Chapter 5: Arc Siswa Kelas 1 SMP - Selesai
Sekarang sudah bulan Desember. Ujian akhir semester telah usai, dan hari-hari di mana seluruh kota mulai dipenuhi dengan lampu-lampu iluminasi yang berkilauan telah tiba. Halo, aku Otonashi Reiko.
Waktu melompat cukup jauh dari bulan Oktober saat festival budaya berlangsung, tapi biarkan itu sebagai bumbu cerita (fan service).
Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, peristiwa yang layak disebut khusus dalam kehidupan sehari-hari tidak akan terjadi begitu saja, jadi mau bagaimana lagi.
"Kalau begitu, semuanya, sampai jumpa tahun depan~" Upacara penutupan semester berjalan lancar, dan dengan salam dari wali kelas sebagai penutup, homeroom terakhir tahun ini pun selesai.
"Entah kenapa semester dua ini rasanya cepat banget ya. Padahal durasinya nggak jauh beda sama semester satu." Sepulang sekolah, di dalam kelas yang masih dipenuhi oleh teman-teman sekelas yang tenggelam dalam rasa lega, kami berempat—kelompok yang biasa bersama—saling bertukar obrolan seolah enggan untuk berpisah.
"Karena eventnya banyak, mulai dari pekan olahraga sampai festival budaya, ya. Kalau dirasakan, mungkin terasa lebih singkat." "Sebaliknya, semester tiga nanti kan nggak ada acara khusus, jadi rasanya bakal terasa lebih lama, ya."
Menanggapi percikan obrolan antara Yuu-kun dan Fuyuki-kun itu, aku merapat ke sisi Yuri-chan sambil melemparkan senyuman usil ke arah anak-anak laki-laki.
"Buat cowok mungkin iya, tapi buat cewek ada event yang lumayan besar lho, ya kan Yuri-chan?" "Eh? Eto... Valentine, ya?" "Yup! Nanti kita bikin cokelat bareng ya, Yuri-chan."
Aku dan Yuri-chan saling menautkan tangan dengan riang gembira. Sebenarnya, Hari Valentine adalah event yang sangat kutunggu-tunggu secara pribadi. Hari di mana kita diizinkan membagikan cokelat kepada para cowok secara tanpa pandang bulu, bahkan tanpa harus memiliki perasaan suka.
Dengan kata lain, ini adalah bonus stage di mana kita bisa memanen banyak sekali kerusakan mental (brain damage) dan emosi negatif. Menghancurkan mental para cowok mob itu rasanya terlalu menyenangkan, ya!
Aku menutupi rasa cintaku pada umat manusia yang terlampau besar ini di balik wajah gadis cantik agar tidak ketahuan oleh Yuu-kun dan kawan-kawan.
Akhir-akhir ini, entah karena grafik NTR-nya berjalan lancar atau bagaimana, aku sering kali tidak mampu menahan hasratku sehingga sifat asliku yang mirip sampah sempat bocor dari wajah. Aku harus lebih berhati-hati.
*
Sepulang sekolah, aku—Tachibana Yuu—yang berpisah dengan Rei-chan dan Shirase-san, sedang berjalan-jalan santai bersama Fuyuki-kun menyusuri pusat perbelanjaan.
Jika dilihat dari keakraban kami sehari-hari, hal ini mungkin terlihat tidak biasa, tapi bagaimanapun juga kami berdua adalah remaja pria dan wanita.
Pergi bermain berkelompok hanya dengan sesama jenis seperti ini bukanlah hal yang terlalu langka.
"Soal Natal dan Hatsumode (kunjungan kuil pertama tahun baru), aku tadinya mikir Rei bakal ngomong sesuatu, ternyata nggak ada apa-apa, ya."
"Iya juga ya. Yah, mungkin tahun ini dia lagi ingin menghabiskan waktu dengan santai bersama keluarganya, kan?"
Mengingat Rei-chan yang sangat suka dengan berbagai event, sebagai orang yang tadinya mengira dia akan mengajak kami berkumpul dan melakukan sesuatu di akhir tahun, situasi saat ini terasa agak mengecewakan.
Kalau dipikir-pikir, jika aku merasa begitu, kenapa tidak aku saja yang mengajak Rei-chan jalan-jalan... jika ada yang berkata begitu, aku pun tidak bisa membela diri, karena kemampuan improvisasi diriku tidak cukup kuat untuk bisa secara spontan mengajak orang yang aku sukai ke sebuah event... Hasilnya, aku menyambut sore hari yang santai ini, namun terasa ada yang kurang di suatu bagian.
——Ngomong-ngomong, alasan sebenarnya kenapa dua cowok ini tidak diajak ke event akhir tahun dan tahun baru adalah karena si berandal (Reiko) mengatur tingkat kesukaan kedua cowok tersebut sebagai bagian dari rencana sampahnya, meski tentu saja mereka berdua sama sekali tidak tahu apa-apa soal itu.
"……Fuyuki-kun." "Hm apa? Ada apa, Yuu?"
Fuyuki, yang sedang memainkan kentang goreng yang mulai dingin di food court, kutegur dengan ekspresi serius.
"……Itu, kalau seseorang diberi hadiah Natal dari orang yang bahkan bukan pacarnya, menurutmu itu terlihat menjijikkan nggak?" "Hah? Bahas apa sih kau——oh, mau kasih hadiah ke Rei, ya?" "Bukan, tentu saja bukan karena niat tersembunyi yang aneh, aku hanya ingin menunjukkan rasa terima kasihku sehari-hari secara tulus..."
Mendengar ucapanku yang terbata-bata, Fuyuki tertawa kecil sambil memasukkan kentang yang dimainkannya tadi ke dalam mulut.
"Bukan masalah besar, kan? Kalau dari orang asing mungkin lain cerita, tapi kalau hadiah darimu, Rei pasti senang." "Begitukah?" "Begitu lah. ...Baiklah, Rei juga sudah banyak membantuku, jadi bagaimana kalau kita cari kado Natal bareng? Kalau kamu juga ikutan kasih hadiah, kamu kan jadi lebih gampang buat menyerahkannya nanti, kan?" "Boleh emangnya, Fuyuki-kun?" "Sekalian jalan, sekalian. Ah, tapi jangan cari yang terlalu mahal, ya? Bisa-bisa dia malah ilfil nanti." "T-, tahu kok!" "Beneran tahuu?"
Melihat ekspresi Yuu yang sepertinya sama sekali tidak paham, Fuyuki tertawa riang. Sekilas pemandangan ini tampak seperti sepotong kisah masa remaja dua orang cowok yang manis-manis asam namun mengharukan, tetapi tindakan Fuyuki murni merupakan bentuk pencegahan/penjagaan jarak terhadap Yuu—entah Fuyuki sendiri sadar atau tidak.
Dan, emosi negatif yang suram dari Fuyuki itu diamati oleh sang penguntit berandal (Reiko) dari balik bayang-bayang pilar, seraya menikmati pemandangan tersebut dengan seringai lezat sementara pembuluh darah di sekitar bola matanya berdenyut-denyut tegang (biki-biki).
*
"Haloー, selamat tahun baru ya, Bibi."
Pagi hari di tanggal 1 Januari. Sambil merapatkan tubuh menahan terpaan angin dingin yang sesekali berhembus, aku—Kurushima Fuyuki—berkunjung ke kediaman keluarga Tachibana. Sebab, aku sudah berjanji dengan Yuu untuk pergi ber-hatsumode bersama ke kuil terdekat.
Aku saling bertukar salam tahun baru dengan ibu Yuu yang menyambutku di pintu masuk.
"Oh, Fuyuki-kun. Selamat tahun baru. Janjian sama Yuu?" "Iya, kami janji mau ke kuil untuk hatsumode."
"Begitu ya? Ampun deh anak itu. Padahal sudah janji sama Fuyuki-kun, tapi kelihatannya dia masih tidur. Kalau tidak keberatan, silakan masuk ke dalam."
"Terima kasih banyak. Kalau begitu, saya bangunkan anak itu sebentar ya, Bi."
Begitu menjawab, aku melangkah masuk ke rumah keluarga Tachibana, lalu membuka pintu kamar Yuu tanpa sungkan seolah sudah terbiasa, lalu berbicara ke arah tempat tidur yang tampak menggembung.
"Yuu, bangunー"
"……Nhm, Fuyuki-kun...?"
Menanggapi suaraku, Yuu bangkit dari tempat tidur dengan mata yang masih mengantuk.
"……Eh, sudah sedemikian siang? Maaf, aku benar-benar ketiduran..."
"Nggak usah buru-buru, jadi santai saja. Aku tunggu, jadi cuci muka sana." "Nhm~..."
Sambil tersenyum pahit melihat Yuu yang belum sepenuhnya terbangun, aku mengeluarkan ponselku. Begitu membuka aplikasi pesan, pesan dari Rei terpampang di layar.
