Epilog
“Kita akan mengadakan sesi evaluasi diri.”
Sehari setelah karya wisata.
Meski hari ini hari Jumat, aku tetap datang ke restoran keluarga langganan kami. Begitu sampai, Hanamitsuji langsung menyambutku sambil menggenggam segelas teh oolong.
Tatapan matanya yang tegas terlihat jauh lebih tajam dari biasanya. Dari sana saja sudah jelas betapa seriusnya dia menghadapi diskusi hari ini.
“Um... aku juga harus mengevaluasi diri?”
Saat aku bertanya dengan ragu-ragu, Hanamitsuji langsung menunjukku dengan tegas.
“Kalau ditelusuri sampai ke akar masalahnya, kamu yang salah, kan?!”
Matanya sedikit berkaca-kaca, dan ia menatapku dengan penuh rasa kesal.
Karena merasa tidak enak, aku mengalihkan pandangan sambil mengingat kembali berbagai kejadian setelah karya wisata yang menjadi alasan diadakannya sesi evaluasi ini.
Pagi tadi, seperti biasa, aku datang ke sekolah tepat sebelum bel masuk.
Namun, beberapa orang di kelas tampak melirik-lirik ke arahku.
Ada apa?
Biasanya aku sedikit terlambat pun tidak ada yang peduli.
Alasannya baru terungkap saat jam istirahat setelah pelajaran pertama.
“Nanamura-kun, sebentar.”
Shiramine datang ke mejaku, lalu dengan paksa menarik lenganku dan membawaku keluar ke koridor.
Aku memang sudah meminta maaf lewat LEIN karena meninggalkan kelompok saat karya wisata. Apa itu masih belum cukup?
Jangan-jangan dia akan menyuruhku membayar dengan tubuhku?
Saat aku bertanya-tanya dengan curiga, tiba-tiba dia menanyakan sesuatu yang aneh.
“Kemarin kamu pasti bersenang-senang, ya.”
“Hah?”
“Ah, padahal aku sudah repot-repot mengurus ini-itu supaya kamu bisa membaur dengan kelompok. Sekarang aku malah kelihatan seperti badut... Sungguh, harus bagaimana aku menghadapi ini...”
Ada cahaya gelap di mata Shiramine.
Aku buru-buru meminta penjelasan.
“Tunggu dulu. Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu.”
“Coba tanyakan pada lubuk hatimu sendiri.”
“Mana aku tahu apa yang kulakukan kemarin...”
“Setelah meninggalkan kelompok kami, kamu bertemu dengan siapa?”
Mendengar pertanyaan itu, firasat buruk langsung muncul di kepalaku.
Jangan-jangan...
“Ada anak dari Kelas F yang melihatmu. Lebih tepatnya, dia melihatmu bersama seorang gadis cantik.”
“............”
Aku terdiam sambil merasakan keringat dingin mengalir di punggung.
Apa yang harus kukatakan?
Tidak, dalam situasi seperti ini rasanya apa pun yang kukatakan tidak akan dipercaya.
“Yah, pasangan yang saling menyukai memisahkan diri dari kelompok saat karya wisata sebenarnya bukan hal yang aneh. Tapi aku tidak menyangka kamu ternyata salah satunya. Kalau begitu, semoga bahagia bersama Hanamitsuji-san dari Kelas 1-F.”
“Bukan begitu, ada berbagai macam keadaan di balik semua itu...”
“Ah, ah, ah. Aku tidak mau mendengar kisah cinta yang akhirnya bersemi! Kembalikan semua perhatian yang sudah kuberikan padamu, dong. Sungguh.”
Shiramine pergi sambil mengomel kesal.
Dia benar-benar sama sekali tidak berniat mendengarkan penjelasanku, ya?!
Setelah itu, saat jam makan siang, Hoshigasaki memanggilku ke belakang gedung khusus.
“Tidak disangka Nanamura dan Sora-chan ternyata pacaran... Kenapa kamu tidak bilang dari awal?!”
“Bukan. Itu salah paham.”
“Soalnya aku dengar kamu terlihat sedang bergandengan tangan dengan Sora-chan, lho. Kalau kalian tidak pacaran, memangnya kalian akan melakukan itu?”
Uwaaaaaah!
Mengingat ada orang yang melihat kejadian itu membuatku ingin mati saja.
Saat aku menggeliat menahan malu, Hoshigasaki berkata,
“Jadi, waktu kamu menanyakan keberadaan Sora-chan lewat LEIN, itu karena kalian gagal bertemu sesuai janji, ya?”
“Bukan begitu! Itu bukan janji bertemu atau semacamnya!”
“Tapi setelah itu kalian bertemu lagi, kan?”
“Memang bertemu! Tapi ada keadaan tertentu di baliknya!”
