pun di kelompokku yang akan mengkhawatirkanku.”

“Aku tahu setidaknya kamu akrab dengan teman-temanmu. Aku sendiri sedang berusaha bertahan sebisaku sebagai seorang botchi. Kalau kamu terus menggangguku begini, malah jadi merepotkan. Cepat kembali ke kelompokmu.”

“Merepotkan... Kamu tega bilang begitu...”

Hanamitsuji menggigit bibirnya.

Aku sempat merasa mungkin aku sudah bicara terlalu kasar. Tapi semuanya sudah terlambat.

Kalau sudah terlanjur bicara sejauh ini, sekalian saja kubulatkan tekad.

Mari kita akhiri semuanya di sini.

“Hanamitsuji juga sudah menyadarinya, kan? Nilai-nilai yang kita pegang pada dasarnya berbeda.”

Aku berhenti sejenak, menarik napas kecil, lalu mengembuskannya tanpa emosi.

“Cepat atau lambat kita pasti akan bentrok lagi. Jadi, bukankah lebih baik kita berhenti ikut campur dalam urusan satu sama lain?”

Itulah jawaban yang kuambil.

Seharusnya aku mengatakan ini sejak dulu.

Alasan aku terus menunda kesimpulan ini sampai sekarang hanyalah karena aku seorang pengecut.

Mungkin, waktu yang kami habiskan di restoran keluarga sepulang sekolah—waktu yang hangat dan nyaman seperti berendam di air hangat suam-suam kuku—ternyata terlalu menyenangkan bagiku.

Tapi aku harus membebaskan Hanamitsuji.

“Kita tidak perlu bertemu lagi di restoran keluarga, dan kita juga tidak perlu ikut campur dalam urusan pergaulan satu sama lain. Yah, kalau dipikir-pikir, aku sendiri hampir tidak punya pergaulan yang perlu dicampuri.”

“...Nanamura-kun benar-benar berpikir itu adalah pilihan yang benar?”

“Ya. Kalau orang-orang yang memiliki nilai berbeda terus bersama, cepat atau lambat mereka pasti akan bentrok. Pembicaraan mereka juga hanya akan berjalan sejajar tanpa titik temu. Pada akhirnya, kita berdua hanya akan tersiksa.”

Aku mencoba tersenyum ringan.

“Jadi, mulai sekarang kalau kita kebetulan bertemu di luar sekolah, cukup saling mengangguk saja, ya. Dengan begitu, setidaknya rasa sepi sebagai seorang botchi-ku bisa sedikit terobati.”

Bagian terakhir sengaja kukatakan dengan nada seringan mungkin.

Perpisahan adalah sesuatu yang akan berulang kali terjadi selama kita hidup. Kalau setiap kali berpisah kita menganggapnya sebagai sesuatu yang serius, tidak akan ada habisnya.

Kalau bisa diselesaikan dengan senyum santai dan tawa kecil, bukankah itu yang terbaik?

“Perpisahan adalah satu-satunya hal yang pasti dalam hidup.”

Begitu kata orang bijak dari zaman dahulu.

“Aku...”

Hanamitsuji terdiam di tengah kalimatnya.

Dia menundukkan wajah dan menatap kepalan tangannya yang tergenggam erat di atas lutut.

Kumohon, jangan terjadi apa-apa.

Terimalah semuanya dengan mudah.

Kalau begitu, semuanya akan selesai.

Padahal, fakta bahwa aku sampai berharap seperti itu mungkin justru merupakan bukti paling jelas bahwa sejak awal aku sudah merasa semuanya tidak akan berjalan lancar.

Namun, aku pura-pura tidak menyadarinya.

Tentu saja, harapan seperti itu tidak terkabul.

Dari bibir Hanamitsuji yang sedikit terbuka, terdengar bisikan kecil.

“...Seharusnya aku tidak kembali ke tiga tahun lalu.”

“Eh?”

Sebelum sempat bertanya apa maksudnya, Hanamitsuji bangkit berdiri dengan cepat.

“Maaf. Aku ternyata memaksakan nilai dan harapanku sendiri kepadamu. Lalu kecewa sendiri. Benar-benar bodoh, ya, aku ini.”

Karena cahaya matahari dari belakang, wajahnya agak sulit kulihat. Namun, aku bisa melihat senyum canggung yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dadaku terasa gelisah.

Jangan-jangan aku... lagi-lagi...

“Bukan berarti kamu bodoh juga, sih... Kalau mau dibilang begitu, berarti aku juga bodoh.”

Kata-kata yang keluar dari mulutku sama sekali tidak terdengar meyakinkan ataupun penuh semangat. Aku hanya berusaha sebisanya untuk menutupi kecanggungan yang tercipta.

“Aku tidak akan ikut campur lagi dalam urusanmu. Maaf.”

“Bukan, tapi kenapa malah kamu yang minta maaf?”

“Aku benar-benar minta maaf... Aku bahkan tidak bisa meminta kamu untuk memaafkanku.”

Senyum menyakitkan itu mengeras dan berubah menjadi ekspresi yang menyedihkan.

Bukan. Bukan ekspresi seperti itu yang ingin kubuat.

“Selamat tinggal.”

Melihat punggungnya yang ramping berbalik dariku, tanpa sadar aku hampir mengulurkan tangan.

“Hanamitsuji.”

Namun, tanpa menoleh sedikit pun mendengar panggilanku, Hanamitsuji langsung berlari pergi.

Di sampingku yang hanya bisa terpaku, sebotol cola yang belum habis tertinggal sendirian.

◆

Beberapa menit telah berlalu sejak Hanamitsuji berlari pergi, tetapi aku masih tidak mampu beranjak dari bangku.

Aku kembali mengingat percakapan kami tadi.

Kalau kubilang aku sama sekali tidak merasa lega, itu bohong.

Sejak awal aku sudah tahu bahwa hubungan antarmanusia bukanlah sesuatu yang cocok untukku. Berurusan dengan orang lain adalah beban yang terlalu berat untuk kupikul.

Dengan begini, semuanya selesai.

Aku tidak akan lagi direpotkan oleh Hanamitsuji, dan Hanamitsuji juga tidak perlu lagi mengalami kerugian karena berurusan denganku.

...Seharusnya begitu.

Lalu kenapa perasaan ini muncul?

Aku dan Hanamitsuji terus berbenturan karena nilai-nilai yang kami pegang memang berbeda.

Karena itulah pendapat kami selalu bertentangan, dan setiap pembicaraan hanya berakhir buntu tanpa menemukan titik temu.

Apa pun yang terjadi, berada bersama-sama tidak akan mengubah keadaan.

Itulah sebabnya aku memutuskan untuk menjaga jarak.

Ini bukanlah keputusan pesimistis. Seharusnya ini merupakan solusi yang masuk akal dan konstruktif bagi kami berdua.

Setidaknya, di dalam kepalaku, jawabannya sempurna.

Namun, saat melihat senyum Hanamitsuji yang begitu menyakitkan tadi, aku sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan.

Lagi-lagi.

Di dalam pikiranku sendiri, jawabannya seharusnya benar. Tapi begitu melibatkan orang lain, jawaban itu justru menjadi salah.

Sebagai seorang botchi, aku sama sekali tidak memahami mekanisme hubungan antarmanusia.

Atau jangan-jangan, sebenarnya orang-orang lain juga tidak memahaminya?

Mungkin mereka semua hanya tidak tahu bagaimana caranya, tetapi tetap berhasil melewatinya entah dengan cara apa.

Kalau begitu, bagi seorang botchi, semua ini memang terlalu sulit.

Sekali lagi, pikiranku kembali tertuju pada Hanamitsuji.

Dalam kehidupan SMA-ku sebelumnya, kami bahkan tidak pernah berbicara. Hanamitsuji juga mungkin sama sekali tidak memedulikanku.

Namun, pada hari itu, aku mendorongnya menjauh ketika dia hampir tertabrak truk.

Dan entah bagaimana, kami berdua malah mengalami time leap kembali ke tiga tahun lalu—ke masa sekarang—dan semuanya berubah.

Hanamitsuji yang menggenggam tanganku lalu menangis setelah upacara penerimaan siswa.