【REIKO: Fuyuki-kun, selamat tahun baru! Aku senang sekali kalau tahun ini kita bisa akur terus!】
【FUYUKI: Selamat tahun baru juga. Mohon bantuannya lagi untuk tahun ini yaー】
【REIKO: (Stempel makhluk berwujud kucing yang entah apa maksudnya)】
【FUYUKI: (Stempel makhluk berwujud anjing yang entah apa maksudnya)】
Sambil menatap log pesan yang dikirimkan tepat saat pergantian tanggal tersebut, aku menggaruk-garuk kepalaku dengan frustrasi untuk menyembunyikan hatiku yang gelisah.
"……Apakah mengajak dia ber-hatsumode duluan dari sisiku ini terlalu bernafsu, ya? Biasanya juga Rei sendiri yang ngajak duluan, kalau tidak ada ajakan begitu lalu aku yang ngajak duluan, rasanya kayak punya niat terselubung, kan..."
Sambil bergumam pelan, aku berulang kali mengetik lalu menghapus pesan ajakan tersebut. Pada akhirnya, pesan ajakan itu tidak pernah dikirimkan ke Rei. Dan karena Yuu yang sudah selesai merapikan diri kembali menghampiriku, kami berdua—sesama cowok—berangkat pergi ber-hatsumode.
"——Hei, Yuu." "Hm, ada apa Fuyuki-kun?" "Apa si Rei itu nggak diajak ber-hatsumode?"
Di tengah perjalanan menuju kuil, aku bertanya pada Yuu. Mendengar itu, Yuu menjawab sambil memasang ekspresi yang agak pahit.
"Ah... iya, itu, sebenarnya aku sempat mikir mau ngajak, sih..."
"Tapi?"
"Mengajak cewek bagi cowok itu rasanya hurdle-nya agak ketinggian, bukan? ...Lagi pula, kalau seandainya aku ditolak sama Rei-chan, aku takut syok sampai nggak bisa bangun dari tempat tidur, jadi aku nggak punya cukup keberuntungan. Aku nggak mau ambil judi semacam itu di awal tahun baru."
"……Paham."
Dua pemuda tampan itu saling bertukar senyum pahit. Betapapun tampannya rupa mereka, meminta anak-anak yang sampai beberapa waktu lalu masih duduk di bangku sekolah dasar untuk bisa mengajak seorang gadis dengan mulus adalah hal yang agak kejam.
*
"Selamat tahun baru, Yuri-chan!" "Se-, selamat tahun baru, Rei-chan."
Di pintu masuk kuil yang dipadati oleh para pengunjung, aku—Shirase Yuri—saling bertukar salam tahun baru dengan Rei-chan.
"Itu, terima kasih sudah mengajakku ya, Rei-chan. Buatku, pergi ber-hatsumode bareng teman itu baru pertama kalinya."
"Aha, nggak apa-apa kok. Soalnya aku memang cuma mau datang ber-hatsumode bareng Yuri-chan."
Rei-chan merapatkan lengannya secara alami dan mulus, membuat tubuhku tanpa sadar menegang.
"F-, fuhih, wanginya enak banget... ke- ehem. Anu, Rei-chan? Aku sedikit penasaran, sih..." "Hm, apa tu?" "Itu, apa tidak apa-apa kalau Tachibana-kun dan Kurushima-kun tidak diajak?"
Aku bertanya pada Rei-chan untuk menutupi rasa gugupku. Sejauh ini, aku merasa sedikit penasaran kenapa Rei-chan, yang biasanya selalu terobsesi dengan kebiasaan bergerak dalam kelompok berempat, tiba-tiba ingin berdua saja melakukan event seperti hatsumode.
"……Apa kamu nggak suka kalau berdua saja denganku?"
Melihat Rei-chan yang menatapku dari bawah dengan sedikit ekspresi sedih, aku buru-buru membantahnya.
"Eh!? Ah, tidak, bukan begitu sama sekali! M-, malah buat aku, rasanya senang banget..." "Fufu, sesekali jalan cuma bareng cewek kan nggak apa-apa, kan? Yuk, cepat jalan."
Meskipun aku merasa sedang dialihkan, aku tetap saja terseret oleh senyuman polos Rei-chan. Kenyataannya, fakta bahwa dia memilih dirinya ketimbang anak-anak cowok membuatku merasakan sedikit rasa superioritas yang suram di lubuk hatiku. Jadi, meskipun situasi ini bisa disambut dengan baik, aku pun tidak merasa perlu untuk memaksakan diri membantahnya.
"Yuri-chan. Omikuji-mu dapat apa?"
Usai melemparkan uang persembahan (saisen), Rei-chan yang sama-sama baru mengambil omikuji bertanya kepadaku.
"Ehm... ah, dapat daikichi (keberuntungan besar)." "Owaa~, awal yang bagus ya."
"Iya, terima kasih. Kalau Rei-chan?" "Fufufu... ta-daー"
【Daikyou (kesialan besar)】
Melihat Rei-chan mengulurkan kertas ramalan terburuk itu dengan senyuman lebar di wajahnya, aku tanpa sadar berseru kaget.
"Uwaaah!? K-, daikyou!? A-, baru pertama kali lihat..."
"Ahaha, isi tulisannya juga parah, lho? 'Jika tidak bertobat, malapetaka akan turun', katanya."
"Ke-, kejam banget! Padahal nggak ada satu hal pun yang harus Rei-chan tobatkan!"
Merasa temannya mendapat fitnah yang tidak beralasan, aku langsung merasa geram.
"Ufufu, terima kasih Yuri-chan. Yah, orang bilang ramalan itu bisa meleset atau tepat, jadi aku anggap saja ini peringatan dari Tuhan supaya tahun ini aku lebih berhati-hati."
Orang yang bersangkutan sendiri bersikap begitu santai meskipun mendapat daikyou, jadi aku pun tidak bisa mempermasalahkannya lebih jauh.
"Lagi pula, Yuri-chan kan ada di sebelahku. Karena aku sedang kencan hatsumode bareng cewek selucu ini, hari ini aku pastinya bukan dapat daikyou, tapi jadi lucky girl nomor satu di kota ini, kan."
"R-, Rei-chan..."
Melihat senyuman Rei-chan yang memantulkan kilau indah pada rambut hitam panjangnya di bawah terik cahaya matahari, dadaku terasa sesak hingga rasanya tak tertahankan.
——Aduh, aku pengen banget ngelakuin Rei-chan...
Pikiran yang agak amoral itu dipikirkan secara sungguh-sungguh di tempat suci oleh si gadis berkacamata dan berwajah cantik—Shirase Yuri. Sering kali dilupakan, tapi dia sebenarnya punya kepribadian yang cukup lumayan licik dan merupakan seorang wanita yang sangat jujur pada nafsunya sendiri.
*
Liburan akhir tahun dan tahun baru telah usai, dan kota kini menyambut musim Hari Valentine. Ujian akhir semester pun telah selesai, dan para siswi di sekolah saling mengobrol dengan riuh, menyambut event beraroma masa muda yang sudah di depan mata.
"Yuri-chan! Akhir pekan nanti, kita bikin cokelat bareng di rumahku, ya!" "U-, un. Kita kan sudah janji sejak sebelum ujian."
Di sudut kelas, sekelompok siswi mengelilingi meja dan berbicara dengan riang. Sementara itu, para siswa laki-laki melirik mereka dari samping sambil mengobrol dengan gelisah.
"Valentine ya... Jujur aja, rasanya kayak event tukar cokelat antar-pasangan atau antar-teman cewek doang."
"Buat cowok kesepian yang nggak punya pasangan begini, rasanya cuma bikin nggak tenang aja."
"Haa~~... Mau pacar."
"Nggak usah muluk-muluk, dikasih cokelat giri (kewajiban) aja aku sudah mau."
"Aku bahkan nggak mau ngitung cokelat dari nyokap sebagai satu poin pun."
Para siswa laki-laki memancarkan aura suram dan muram yang pesimistis.
Mau tidak mau, sasaran tembak mereka jadi terarah kepada Fuyuki-kun dan aku—Tachibana Yuu, yang memang diprediksi bakal dapat cokelat.
"Tachibana dan Kurushima enak banget ya~. Jangan bilang kalian berdua mau memonopoli cokelat dari cewek-cewek sekelas, kan?"
"A-, ahaha...... Yah, kalau Fuyuki-kun sih mungkin, tapi kalau aku mah..."
"Woi, jangan seenaknya menjadikanku kambing hitam."
Menghadapi tatapan dan kata-kata yang bahkan terasa memancarkan dendam kesumat, aku dan Fuyuki-kun saling melemparkan target ke satu sama lain.
Di punggung kami berdua, dua gadis cantik yang memperebutkan peringkat pertama dan kedua popularitas kelas—tidak, popularitas di seluruh sekolah—yakni Rei-chan dan Shirase-san menyapa.
"Yuu-kun, Fuyuki-kun. Aku dan Yuri-chan mau pergi belanja bahan-bahan cokelat Valentine, jadi hari ini kami duluan ya?"
"A-, aku juga mau bikin cokelat buat kalian berdua. Maaf ya kalau nanti hasilnya agak aneh?"