Aku menjelaskan kepada Hoshigasaki, dengan banyak bagian yang sengaja kulewati, tentang Hanamitsuji yang diganggu para yankee dan bagaimana kami berdua melarikan diri.
Tentu saja, aku tidak mungkin sampai menceritakan soal time leap.
“Hmmm...”
“Apa-apaan tatapanmu itu? Kamu tidak percaya, ya?”
“Bukan, aku percaya kok. Tapi Nanamura itu ternyata tipe yang bakal menolong gadis mana pun, ya.”
“Jangan ngomong aneh-aneh. Bukan soal siapa orangnya lalu aku akan menolongnya atau bagaimana...”
“Aku sebenarnya sudah tahu sih. Iya, iya. Semoga bahagia sampai tua, ya. Dadah.”
“Woi! Dengarkan dulu penjelasanku!”
Begitulah.
Sepertinya kabar bahwa aku dan Hanamitsuji berduaan saat karya wisata sudah menyebar ke mana-mana.
Ya ampun, merepotkan sekali...
“Yang kerepotan itu aku, tahu!”
Hanamitsuji yang seolah membaca pikiranku langsung menyela dan menggebrak meja.
“Kenapa dari sekian banyak orang, justru orangnya harus Nanamura-kun?! Sekarang yang dibicarakan cuma itu!”
Ucapan “dari sekian banyak orang” itu memang agak menyebalkan.
Tapi penilaiannya terlalu tepat sampai aku tidak bisa membantah.
Bagaimanapun juga, bisa dibayangkan kalau Hanamitsuji yang memiliki lingkaran pertemanan jauh lebih luas dariku pasti jauh lebih kerepotan.
“Aku benar-benar ceroboh... Kenapa aku sampai berinteraksi denganmu di tempat yang bisa dilihat begitu banyak orang...”
“Waktu itu kan situasinya darurat. Mau bagaimana lagi?”
“Memang, tapi apa perlu sampai mencengkeram pergelangan tanganku seerat itu? Kalau dipikir-pikir lagi, waktu itu para yankee juga sudah tidak ada. Jangan-jangan sebenarnya kamu cuma ingin memanfaatkan kekacauan untuk menyentuhku?”
“Bukan begitu! Waktu itu memang... ya, situasinya mengarah ke sana!”
Tidak mungkin kami langsung berpisah begitu saja di tempat itu.
Memang, mungkin aku sedikit kelewatan karena mencengkeram pergelangan tangannya seerat itu.
Tapi gara-gara ini aku jadi teringat lagi soal keringat di tanganku dan mulai depresi.
Padahal kenangan itu boleh saja kulupakan.
“Ah, sudahlah! Kalau saja kamu itu manusia normal, masalahnya tidak akan sampai sebesar ini!”
“Aku ini manusia normal, tahu.”
“Kalau kamu seorang bocchi dan sampai pernah dikira sebagai penguntit Hoshigasaki-san, berarti kamu bukan manusia normal!”
“Jangan menyerangku dengan logika yang masuk akal! Tolong perlakukan kaum lemah dengan lebih lembut!”
“Bawel! Sudah, cepat bertanggung jawab!”
“Jangan mengatakannya dengan cara seperti itu. Kedengarannya aneh!”
Kami terus ribut sampai akhirnya seorang pelayan datang menghampiri.
“Mohon maaf, tetapi harap tenang selama berada di dalam restoran...”
Kami berdua pun langsung terdiam.
Aku menyeruput cola, syuu, lalu Hanamitsuji melirikku sekilas.
“...Maaf.”
“Hah? Tiba-tiba kenapa? Kamu lupa bawa dompet?”
Hanamitsuji menggeleng pelan.
“...Aku berpikir, jangan-jangan semua ini malah merepotkanmu. Kamu kelihatannya tidak terlalu suka keramaian.”
Oh, jadi itu yang dipikirkannya.
Aku menghela napas kecil melihat Hanamitsuji yang menggenggam gelasnya erat-erat, lalu sengaja menjawab dengan nada agak ketus.
“Iya. Aku memang merasa terseret ke dalam masalah yang merepotkan.”
“Begitu, ya... Maaf.”
Hanamitsuji menundukkan kepala dan bergumam pelan mendengar jawabanku.
“Kalau memang merepotkan, memangnya tidak apa-apa?”
“Eh?”
“Hubungan antarmanusia memang merepotkan, dan menjadi bocchi yang sendirian itu jauh lebih nyaman. Itu kebenaran mutlak.”
“Tapi kalau kita terus-menerus menghindari hal-hal yang merepotkan dalam hidup, rasanya kita tidak akan pernah sampai ke mana-mana.”