Kami berdoa bersama di kuil sampai kaki kami kesemutan.

Aku yang ketahuan sebagai seorang botchi lalu diinterogasi di koridor.

Rapat strategi mencari teman dan obrolan tidak penting yang kami lakukan di restoran keluarga.

Sesuatu yang nyaris dikatakan Hanamitsuji kepadaku mengenai insiden Hoshigasaki.

Novel yang sebenarnya diam-diam kubanggakan, tetapi malah dikritiknya habis-habisan.

Saat dia mengajakku berkeliling karyawisata bersama, lalu kutolak.

Dan barusan...

Saat dia tersenyum kepadaku untuk menyembunyikan hatinya yang terluka.

Ah.

Benar-benar bodoh aku ini.

Setelah memikirkan semuanya sejauh itu, akhirnya aku menyadarinya.

Aku ternyata sudah terikat dengan Hanamitsuji.

Begitu dalamnya, sampai perpisahan dengannya pun terasa menyakitkan.

Sekarang, tidak mungkin lagi berpura-pura bahwa semua itu tidak pernah terjadi.

Dalam kehidupan SMA-ku sebelumnya, aku bahkan tidak pernah benar-benar bertemu dengan seseorang dalam arti yang sesungguhnya. Karena itu, aku tidak pernah merasakan beratnya sebuah perpisahan ataupun mengetahui rasa sakit yang menyertainya.

Mungkin karena itulah, kali ini aku baru menyadari bahwa aku telah bertemu dengan seorang gadis yang kepribadian, nilai-nilai, dan segala sesuatu tentangnya sangat berbeda dariku setelah kami berpisah dan aku sendiri terluka.

Perasaan yang muncul ketika melihat punggung Hanamitsuji menjauh tadi...

Baru sekarang aku menyadari bahwa perasaan itu adalah penyesalan.

Aku tersenyum pahit menyadari betapa bodohnya diriku.

Aku sempat berpikir bahwa kalau nilai-nilai kami tidak cocok, maka berpisah adalah pilihan terbaik bagi kami berdua. Dengan begitu, tidak ada yang perlu terluka.

Tapi ternyata aku salah.

Aku dan Hanamitsuji sudah benar-benar saling bertemu. Dan sekarang, semuanya sudah tidak mungkin dianggap tidak pernah terjadi.

Hubungan kami sudah lama berubah menjadi hubungan yang membuat perpisahan terasa menyakitkan.

Hanya novel di situs publikasi yang bisa diberi tag “Tamat” di tempat yang tepat, lalu membuat kita merasa ceritanya benar-benar sudah selesai.

Hubungan antarmanusia tidak seperti itu.

Bagaimanapun, orang yang kita hadapi adalah manusia yang hidup dan bernapas.

Seperti kata pepatah, hidup adalah tentang perpisahan. Berpisah dengan seseorang bukanlah sesuatu yang langka.

Perpisahan dengan Hanamitsuji pun sebenarnya hanyalah salah satu dari sekian banyak perpisahan yang akan terjadi dalam hidup.

Namun, jika benar hidup ini hanyalah rangkaian perpisahan...

Jika setiap orang yang kita temui pada akhirnya pasti akan berpisah...

Jika hidup memang merupakan tumpukan perpisahan yang terus berulang...

Setidaknya, perpisahan itu harus dilakukan dengan indah.

“Jadi... tidak bisa berakhir begitu saja, ya?”

Aku menghela napas panjang dan bangkit berdiri. Teriknya sinar matahari membuatku menyipitkan mata karena kesal.

Atau mungkin, yang sebenarnya membuatku kesal bukanlah teriknya matahari, melainkan diriku sendiri.

Aku sebenarnya cukup menyukai diriku apa adanya. Tapi sesekali, ada juga saat-saat ketika aku benar-benar muak pada diriku sendiri.

Misalnya, saat aku harus mengambil jalan memutar sejauh ini hanya untuk sampai pada sebuah kesimpulan yang cuma terdiri dari tujuh huruf:

“Aku tidak mau terus seperti ini.”

Aku membuang botol plastik milikku yang sudah habis ke tempat sampah, lalu memungut botol plastik yang ditinggalkan Hanamitsuji.

Melihat isinya yang masih lebih dari setengah, sepertinya dia memang benar-benar tidak suka cola.

Aku tidak mungkin meminumnya, tetapi meninggalkannya begitu saja juga terasa tidak benar.

Jadi, sambil membawa botol plastik itu, aku mulai berjalan ke arah yang tadi dituju Hanamitsuji.

Aku terus berjalan cepat di bawah terik matahari. Perlahan, mulai terlihat semakin banyak wisatawan di sekitar sini.

Sepertinya daerah ini berada di bagian belakang pelabuhan nelayan.

Awalnya aku berpikir kalau terus mengikuti jalan, cepat atau lambat aku pasti akan menemukannya. Namun, ternyata bangunan-bangunan di sini cukup padat dan jarak pandangnya juga buruk.

Kalau hanya berjalan tanpa arah, belum tentu aku bisa bertemu dengannya.

Saat sedang memikirkan apa yang harus kulakukan, dari kejauhan tampak rambut pirang yang kukenal bergoyang tertiup angin.

Hoshigasaki.

Benar juga.

Daripada mencarinya sendirian, seharusnya aku bertanya kepada Hoshigasaki tentang Hanamitsuji.

Kenapa aku tidak kepikiran hal sesederhana itu dari tadi?

Ah, iya.

Karena aku seorang botchi.

Dari sedikit kontak yang kumiliki, kupilih nama Hoshigasaki dan mengirim pesan LEIN.

『Maaf mendadak. Kamu melihat Hanamitsuji?』

『Eh, ada apa?』

Padahal seharusnya dia sedang mengikuti kegiatan kelompok, tetapi balasannya datang hanya dalam beberapa puluh detik.

『Kelompokmu ada di sekitar belakang pelabuhan nelayan, kan?』

『Hanamitsuji pergi ke arah sana.』

『Eh?』

『Kamu ada di dekat sini?』

Mungkin terkejut karena aku bisa menebak lokasinya, Hoshigasaki melihat ke sana kemari.

Tak lama kemudian, sepertinya dia menyadari keberadaanku dan melambaikan tangan kecil kepadaku.

『Tidak usah ke sini. Bukankah tidak bagus kalau kamu meninggalkan kelompok?』

『Bukan itu! Nanamura-kun bagaimana? Kamu terpisah dari kelompok? Tersesat?』

Tatapannya bergantian antara layar ponsel dan ke arahku.

Tersesat?

Memangnya aku anak kecil?

Kalau dipikir-pikir, justru aku memang sengaja meninggalkan kelompok...

Tapi menjelaskannya terlalu merepotkan, jadi untuk sekarang kulewatkan saja.

『Kurang lebih begitu. Lebih penting lagi, kamu melihat Hanamitsuji? Dalam beberapa menit terakhir?』

『Aku memang sempat melihat seseorang yang mirip dengannya tadi, tapi...』

『Dari jauh, sih. Lagipula dia tidak memakai seragam, jadi aku tidak yakin.』

Bingo.

Menahan jari-jariku yang gemetar karena kegirangan, aku segera membalas pesan Hoshigasaki.

『Kamu melihatnya di sekitar mana?』

『Jalan di samping toko yang kelihatannya seperti toko ikan kering.』

Aku buru-buru melihat ke sekeliling. Tak jauh dari sana, tampak sebuah toko dengan banyak ikan kering bergelantungan di bawah atapnya. Jalan kecil di samping toko itu sepertinya memanjang ke arah pegunungan.

『Aku juga tidak yakin itu benar-benar Sora-chan』

『Tapi sepertinya dia tidak bersama orang-orang dari kelompoknya.』

Pesan-pesan semacam itu terus berdatangan satu demi satu, sampai akhirnya aku yakin bahwa sosok yang dilihat Hoshigasaki tadi memang Hanamitsuji.

Apaan sih anak itu? Dia masih belum bergabung dengan kelompoknya?