"Fufu, bikin apa ya enaknya. Yuu-kun dan Fuyuki-kun, tungguin ya! Sampai nanti~"
"O, oh..."
"U, un...... Sampai jumpa..."
Disampaikan pada saat dan dengan isi yang terburuk, kata-kata tersebut membuat keringat dingin bercucuran dari wajah aku dan Fuyuki-kun. Saat kami berdua membalikkan badan usai mengantar kepergian Rei-chan dan Shirase-san, yang terlihat di belakang sana adalah gerombolan teman sekelas yang sedang berdiskusi hangat mengenai metode eksekusi yang pas untuk dua orang cowok.
"「............」"
Aku dan Fuyuki-kun saling mengangguk paham, lalu kabur melarikan diri dari tempat itu dengan kecepatan dash.
"Mereka kabur! Kejar!" "Sialan! Kalau mau dapat cokelat dari Otonashi-san dan Shirase-san, tutup saja pendaftaran di situ sekarang juga!" "Monopoli kekayaan! Gantung mereka!"
*
——Kenapa, hal seperti ini bisa terjadi?
Aku—Shirase Yuri, sedang duduk di atas kursi mandi di dalam kamar mandi yang tidak kukenal, sambil membasuri kepalaku dengan pancuran air shower. Tentu saja, dalam kondisi tanpa busana alias full telanjang.
"Uuu... Aku benar-benar minta maaf ya, Yuri-chan." "Ha, haha, hai. Tolong jangan dipikirkan..."
Lalu, di belakangku ada Rei-chan yang juga sedang berendam di dalam bathtub dalam kondisi sama-sama telanjang bulat.
Awal mulanya terjadi beberapa menit lalu. Kami berdua sedang asyik membuat cokelat Valentine di rumah Rei-chan, namun tepat di detik berikutnya saat aku menoleh ke belakang gara-gara mendengar kata "Ah" darinya, sebuah mangkuk berisi whipped cream melayang ke arahku sambil berputar-putar.
Untungnya apron melindungiku sehingga bajuku tidak kotor, tetapi bagian atas tubuhku dan Rei-chan dari leher ke atas sama-sama berlumuran krim.
Didorong oleh Rei-chan yang panik tidak karuan dengan ekspresi "B-, bahaya!?", alhasil aku dibawa paksa ke kamar mandi kediaman keluarga Otonashi.
Sudah kupikirkan sejak dulu, tapi rumah Rei-chan ternyata benar-benar kaya, ya. Kamar mandi luas dengan nuansa chic dan elegan, persis seperti kamar mandi hotel. Ukuran bathtub-nya pun cukup besar, sampai-sampai kalau kami berdua berendam bersama pun rasanya tidak terlalu sesak.
Benar. Meskipun dipakai berdua pun, tempatnya tidak sesak. Aku bisa merasakannya sekarang karena aku sedang mandi bareng Rei-chan, ya ampun.
"......Fufu, sebenarnya aku sedikit mengidam-idamkan hal ini. Mandi berdua bareng teman." "Ah, iya. Begitulah, ya."
Nadaku benar-benar sudah hancur berantakan, sementara mataku yang berkilat-kilat membakar lekuk tubuh Rei-chan ke dalam ingatanku.
Ayolah, kira-kira kalau aku sedikit menyentuhnya dari sini, apa boleh, ya? Kurasa menyentuh dan mencuci tubuh Rei-chan menggunakan tangan sendiri pun masih diampuni. Aku sudah lelah berperang melawan akal sehatku sendiri.
Sambil memikirkan hal itu dan membalas obrolan basa-basi Rei-chan dengan setengah hati, tiba-tiba suatu kalimat menusuk telak ke dalam otakku.
"——Oleh karena itu, kalau Yuri-chan punya orang yang disukai, bilang ke aku ya? Aku bakal dukung kamu sepenuh hati!"
——Mendengar kata-kata yang teramat kejam dari gadis itu, aku sempat merasakan ilusi seolah uap panas yang memenuhi bathtub seketika menguap lenyap.
Atau mungkin, lebih dari itu, gejolak emosi yang mirip seperti "kemarahan" telah membuat suhu tubuhku membara melebihi panasnya ruangan kamar mandi ini.
"......Rei-chan." "Hm, ada apa? Yuri-ch—"
Aku merapatkan tubuhku padanya hingga dada kami saling bersentuhan. Menatap tajam lurus ke wajahnya yang tampak kebingungan karena aku tiba-tiba mempersempit jarak di antara kami, aku menyatakan:
"Yu-, Yuri, chan?" "......Aku suka Rei-chan. Suka banget. ......Cuma itu saja. Aku duluan ya, mau keluar."
Tanpa menunggu jawabannya bergeming, aku bangkit dari dalam bathtub lalu menerobos pintu kamar mandi.
Kugigit gerahamku kencang-kencang sampai-sampai hampir terdengar bunyi gesekannya.
Aku tidak akan menyerahkannya pada Tachibana-kun, maupun Kurushima-kun. Rei-chan——gadis itu adalah milikku.
*
Yah, kira-kira begitulah hasilnya.
Di dalam kamar mandi setelah Yuri-chan pergi, aku—Otonashi Reiko, tenggelam dalam lamunanku.
Dibandingkan para pemuda yang daya serangannya dirasa kurang greget dan sempat tertinggal di belakang, Yuri-chan akhirnya tersulut juga, membuatku merasa sedikit lega.
Sangat disayangkan jika personel lesbian NTR yang berhasil kudapatkan secara kejar-kejar hoki ini harus fade out begitu saja di tengah jalan.
Hal yang paling penting dalam percintaan adalah sedikit keberanian untuk mendorong punggung rasa suka yang diliputi rasa takut. Makanya, aku sudah memberikannya kepada Yuri-chan. Keberanian yang dinamakan nafsu, hahahaha...
Yah, aku juga sudahi dulu bersih-bersihnya dan lanjut bikin cokelat lagi, yuk. Sambil menyeka tubuh yang basah menggunakan handuk mandi, aku memikirkan cara-cara asyik untuk mempermainkan Yuri-chan.
*
Nah, tibalah di hari Valentine.
"Yuri-chan, Selamat Hari Valentine! Nih, silakan cokelatnya." "Terima kasih, Rei-chan! Ini, balasan dariku."
Sebelum homeroom pagi dimulai, aku dan Yuri-chan langsung saling bertukar cokelat persahabatan (tomo-choco).
"Waaai! Terima kasih, Yuri-chan! ......Meskipun dibilang begitu, karena kita bikinnya bareng, isi dan rasanya ya sudah ketahuan banget, sih." "Ahaha... tapi, seru juga ya bikin cokelat bareng-bareng. ......Itu, tahun depan mau bikin cokelat bareng lagi nggak?" "Tentu saja! Tahun depan kita buat yang bentuknya lebih imut lagi, ya!"
Saat aku dan Yuri-chan sedang berseru seru dan gembira sesama cewek, para siswi sekelas yang baru saja datang ke sekolah ikut berkumpul di sekeliling kami.
"Otonashi-san, ini cokelat persahabatannyaー" "Wah, terima kasih! Kalau begitu, aku juga kasih balasan, ya." "Reiko-chan, aku juga, aku jugaー" "Terima kasih banyak, kalau begitu silakan terima yang ini, yaー"
Mengingat membuat versi buatan tangan untuk seluruh anak sekelas itu rasanya mustahil, aku membalas anak-anak yang tergolong cukup akrab dengan cokelat produk pabrik (beli jadi).
"Shirase-san, ini juga ada cokelatnyaー"
"Awawa, t-, terima kasih. I-, ini. Balasannya."
"Yuricchi, tukeran cokelat yukー"
"U-, un. Cuma produk jadi sih, tapi nggak apa-apa?"
Oh, Yuri-chan juga tampak dikerumuni dan diramaikan oleh teman-teman cewek sekelasnya. Saat awal masuk sekolah dulu, Yuri-chan adalah seorang penyendiri di dalam kelas (loner), tapi syukurlah bagaimanapun juga dia sekarang sudah punya teman lain selain aku dan Yuu-kun.
Aku pun merasa bangga. Sambil melipat tangan di dada dengan gaya bega-dachi (berdiri tegap), aku memasang ekspresi layaknya seorang "kekasih dari sudut pandang belakang (back-view boyfriend)".
"――P-, pagi. Rei-chan."
"Pagi-pagiー, Rei sama Shirase dari pagi energinya tinggi banget, ya."
Mungkin karena tertekan oleh kerumunan cewek yang sedang asyik bertukar cokelat persahabatan, Yuu-kun dan Fuyuki-kun menyapa kami dengan nada suara yang sedikit tertahan.
"Ah, Yuu-kun! Fuyuki-kun juga, selamat pagi!"
Aku mendekati mereka berdua dengan senyuman lebar, lalu menyerahkan sebuah kotak berhiaskan pita lucu kepada masing-masing dari mereka.
"Nih, ini buat kalian! Selamat Hari Valentine!"
