📢 Announce 📢

Jangan lupa bantu kami dengan donasi
Bocchikano

Epilog(?)

September 22, 2026 • Penerjemah: Jerinnn
Ukuran:
Mode:

Akhir bulan Februari.

Musim dingin yang begitu dingin sampai-sampai membuat orang tanpa sadar mendukung pemanasan global sudah hampir berakhir. Di bawah sinar matahari sore yang hangat dan lembut serta pepohonan pinggir jalan yang mulai menampakkan tunas-tunas kecilnya, tanda-tanda musim semi perlahan mulai terlihat.

Aku sedang menuntun sepedaku menuruni jalan lereng yang mengarah dari SMA Higashitani ke stasiun kereta bawah tanah. Sepedaku sudah terlihat bobrok dengan pas selama tiga tahun sejak masuk SMA, dan seragamku pun sudah tampak begitu usang namun pas dengan anehnya.

Menelusuri jalan yang sudah biasa kulalui dengan mengenakan seragam ini hanya tinggal sekali lagi.

Besok akhirnya adalah upacara kelulusan SMA. Tiga tahun ini berlalu begitu cepat.

Aku melamun, mengenang hari-hari masa muda (seishun).

………….

……………….

…………… Sama se-ka-li tidak ada apa-apa. Benar-benar kosong. Sungguh mengejutkan.

Yah, tapi, aku sebenarnya sudah tahu sih. Ya.

Pada akhirnya, tidak ada satupun kejadian seperti masa muda yang terjadi di dalam kehidupan SMA-ku.

Aku tidak masuk klub maupun komite sekolah, jangankan pacar, teman pun tidak punya. Aku ingin menuntut permintaan maaf dari pihak yang bertanggung jawab, tapi pihak yang bertanggung jawab kelihatannya adalah diriku sendiri.

Hari upacara penerimaan siswa baru tiga tahun lalu. Mengenang kembali saat aku menaiki lereng ini dengan dada yang membuncah oleh harapan, aku pun merana di dalam hati. Panggung masa muda kepalamu peyang. Ah, tapi itu kan aku sendiri ya.

Orang-orang sering dengan santai bilang "debut SMA", tapi untuk debut pun butuh usaha. Orang yang kalau ada peringkat SMP paling suram di seluruh negeri pasti jadi kandidat papan atas, mustahil bisa menjalani masa muda yang gemerlap hanya karena masuk SMA.

Aku menuruni lereng dengan perasaan dongkol.

Rasanya aku ingin menggenjot sepedaku sekuat tenaga, tapi karena ini adalah jalan yang ramai pejalan kaki, ada aturan untuk menuntun sepeda saat melintas.

 Aku mencoba melototi toko-toko pakaian dan kafe di sekitar, tapi suasana modisnya justru membuatku merasa kalah. Rasa tidak nyambungku benar-benar luar biasa. Kalau aku masuk ke tempat-tempat seperti itu, kurasa alarmnya bakal bunyi.

Bahkan Starbucks di dekat sekolah pun pada akhirnya tidak pernah kudatangi sekali pun. Uang saku memang bertambah, tapi aku tidak punya teman untuk pergi bersama.

Mungkin satu-satunya hal yang kulakukan hanyalah mampir sepulang sekolah, atau membeli novel ringan di toko buku.

Di tengah lereng, aku tertahan lampu merah. Kalau diam saja, pikiran konyol terus berputar-putar tanpa henti.

Sungguh, aku yang tiga tahun lalu pasti sudah tidak waras karena suasana musim semi. Bahkan sekarang pun, orang-orang di sekitarmu yang kepalanya dipenuhi angin musim semi memamerkan adegan masa muda yang riang gembira sedemikian rupa, tapi ini pasti bukan karena musim semi, melainkan karena situasi yang sudah di ambang kelulusan...

Bagaimana pun juga, hari ini adalah hari masuk sekolah sebelum kelulusan. Orang-orang di sekitar sini pasti adalah anak kelas tiga sepertiku, kurasa. Meskipun aku tidak pernah bicara dengan mereka dan merasa agak kurang percaya diri.