“Aku tidak pandai menjelaskannya, tapi... kurasa hal-hal yang merepotkan itu juga diperlukan dalam hidup. Entah bagaimana, semua kerepotan itu pasti terhubung dengan sesuatu.”
“Setelah menghabiskan waktu bersamamu, Hanamitsuji, aku jadi berpikir seperti itu.”
“Nanamura-kun...”
Aku merasakan Hanamitsuji mengangkat wajahnya.
Namun, aku sengaja tidak menatap matanya.
Soalnya malu.
Pada akhirnya, nilai-nilai yang kami pegang masih tetap berbeda.
Memang sudah banyak hal yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, tetapi bukan berarti kami sudah benar-benar saling memahami sampai ke akar-akarnya.
Meski begitu, bukan berarti kami tidak bisa tetap bersama hanya karena nilai-nilai kami berbeda.
Kalaupun suatu hari nanti aku dan Hanamitsuji harus berpisah, aku ingin menemukan cara untuk berpisah dengan baik.
Saat sedang memikirkan hal itu, terdengar tawa kecil dari sampingku.
“Kamu bicara seperti seorang novelis sekali, ya.”
“Jangan begitu. Aku jadi malu.”
Sekarang telingaku pasti sudah merah sampai ke ujung.
Aduh, apa-apaan yang baru saja kukatakan?
“Jangan-jangan kamu memang menulis novel?”
“Jangan bilang novel yang pernah kuberikan padamu begitu buruk sampai-sampai sudah kamu hapus dari ingatan?!”
“Bercanda. Aku masih ingat kok kalau memang hasilnya buruk.”
“Bagian itu tidak perlu diingat juga, tahu.”
Hanamitsuji tertawa puas beberapa saat, lalu kali ini menatapku dengan senyum yang jauh lebih lembut.
“Tapi aku senang kamu berkata begitu. Terima kasih.”
“O... oh. Begitu, ya.”
Aku hanya memberikan jawaban seadanya, lalu menatap matanya seperti orang bodoh.
Saat aku benar-benar memperhatikan wajah Hanamitsuji dari dekat, semuanya terasa seperti serangan bertubi-tubi.
Bayangan yang jatuh dari bulu matanya yang panjang.
Bentuk hidungnya yang begitu sempurna sampai-sampai rasanya pantas dipajang di museum seni.
Bibirnya yang mengembuskan napas kecil.
Semuanya datang dengan daya rusak yang luar biasa.
Ini sudah curang, sih.
Aku mengeluh dalam hati.
Meskipun aku sendiri tidak tahu apa tepatnya yang curang.
“Kita kalau bertemu selalu di sini, ya.”
“Iya, juga, sih. Lagipula, minuman di sini enak.”
“Kurasa minuman di tempat lain juga tidak jauh berbeda.”
Jawaban asal-asalanku langsung mendapat bantahan telak.
“Lagipula, kita selalu bertemu sepulang sekolah.”
“Yah, mau bagaimana lagi? Kita juga tidak mungkin bertemu di sekolah.”
“Kalau begitu... berarti saat hari libur juga boleh, kan?”
“Hah?”
Setelah itu, Hanamitsuji sedikit merona. Jemarinya bergerak gelisah di atas meja.
Tak lama kemudian, dia berdeham kecil sebelum membuka mulut.
“Kalau setiap kali bertemu cuma di restoran keluarga, rasanya kurang variasi. Jadi, um... besok hari Sabtu, misalnya, mau pergi ke suatu tem—”
Seolah sengaja memotong suasana yang sudah dibangun Hanamitsuji dengan susah payah, ponselku yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berbunyi.
Piron.
Suara notifikasi LEIN.
“Ah, maaf.”
Aku mengambil ponsel dan melirik layarnya.
Kunci layar sudah terbuka melalui pengenalan wajah, sehingga pesan di kolom notifikasi langsung terlihat.
Pengirimnya: Hoshigasaki.
『Libur nanti kamu senggang, kan? Mampir ke rumahku, yuk?』
Sesaat, aku bahkan tidak memahami arti rangkaian kata yang baru saja kubaca.
Kepalaku langsung kosong.
Kalau dia menganggapku sedang senggang, itu tidak masalah.
Tapi...
‘Mampir ke rumahku, yuk?’
Maksudnya apa?!
Lebih parah lagi, Hanamitsuji rupanya melihat layar ponselku dengan sangat jelas.
“Ini maksudnya apa? Jangan-jangan, tanpa sepengetahuanku, kalian sudah sampai pada tahap seperti itu?”
Suasana lembut yang tadi menyelimuti Hanamitsuji lenyap seketika.
Ia menatapku dengan senyum yang membeku.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala kuat-kuat.
A-apa maksudnya ini, Hoshigasaki-san...?!