"A-, terima kasih Rei-chan. Anu, aku senang banget, lho."
"Makasih, Rei. Aku selalu merepotkanmu, ya."
Yuu-kun tersipu malu dengan jelas, sementara Fuyuki-kun memasang senyuman tipis dan menerima cokelat dariku dengan gaya yang cool.
Yah, terlepas dari ekspresi luarnya, aku tahu betul kalau di dalam lubuk hati mereka berdua sedang panik setengah mati karena mendapat cokelat dari cewek yang mereka sukai. Nikmat banget, wkwk.
"Ah, kalian berdua, bukanya nanti pas sudah sampai di rumah, ya? Kalau sekadar memberikannya sih guru-guru mungkin bakal memakluminya, tapi kalau dimakan di sekolah itu sepertinya dilarang. Mau protes kalau sampai disita sama guru, hah?"
Mendengar peringatanku, mereka berdua mengangguk patuh.
Tentu saja alasan sebenarnya bukan itu. Sebab, di dalam cokelat yang kuberikan kepada mereka berdua, telah diselipkan kartu pesan tulisan tangan yang masing-masing berisi kalimat-kalimat bermakna terselubung (ambigu).
Yah, meskipun kupikir tidak mungkin, seandainya trik ini sampai ketahuan oleh mereka berdua, pesan yang tertulis sifatnya hanyalah sekadar "bermakna terselubung" dan tidak ada satu pun kata-kata langsung yang tercantum secara vulgar.
Dengan risiko yang hampir nol, jika aku bisa mendongkrak nilai libido dua cowok itu, tidak ada alasan bagiku untuk tidak melakukannya.
NTR tidak dibangun dalam sehari. Aku adalah wanita yang memiliki rencana jangka panjang. Aku tidak pernah keberatan menimbun poin secara telaten setiap harinya.
Ups, ini bukan waktunya untuk bersantai. Mumpung ini hari Valentine. Aku juga harus menikmatinya sepuas mungkin.
Sambil membawa tas jinjing berisi cokelat, aku berjalan berkeliling menyusuri ruang kelas. Tujuan utamaku adalah meja para siswa laki-laki yang dari tadi terus melirik-lirik ke arah sini secara sembunyi-sembunyi.
"Nih, Sato-kun."
"Eh, Otonashi mau kasih aku cokelat?"
"Cuma cokelat giri (kewajiban) sihー. Nggak usah repot-repot dibalas, yaー"
"Uooー! Makasih!"
"Kondo-kun juga, silakanー"
"Oooー! Aku senang banget, beneran deh. Terima kasih ya, Otonashi!"
"Senang banget cuma gara-gara cokelat kemasan keluarga. Nggak boleh dimakan di sekolah, yaー"
Aah, Yuu-kun dan Fuyuki-kun menatapku dengan tatapan luar biasa tajam. Rasanya nikmat banget!!
Tatapan mereka berdua yang menusuk punggung membuat sensasi kenikmatan seperti sengatan listrik melesat ke seluruh tubuhku. Kayak di doujinshi dewasa saja.
‘Jika tidak bertobat, malapetaka akan turun’
Tiba-tiba, kalimat dari ramalan omikuji saat hatsumode melintas di benakku.
Sering kali terlupakan, tapi dunia tempatku berada sekarang adalah dunia paralel yang "sangat mirip" dengan kehidupan lampau.
Mengingat ada pelaku kejahatan keji yang bertindak seenaknya, ada baiknya aku juga memperhitungkan kemungkinan eksistensi wujud yang menjatuhkan hukuman ilahi.
Dengan kata lain, hal-hal yang membuat nilai karmanya menjadi minus harus dihindari semaksimal mungkin. Tapi, kalau soal itu, rasanya aku tidak punya masalah apa pun.
Aku adalah seorang wanita berhati lembut yang mencintai manusia melebihi siapa pun di dunia ini.
Ya, aku mencintai manusia persis seperti perasaan orang yang menyukai anjing.
Padahal aku tadinya ingin menjelaskan bahwa aku adalah eksistensi cahaya berhati lembut, tapi kata-kataku malah terdengar seperti psikopat yang tidak bisa membedakan antara anjing dan manusia.
Merasa bahwa semakin aku berbicara aku justru semakin menggali kuburan sendiri, aku pun menghentikan pemikiranku.
Yah, aku akui saja. Aku mungkin sedikit lebih jahat daripada manusia pada umumnya.
Namun, nilai karmaku sepertinya masih berada dalam batas yang bisa diperbaiki. Mungkin aku adalah eksistensi suci yang rapuh, berada di posisi netral yang bisa menjadi baik atau buruk dengan nilai plus-minus nol. Inilah rute netral yang menempuh jalan utama.
Nilai karmaku meluncur bebas ke angka minus? Itu kerusakan alat scouter namanya.
Masa lalu tidak bisa diubah, tapi masa depan bisa diubah.
Mulai hari ini, aku akan terlahir kembali sebagai wujud cahaya sejati...!
Ah, Yamada-kun baru saja masuk ke kelas. Terlahir kembalinya mulai besok saja deh.
"Yamada-kun, pagi-pagi!"
"Eh, Otonashi-san. Pagi――"
"Nah, ini. Cokelat Valentine!"
Aku menyerahkan sebuah kotak kecil berisi cokelat buatan tangan—bukan produk jadi—kepada Yamada-kun.
"Eh... a-, anu, ini, jangan-jangan buatan tangannya Otonashi-san--"
"Fufu, karena Yamada-kun selama ini sudah baik dan akrab sama aku, jadi ini spesial, tahu?"
Begitu aku mengedipkan sebelah mataku, Yamada-kun merona merah hingga tingkat yang terlihat sangat menarik.
"A-, anu, beneran makasih ya. Itu, gimana ya... aku senang banget."
"Ahaha, beda sama yang dijual di toko, ini nggak tahan lama, jadi usahakan dimakan hari ini ya?"
Sambil melambaikan tangan kecil setelah berkata begitu, aku menjauh dari Yamada-kun.
Dengan jurus beruntun, aku memamerkan kemesraan bersama Yuu-kun di depannya untuk menghancurkan mental Yamada-kun berkeping-keping. Nikmat, nikmat banget.
"Otonashiー, buat aku mana cokelatnyaー?"
"Buat Tanaka-kun, nggak adaー. ......Tapi, mungkin kamu bakal dapet yang lebih bagus daripada cokelat giri dariku, lho?"
"Ha?"
Aku memasang senyuman penuh arti, lalu melemparkan pandangan ke arah salah satu kelompok siswi.
"......Yah, mending kamu siap-siap mental sedikit, deh? Penampilan dirapikan yang bener, ya?"
"Eh, ah, woiー"
Hanya menyampaikan itu, aku menjauh darinya lalu membaur dengan kelompok para siswi untuk mulai berbisik-bisik secara rahasia.
"R-, Reiko. Bagaimana dengan Tanaka-kun?"
"Ada peluang. Kalau kamu dorong sedikit, pasti berhasil."
"Wuaaah. M-, makasih ya! Aku bakal kumpulin keberanian!"
Gadis yang punggungnya kudorong itu mengepalkan tangan penuh semangat lalu melangkah menuju meja Tanaka-kun.
Yah, kalau pasangan itu, tidak diragukan lagi mereka bakal resmi jadian.
Di kehidupan lampau, aku sudah terlalu sering mengacaukan hubungan antar-pasangan, jadi aku punya keyakinan mutlak pada kemampuan mataku dalam menilai orang. Mengetahui cara menghancurkan sebuah hubungan berarti aku juga tahu cara membangunnya.
Oleh karena itu, hari ini aku adalah sang cupido cinta. Boleh dibilang, aku adalah malaikat bernama Netrael.
"Nihil, Otonashi-chan! Kalau aku sama Yasuda-kun gimana?"
"Sebenarnya aku agak naksir sama Koyama-kun, sih..."
"Dia itu Kakak kelas tingkat dua, tapi――"
Melihat alur di mana dua orang tadi sepertinya bakal sukses jadian, satu demi satu konsultasi percintaan dari para siswi mulai berdatangan kepadaku.
Jika dari hasil riset awal kombinasinya terlihat tidak ada masalah, aku cukup mendorong punggung sang gadis saja. Sebaliknya, jika kelihatannya itu akan menjadi pertarungan yang agak berat, aku berjanji akan melatih mental sang cowok lewat persuasi psikologis dan pencucian otak, lalu menyiapkan tempat pertemuannya di lain hari.
Para cewek bahagia karena bisa punya pacar.
Aku bahagia karena bisa menyingkirkan para cewek yang berpotensi merebut atau mendekati Yuu-kun.
Bisa dibilang sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Rasanya luar biasa menyenangkan saat berbuat kebaikan.
Sambil merasakan nilai karmaku condong ke sisi kebaikan, aku menyusun rencana untuk menciptakan pasangan-pasangan baru tanpa memedulikan sedikit pun kehendak kaum lelaki.
*
Aku—Yamada Minoru—sedang memendam cinta yang takkan pernah terwujud.