Hal-hal yang masuk ke telingaku hanyalah kalimat-kalimat yang melayang karena euforia, seperti, "Kalian ujiannya udah pada selesai belum? Karaokean yuk!" atau "Wah, besok udah upacara kelulusan aja! Aku nggak mau lulus—!"

Kumohon, lakukanlah di tempat yang tidak ada aku. Pertimbangkanlah perasaan para bocchi (penyendiri).

Musim dingin kelas tiga sering kali disebut sebagai musim perpisahan, tapi bagiku itu sama sekali tidak nampak masuk akal. Lagipula, tidak ada orang yang cukup dekat denganku sampai-sampai membuatku merasa sedih membayangkan perpisahan.

Makanya, sejujurnya aku tidak begitu mengerti perasaan teman-teman sekelas yang merasa gelisah karena perpisahan ini.

Baik di SD maupun di SMP, kita sudah sering berpisah, kan? Sudah sewajarnya kalian terbiasa dengan hal itu.

Sembari menepis sejenak pemikiran seperti, "Dulu juga kamu nggak punya teman dan bukannya kamu terbiasa dengan perpisahan," aku mengabaikannya untuk sementara waktu. Yah, kalau di dalam monolog, tidak akan ada yang protes juga.

Kalau jujur pada diri sendiri, aku terkadang berpikir, "Aku ingin punya teman seperti di novel ringan (light novel), seseorang yang akan menanggapi hal-hal bodoh yang kukatakan dengan perasaan heran sekaligus melontarkan komentar sarkas."

Namun, pada kenyataannya, teman yang begitu praktis tidak akan muncul. Dan entah kenapa, sama sekali tidak ada gadis cantik yang mendekatiku. Gyaru yang baik pada otaku hanyalah mitos urban. Karakteristik yang mirip protagonis novel ringan sekolah hanyalah kepribadian yang sinis dan atribut bocchi. Bukankah lebih baik kalau sifat-sifat itu tidak ada?

Huh, sudahlah. Saat ini aku sama sekali tidak sedang memikirkan tentang ingin punya teman.

Selain itu, aku sudah cukup disadarkan selama tiga tahun belakangan ini.

Bahwa entah bagaimana pun aku mencoba mencari teman, usahanya pasti akan gagal.

Tersenyum canggung mengikuti topik obrolan yang membosankan demi menyesuaikan diri dengan orang lain, menghubungi seseorang yang kelihatannya bakal mulai menjauh demi menjaga hubungan, atau mencoba merambah hal-hal yang tidak diminati demi mengikuti tren—hal-hal semacam itu benar-benar mustahil bagiku. Pada dasarnya, aku memang tidak cocok dengan yang namanya hubungan antarmanusia.

Orang seperti itu berniat mencari teman? Sungguh tidak sopan pada orang lain. Bahkan jika aku diajak bicara seperti, "Kalau cerita kamu membosankan, aku bakal ngerespons seadanya, aku nggak bakal ngehubungin kamu duluan, dan aku juga nggak bakal tertarik sama hal-hal yang kamu suka. Biarpun begitu, jadilah temanku," aku pun pasti akan merasa jijik.

Makanya, begini saja sudah cukup. Aku diajar oleh guru SD-ku bahwa kita tidak boleh melakukan hal-hal pada orang lain yang jika kita sendiri yang mengalaminya akan merasa tidak suka. Menyingkirkan orang-orang yang sedang di puncak masa mudanya dari bidang pandangku, aku membuka salah satu situs web pengunggahan novel di ponselku.

Tidak disangka-sangka, aku sebenarnya sedang mempublikasikan sebuah novel di situs tersebut demi menjadi penulis novel ringan. Di saat orang-orang lain hidup dengan melamun, aku justru bertindak dengan mantap menatap masa depan. Hebat, aku benar-benar hebat.

Novel yang kutulis semuanya bergenre komedi romantis sekolah. Kumohon jangan katakan hal-hal seperti, 

"Orang yang bahkan tidak bisa membangun hubungan sosial yang layak di dunia nyata, kenapa sok hebat menulis cerita seperti itu?" 

atau "Jangan melarikan diri dari kenyataan lewat novel." Semua itu tepat sasaran. Telah mengenai titik lemahku.