『Tapi kenapa Sora-chan?』

『Bukannya Nanamura-kun satu kelompok dengan ketua kelas?』

『Ada sedikit masalah.』

『Masalah apa?』

『Tidak usah dipikirkan. Nikmati saja karyawisatanya.』

Aku menyatukan kedua tangan ke arah Hoshigasaki yang berada jauh di sana sebagai tanda terima kasih, lalu berlari.

Begitu memasuki jalan kecil di samping toko ikan kering, terlihat beberapa toko berjajar di sepanjang jalan. Jumlah wisatawan di sini lebih sedikit dibandingkan jalan utama, membuat tempat ini terasa agak terisolasi.

Sambil celingukan mencari-cari pakaian Hanamitsuji, aku menyusuri jalan kecil itu.

Setelah berjalan sekitar belasan meter, aku melihat sebuah gang kecil di sebelah kiri.

Untuk berjaga-jaga, aku mengintip ke dalam.

Dan di sana terlihat punggung beberapa pria dengan penampilan urakan, tipe orang yang kelihatannya sering nongkrong di depan tempat bermain gim atau Don Quijote.

Sebagai orang yang menjadikan pepatah “orang bijak tidak mendekati tempat berbahaya” sebagai prinsip hidup, secara refleks aku hampir berbalik arah.

Namun, di bagian dalam gang, aku melihat wajah yang kukenal.

Firasat burukku terbukti.

Itu Hanamitsuji.

Kenapa, dari sekian banyak orang, dia malah bersama orang-orang yang kelihatannya bermasalah begini?!

Aku spontan berteriak dalam hati.

Tapi, tunggu dulu.

Hanamitsuji itu pintar.

Tidak mungkin dia begitu ceroboh sampai bertemu berandalan, lalu dengan mudah diseret ke gang belakang seperti ini.

Pasti ada alasan mendalam di balik semua ini.

Mungkin sebenarnya mereka bukan berandalan sama sekali. Mungkin ada semacam plot twist seperti itu.

Oh, benar juga.

Kita tidak boleh menilai orang dari penampilan.

Sungguh pelajaran yang berharga.

Otak light novel-ku yang langsung menghubungkan keberadaan berandalan dengan situasi krisis memang merepotkan.

Saat aku sedang memikirkan hal-hal seperti itu, terdengar suara bentakan dari dalam gang.

“Hei! Ngomong yang jelas, sialan!”

“Lo ngeremehin kami, hah?!”

Oke, ketahuan!

Mereka benar-benar berandalan. Terima kasih banyak.

Aku rasanya mau menangis.

Ah, sial. Aku benar-benar ingin kabur.

Bukan berarti aku tidak tahu, lho? Kalau sekarang aku kabur, itu benar-benar pengecut dan sebagai manusia juga agak keterlaluan. Kalau sampai dilempari batu pun mungkin aku tidak bisa protes.

Tapi tetap saja, kalau takut ya takut.

Aku tidak pernah benar-benar berkelahi sebelumnya.

Tapi...

Setidaknya aku tahu satu hal.

Dalam situasi seperti ini, pilihan untuk kabur adalah pilihan yang salah.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju.

“Hei! Kalian sedang ngapain?!”

Saat aku memanggil mereka dengan suara cukup keras, para pria itu menoleh.

“Apa urusan lo? Bukan urusan lo!”

“Berisik! Memangnya gue tertarik sama yankee kayak kalian?!”

Walaupun hanya digertak oleh para berandalan saja sudah membuatku ingin menangis, aku sengaja terus mendekati mereka sambil memasang gertakan.

Aku hanya perlu memancing mereka sebanyak mungkin agar perhatian mereka tertuju kepadaku. Setelah itu, biarkan semuanya berjalan sesuai nasib.

Begitu aku sudah memanggil mereka, pilihan untuk mundur sudah tidak ada lagi.

Hanamitsuji mengangkat wajah dan membelalakkan mata.

Ekspresinya seolah berkata, “Kenapa kamu ada di sini?”

Sambil berjalan mendekat, aku memberi isyarat kepadanya lewat tatapan agar dia diam.

Dua pria itu juga berjalan menghampiriku dengan wajah kesal.

“Hei, bocah sialan! Jangan ngomong sembarangan, ya, sial!”

“Lo sebenarnya tahu lagi ngomong sama siapa, hah?!”

Entah kenapa, mereka menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan kanan sambil menggertakku.

Apaan sih? Leher kalian belum bisa tegak?

Bayi baru lahir, apa?

“Mana mungkin gue tahu gue lagi ngomong sama siapa! Kita baru pertama kali ketemu, mana mungkin gue tahu!”

Aku mengepalkan kedua tangan dan memasang posisi bertarung.

Sedikit lagi.

Aku hanya perlu menarik perhatian mereka sedikit lebih jauh kepadaku.

Aku harus bertahan sampai saat itu.

“Jangan macam-macam sama gue!”

Mungkin karena akhirnya kesabaran mereka habis, kedua pria itu melangkah maju bersamaan ke arahku.

Aku bergerak maju menyambut mereka...

...lalu berbalik dan kabur sekuat tenaga.

Aku langsung berlari menuju pintu masuk gang.

“Hei, sialan! Jangan kabur!”

“Sini lo, bocah sialan!”

“Berisik, bodoh! Ya jelas gue kabur!”

Aku membalas teriakan mereka sambil terus berlari. Begitu sampai di pintu masuk gang, aku berbalik.

Setelah memastikan jarakku dengan mereka, aku menarik napas panjang.

Lalu...

“UAAAAAAAHHHH!!! TOLONGGGG!!! ADA YANG MAU MEMPERKOSAKU!!! TOLONGGGG!!! AKU NGGAK MAUUUU!!!”

Aku berteriak sekeras-kerasnya.

Mungkin ini bahkan lebih keras daripada saat lomba paduan suara di SD dulu, ketika para siswi berteriak, “Hei, anak cowok! Nyanyi yang benar dong!” sampai hampir menyebabkan keruntuhan kelas.

Kenapa sih anak perempuan bisa mempertaruhkan hidup mereka sebegitunya demi paduan suara?

Apa mereka baru saja menonton film tentang para biarawati yang dengan penuh semangat menyanyikan musik gospel?

Mungkin karena tindakanku benar-benar di luar dugaan, para pria itu sempat bengong dengan mulut ternganga.

Namun, tak lama kemudian mereka kembali memasang wajah sangar.

“Hah?!”

“Apaan sih lo! Jangan asal ngomong!”

Mereka terus mendekat.

Tapi aku tidak berhenti berteriak.

“TOLONGGGG!!! KEHORMATANKU DALAM BAHAYAAAA!!! TIDAAAAAK!!!”

Meskipun gang ini sepi, jaraknya paling hanya belasan meter dari jalan utama.

Orang-orang yang mendengar teriakanku mulai menoleh ke sini dengan ekspresi penasaran.

Beberapa bahkan berjalan mendekati gang untuk melihat apa yang terjadi.

Dalam sekejap, kami berada di bawah tatapan banyak orang.

Para pria itu akhirnya mulai ragu.

“M-mana mungkin kami mau memperkosa lo, bodoh!”

“Apaan sih anak ini? Jangan-jangan dia gila.”

Mereka masih mengomel, tetapi rupanya kerumunan orang yang memperhatikan mereka membuat mereka tidak berani bertindak lebih jauh.

Sebelum pergi, salah satu dari mereka mendorong bahuku, lalu keduanya melarikan diri ke dalam jalan kecil dengan langkah penuh amarah.

Aku sebenarnya sudah siap kalau setidaknya harus dipukuli sedikit.

Tapi kalau tidak dipukuli, tentu saja jauh lebih baik.

Di tengah suara orang-orang yang masih ramai membicarakan kejadian tadi, aku meraih pergelangan tangan Hanamitsuji yang masih berdiri terpaku di tengah gang, lalu menariknya pergi.

“Ah, benar-benar maaf sudah bikin keributan. Maaf banget. Sungguh, maaf.”

Sambil menggumamkan permintaan maaf yang terdengar seperti alasan, kami menerobos kerumunan dan terus berjalan menuju jalan utama yang sebisa mungkin ramai oleh orang.

“N-Nanamura-kun...”

“Sudah, untuk sekarang ikut saja denganku.”