"Ah, Yamada-kun."
"......Eh? A-, eh, Otonashi-san?"
"Iya, Otonashi-san, lhoー. Pagi, Yamada-kun."
Di jalur berangkat sekolah pada pagi hari.
Sambil tersenyum ceria, nama gadis yang berlari mendekatiku adalah Otonashi Reiko.
Seorang siswi tercantik yang diakui masuk dalam jajaran lima besar di sekolah, sekaligus sosok gadis yang menjadi target cinta bertepuk sebelah tanganku yang sama sekali tidak sepadan.
"Masih dingin banget, yaー. Cepat hangat dong cuacanyaー"
"......Hm, iya juga ya."
...Kenapa aku tidak bisa memberikan balasan yang sedikit lebih cerdas, sih?
Aku merutuki diriku sendiri yang tampak payah dalam hal komunikasi, namun Otonashi-san tidak tampak terganggu sama sekali dan terus melanjutkan obrolan dengan riang.
"——Dan ya, akhir-akhir ini aku lagi ketagihan jus kotak kertas."
"Ah, Otonashi-san akhir-akhir ini memang sering minum jus misterius yang entah tujuannya ke mana."
"Rasanya lebih menantang daripada botol plastik, jadi seru. Kalau dapet rasa yang zonk, seru juga kan kalau kita bagi-bagi terus nyeret orang lain ikutan menderita."
Beberapa menit setelah kami mulai berjalan berdampingan.
Tanpa sadar, dipancing oleh alurnya, aku mulai berbicara dengan lidah yang fasih.
Inilah yang dinamakan orang dengan keterampilan komunikasi tinggi.
Alih-alih mempermainkan atau merundung orang berkasta bawah sepertiku sekadar untuk keisengan belaka, dia justru melemparkan topik-topik obrolan yang mudah ditanggapi agar aku juga bisa menikmati percakapan tersebut. Di dalam hati, aku melambungkan rasa kagum yang mendalam kepadanya.
"Ngomong-ngomong, aku kemarin nonton film dari light novel yang sempat Yamada-kun baca dulu. Tahu kan, yang tema sekolah itu."
"Wuaaah. A-, apa Otonashi-san nonton itu?"
"Apaan tuh reaksinya. Ceritanya cukup seru, kok? ......Yah, ceritanya memang agak ekstrem sih..."
"A-, aku kasih tahu dulu ya, bukan berarti aku cuma baca buku-buku begitu aja, lho."
"Tahu kokー"
Meskipun Otonashi-san memasang ekspresi rumit, di akhir kalimatnya dia tersenyum malu-malu.
Dia adalah orang yang memiliki pikiran terbuka secara luar biasa.
Baik itu karya-karya bertema otaku ataupun konten-konten yang bakal membuat gadis sebayanya mengernyitkan dahi, jika direkomendasikan oleh orang lain atau menarik minatnya, dia berusaha untuk menikmatinya tanpa mengenakan kacamata prasangka.
Meskipun aku adalah seorang otaku introvert yang tidak punya titik temu dengan para cewek, dia tetap sering menyapaku tanpa rasa risi. Dan kalau kudengar-dengar, dia juga sering menerima curhatan masalah maupun konsultasi percintaan dari teman-teman sekelasnya.
Menurut rumor yang beredar, jumlah pasangan yang resmi jadian setelah Hari Valentine berkat mediasi darinya sudah mencapai angka yang cukup banyak.
Sambil tersenyum malu-malu dan berkata, ‘Ini kebiasaan burukku yang suka ikut campur urusan orang lain’, dia adalah pribadi yang benar-benar menjunjung tinggi nilai altruisme.
Entah bagaimana caranya, seorang gadis yang merupakan bongkahan kebaikan murni seperti ini bisa dilahirkan di dunia.
Jika dunia ini adalah sebuah game, Otonashi-san pastinya akan menjadi karakter beratribut cahaya. Sampai-sampai aku membuat perumpamaan klise ala otaku seperti itu, dia adalah sosok yang begitu menyilaukan mataku.
......Oleh karena itu, aku tidak boleh salah paham.
Dia memperlakukanku dengan baik semata-mata sebagai teman sekelas, dan itu sama sekali bukan perasaan romantis.
"......Ngomong-ngomong, hari ini nggak bareng Tachibana-kun, ya?"
"Hm, Yuu-kun?"
"Iya. Otonashi-san dan Tachibana-kun biasanya selalu berangkat sekolah bareng, tapi kenapa hari ini sendirian?"
Tachibana Yuu.
Teman sekelasku. Seorang pemuda tampan yang tidak sombong dan bersikap ramah serta sopan kepada siapa pun.
……Dan, dia kemungkinan besar adalah orang yang dicintai oleh Otonashi-san.
"Iya…… soalnya Yuu-kun, kelihatannya masuk angin, jadi hari ini dia izin nggak masuk sekolah."
"Eh, begitu ya?"
"Iya. Makanya, sepulang sekolah nanti aku mau pergi menjenguknyaー"
Meskipun memasang ekspresi khawatir, ada rona suara dan emosi yang terpancar dari balik kata-kata itu, yang dengan jelas menunjukkan perasaan melebihi rasa persahabatan.
……Hanya dengan melihat gadis itu, aku merasakan sensasi tertekan di dada seolah jantungku sedang diikat dengan tali kasar.
Padahal aku tahu, gadis itu pasti menyukai Tachibana-kun—
"Aha, padahal ini kan hari White Day…… kalau Yuu-kun sudah sembuh nanti, aku harus minta dia membalasnya dengan tambahan bunga."
Mendengar perkataan Otonashi-san itu, aku sadar kembali dari lamunanku, lalu dengan tekad bulat memasukkan tangan ke dalam tas.
"Ah, u-, anuu, Otonashi-san!"
"Hm, ada apa?"
"I-, ini! Balasannya untuk Hari Valentine!"
Sambil berkata begitu, aku menyerahkan sekantung kue kering terbungkus rapi kepadanya.
Melihat kue kering di dalam kantong transparan itu, mata Otonashi-san langsung membelalak.
"Eh, ini…… jangan-jangan buatan tangan?!"
"A, u-, un. Otonashi-san kan juga sudah memberiku cokelat buatan tangan, rasanya tidak enak kalau aku hanya membalasnya dengan produk jadi..."
……Begitu menyerahkannya, aku baru berpikir, bagaimana rasanya diberi kue buatan tangan oleh cowok yang bahkan bukan pacar? Bukankah itu terdengar menjijikkan?
Di saat aku mulai diserang oleh rasa takut itu, gadis di hadapanku justru bersorak kegirangan dan melompat kecil-kecil, seolah mengabaikan kekhawatiranku.
"Wuaaah! Senang banget! Terima kasih, Yamada-kun!"
"Eh, ah-, anu... Kalau kamu nggak suka, dibuang saja juga nggak apa-apa, beneran."
"Eeeh!? Ngomong apa sih! Mana mungkin kubuang!"
"Nggak, beneran, nggak usah dipikirin. Kalau dipikir-pikir lagi, dikasih kue buatan tangan dari sekadar teman sekelas kan jujur saja agak menjijikkan..."
"——Yamada-kun."
Kedua tangan Otonashi-san dengan erat menggenggam tanganku yang hendak membuat alasan kusut.
"Aeh... o-, Otonashi, san?"
"Mungkin aku salah paham, tapi... Yamada-kun kurang begitu pandai ya kalau ngobrol sama cewek?"
"Eh, ah... yah, tidak begitu mahir sih... malu rasanya mengakuinya."
Ditatap lurus-lurus oleh sepasang matanya, aku melontarkan kalimat menyedihkan itu.
Kalau saja aku pandai berbicara dengan perempuan, aku tidak mungkin akan menyandang status otaku introvert yang separah ini.
Mendengar itu, dia tersenyum lembut dan sedikit mempererat genggaman tangannya di tanganku.
"......Tapi, meskipun kamu nggak pandai ngobrol sama cewek, kamu tetap berusaha membuatkan kue kering ini untukku, kan? Mana mungkin ada orang yang merasa tidak senang kalau diperlakukan seperti itu?"
"Ne, Otonashi-san..."
Ah, kumohon hentikan.
Jika kamu memvalidasiku seperti itu, bukankah aku jadi malah menaruh harapan meski seharusnya aku sudah menyerah?
Kumohon, biarkan aku membuang perasaan cinta yang hanya akan mendatangkan luka ini tanpa rasa menyesal.
Tanpa mengetahui perasaanku yang seperti itu, dia memeluk erat kue kering buatannya yang gagal total itu seolah-olah itu adalah barang berharga, lalu memasang senyuman penuh kasih.
"......Terima kasih, Yamada-kun. Senang banget rasanya. Sungguh, sungguh... Perasaan (putus asa) itu membuatku senang."
......Menanggapi kata-katanya itu, aku mati-matian memaksakan senyum untuk membalasnya.
Aku mengerahkan tenaga di perutku agar suaraku tidak bergetar.
"......Sama-sama. Aku juga senang mengetahui perasaan Otonashi-san. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."