Saat aku mengetuk karya-karya terbitan yang berbaris di halaman pribadiku, jumlah penayangan (PV) dan bookmark pun ditampilkan.

"Oh, PV-nya bertambah... tapi bookmark-nya tidak nambah ya? Cih."

Jumlah total novel yang telah kuunggah ada tiga karya. Karya pertama dan kedua, keduanya sama sekali hampir tamat dalam bentuk yang belum selesai setelah sekitar dua puluh bab. Dengan kata / lain, novel-novel itu telah 'etatta' (ditinggalkan/terbengkalai). Ditinggalkannya sebuah cerita bukanlah hal yang bisa dibanggakan, tapi tentu ada alasannya.

Jumlah pembacanya terlalu sedikit.

Bab pertama mungkin dibaca oleh jumlah orang yang setara dengan satu kelas, tapi saat menginjak bab kedua, jumlahnya langsung menjadi setengah, dan sekitar bab kelima, jumlahnya menyusut hingga tinggal seukuran satu keluarga dengan agak banyak anak saja. Orang yang berhasil mencapai bab terakhir hanyalah para elit terpilih. Kalau ditulis begini kedengarannya agak keren, tapi kenyataannya mungkin aku hanya terlambat kabur dari kapal yang sedang tenggelam.

Tampaknya dalam karya komersial sekalipun pembaca akan tersaring seiring berjalannya serial, namun ini sudah tersaring terlalu parah hingga di ambang kepunahan.

Jika sudah sampai sejauh ini, aku jadi berpikir kepada para pembaca yang membaca bab terbaru, "Kenapa kalian membacanya? Apakah ini hukuman game?" Yah, meskipun aku merasa senang karena ada yang membaca, itu sudah pasti. Perasaan seorang kreator itu sangat halus dan mudah terluka.

Selain itu, saat menulis pun aku sempat berpikir, "Jangan-jangan cerita ini sebenarnya sama sekali tidak menarik...?" yang membuat niatku untuk memperbaruinya semakin padam. Barangkali memang benar-benar tidak menarik. Karena hampir tidak ada orang yang membaca, tidak akan ada juga orang yang merasa kesulitan seandainya cerita itu di-etatta. Meskipun aku ingin menangis sendiri saat mengatakannya.

Karya yang sedang kutulis sekarang pun, sebentar lagi sepertinya akan ditetapkan sebagai spesies terancam punah.

Di masa-masa awal SMA saat aku mulai menulis novel, aku sempat berpikir, "Aku juga lumayan sering baca novel ringan, jadi mungkin saja aku bakal debut sebelum lulus SMA!" Namun, belakangan ini ekspektasiku diturunkan menjadi, "Tolong biarkan aku debut semasa aku masih hidup, kumohon." Kalau sekadar menjilat sepatu seorang editor mungkin masih bisa kuterima, tapi pihak sebelah sana pun pasti akan jijik jika sepatunya dijilat.

Huuuh, aku menghela napas panjang lalu mendongakkan kepala.

Lampu lalu lintas khusus pejalan kaki baru saja berhenti berkedip, dan jalan raya yang berpotongan kini berubah menjadi lampu hijau. Rupanya saat aku sedang menatap ponsel dan memegangi kepalaku meratapi situasi saat ini (atau lebih tepatnya, situasi yang menyedihkan ini), sinyal lampu lalu lintas telah berubah.

Meskipun jalan dari SMA menuju stasiun cukup ramai oleh pejalan kaki, volume kendaraannya tidak terlalu padat. Sebenarnya aku merasa sah-sah saja jika ingin menyeberang dengan mengabaikan lampu lalu lintas, tapi lokasi yang tepat berada di depan gerbang sekolah membuatku mengurungkan niat.