Tanpa menoleh ke arah suara Hanamitsuji di belakangku, aku menerobos pintu otomatis pusat informasi wisata yang terbuat dari beton.

Aku naik ke lantai dua melalui tangga di samping pintu masuk.

Lantai dua juga berfungsi sebagai toko oleh-oleh dan pusat informasi wisata. Sepertinya cukup banyak orang berada di sini.

Kalau di tempat seramai ini, seharusnya kami aman.

Aku mengembuskan napas panjang.

“Fuuu...”

Barulah aku menghentikan langkah.

Tiba-tiba ujung bajuku ditarik kuat.

Aku menoleh.

Pipi Hanamitsuji memerah, dan matanya bergerak ke sana kemari dengan ekspresi kebingungan.

“Ada apa?”

“P-pergelangan tanganku sakit, tahu...”

“Ah!”

Aku baru sadar kalau sejak tadi aku masih menggenggam tangannya.

“Maaf! Tadi aku refleks...”

Aku buru-buru melepaskan tanganku dan menggosok-gosok telapak tangan ke celana.

Gawat.

Tanganku berkeringat parah. Pasti terasa menjijikkan banget buat dia.

Aku bahkan bisa merasakan telingaku sendiri mulai memerah.

Kenangan yang ingin kulupakan malah bertambah lagi.

Namun, Hanamitsuji sama sekali tidak terlihat marah. Sambil mengusap pergelangan tangannya pelan, dia menjawab dengan suara lirih.

“Tidak, tidak apa-apa kok.”

“Oh, begitu... Ah, tenggorokanku kering. Mau minum jus atau semacamnya? Bagianmu juga aku traktir.”

“Eh? Kenapa?”

Aku merasa sudah berusaha menunjukkan perhatian, tetapi Hanamitsuji malah menatapku dengan ekspresi bingung.

Gawat.

Kondisi mentalku sedang kacau, sampai apa pun yang kulakukan malah berakhir terbalik.

Tapi tenggorokanku memang benar-benar kering. Jadi aku mengeluarkan dompet dan berdiri di depan mesin penjual otomatis.

Ngomong-ngomong, botol plastik milik Hanamitsuji tadi sepertinya terjatuh di sekitar gang.

Memang itu barang yang dia tinggalkan dan kemungkinan besar Hanamitsuji juga tidak akan marah, tetapi tetap saja aku merasa tidak enak karena meninggalkan sampah begitu saja.

Sayangnya, aku sudah tidak punya keberanian untuk kembali ke gang itu.

Berandalan itu menakutkan.

Sambil memikirkan hal tersebut, aku mencoba memasukkan koin seratus yen ke mesin.

Tapi entah kenapa, koinnya tidak kunjung masuk.

Aneh.

Jangan-jangan lubang masuk koinnya terlalu kecil?

Saat itulah Hanamitsuji yang berdiri di sebelahku berkata dengan suara pelan.

“Tanganmu gemetar banget.”

“Ah...”

Ternyata koinnya tidak masuk karena tanganku sendiri yang gemetar.

Ya iyalah tidak bisa masuk.

Memalukan banget.

“Bukan, ini bukan karena aku takut sama berandalan atau semacamnya, ya. Lebih tepatnya... aku sedang mengalami 武者震い, gemetar karena semangat menghadapi pertempuran yang akan datang.”

“Pertempuran apa lagi yang akan terjadi mulai sekarang? Sini, biar aku yang masukkan.”

“I-iya...”

Alasanku langsung ditebas habis-habisan. Hanamitsuji mengambil alih dan memasukkan koin itu untukku.

Ching, ching.

Bunyi koin yang masuk terdengar nyaring dan menyenangkan.

“Cola saja?”

“Ah, iya. Tolong. Kamu juga boleh beli apa pun yang kamu mau. Aku traktir.”

“Terima kasih. Kalau begitu, aku terima tawaranmu.”

Aku dan Hanamitsuji duduk berdampingan di bangku terdekat, lalu diam-diam meneguk cola masing-masing.

Aku sempat penasaran Hanamitsuji akan minum apa.

Ternyata dia memilih teh hitam tanpa gula.

Setelah tenggorokanku terasa basah, akhirnya aku mulai tenang.

Haaah... tadi benar-benar menakutkan.

Tidak, sebenarnya tidak takut juga, sungguh.

Aku tidak takut.

Tapi kalau dipikir-pikir, tadi aku memang benar-benar merasa nyawaku berada dalam bahaya.

Sampai-sampai aku sempat berpikir, seharusnya tadi aku menyiapkan puisi kematian



“Tadi tanganmu gemetar parah, ya. Jauh lebih parah daripada kakekku.”

“Jangan ungkit itu lagi.”

“Keringat di tanganmu juga luar biasa banyak.”

“Maaf...”

“Terus, teriakanmu tadi itu apa? Aku malu sekali mendengarnya.”

“Memangnya mau bagaimana? Kamu kira aku bisa menang kalau melawan mereka?”

Cara menghadapi situasi genting yang bisa kupelajari dari light novel paling-paling cuma seperti itu. Kadang ada juga protagonis yang memang kuat dan bisa menang hanya dengan bertarung secara normal, tapi itu jelas bukan sesuatu yang bisa kulakukan.

“Waktu kamu sempat mengambil pose bertarung tadi, aku kira jangan-jangan kamu punya pengalaman bela diri.”

“Bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi aku ini payah dalam olahraga. Aku juga tidak pernah berkelahi dengan siapa pun selain adikku. Bahkan, aku sering kalah melawan adikku. Kalau aku benar-benar serius pun, belum tentu aku bisa menang melawan anak kelas enam SD. Kalau lawannya serius, mungkin melawan anak kelas empat SD saja aku bakal kalah tipis.”

“Sungguh tidak ada satu pun yang bisa dibanggakan dari ucapanmu itu... tapi.”

Hanamitsuji menghela napas dengan ekspresi seolah tak habis pikir. Lalu dia merapatkan kedua tangannya di atas paha dan memutar tubuh menghadapku.

Tanpa sadar, punggungku ikut menegak.

Bulu mata Hanamitsuji yang panjang bergetar. Di bawah garis hidungnya yang indah, bibirnya yang berbentuk cantik perlahan terbuka.

“Terima kasih banyak untuk yang tadi. Berkat kamu, aku tertolong.”

“O-oh... Yah, bagaimana ya. Tadi itu cuma karena keadaan saja, atau lebih tepatnya aku terbawa suasana. Sejujurnya, begitu melihat para yankee itu, aku bahkan sempat berpikir untuk berbalik arah, pura-pura tidak melihat apa-apa, lalu pulang. Jadi, kamu beruntung aku tidak keburu kabur, Hanamitsuji.”

“Nanmura-kun, kenapa kamu tidak bisa menerima ucapan terima kasih dengan terus terang, sih?”

Hanamitsuji menatapku dengan mata setengah menyipit.

Tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah hidup dengan sifat seperti ini selama lebih dari delapan belas tahun. Tidak mungkin mengubahnya sekarang.

“Yah, terserah. Bagaimanapun, orang yang tetap menolongku dalam situasi seperti itu memang kamu.”

“...Rasanya aku dinilai terlalu tinggi.”

“Kurasa kalau yang diganggu di sana adalah Hoshigasaki-san, atau bahkan Mashiro, kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama. Meskipun kamu sendiri tidak akan mengakuinya.”

Entahlah.

Kalau seandainya Hoshigasaki yang diganggu...

Tidak, ini pengandaian yang tidak ada gunanya. Bagaimanapun juga, sesuatu yang belum terjadi tidak bisa dibenarkan maupun disangkal.

“Ngomong-ngomong, Nanamura-kun sendiri kenapa ada di sana? Kamu sedang mencariku?”

Mendengar itu, aku baru teringat.

Gawat. Gara-gara para berandalan tadi, aku hampir melupakan hal yang paling penting.

Memang akan terdengar seperti akhir yang indah kalau semuanya berakhir dengan aku menolongnya secara kebetulan dan kami berdamai begitu saja.

Tapi bukan itu tujuanku.

“Oh, benar juga. Ada yang ingin kukatakan kepadamu.”

Begitu hendak membuka mulut, aku sempat terdiam dan ragu sejenak.