Rasa cinta pertama ternyata terasa berkali-kali lipat lebih pahit sekaligus lebih berat dari bayanganku.
*
"Yaaーh... oh, Reiko-chan."
"Halo, Bibi."
Di salah satu sudut kawasan perumahan yang tenang.
Menanggapi bunyi interfon, ibu Tachibana Yuu membukakan pintu depan. Begitu terbuka, tampaklah Otonashi Reiko, gadis yang merupakan teman masa kecil putranya, berdiri di sana.
"Jangan-jangan, mau menjenguk Yuu, ya?"
Saat ibu Tachibana bertanya apakah Reiko datang untuk menjenguk putranya yang libur sekolah karena sakit, Reiko mengangkat sedikit tas sekolahnya sebagai isyarat mengiyakan.
"Iya. Sekalian mau mengantarkan lembar tugas sekolah... Ah, tapi kalau kondisi Yuu-kun sedang buruk, aku bisa pamit pulang sekarang..."
"Ah, kalau soal itu tidak apa-apa kok. Bukan influenza juga, dan demamnya tadi siang juga sudah hampir mereda."
"Begitukah? Syukurlah..."
Melihat Reiko yang tersenyum dengan ekspresi lega dari lubuk hatinya, ibu Tachibana merasa hangat, seolah sedang menyaksikan pemandangan yang manis.
Meskipun beliau tidak pernah mengonfirmasi langsung kepada mereka berdua, gelagat Yuu yang menyukai Reiko sudah sangat jelas terlihat dari sikapnya.
Begitu pula sebaliknya, kenyataan bahwa Reiko juga menyimpan perasaan suka kepada Yuu sudah sangat kasatmata bahkan di mata orang luar sekalipun.
Meskipun perasaan masing-masing sudah terungkap sejelas-jelasnya, kisah asmara mereka yang masih murni, manis, dan malu-malu ini belum juga berlabuh ke jenjang pacaran.
Ibu Tachibana, meskipun sadar bahwa hobinya ini agak buruk, tidak kuasa menahan diri untuk terus mengamati mereka dengan rasa penasaran yang besar.
......Tentu saja, ibu Tachibana bukanlah anak-anak yang percaya begitu saja bahwa cinta pertama bisa berakhir bahagia dengan mudah.
Namun, sekadar membayangkan seandainya nanti putranya berhasil membina rumah tangga bersama gadis ini, beliau pasti akan sangat memuja menantunya itu.
Cukup sampai di tingkat itulah ibu Tachibana sangat menyukai Reiko yang berhati polos, ceria, dan murni tanpa pamrih.
"Kalau Reiko-chan tidak keberatan, bagaimana kalau masuk sebentar untuk menjenguk wajah Yuu?"
"E-, eto... Kalau begitu, aku izin mengganggu sebentar."
"Fufu, anak selucu ini datang untuk menjenguk, putraku ini hebat juga rupanya."
"B-, Bibi. Tolong jangan menggoda terus."
Mendengar perkataan ibu Tachibana, wajah Reiko langsung merona merah padam.
Meskipun gadis ini sudah menunjukkan rasa sukanya secara terang-terangan, ketidaktegasan putranya yang masih belum bisa mengambil langkah terakhir membuat ibu Tachibana hampir saja menghela napas panjang.
Putranya itu memang sudah memiliki sifat pemalu sejak kecil, tapi jika dia berpikir gadis secantik Reiko akan terus melajang selamanya, tingkat kurang peka putranya itu sudah keterlaluan.
Sebelum Reiko direbut oleh teman putranya seperti Fuyuki-kun, beliau sangat berharap putranya bisa bertindak tanpa menyisakan penyesalan.
Sambil mengantar kepergian punggung Reiko yang berjalan menuju lantai dua tempat kamar pribadi putranya berada, ibu Tachibana memperbarui tekadnya untuk sesekali ikut campur agar cinta pertama putranya ini bisa terwujud.
*
"——Haa, bosannya."
Sambil berbaring di atas tempat tidur, aku—Tachibana Yuu—menatap kosong ke arah langit-langit kamar.
Rasa menggigil dan sakit kepala yang kurasakan sejak pagi subuh sudah mereda, tapi karena rasa lemas yang masih tersisa membuatku bahkan tidak memiliki tenaga untuk memegang ponsel, jadi seperti pasien pada umumnya, aku hanya bisa berbaring pasrah di atas tempat tidur.
"......Padahal aku sudah menyiapkan persiapan untuk White Day."
Menatap bungkus permen yang diletakkan di atas meja, aku menghela napas dalam-dalam.
Tujuan permen itu, tentu saja adalah gadis yang merupakan teman masa kecilku.
"Aku ingin ketemu Rei-chan..."
"Malu-maluin banget, deh."
"…………Eh?"
Gumaman kecil yang tak sengaja terlontar itu langsung ditangkap dan dilemparkan kembali.
Saat aku memiringkan kepalaku ke samping, di sana tampak Rei-chan berdiri dengan pipi yang sedikit merona.
"Ah, eh!? R-, Rei-chan!? K-, kenapa..."
"Hei, jangan langsung bangun begitu. Memang kata Bibi demamnya sudah hampir reda, tapi jangan memaksakan diri."
Mendapati kedatangan Rei-chan yang tiba-tiba, aku reflek hendak bangkit, namun dicegah olehnya dan dipaksa berbaring kembali di atas tempat tidur.
"E-, eto... Ada apa hari ini, Rei-chan?"
"Menjenguk. Sebenarnya aku tadinya mau ajak Fuyuki-kun dan Yuri-chan juga, tapi... aku pikir kalau datang bergerombolan malah akan merepotkanmu, jadi aku datang mewakili sebagai perwakilan."
"Begitu, ya......"
Rasa bersalah karena telah membuat semua orang khawatir, serta rasa terima kasih karena telah dipedulikan, membuatku memasang senyuman samar yang sulit diartikan.
————Hap, tunggu sebentar.
Aku, kan, masih berkeringat sejak pagi dan belum sempat mandi shower.
Meskipun aku sendiri tidak menyadari, jangan-jangan tubuhku jadi bau keringat?
"Ada apa, Yuu-kun?"
"Eh, ah...... nggak, itu......"
Rei-chan menatapku dengan wajah polos dan kebingungan.
……Gawat. Begitu aku mulai memikirkannya, aku merasa tubuhku menjadi sangat bau. Ditambah lagi, aku merasa rambutku juga berantakan.
Situasi di mana aku memperlihatkan wujud yang tak siap di hadapan gadis yang kuinginkan, membuat wajahku memanas karena rasa malu bercampur harga diri.
Melihatku yang bertingkah mencurigakan itu, Rei-chan mendekatkan wajahnya dengan gerakan cepat.
"Yuu-kun? Wajahmu merah banget, kamu nggak apa-apa?"
Jangan! Jangan menatapku dari jarak sedekat ini saat penampilanku belum rapi!
Sebelum kata-kata itu sempat keluar dari mulutku, dia menempelkan dahinya ke dahi ku dengan pelan.
"Hmm... sepertinya demamnya nggak terlalu tinggi sih, tapi kalau rasanya nggak enak, bilang ya? Mau kuusap badannya? Mau minum air?"
"K-Kohyup!"
Wajah rupawan Rei-chan di jarak sedekat itu, ditambah aroma samar yang harum luar biasa, membuatku nyaris kehilangan akal.
"M-Maaf! Aku mau cuci muka sebentar!"
"Eh, Yuu-kun?"
Karena kapasitas mentalku sudah melampaui batas, aku kabur keluar dari kamar bagaikan orang ketakutan dan menuju ke ruang cuci.
"——Hah, hah……"
Mencuci muka dengan air dingin, aku berusaha memaksakan diri agar kembali tenang.
Sebenarnya aku ingin mandi shower, tapi tentu saja itu tidak pantas dilakukan saat Rei-chan sedang menungguku, jadi aku berkompromi dengan hanya merapikan rambutku sedikit.
"……Seingatku, Rei-chan terakhir kali datang ke kamarku itu pas sesi belajar kelompok semester satu, ya."
Sambil menatap cermin, aku bergumam pelan.
‘A-, aku belum mandi, jadi jangan...’
Wajah Rei-chan yang berbaring di atas tempat tidur dengan pipi merona karena malu tiba-tiba terbayang jelas di benakku.
"Apa yang sedang aku pikirkan?!"
Sensasi dada Rei-chan yang nyaris teringat kembali di telapak tanganku membuatku menyiramkan air dingin tambahan ke atas kepalaku.
"…………Wah, aku benar-benar brengsek. Diriku ini..."
Aku jatuh ke dalam pusaran rasa benci pada diri sendiri karena tubuh bagian bawahku hampir saja merespons aliran darah akibat lamunan tersebut.
Padahal Rei-chan datang menjengukku dengan niat tulus tanpa ada niat terselubung sedikit pun... tapi diriku malah menatap gadis sebaik itu dengan pikiran mesum—
"……Tapi, kuingat-ingat lagi, di internet bilang kalau cewek main ke kamar itu tandanya OK..."