Di seberang zebracross (tempat penyeberangan), sekelompok siswi berjalan sambil mengobrol dengan suara riuh. Gawat. Aku yang tadi berdiri diam di depan zebracross pasti terlihat sangat menghalangi... ah, sudahlah. Lagipula besok sudah lulus, alih-alih reputasiku tercemar, kemungkinan besar keberadaanku bahkan sama sekali tidak disadari.

Ngomong-ngomong, kenapa para perempuan selalu berjalan melebar ke samping, ya? Bukankah itu menghalangi jalan orang lain? Jangan-jangan itu adalah kebiasaan kecil seperti kelompok ikan kecil agar diri mereka terlihat lebih besar dan menjauhkan musuh? Apakah mereka Swimmy?

Dalam hal ini, para bocchi jauh lebih hebat karena selalu memakan lebar ruang hanya untuk satu orang saja. Mereka tidak akan membuat keributan dengan berbicara keras-keras yang mengganggu sekitar. Karena jarang keluar rumah, emisi karbon dioksida dari transportasi publik pun lebih sedikit.

Dunia seharusnya mengakui kehebatan kaum bocchi. Bocchi adalah yang terbaik. Hidup bocchi.

Tengah memikirkan hal semacam itu, salah satu siswi memisahkan diri dari kelompoknya dan berbalik arah.

"Maaf ya, nanti aku langsung ambil."

"Iya—! Kami tungguin mejanya di sana ya—!"

Percakapan semacam itu terdengar. Rupanya ia meninggalkan sesuatu di sekolah. Begitu wajah siswi yang menghadap ke arahku terlihat, barulah aku menyadari bahwa dia adalah Hanamitsuji dari kelas yang sama.

 Dia juga sekelas denganku saat kelas dua dulu, dan dia adalah salah satu gadis tercantik yang pernah kulihat seumur hidupku—tidak, bahkan yang paling cantik—makanya aku bisa mengenalinya.

Potongan rambut bob sebahu dengan sedikit gelombang sangat cocok dengan fitur wajahnya yang tegas, dipadukan dengan kulit putih bersih yang membuatnya terlihat seperti model majalah untuk gadis remaja SMP dan SMA. Sungguh luar biasa karena hiasan rambut bunga yang imut itu tampak sangat cocok melekat padanya secara natural.

Dia adalah tipe gadis yang tidak akan pernah punya kaitan apa pun denganku seumur hidup. Sekalipun ada kaitan, aku pasti tidak akan sanggup menghadapinya.

Sambil memperhatikan teman-teman di belakangnya, Hanamitsuji berlari kecil ke arahku. Tepat saat aku merasakan sedikit kecemasan karena melihatnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti.

Entah karena tidak melihat lampu merah atau bagaimana, Hanamitsuji langsung menerobos masuk ke persimpangan jalan.

Sialnya, sebuah truk melaju kencang dari seberang jalan raya.

"Hei!"

Tanpa sadar aku mengeluarkan suara nyaring.

"Eh? ...Ah."

Hanamitsuji mengangkat wajahnya dengan ekspresi bingung akibat suara teriakan itu, dan menyadari truk tersebut dengan keterlambatan satu tempo.

Namun, mungkin karena kakinya terasa lemas, ia tidak menunjukkan tanda-tanda bisa bergerak.

Profil wajah Hanamitsuji yang tampak kebingungan itu tetap saja terlihat tertata dengan indah.

Suara klakson yang berbunyi megah—Paaaaah!—tenggelam bersama suara jatuhnya sepeda.

Tanpa sadar, aku sudah berlari maju.

Alasannya kenapa, aku sendiri tidak tahu meskipun ditanya. Aku sama sekali tidak begitu akrab dengan Hanamitsuji, dan aku juga tidak punya masa lalu menyedihkan yang khas dialami oleh protagonis yang kehilangan orang berharga akibat kecelakaan lalu lintas.

Persis seperti kata "tanpa sadar".

Tanpa alasan yang besar ataupun hal yang tak terelakkan, aku menerobos masuk ke persimpangan jalan. Apakah mirip seperti protagonis novel ringan... hal itu masih diragukan. Aku payah dalam olahraga, dan cara lari diriku pasti terlihat berantakan.