Aku akan langsung menarik kembali perkataanku sendiri yang baru saja kuucapkan tadi.

Sulitnya minta ampun untuk mengatakannya.

Namun, ini adalah sesuatu yang harus kukatakan sendiri.

“...Soal pembicaraan kita tadi, aku sudah memikirkannya sekali lagi. Waktu itu aku bilang, karena nilai-nilai kita berbeda, aku dan Hanamitsuji seharusnya tidak bersama.”

“...Iya.”

“Memang benar nilai-nilai kita saling bertentangan. Kalau kita terus bersama mulai sekarang, mungkin kita akan sering berbenturan atau berdebat. Atau lebih tepatnya... kemungkinan besar memang akan begitu.”

Hanamitsuji yang sejak tadi sedikit menunduk kini mendongak dan menatap wajahku.

Ekspresinya seperti tidak tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berlanjut.

Aku menelan ludah dengan susah payah, lalu melanjutkan kata-kataku perlahan.

“Tapi, aku sudah terlanjur bertemu denganmu, Hanamitsuji. Kami sudah bertemu, saling mengenal, dan saling terlibat dalam

kehidupan masing-masing. Dan baru tadi aku benar-benar sadar... kalau berpisah dengan seseorang seperti itu ternyata membuat hati terasa sakit. Mengakhiri hubungan yang sudah terjalin hanya karena nilai-nilai kita berbeda... kurasa itu adalah sebuah kesalahan.”

“Ujung kalimatmu terdengar agak tidak meyakinkan, ya.”

Aku bisa merasakan tatapan tajamnya. Untuk menyamarkan rasa canggung, aku mengacak-acak rambutku.

“Maaf. Aku sendiri juga tidak tahu apakah ini pilihan yang benar atau bukan.”

Sungguh, aku tidak tahu apa jawaban yang benar dalam hubungan antarmanusia.

Tapi karena aku tidak tahu, aku hanya bisa terus mencari pilihan yang menurutku benar.

Meskipun pilihan itu mungkin saja selalu beriringan dengan kemungkinan bahwa aku akan terus melakukan kesalahan.

“Tapi, sekarang aku merasa kalau kita tetap berpisah seperti tadi, aku bakal menyesal. Aku baru sadar... ternyata aku sudah benar-benar mengenalmu dan terikat begitu dalam denganmu, Hanamitsuji.”

Setelah mengatakan itu, aku meletakkan kedua tangan di atas lutut dan menundukkan kepala kepada Hanamitsuji.

“Maaf soal yang tadi. Waktu itu aku tidak bisa berpikir jernih dan bicara terlalu jauh. Saat itu aku pikir berpisah denganmu adalah pilihan yang benar, tapi sekarang aku merasa tidak begitu. Kalau kamu tidak keberatan... maukah kita kembali bersantai dan mengobrol ngalor-ngidul di restoran keluarga seperti sebelumnya?”

Cara mengatakannya memang agak aneh.

Tapi hubungan kami saat ini memang tidak lebih dari sekadar “hubungan untuk bersantai dan mengobrol ngalor-ngidul di restoran keluarga”.

Nilai-nilai kami boleh saja berbeda, tapi kami tetap bisa terus bersama.

Kami juga tetap bisa terus berbenturan.

Aku yang sekarang tidak ingin berpisah dengan Hanamitsuji.

Daripada berpisah dengan perasaan yang masih mengganjal, aku lebih memilih untuk terus berbenturan karena perbedaan nilai kami.

Mungkin suatu hari nanti kami akan sampai pada perpisahan yang indah.

Atau mungkin kami akan menemukan jawaban yang sama sekali berbeda.

Inilah perasaanku saat ini—jawaban yang paling mendekati kebenaran yang bisa kutemukan.

“...Yah, mau bagaimana lagi. Aku juga memikirkan hal yang kurang lebih sama.”

Saat aku mengangkat kepala, Hanamitsuji tersenyum malu-malu sambil menyibakkan poninya dengan jari.

“Bagiku juga, Nanamura-kun tetaplah orang yang spesial. Jadi... mulai sekarang juga, tolong jaga aku.”

“O-oh. A-aku memang orang yang masih kurang berpengalaman, tapi... mohon bantuannya.”

“Bukan begitu cara mengatakannya.”

Aku menghela napas panjang.

Setidaknya, usahaku mengejar Hanamitsuji sampai ke sini tidak sia-sia.

“Ngomong-ngomong, hebat juga kamu bisa mengucapkan sesuatu yang memalukan seperti itu dengan wajah serius.”

“Berisik. Haaah, capek banget. Sumpah, waktu melihat para yankee tadi aku sampai bingung harus bagaimana... Ah, tunggu. Justru kamu sendiri kenapa bisa sampai diganggu para yankee begitu? Aku sempat kaget.”

“A-ah, itu... Setelah berpisah denganmu, aku berjalan sambil memikirkan sesuatu, lalu tidak sengaja bertabrakan dengan mereka. Tentu saja aku sudah minta maaf, tapi mereka bilang suaraku terlalu kecil atau semacamnya. Setelah itu aku diseret sampai ke gang tadi.”

Hanamitsuji menggerakkan pandangannya ke sana kemari dengan gelisah.

Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.

“Kenapa sebelumnya tidak berteriak saja? Seperti yang kulakukan tadi.”

“Aku terlalu takut sampai tidak bisa mengeluarkan suara... Kenapa wajahmu begitu?”

“Bukan apa-apa. Aku cuma tidak menyangka Hanamitsuji juga bisa merasa takut.”

“Kamu sedang meremehkanku, ya?”

“Tidak separah yang kamu kira.”

“Kamu benar-benar tidak punya kepekaan!”

Bos!

Hanamitsuji memukul bahuku.

Mungkin dia menahan tenaga, karena sama sekali tidak sakit.

“Ngomong-ngomong, tadi sebenarnya kamu sedang memikirkan apa?”

Mendengar pertanyaanku, Hanamitsuji mengerang pelan.

“Uuuh...”

Pipinya memerah.

Reaksi langka macam apa ini?

Saat aku masih memikirkannya, Hanamitsuji akhirnya menjawab dengan ekspresi seperti sudah menyerah.

“Itu... soal Nanamura-kun. Tentang novelmu, tentang saat kamu menolong Hoshigasaki-san, dan tentang alasanmu bersikeras menjadi seorang bocchi.”

Kenapa dia memikirkan hal-hal seperti itu?

Aku terlalu bingung untuk menjawab. Hanamitsuji justru mendekatkan wajahnya kepadaku.

“Dulu kamu pernah bertanya, kan? Kenapa aku kembali ke tiga tahun lalu, bukannya ke sehari sebelum kecelakaan itu terjadi.”

“Oh, iya. Memang pernah ada pembicaraan seperti itu. Pada akhirnya kita menyimpulkan bahwa itu adalah sesuatu yang hanya diketahui Tuhan.”

“Itu bohong.”

“Eh?”

“Aku kembali ke tiga tahun lalu bukan karena kebetulan. Aku sendiri yang meminta hal itu.”

Hanamitsuji menatapku.

“Aku meminta, ‘Tolong biarkan aku mengulang kembali kehidupan SMA-ku dari awal... bersama Nanamura-kun.’”

Aku terdiam selama beberapa saat, mencerna kata-kata Hanamitsuji.

Kalau dipikir-pikir, tadi di depan toko manisan dia sempat berkata, “Seharusnya aku tidak perlu kembali ke tiga tahun lalu.”

Jadi, maksudnya adalah ini?

Tapi aku masih belum tahu alasannya.

“Kenapa kamu harus mengulang kehidupan SMA bersama denganku?”

“...Setelah mengalami kecelakaan itu, aku sangat menyesal.”

Hanamitsuji mengucapkannya pelan, sambil menatap ke kejauhan.

“Waktu itu, aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang orang yang menyelamatkanku tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri. Bahkan, sampai saat itu aku tidak pernah menyadari bahwa orang seperti itu ada di kelas yang sama denganku, dan bahwa kami telah menghabiskan tiga tahun di SMA yang sama.”

“Ya, karena aku seorang bocchi. Mau bagaimana lagi... Ah, rasanya percakapan seperti ini pernah terjadi sebelumnya.”