Aku kembali membasuh pikiran kotor yang melekat di kepalaku dengan air dingin.
"……Yuu-kun? Kamu lama banget nggak balik-balik jadi aku khawa—eh, lagi apa sih?!"
Merasa khawatir karena aku tidak kunjung kembali ke kamar, Rei-chan membuka pintu ruang cuci, dan di sana ia mendapati seorang bodoh (aku) yang sedang menempelkan kepala langsung ke keran sambil mandi air dingin.
Rei-chan dengan panik berusaha menarikku menjauh dari wastafel, memelukku erat dari belakang.
……Melalui piyama, dada Rei-chan terasa ‘gnyu’ menekan punggungku.
Nafsu duniawi yang seharusnya sudah kubasuh tadi, menembus ruang dan waktu untuk mengalir balik dari saluran air menuju ke sang pemilik tubuh.
"Ah."
Tatapan Rei-chan tertuju ke arah bagian bawah tubuhku yang sedang dalam kondisi gawat darurat. Tamat sudah.
"……U-, udah! Udah! Yuu-kun mesum! Bibi lagi ada di rumah, hal kayak gitu tuh nggak boleh!!"
Rei-chan memerah padam, lalu mengelap kepalaku yang basah kuyup dengan handuk secara kasar seolah untuk menyembunyikan rasa malunya.
……Aku benar-benar ingin dia berhenti membuat pernyataan seolah-olah hal itu akan OK jika ibuku tidak ada di rumah. Stimulasinya terlalu berat bagi seorang jomblo.
Atau lebih baik biarkan aku sendirian. Biarkan aku menyembunyikan "tenda" yang terlanjur berdiri di celanaku ini.
Pada akhirnya, sampai kepalaku dikeringkan dengan benar menggunakan hairdryer, aku hanya bisa pasrah menuruti apa pun yang dia lakukan. Bunuh saja aku...
"M-, maaf ya, Yuu-kun. Malah bikin ribut..."
"Ah, iya. Anu... nggak apa-apa. Atau lebih baik kalau kamu lupain aja semua kejadian tadi..."
"Iya..."
Kembali ke kamar dari kekacauan di ruang cuci tadi, aku yang merasa kelelahan mental langsung merayap kembali masuk ke dalam tempat tidur.
Meski merasa tidak enak pada Rei-chan yang tampak menyesal, kurasa dia juga punya sedikit masalah. Kalau dipikir secara normal, bagaimana bisa seseorang tetap melanjutkan menata rambut pria yang sedang mengalami ereksi?
Yah, kurasa dia tadi juga sedang panik, tapi jujur saja kuharap dia bisa sedikit lebih waspada terhadap lawan jenis.
Sifat terlalu baik seperti itulah yang juga menjadi daya tariknya, tapi tidak semua pria di dunia ini adalah orang sepertiku atau Fuyuki-kun.
Hanya dengan membayangkan seandainya kebaikan hatinya itu dimanfaatkan oleh "pria jahat" dan dia tertangkap... bayangan itu saja sudah membuatku diserang oleh kedinginan yang jauh lebih buruk daripada demam.
Di tengah-tengah renunganku yang tak berguna itu, Rei-chan melirik jam dinding lalu berdiri.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya. Sampai jumpa lagi di sekolah."
"Iya. ……Ah, Rei-chan."
"Hm, ada apa?"
Saat aku menghentikannya yang hendak pulang, aku menunjuk ke arah kotak berbalut pita di atas meja.
"Kotak di situ, itu balasan untuk Hari Valentine. Kalau tidak keberatan, maukah kamu menerimanya?"
"Wah, terima kasih, Yuu-kun! Senang banget."
Rei-chan memasang senyuman merekah bak bunga yang mekar.
Hanya dengan melihat senyuman itu, aku merasa sekujur tubuhku dipenuhi kembali oleh vitalitas.
"………………"
"Rei-chan?"
Tanpa diduga, dia mendekatiku yang sedang berbaring di tempat tidur, lalu memberikan ciuman ringan di pipiku.
"Eaah...!?J"
"Fufu, jangan-jangan aku ketularan flu-nya juga. Cepat sembuh ya, Yuu-kun."
Usai mengatakan itu, dia melangkah keluar dari kamarku dengan langkah yang ringan bagaikan sehelai bulu.
"Eeeh~~... astaga, apa-apaan ini... Maksudnya kita ini masih belum resmi jadian, gitu? Yang benar saja..."
Rasanya demamku bakal naik lagi...
Sebenarnya, di dalam pikiran Rei-chan, aku ini diperlakukan sebagai apa?
Jangan-jangan, Rei-chan mengira aku ini adalah peliharaan atau semacamnya?
Sambil mengerang di atas tempat tidur, aku bergulat dengan pikiranku yang berkecamuk.
——Hari kelulusan.
Rasa berat berpisah dengan para siswa kelas tiga yang hendak pergi…… Sebenarnya ingin sekali merasakannya, tetapi di klub sastra hanya ada para senior yang merupakan anggota hantu (chara yang jarang hadir), dan aku juga tidak punya banyak interaksi dengan orang-orang yang lulus, jadi jujur saja ini adalah acara yang tidak begitu berkesan bagiku. Halo, aku Otonashi Reiko.
Yah, entah karena anggapan sebagai pengakuan kenang-kenangan atau bukan, aku memang sempat ditembak oleh beberapa senior yang beberapa kali sempat kuajak ngobrol.
Tentu saja, semuanya kutolak mentah-mentah.
"Acha, ternyata beneran ditolak yaー"
"Tolong posisikan diri Anda sebagai orang yang ditembak dengan nada sesantai itu. Pantas saja kalau punya pacar pun langsung cepat putus, ya?"
"Ahaha, Otonashi sadis banget, sihー"
Orang yang tertawa tanpa terlihat terbebani oleh rasa sakit karena ditolak itu adalah senior playboy dari klub musik ringan (nama samaran) yang beberapa kali sempat berpapasan dengannya di rapat kegiatan klub bidang kesenian.
Dia adalah sosok berbakat yang kerap menukar-nukar cewek yang terpikat oleh wajah tampannya sesuka hati, hanya saja waktu pertemuan kami kurang tepat.
Kalau saja kami berinteraksi di masa SMA, aku pasti sangat ingin memasukkannya ke dalam jajaran All-Star Pria Simpanan (manko all-star) milikku, tetapi menjaga hubungannya selama hampir dua tahun dalam jarak jauh (long distance) adalah hal yang mustahil dari segi manajemen. Sayangnya, kali ini aku harus melewatkannya.
"Mh, kalau nanti berubah pikiran, hubungi aku ya. Ini akun messenger-ku."
Melihat memo yang disodorkan secara paksa itu, aku menghela napas dalam-dalam secara berlebihan.
"Hah…… kuterima sebagai formalitas saja, tapi jangan menaruh harapan aneh-aneh ya?"
"Yah, tidak masalah. Seberapa kecil pun peluangnya, aku harus menghargai hubungan dengan cewek cantik."
"Orang yang bicaranya tidak pernah kehabisan kata-kata ya…… Selamat atas kelulusannya. Jangan terlalu sering mempermainkan cewek, ya? Nanti suatu saat punggungmu bisa ditusuk orang."
Yah, orang yang sebenarnya sedang ditusuk oleh bumerang itu justru diriku sendiri.
Aku adalah wanita yang memiliki sudut pandang objektif. Begitu misi penghancuran mental Yuu-kun berhasil kulakukan, aku sudah sepenuhnya siap mental jika suatu saat punggungku ditusuk oleh seseorang.
……Tetapi, tidak apa-apa.
Jika mental Yuu-kun berhasil kuhancurkan, masa depan setelah itu sudah tidak aku perlukan lagi.
Aku tidak butuh tempat akhir untuk kusinggahi. Aku hanya perlu terus melangkah maju menuju tujuan NTR. Selama aku tidak berhenti, jalan itu akan terus terbentang.
Aku tidak akan berhenti! Selama Yuu-kun dan yang lainnya tidak berhenti, aku akan selalu berada di sana!
Oleh karena itu……
Jangan berhenti……
Saat aku sedang mengenang sosok sang ketua yang bahkan hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda berhenti sebagai meme, Senior Playboy itu tertawa dengan ceria.
"Ahaha, masukan berharganya terima kasih ya. Semoga Otonashi dan Tachibana-kun juga bisa langgeng, ya?"
"Eah……!? Na-, k-kenapa……!?"
"Fufu, akhirnya aku bisa melihat pemandangan yang bagus di akhir. Sampai jumpa ya, Otonashi."
"S-, Senior! ……Astaga!"
Puas karena melihat wajahku yang merona merah, Senior Playboy itu pergi dengan ekspresi seolah-olah dia telah berhasil mengerjaiku.
Nah, bagaimana ya kira-kira keadaan Yuu-kun dan kawan-kawan yang dari tadi diam-diam mengamati kami dari balik bayang-bayang?