Untungnya, aku berhasil mendorong Hanamitsuji keluar dari jalur truk tersebut.

Aku tidak sengaja menyentuh gadis orang, tapi ini pastinya aman, kan? Aku tidak akan dilaporkan ke polisi, kan? Kalau sampai dilaporkan gara-gara hal ini, aku pasti menangis.

Seandainya hal itu tidak dianggap sebagai keberuntungan, maka kebalikannya adalah karena aku menukar tempat dengan Hanamitsuji yang terdorong, sehingga diriku sendiri yang melompat tepat ke jalur lintasan truk.

Aku menerima hantaman keras dari arah samping.

Aku sempat berpikir diriku melayang di udara, namun sebelum menyadarinya, langit dan bumi di dalam bidang pandangku berputar silih berganti dengan kecepatan tinggi.

Aku baru menyadari bahwa itu terjadi karena aku sedang berguling-guling di atas aspal setelah menabrak pagar pembatas jalan yang ada di seberang sana. Berikut adalah terjemahan dari teks tersebut dengan tata letak paragraf yang rapi dan nyaman dibaca:

"Ah... o... ko-fuh..."

Aku mencoba mengatakan sesuatu, namun kata-kata itu tidak keluar dengan benar. Gawat, sensasi di tubuhku terasa aneh.

Seluruh tubuhku merasakan panas yang tidak biasa, dan pada saat bersamaan, aku merasakan hawa dingin yang membeku sampai ke tulang sumsum.

Rasanya seperti perayaan Obon dan Tahun Baru datang bersamaan... tidak, sama sekali bukan itu.

Pikiranku sepertinya sedang bug, anehnya aku tidak bisa memikirkan hal-hal yang serius. Rasanya seperti hanya berputar-putar berjalan di tempat yang sama, dan isi kepalaku hanya dipenuhi oleh hal-hal seperti, siapa nama depan Hanamitsuji, ya? Atau folder berbahaya di komputer yang sama sekali tidak ingin kulihat oleh keluargaku, dan hal-hal semacam itu yang terus berputar-putar di kepalaku.

"Hei!! Tunggu sebentar!!"

Baru saja aku merasa mendengar suara teriakan keras secara tiba-tiba, wajah menangis tampak menutupi bidang pandangku. Saat kulihat siapa itu, ternyata Hanamitsuji.

Baguslah, dia benar-benar hidup.

"Kubilang hei!! Jangan mati!!! Kumohon!!!"

"Ah..."

Hanamitsuji menangis dengan wajah yang benar-benar berantakan. Padahal aku ingin mengatakan sesuatu padanya, tapi suaraku tidak keluar. Repot juga ya hal ini.

Rasa sakit, panas, maupun dingin di tubuhku, serta suara teriakan tangisan Hanamitsuji, semuanya terasa tidak nyata.

"S-Sora, aku sudah panggil ambulans..."

Suara yang terdengar dari suatu tempat itu pastilah salah satu dari kelompok siswi yang kulihat tadi.

"Hei, kumohon!! Kumohon, jangan mati!!"

Meskipun kau mengatakannya padaku, aku pun bingung harus bagaimana.

"Maafkan aku! Maafkan aku!!"

Kau tidak perlu sampai meminta maaf begitu, karena aku sendiri yang melakukannya secara sukarela, jadi jangan dipikirkan. Kalau di light novel gaya Narou, ini sih pola reinkarnasi ke dunia lain.

Hal-hal yang ingin kukatakan hanya berulang-ulang di dalam kepalaku saja, dan tidak bisa keluar menjadi suara.

Tanpa sadar, wajah Hanamitsuji pun sudah tidak kelihatan lagi. Terasa gelap dan mengantuk.

"Jangan!! Jangan mati!! Nanamura-kun!!!"

Hanamitsuji, ternyata dia tahu namaku ya.

Sambil memikirkan hal itu, dan sekalian berharap semoga saat aku membuka mata nanti aku bisa memulai permainan baru (New Game) dengan kekuatan penuh, kesadaranku perlahan-lahan terputus.


Daftar Bab Novel
Memuat daftar chapter...