Saat Hanamitsuji mengetahui bahwa aku menulis novel, dan saat aku menolong Hoshigasaki.

Waktu itu, Hanamitsuji berkata bahwa di kehidupan sebelumnya dia sama sekali tidak mengetahui sisi diriku yang seperti itu, dan entah kenapa dia terlihat cukup senang.

Begitu rupanya.

Hanamitsuji sedikit melonggarkan ekspresinya mendengar ucapanku yang sengaja kuselipi nada menggoda.

“Bahkan sisi rendah dirimu yang seperti itu pun, aku sama sekali tidak mengetahuinya di kehidupan sebelumnya. Aku ingin mengetahui semuanya. Bahkan kalau itu berarti aku harus mengulang kembali kehidupan SMA-ku.”

“Hanya demi itu, kamu kembali ke tiga tahun lalu?”

“Karena itu penting bagiku.”

Hanamitsuji terdiam sejenak.

“...Lagipula, dugaanku ternyata tidak salah.”

“Ha?”

“Kamu sudah menolong Hoshigasaki-san, kan? Nanamura-kun mungkin merendah, tapi tetap saja, itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan semua orang. Waktu itu, aku benar-benar berpikir bahwa aku ingin terus berhubungan dengan Nanamura-kun mulai sekarang. Aku berpikir... kalau aku bisa mengulang semuanya bersamamu, mungkin kehidupan SMA-ku akan menjadi jauh lebih menyenangkan.”

Sambil memilin-milin jemarinya dengan gelisah, Hanamitsuji bergumam pelan.

Ah, begitu rupanya...

Kalau mengulang kehidupan SMA bersamaku, kehidupannya akan menjadi menyenangkan, ya...

“Tidak, berat banget! Apa-apaan itu? Aku agak tidak ingin mendengarnya.”

Jangan membebani seorang bocchi dengan hal seperti itu.

Beban hidupnya terlalu berat.

Begitu aku mengutarakan pendapat jujurku, Hanamitsuji langsung membalas dengan wajah memerah.

“M-makanya dari tadi aku tidak mau mengatakannya!! Kamu sendiri juga sudah mengatakan sesuatu yang sangat memalukan, jadi kupikir kalau aku tidak mengatakannya juga malah kasihan.”

“Jangan bilang itu sesuatu yang memalukan! Yah, memang memalukan sih!”

“Lagi pula, Nanamura-kun ini terlalu keras kepala dan suka memutarbalikkan segala sesuatu. Kamu tahu, kan? Seumur hidupku, baru kali ini aku sampai sesulit ini berurusan dengan seseorang.”

“Apa aku yang salah? Yah... mungkin memang salahku juga, sih...”

“Begitu tahu kalau aku kembali ke tiga tahun lalu karena keinginanku sendiri, kamu malah langsung ingin kembali ke tiga tahun kemudian.”

“Kalau soal itu, siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama.”

Omong-omong, waktu aku bilang, “Bukankah kalau kita meminta sekali lagi, kita bisa kembali ke tiga tahun kemudian?” dia terlihat sangat gugup dan terbata-bata.

Jadi, maksudnya seperti itu rupanya.

“Sudah kembali ke tiga tahun lalu, tapi malah jadi bocchi lagi.”

“Itu urusanku sendiri. Biarkan saja.”

“Sekalian saja kukatakan sekarang. Baik keputusanku untuk kembali ke tiga tahun lalu maupun keputusanku untuk terlibat dalam hidupmu, semuanya kulakukan demi kepentinganku sendiri. Jadi jangan sampai salah paham dan mengira aku mendekatimu karena merasa bersalah, ya.”

“...I-iya.”

Sambil terus berbicara dengannya, aku menyadari sesuatu.

Hanamitsuji sebelum melakukan time leap pasti tidak bisa menerima “perpisahan” di antara kami.

Hari itu, meskipun aku sudah memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap hidup Hanamitsuji, aku pergi begitu saja tanpa sempat berbicara dengannya dengan layak.

Karena itulah, mungkin dia ingin mengulang semuanya sekali lagi.

Meskipun dia tahu bahwa perpisahan pada akhirnya akan datang lagi.

Waktu dan situasinya memang benar-benar berbeda, tetapi tetap saja...

Perasaan “aku tidak ingin berpisah seperti ini” yang dimiliki kami berdua seolah sedikit bertumpang tindih.

Entah kenapa, aku merasa begitu.

“Alasan aku mengajakmu berkeliling bersama saat karyawisata juga sama. Bukankah sudah kubilang? Sekarang Nanamura-kun sudah menjadi sosok yang spesial bagiku. Mana mungkin aku bisa membiarkan orang seperti itu menjalani kehidupan SMA sebagai seorang bocchi tanpa memedulikannya.”

Hanamitsuji mengatakannya dengan ekspresi kesal yang begitu tegas sampai-sampai aku hanya bisa terkekeh.

“Baiklah. Yah, aku sendiri memang tidak berniat keluar dari status bocchi.”

“Nilai-nilai kita benar-benar tidak cocok, ya.”

Hanamitsuji memonyongkan bibir dengan ekspresi tidak puas.

Jurang perbedaan ini sepertinya tidak akan mudah ditutup.

Meski begitu, mungkin memang seperti inilah hubungan antarmanusia. Mau tidak mau, kami harus mencari cara untuk terus menjalani hubungan ini.

“Tapi, aku jadi lega setelah tahu alasanmu, Hanamitsuji.”

“Lega?”

“Adikku pernah bilang, ‘Hati-hati terhadap orang yang tidak meminta imbalan apa pun.’ Katanya, nanti aku bisa-bisa disuruh mengambil cicilan barang mahal.”

“Bagaimana rasanya punya adik yang sampai mengkhawatirkan hal seperti itu?”

Hanamitsuji menghela napas panjang dengan ekspresi tidak habis pikir.

Hei, jangan menatapku dengan tatapan penuh rasa iba begitu.

Adikku mengatakan itu demi kebaikanku. Dia bukan sedang meremehkanku...

...kan?

Percakapan kami sempat terhenti.

Kemudian terdengar suara tubuh bergeser dari sebelahku.

“Hei, lihat ke sini.”

Mendengar suara itu, aku mengangkat kepala.

Dan langsung terkejut karena Hanamitsuji ternyata sudah berada jauh lebih dekat daripada yang kuduga.

Aku hendak mundur, tetapi tatapannya seolah menahanku di tempat.

“Boleh aku mengatakan sesuatu yang agak aneh?”

“A-ah.”

Begitu aku menjawab, Hanamitsuji tersenyum kecil sambil memiringkan kepalanya.

...Jujur saja, ekspresi itu benar-benar memikat.

Hanamitsuji mencondongkan tubuh ke arahku yang masih terpaku. Pipinya sedikit memerah, lalu dia mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik.

“Waktu kamu menolongku tadi, kamu terlihat sedikit keren, lho. Jantungku sampai berdebar.”

Tubuhku langsung kaku.

Aku sama sekali tidak mampu bereaksi terhadap perkataan yang datang secara tiba-tiba itu.

Tunggu.

Jangan terburu-buru.

Jangan salah paham.

Ini hanya reaksi terhadap tindakanku tadi. Tidak lebih dan tidak kurang.

Tenang.

Hih-hih-huu...

Hih-hih-huu...

Bukan! Jangan malah mengandalkan metode Lamaze!

Memangnya aku ibu hamil yang sedang mengalami kontraksi?

“Y-yah, kalau diganggu berandalan, wajar saja jantung berdebar. Iya.”

“Kamu mengalihkan pembicaraan lagi...”

Aku buru-buru menjauh untuk menyamarkan kegugupanku.

Aku bisa merasakan tatapan dingin Hanamitsuji, tetapi aku tetap keras kepala memalingkan wajah.

Kalau sampai sekarang aku bertatapan mata dengannya, rasanya aku tidak akan mampu mempertahankan ketenanganku.

Hanamitsuji menghela napas panjang.

“Haaah... Oh, ada mesin purikura.”

Aku mengikuti arah pandangannya.