Aku melirikkan bola mataku ke arah salah satu sudut gedung sekolah.
Di sana, selain Yuu-kun, Fuyuki-kun dan Yuri-chan juga tampak mengintip dari balik tempat persembunyian.
Bola mata yang telah kuperkuat melalui manipulasi darah memiliki sudut pandang yang sangat luas.
Bahkan pemandangan di ujung sudut penglihatan yang normalnya tidak akan disadari oleh orang biasa meskipun tertangkap oleh mata, aku bisa mengenalinya dengan tingkat kejelasan setara dengan orang yang sedang menatapnya lurus-lurus di depan mata.
Wah, melihatku merona di hadapan Senior Playboy tadi, entah kesalahpahaman macam apa yang sedang mereka pikirkan. Wajah Yuu-kun dan kawan-kawan sampai tampak pucat.
Mereka pasti salah paham dan mengira posisinya telah direbut oleh cowok karbitan di saat mereka sendiri masih ragu-ragu. Ini adalah bonus yang tak terduga. Nikmat banget.
Ups, ini bukan waktunya untuk bersenang-senang.
Jika aku tidak meluruskan kesalahpahaman ini dengan benar, dikhawatirkan Fuyuki-kun atau yang lainnya akan bertindak gegabah dan datang merebutku (NTR). Aku harus memberikan tindak lanjut (follow-up) yang tepat.
"Aaah! Y-, Yuu-kun!? Fuyuki-kun sama Yuri-chan juga! K-, kenapa kalian bisa ada di sini!?"
"Gep, kita ketahuan sama si Rei!"
"Ah, nggak, ini, anu..."
Aku memasang ekspresi terkejut seolah-olah aku baru saja tidak sengaja menyadari keberadaan Yuu-kun dan yang lainnya.
Meskipun di dalam hati aku tersenyum melihat tiga orang yang panik karena tepergok mengintip, aku mendekati mereka dengan gestur seolah berkata, ‘Aku sedang marah, tahu!’
*
"……Ehem. Upacara penutupan tahun ajaran telah berakhir dengan lancar, dan besok kita sudah mulai liburan musim semi. Aku sangat senang karena kita bisa menjadi begitu akrab hingga bisa mengadakan pesta perpisahan kelas 1-B seperti ini."
Di sebuah restoran all-you-can-eat tempat hidangan seperti sushi dan yakiniku disajikan dengan harga terjangkau, aku berdiri sambil memegang gelas dan menyampaikan pidato singkat.
Ini adalah acara kumpul-kumpul penutup satu tahun penuh yang diselenggarakan oleh ketua kelas. Di hadapanku, berbaris rapi para teman sekelas yang telah melewatkan suka dan duka bersama selama satu tahun ini.
"Berkumpul bersama teman sekelas seperti ini pasti akan menjadi momen yang terakhir. Namun, meskipun kita sudah naik kelas dua nanti, jika berpapasan di jalan ke sekolah mari saling menyapa, atau saling berbagi informasi mengenai tes dadakan ya. ……Lalu, aku tidak akan memaafkan kalian yang menyuruhku berpidato secara mendadak tanpa aba-aba padahal aku bukan ketua kelas. Ketua kelas, nanti kamu harus datang menungkan minuman untukku."
"Soalnya, Otonashi kelihatan lebih mirip pemimpin kelas daripada aku, kan."
Tawa riuh yang bernuansa hangat langsung membahana menanggapi obrolan ala manzai antara aku dan sang ketua kelas.
"Iya juga sih, si ketua kelas kehadirannya agak transparan, sihー"
"Pak Guru juga kadang-kadang secara natural memperlakukan Rei-chan sebagai ketua kelas..."
"Fuyuki-kun sama Yuri-chan jangan ikut-ikutan setuju dong! ……Ehem. Kalau begitu, k-kanpai!"
"「「「Kanpaーーii!」」」"
Setelah berhasil menghangatkan suasana hingga ke tingkat yang pas, aku kembali ke tempat dudukku, lalu Yuu-kun menyapaku dengan nada penuh perhatian.
"Rei-chan, kerja bagus ya."
"Makasih, Yuu-kun."
Kami berdua saling membenturkan pelan gelas berisi oolong tea milik masing-masing.
"Selama setahun ini, ada banyak hal yang terjadi ya~"
"Ahaha, aku terus-terusan direpotkan dan dibantu sama Rei-chan, ya. Terima kasih banyak, ya."
"Nggak ada hal sebesar itu kok! Justru aku yang harus berterima kasih, berkat Yuu-kun tahun ini terasa sangat menyenangkan bagiku!"
Setelah memiringkan gelasnya sedikit dan mengambil jeda sejenak, aku menggaruk pipiku dengan ekspresi yang menyiratkan sedikit rasa malu.
"A-, anu…… kalau nanti di kelas dua aku bisa sekelas lagi sama Yuu-kun, aku pasti senang banget……"
"U-, un. I-, iya ya……"
"Aku sudah ambil makanannya nih. Yuki, tolong bantu susun di atas meja, ya?"
"Rei-chan, aku bawakan piring kecilnya. Nih, Tachibana-kun juga."
"U-, un. Terima kasih ya, kalian berdua……"
Saat kami berdua sedang menciptakan atmosfir manis dan asam layaknya buah remaja, Fuyuki-kun dan Yuri-chan yang baru saja mengambil makanan datang menyela.
Hmm-hmm, mereka berdua dengan jelas sedang berusaha mengganggu kebersamaanku dengan Yuu-kun, ya?
Syukurlah, tingkat favorability dan rasa cemburu mereka tampaknya terpancing dengan sangat baik.
Sambil tersenyum lebar penuh kemenangan di dalam hati, aku mulai memanggang daging yang dibawa oleh Fuyuki-kun.
*
"Uuuu――. Nggak mauuu, aku nggak mau berpisah kelas dengan Yuri-chan――"
"R-, Rei-chan? Kenapa nada bicaramu jadi seperti orang yang sedang mabuk alkohol begitu?"
Sambil setengah menangis, aku membenamkan wajahku ke dalam dada Yuri-chan yang empuk.
Melihat tingkahku itu, Fuyuki-kun memasang ekspresi pasrah.
"Ah, nggak usah dipikirin, Shirase. Si Rei itu memang tipe orang yang paling benci ganti kelas sejak SD."
"Dulu dia juga sering menangis merengek ke aku atau Fuyuki, sih. Yah, itu... bisa dibilang dia punya rasa keterikatan emosional yang tinggi, atau bagaimana ya... biarkan saja dia begitu untuk sementara waktu?"
"A-, aku sih sebenarnya tidak masalah, tapi…… Fuhit"
Merasa risih sekaligus menikmati tangan Yuri-chan yang mengelus punggungku dengan gerakan yang sedikit vulgar, aku mulai menghitung berapa lama lagi aku harus menghentikan pelukan ini.
Sebagai sosok panutan berhati lembut yang sangat memahami isi hati manusia seperti diriku ini, mengontrol kelenjar air mata di waktu yang paling efektif adalah dasar dari segala dasar. Itu bahkan tidak layak disebut sebagai teknik.
Tepat pada saat tangan Yuri-chan mulai bergeser dari punggungku ke arah bagian samping dadaku, aku langsung menarik kembali air mataku dengan gerakan cepat bagaikan rekaman yang diputar mundur, lalu melepaskan pelukan dari Yuri-chan.
"Gusuh, maaf ya Yuri-chan. Aku sudah tenang sekarang, jadi tidak apa-apa."
"Ah…… u-, un. Kalau begitu baguslah……"
Agar Yuri-chan yang tampak masih menggerak-gerakkan tangannya karena merasa kurang puas tidak sampai meledak, aku mencoba bersikap sangat hati-hati layaknya sedang memperlakukan bahan peledak nitroglycerin.
……Aku tahu betul bahwa dengan tingkat kondisi favorability saat ini, membangun rute NTR Yuri-chan adalah hal yang mudah bahkan tanpa harus melakukan trik berjalan di atas tali seperti ini. Demi memastikan hasil yang sempurna, pasti ada chart jalan cerita lain yang jauh lebih aman.
Namun, cara itu bertentangan dengan prinsipku.
Chart aman yang hanya berfokus pada penghindaran risiko? Bstt!
Jika ingin melakukannya, lakukan dengan kekuatan penuh.
Dewa perselingkuhan hanya akan tersenyum kepada mereka yang berlari kencang menerobos ladang ranjau dengan risiko tinggi dan imbalan tinggi (high-risk, high-return), serta terbang menembus ujung tebing curam.
Berikan aku lebih banyak kesulitan dan keputusasaan. Berikan aku rasa panas yang menggetarkan jiwa. Aku pasti akan melampauinya. Aku memperbarui tekadku.
Sambil merasakan ilusi di mana kilauan jiwa baruku yang panas bahkan mampu meredupkan cahaya matahari hingga mengecat masa depan Yuu-kun menjadi putih bersih, babak akhir tahun pertama SMP-ku pun resmi menyambut akhirnya