Di sudut ruangan berdiri sebuah mesin dengan bodi luar yang dihiasi berbagai macam dekorasi mencolok.

...Mesin purikura?

Pada saat itu juga, sebuah kilatan melintas di benakku.

“U-uwaaaaaah! A-aku ingat...!”

“Apa-apaan!? Kenapa tiba-tiba berteriak begitu?”

Hanamitsuji yang terkejut mengguncang bahuku.

Aku menempelkan tangan kanan ke dahi, lalu mengucapkan kenangan buruk yang baru saja bangkit kembali.

“Aku ingat... waktu datang ke pulau ini dalam kehidupan SMA-ku yang dulu...”

“Bukankah itu bagus?”

“Tidak bagus...”

Aku menatap mesin purikura itu dengan tatapan kosong.

“Waktu itu aku dimasukkan ke kelompok yang isinya orang-orang yang sama sekali tidak pernah kuajak bicara. Aku ikut barbekyu sambil merasa sangat canggung dan tidak nyaman... Lalu setelah barbekyu selesai, anak-anak kelompokku tiba-tiba bilang ingin berfoto menggunakan mesin purikura ini.”

“Jadi waktu itu kamu juga foto purikura?”

“Tidak. Aku tidak ikut.”

“Kenapa?”

“Waktu aku mencoba masuk ke biliknya di saat-saat terakhir, mereka bilang, ‘Sudah penuh,’ atau semacamnya. Entah kenapa aku tidak boleh masuk.”

Aku menghela napas.

“Karena bingung harus bagaimana, aku berniat pergi ke toilet untuk menghabiskan waktu. Tapi tanpa sadar, semua anggota kelompokku sudah menghilang entah ke mana. Jadi mau tidak mau aku membaca light novel sendirian di bangku ini sampai karyawisatanya selesai.”

“Seharusnya aku tidak bertanya...”

Hanamitsuji memasang ekspresi muram seperti benar-benar menyesal telah mendengarnya.

Yah, begitulah kalau mengorek kenangan buruk orang lain.

Sekarang dia ikut kena imbasnya.

“Yah, setidaknya kali ini hal seperti itu tidak akan terjadi.”

Hanamitsuji mengatakannya seolah menarikku kembali dari jurang kegelapan yang hampir menelanku.

Benar juga.

Sekarang aku sudah terpisah dari kelompok sejak awal.

Jadi tidak mungkin ada kejadian seperti ditinggalkan begitu saja.

Syukurlah kehidupan SMA-ku yang dulu sudah seperti tidak pernah terjadi.

Pantas saja aku tidak mengingat karyawisata waktu itu.

Pengalamannya terlalu menyedihkan untuk disimpan dalam ingatan.

“Hei, sekalian saja kita menimpa kenangan yang lama. Bagaimana kalau kita coba foto?”

Hanamitsuji tersenyum jahil sambil menarik lenganku.

Aku bingung dan membalasnya dalam posisi setengah membungkuk yang aneh.

“Kenapa aku harus ikut? Aku tidak ada rencana mengambil SIM motor, lho.”

“Ini bukan foto untuk SIM.”

Hanamitsuji menghela napas.

Oh, iya.

Mesin purikura memang berbeda dengan mesin foto untuk pasfoto yang biasanya ada di dekat pintu masuk supermarket.

Kalau yang itu, aku masih cukup familiar.

“Mari kita foto sebagai kenang-kenangan hari ini.”

“Bukankah swafoto saja cukup?”

“Justru Nanamura-kun, kamu yakin swafoto saja cukup? Kita harus berdiri cukup dekat supaya wajah kita berdua bisa masuk ke dalam bingkai, lho.”

“Kalau begitu, pinjamkan ponselmu. Biar aku yang memotretnya.”

Mendengar ucapanku, Hanamitsuji menyerahkan ponselnya dengan ekspresi bingung.

Aku memastikan layar kamera sudah menyala, lalu berdiri berhadapan dengannya.

“Oke, satu, dua... senyum.”

“Tunggu! Itu bukan swafoto!”

“Secara estetika, lebih baik kalau aku tidak masuk ke dalam fotonya.”

“Nilai estetika macam apa itu?”

Hanamitsuji merebut kembali ponselnya dariku.

“Sudahlah. Kita foto pakai mesin purikura saja.”

“Kenapa kamu ngotot sekali mau pakai benda itu?”

“Swafoto itu terasa seperti sesuatu yang biasa dilakukan sehari-hari, sedangkan purikura terasa seperti sebuah acara khusus, kan? Jadi untuk hari seperti ini, mesin purikura lebih cocok.”

“Padahal aku tidak pernah swafoto dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya aneh saja kalau ada foto wajahku sendiri tersimpan di ponsel.”

“Seperti apa sebenarnya rasa percaya diri yang kamu miliki itu?”

Hanamitsuji tampak mundur selangkah secara mental.

Tapi menurutku, cukup banyak orang yang mood-nya langsung turun kalau sedang membuka-buka galeri ponsel lalu tiba-tiba menemukan foto wajah sendiri.

“Urusan rasa percaya diri Nanamura-kun kita kesampingkan dulu. Pokoknya, ayo foto sekali.”

Setengah dipaksa, aku diseret sampai ke depan mesin purikura.

Sambil merasa canggung dan bertanya-tanya apakah orang sepertiku pantas masuk ke benda yang begitu berkilauan, aku melangkah ke dalam biliknya.

Kalau ada alat pendeteksi anak introver di sini, mungkin aku sudah menjadi orang pertama yang dikeluarkan.

Tapi entah ini keberuntungan atau kemalangan, fitur semacam itu tampaknya tidak dipasang.

“Eh? Kursi yang bisa diputar-putar untuk mengatur ketinggian itu tidak ada?”

“Makanya, ini bukan mesin pasfoto.”

Bagian dalam bilik itu juga dipenuhi berbagai dekorasi mencolok.

Di dinding bagian depan terdapat petunjuk semacam, “Hasil fotonya nanti akan terlihat seperti ini.”

Kalau objek fotonya aku, rasanya hasilnya tidak mungkin terlihat seceria anak-anak yōkya.

Sebagai pemula dalam dunia purikura, aku menyerahkan pengoperasiannya kepada Hanamitsuji sambil menciutkan tubuh di sudut.

Kalau cuma soal berdiri diam di pojokan, serahkan saja kepadaku.

Setiap kali difoto, biasanya memang seperti inilah gayaku.

“Nah, sini. Lebih dekat.”

“O-oh.”

Hanamitsuji berdiri di tengah bilik, dan entah bagaimana aku ikut berdiri di sebelahnya.

Aku tidak tahu harus menempatkan diri di mana.

Aku memang sudah memahami bahwa kalau berdiri terlalu jauh di pinggir, kemungkinan besar tubuhku tidak akan masuk ke dalam foto, tapi...

Tiba-tiba, diiringi suara panduan yang superceria, lampu kilat menyala berkali-kali.

Jepret, jepret, jepret!

Bagian dalam bilik seketika menjadi putih terang.

Eh, eh?

Apaan ini?

Suasananya seperti apa, sih!?

Ini terlalu berat bagi seorang introver!

Suara panduan terus menyuruh kami berpose dan melakukan berbagai macam hal. Karena berisik, aku sengaja mengabaikannya dan tetap berdiri kaku.

Hmph.

Beraninya suara otomatis menyuruh-nyuruhku.

Seratus tahun lagi baru pantas memberi perintah kepadaku.

Setelah seluruh sesi pemotretan selesai, kami keluar dari bilik.

Capek...

“Wajahmu kaku banget.”

Hanamitsuji melihat layar untuk mengedit dan mempercantik foto yang berada di luar mesin, lalu tertawa.

“Nanmura-kun, sini.”

“Tidak, aku tidak mau. Melihat wajah sendiri? Itu hukuman macam apa?”

“Kalau tidak suka wajah aslimu, tinggal dipercantik saja.”

“Aku juga tidak suka yang namanya ‘mempercantik’ itu. Apa-apaan tulisan ‘Pilih wajah yang kamu inginkan’? Ini sedang mengejekku, ya?”

“Ribet banget, sih... Sudah, bagaimana kalau aku saja yang mengedit sesukaku? Kalau ada permintaan, bilang saja.”

“Kalau bisa, jangan terlalu dipercantik.”



“Dimengerti.”

Beberapa saat kemudian, Hanamitsuji sepertinya sudah selesai mengoperasikan mesin itu. Ia pun menghampiriku yang berdiri agak jauh.

“Kalau aku mempercantiknya secara normal, wajah Nanamura-kun malah jadi kelihatan aneh. Jadi aku tidak terlalu banyak mengeditnya, kok.”

“Jangan bilang ‘aneh’ begitu.”

Ternyata foto yang sudah diedit bisa langsung ditransfer ke ponsel. Hanamitsuji pun mengirimkannya kepadaku.

Di sana terlihat Hanamitsuji yang berpose dengan sedikit malu-malu, sementara aku berdiri kaku dengan ekspresi canggung.

Hasilnya memang terlihat natural dan sesuai seleraku, tetapi kombinasi kami berdua terasa terlalu janggal.

Kami kelihatan seperti sedang berfoto karena sama-sama kalah taruhan.

“Kenapa kamu berdiri kaku begitu, sih?”

“Selama ini aku cuma pernah muncul di pojok kanan atas atau kiri atas foto bersama. Jadi, kalau sudah berurusan dengan foto, kebiasaan berdiri kaku tanpa menarik perhatian sudah mendarah daging.”

Meski begitu, rasanya tetap tidak enak melihat foto wajahku sendiri tersimpan di ponselku.

Punggungku sampai terasa geli.

Rasanya ingin langsung menghapusnya...

—Tapi Hanamitsuji juga ada di foto ini, jadi tidak jadi.

“Setidaknya cobalah tersenyum.”

“Kalau suara panduan menyuruhku, ‘Tersenyumlah!’, entah kenapa semangat pemberontakanku malah langsung berkobar.”

“Apa-apaan itu?”

“Haah...”

Hanamitsuji menghela napas, lalu tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke jendela.

Jendela pusat informasi wisata itu dibuat lebar di sisi yang menghadap ke laut. Laut yang berkilauan diterpa cahaya matahari yang mulai condong memenuhi seluruh bidang pandang.

Aku dan Hanamitsuji pun secara alami melangkahkan kaki menuju jendela.

Pemecah ombak yang menjorok ke teluk kecil memantulkan kembali deburan ombak, sementara di kejauhan, jejak kapal kecil menggambar garis keemasan di permukaan laut.

“Indah.”

Hanamitsuji menempelkan satu tangannya pada kaca jendela dan bergumam dengan wajah penuh kekaguman.

Aku juga tidak punya alasan untuk menyangkalnya, jadi aku berdiri di dekat jendela, sejajar di sampingnya.

“Memang indah.”

“Hanya dengan bisa melihat pemandangan seperti ini saja, rasanya karya wisata kali ini sudah lebih baik daripada yang sebelumnya, bukan?”

“Yah, karya wisata yang lebih buruk daripada yang sebelumnya memang jarang ada.”

“Kamu selalu saja berpikiran miring, ya...”

“Maaf, memang sudah bawaan lahir.”

Setelah itu, aku melirik Hanamitsuji dari sudut mata.

Mungkin menyadari tatapanku, Hanamitsuji juga menatapku.

“Apa?”

“Aku cuma berpikir... kamu tidak merasa terganggu, ya, karena yang berdiri di sebelahmu itu aku.”

“Begitu, ya. Tidak bisa membaca situasi, tidak laku, novelnya membosankan, keras kepala, rendah diri, dan seorang bocchi.”

“Jangan mengungkap satu per satu bagian yang sengaja kukaburkan!! Lagi pula, novelku itu tipe yang baru bersinar di kemudian hari, tahu!”

Aku kira ini bakal menjadi momen ketika dia mengatakan sesuatu seperti, ‘Mana mungkin begitu.’

Ternyata dia benar-benar tidak punya sisi manis sama sekali.

“Setidaknya kamu sadar kalau dirimu memang bermasalah. Justru karena itu, kamu jadi semakin menyebalkan.”

“Bawel.”

“Kepribadian dan nilai-nilai kita juga benar-benar berbeda.”

Memang benar.

Bukan berarti semua kejadian barusan tiba-tiba membuat nilai-nilai kami berubah dan menjadi sama.

Hal-hal yang sudah begitu melekat dalam diri seseorang tidak akan hilang semudah itu.

Itulah sebabnya, baik aku maupun dia, sama-sama pernah melakukan kesalahan.

“Tapi, di kehidupan sebelumnya, aku bahkan tidak tahu kalau nilai-nilai kita berbeda. Aku baru menyadarinya setelah kita mengulang semuanya dan saling berbenturan. Dan menurutku, itu justru bagus. Karena kalau kita terus tidak mengetahuinya... rasanya akan kesepian.”

Hanamitsuji memiringkan kepala, seolah wajahnya berkata, Bukankah begitu?

Tanpa sadar, aku terpaku memandanginya.

“...Mungkin juga.”

“Kalau nanti kita berbenturan lagi, kita masih punya waktu untuk memperbaikinya. Soalnya kita masih punya waktu tiga tahun.”

“Tiga tahun, ya.”

Mendengar kalimat itu diucapkan langsung di hadapanku membuatku merasa malu. Aku pun refleks mengalihkan pandangan kembali ke jendela.

Tunggu.

Kalimat barusan terdengar seperti menyiratkan bahwa kami akan terus bersama selama tiga tahun ke depan, bukan?

Mengatakan sesuatu seperti itu tiba-tiba benar-benar curang.

Bagaimana kalau aku sampai salah paham?

“Haaah...”

Aku mengembuskan napas panjang, seolah ingin mengusir semua imajinasi aneh yang muncul di kepalaku.

Kemudian aku kembali menatap pemandangan di hadapan.

Aku di kehidupan sebelumnya pasti juga melihat pemandangan yang kurang lebih sama.

Saat duduk di bangku dan menyadari jadwal feri, kemudian berdiri untuk pergi, setidaknya aku pasti sempat melihat ke luar jendela.

Tapi saat itu, aku sama sekali tidak menyadari betapa indahnya pemandangan ini.

Aku bahkan tidak mengingatnya.

Mungkin, yang lebih penting daripada apa yang kita lihat adalah dengan siapa kita melihatnya dan dalam situasi seperti apa kita melihatnya.

Bisa melihat pemandangan ini.

Ada seseorang di sebelahku.

Bertengkar, lalu merasa seolah-olah sedikit memahami satu sama lain.

Berbagai hal yang terjadi hari ini...

Aku yakin, tiga tahun dari sekarang, ketika aku lulus, aku masih akan mengingat semuanya.

Membuat kenangan seperti itu...

Kurasa, tidak terlalu buruk juga.

“Oh iya, Nanamura-kun. Maaf mengatakannya saat kamu sedang memasang senyum yang agak menjijikkan itu, tapi...”

“Cara bicaramu saja sudah penuh dengan niat jahat!”

“Eh, aku belum minta uang purikura tadi. Seratus yen, ya.”

“Yang itu masih kamu tagih juga? Rasanya tadi suasananya sudah seperti kamu yang mentraktir, kan?”

“Lagipula porsi yang kutanggung lebih banyak. Jadi tidak apa-apa, kan? Anggap saja impas dengan teh yang tadi.”

“Entah kenapa rasanya tetap tidak bisa kuterima begitu saja.”

“Lagipula, Nanamura-kun sudah mendapatkan foto wajahku. Jadi seratus yen saja seharusnya tidak masalah, kan?”

“...Yah, kalau dipikir-pikir, benar juga. Mau bagaimana lagi.”

“Eh? Apa-apaan jawaban itu? Jangan-jangan kamu benar-benar menganggap foto wajahku sebagai bayaran untuk purikura tadi?”

“Aku cuma merasa kalau menolaknya, urusannya malah bakal semakin merepotkan.”

“Berarti benar, dong. Karena aku merasa terancam, aku akan memblokir akun LEIN-mu.”

“Pertanyaan menjebak tidak punya kekuatan pembuktian di pengadilan, tahu!”




Daftar Bab Novel
Memuat daftar chapter...